Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 152 S2 (Bukan Yang Terbaik)


__ADS_3

Khaira menghempaskan diri di tempat tidurnya yang paling nyaman. Begitu sampai di rumah ia tidak banyak berbicara langsung mengurung diri di kamar. Rasa lelah serta ngantuk tak bisa ia tahan. Tujuh belas jam di perjalanan Paris – Jakarta membuatnya berpikir panjang untuk memulai apa yang harus ia benahi terlebih dahulu.


Ia tidak siap untuk menceritakan kejadian buruk yang telah menimpanya. Khaira tidak ingin membuat keluarganya terbebani dengan masalah yang terjadi. Ia yakin mampu menghadapinya sendiri. Dan ia berdoa semoga tidak ada peristiwa lain lagi yang menimpanya. Ia harus optimis. Perjuangan baru saja dimulai. Enam jam ia tertidur pulas di kamarnya. Hingga sayup-sayup kumandang azan Subuh terdengar di telinganya membuat Khaira terbangun dari tidur.  Ia menggeliat dan langsung bangkit dari pembaringan.


Badannya mulai terasa nyaman. Rasa remuk dan sakit di sekujur tubuhnya sudah mulai menghilang. Dengan perasaan enggan Khaira membuka pintu kamar dan berjalan menuju ruang makan. Ia terkejut semua saudaranya berkumpul sedang menikmati sarapan pagi bersama. Jantung Khaira mulai berdetak. Ia belum mengetahui maksud kedatangan saudara-saudaranya di pagi Minggu ini.


Valdo datang menggendong Babby A dan mendekatinya. Wajah imut yang menggemaskan membuat Khaira melupakan kesedihannya. Ia langsung meraih Babby A dan menyiumnya dengan sepenuh hati.


“De, nanti malam kita sekeluarga akan melamar Afifah,” Hasya mulai membuka percakapan ketika saudaranya yang laki-laki sudah selesai menikmati sarapan pagi.


Khaira mengerutkan jidatnya. Ia  tau Afifah adalah teman dekat Junior. Tapi apa iya mereka akan menikah secepat ini.


“Dua bulan lagi mereka akan melanjutkan kuliah ke Inggris. Om Sadewo papanya Afifah menginginkan mereka menikah untuk menghindari masalah yang tidak diinginkan saat mereka kuliah bersama nanti,”  Fatih berkata dengan santai.


“Maafkan kami karena tidak memberitahumu sebelumnya,” Ariq menimpali, “Kedua keluarga sudah bertemu dan merestui hubungan ini. Jika tak ada aral melintang, paling cepat bulan depan mereka akan menikah dan langsung menggelar resepsinya.”


Raut Khaira kembali sendu. Ia selalu sedih setiap mendengar kata pernikahan, mengingatkannya akan cerita pernikahan tersingkat yang ia alami.


“Kamu tidak apa-apa kan?” Hasya menatapnya dengan lekat, “Jika kamu keberatan, Junior nggak masalah pernikahannya sederhana tanpa resepsi ….”


“Lakukan saja yang terbaik untuk Junior. Aku tidak apa-apa.” Khaira berusaha menegarkan suaranya. Ia tidak ingin saudaranya terbebani dengan kondisi dirinya.


Malam itu semua keluarga sudah bersiap.  Hermanto dan istrinya adalah  mertua Ariq yang akan mendampingi keluarga besar itu untuk meminang Afifah.


Lima buah mobil membawa keluarga besar itu menuju perumahan mewah milik keluarga Sadewo. Penyambutan luar biasa dilakukan pihak keluarga Afifah melihat rombongan yang membawa hantaran barang bukan kaleng-kaleng.


Setelah sambutan dari kedua belah pihak keluarga akhirnya raut kebahagiaan terpancar di wajah Junior saat pemasangan cincin yang dