Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 67


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Begitu Hani pergi mengendarai  motor matiknya, di sinilah Faiq berada. Ia berdiri di depan pintu ruko tempat Hani dan anak-anaknya tinggal.


Lina yang baru selesai mengepang rambut Hasya merasa heran. Belum pernah ada tamu yang berkunjung ke rumah mereka. Bergegas ia membukakan pintu, karena ingin melihat siapa yang bertamu di jam segini.


“Tuan…” Lina melongo melihat Faiq yang tersenyum sambil membawa sekantong mainan dan buah-buahan.


“Papa…” Hasya yang mengekor di belakang Lina bersorak kegirangan melihat Faiq yang langsung merentangkan tangan padanya.


Lina terpaku menyaksikan pemandangan itu. Perasaan haru dan bahagia bercampur aduk menyaksikan majikan mereka berhasil menemukan keberadaan mereka.


“Maafkan saya, mbak Lina. Baru sempat mengunjungi kalian.” Ujar Faiq sambil menggendong Hasya yang semakin berat.


Lina tidak berani bertanya pada Faiq. “Silakan duduk tuan, saya siapkan minuman.”


“Terima kasih, mbak Lina.” Faiq segera duduk di kursi tamu yang tersedia di ruangan yang tidak terlalu luas itu.


“Papa tenapa bayu puyang tekalang?” Hasya menepuk-nepuk pipi Faiq, membuatnya tersenyum bahagia karena rasa rindunya terhadap bocah cantik itu kini terobati.


“Papa rindu sama dedek.” Faiq menghujani Hasya dengan ciuman-ciuman ringan di pipinya yang semakin berisi. Matanya berkaca-kaca teringat terakhir kalinya memarahi Hasya yang menumpahkan kopi pada kertas laporannya.


Mata Faiq menatap sekeliling ruangan yang tidak terlalu luas. Kesedihan menyelinap ke dasar hatinya. Ia yang sudah terbiasa hidup di rumah mewah dengan kamar full ac, kini merasakan kesederhanaan kehidupan istri dan anak-anaknya.


“Mbak Lina, saya akan ke tempat Hanif sebentar.”  Ujar Faiq saat Lina sudah berada di hadapannya membawa segelas teh hangat dan snack.


“Baik tuan.”


Dengan menggendong Hasya, Faiq melangkah ke ruko samping yang merupakan tempat usaha milik Hanif dan rekannya. Kedatangan Faiq dengan menggendong Hasya cukup mengejutkan karyawan Hanif yang berjumlah 5 orang.


“Ada yang bisa saya bantu, pak?” resepsionis yang bernama Ira terpaku melihat seorang lelaki ganteng berdiri di hadapannya. Matanya tak berkedip memandang Faiq.


“Saya ingin menemui Hanif.” Faiq to the point menyatakan keinginannya.


Joko yang kebetulan baru datang terkejut melihat Hasya yang anteng berada di gendongan lelaki muda yang seusia dengannya.


“Dedek sama siapa?” Rasa penasaran membuat Joko langsung bertanya dengan si mungil.


“Ini papa dede.” Jawabnya sambil tersenyum imut. Ia memeluk leher Faiq dengan erat.


Joko menelan ludah. Keinginan untuk mendekati Hani langsung ambyar melihat sosok gagah yang berdiri di depannya.


Hanif yang kebetulan akan menemui klien di luar terkejut melihat keberadaan Faiq di kantornya sepagi itu.


“Mas Faiq…” Ia tersenyum  menghampirinya, “Mari masuk ruangan saya.”


Ketiganya berjalan berdampingan memasuki sebuah ruangan yang tidak terlalu luas. Hanif mempersilahkan Faiq duduk di sofa yang berada di dalam ruangannya.

__ADS_1


Faiq mengamati sekelilingnya. Ia membiarkan Hasya yang berjalan mengitari ruangan yang tidak seberapa luas.


“Beginilah kegiatanku sekarang.” Hanif menceritakan sekilas pekerjaannya. “Rekanku bernama Joko Pasaribu. Alhamdulillah semenjak pindah ke mari, klien kami lumayan banyak.”


“Aku percaya. Dapat ku lihat dari jumlah pegawaimu.” Faiq mengangguk-angguk. “Apa kamu nggak ingin pindah ke kantor yang lebih besar? Dengan staf sebanyak 5 orang, ku rasa kantormu terlalu sempit. Aku bisa membantu…”


“Nggak perlu, mas. Aku sudah bersyukur dengan pencapaianku sekarang. Apalagi rekan kerjaku semuanya cukup berkompeten.”


Ketukan di pintu menghentikan sementara obrolan mereka. Ria yang membawakan nampan berisi dan kopi memasang senyum manisnya. Ia berdiri dekat dengan Faiq saat hendak meletakkan gelas.


Parfum yang digunakan Ria terhirup Faiq, langsung memancing rasa mual yang selama ini sudah tidak ia rasakan. Melihat Faiq yang terdiam, membuat Ria penasaran dengan sikapnya. Dengan sengaja ia menyentuh tangan Faiq yang hendak mengambil majalah di atas meja.


“Silakan di minum kopinya, mas.”


Rasa mual semakin menjadi menyerang Faiq, “Maafkan aku, dimana toiletmu?” ia langsung bangkit dari kursi.


Hanif terkejut dengan sikap Faiq yang berubah seperti orang yang pingin muntah. “Itu toiletnya.” Hanif menunjuk ruangan tersembunyi di samping ia dan Faiq duduk.


Ria merasa tidak enak hati dengan Hanif setelah melihat Faiq yang tergesa-gesa menuju toilet dengan diikuti Hasya.


“Dia iparku suami mbak Hani.” Tandas Hanif memandang Ria tajam.


Ria terkejut mendengar ucapan Hanif, “Maafkan saya, pak.” Ia tertunduk malu.


Ria meninggalkan ruangan Hanif dengan perasaan malu luar biasa. Ia yang baru kali ini ketemu makhluk ciptaan Allah yang sangat mempesona tetapi ternyata adalah ipar bosnya sendiri. Dengan langkah gontai ia kembali ke meja resepsionis.


“Tuh wajah kenapa penuh cuka?” celetukan usil Joko mengelus daun telinganya.


Si bujang sableng sudah duduk santai di hadapannya sambil menghisap rokok, membuat Ria semakin dongkol.


“Baru aja lihat yang cakepnya kebangetan, eh ternyata udah ada yang punya. Ipar pak Hanif lagi. Nelangsa ati adek, bang.” Ria berkata dengan lesu.


“Adek tersayang, jangan pandang yang jauh. Nih, liat yang di depan mata, jangan dianggurin.” Joko meniupkan asap rokok ke arah Ria membuatnya semakin dongkol.


“Bang Pasaribu, sableng.” Gerutu Ria kesal.


Joko tertawa lebar melihat keusilannya membuat satu-satunya perempuan yang berada di kantor mereka menjadi kesal. “Abang keluar ada janji sama klien. Usah kangen ya…”


“Kangen gundulmu.” Ria mencibir ke arah Joko yang dibalas Joko dengan kiss byenya.


Di dalam ruangan Hanif, Faiq baru saja menghenyakkan tubuhnya setelah mengeluarkan isi perutnya. Ia mengusap muka dengan kedua tangan.


“Mas Faiq sakit ya. Atau masuk angin?” Hanif jadi prihatin melihat keadaan Faiq.


Kini ia baru melihat jelas perubahan yang terjadi pada iparnya. Faiq kelihatan agak kurusan dari terakhir mereka bertemu setelah kejadian pernikahan siri Faiq dan Hesti.

__ADS_1


“Calon ponakanmu benar-benar posesif. Semenjak aku mengetahui Hani hamil, aku nggak bisa dekat dengan perempuan mana pun, selalu bereaksi. Kalo nggak mual, langsung muntah, seperti yang kau lihat barusan.”


“Ha ha ha…” Hanif tertawa lebar mendengar cerita Faiq. “Baguslah. Hukum aja papamu, nak. Biar papamu tau rasa dicuekin bunda. Makanya nggak usah terlalu baik sama orang, akhirnya dimanfaatin.”


“Dasar ipar nggak berakhlak.” Faiq memukul bahu Hanif yang duduk di sampingnya. Ia meminum air mineral yang tersedia di atas meja Hanif. “Siapa laki-laki yang ku lihat di depan?”


Hanif mengerutkan dahi berusaha mengingat orang yang ditanyakan Faiq. Senyum lebar terbit di wajahnya.


“Namanya Joko Pasaribu. Dialah pemilik ruko ini. Aku dan dia rekanan mendirikan usaha advokat dan penasehat hukum. Orangnya masih lajang, dan pernah menyampaikan keinginannya untuk menjadi ayah sambung anakmu.”


Mendengar cerita Hanif, darah Faiq langsung berdesir dengan hebat. “Bilangin temanmu, kakakmu masih punya suami. Dan akan segera membawa mereka kembali ke Jakarta.”


“Yang tenang, bro. Dia itu tipikal humoris. Berkat dia juga aku nggak kesulitan dengan ngidam aneh istrimu.”


“Maksudmu?” Faiq penasaran dengan ucapan Hanif.


“Selama hamil, mbak Hani ngidamnya makan nasi Padang mulu. Kebetulan bang Joko doyan nasi Padang, buat kita nggak susah ngeluarin dompet sendiri. Setiap keluar dia akan selalu membelikan nasi Padang buat mbak Hani."


Rasa kesal terbit di hati Faiq mendengar Hanif yang menceritakan tentang Joko yang selalu ada untuk memenuhi keinginan ngidam istrinya.


“Mulai sekarang bilang temanmu itu, nggak usah sok-sok an belikan bini gue nasi Padang lagi.”


“Emang mas Faiq punya bini, kenalin dong.” Hanif menggoda Faiq yang kekesalannya udah sampai ke ubun-ubun. “Makanya punya bini kudu diperatiin. Jangan yang muda mulu diturutin kemauannya. Ampe ulang taon aja makan malam di restoran mewah, udah gitu kadonya  jam mahal. Eh pas bini sendiri ulang taon, dibiarin minggat. Dasar laki durjana.  Ntar  ada yang peratiin bini, baru kebakaran jenggot.”


Faiq semakin kesal dengan ucapan Hanif. “Sekarang maumu apa, biar semua ku pindahin sini.”


“Sultan mah bebas.” Hanif tertawa lebar melihat Faiq yang mukanya sudah memerah menahan amarah atas ucapan Hanif yang kebetulan benar dan sangat menyudutkannya.


“Papa, dedek mahu jayan…” Hasya yang duduk di pangkuan Faiq merasa bosan, membuat keduanya menghentikan omongan yang nggak berkualitas.


“Ya, sayang. Kita akan pergi menjemput mas Ariq dan mas Ali di sekolah.” Dengan lembut Faiq mencium kening si mungil.


Pemandangan di depannya membuat Hanif terharu. Ia percaya Faiq sangat menyayangi keponakannya walaupun tidak ada hubungan darah di antara mereka.


“Mulai hari ini aku yang akan menjemput si kembar. Selama ini siapa yang menjemput mereka?” Rasa penasaran tiba-tiba kembali hadir mengusik Faiq.


“Kalau nggak aku, ya bang Joko.”


“Bilangin si receh, nggak usah jemput anak-anakku lagi.” ujar Faiq menegaskan.


“Lho, kok receh?” Hanif tidak mengerti dengan ucapan Faiq.


Tanpa mempedulikan kebingungan Hanif, Faiq langsung berjalan keluar dari ruangan  sambil menggendong Hasya. Saking asyiknya ngobrol, tak terasa tiga jam telah berlalu. Faiq menggendong Hasya menuju mobil yang ia sewa selama tinggal di Berastagi.


Begitu Faiq meninggalkan ruangan mereka, Joko yang sudah kembali segera menemuinya. Ia penasaran dengan lelaki muda yang tampak akrab dengan Hasya, karena selama ini Hanif tidak pernah menceritakan kehidupan pribadi kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2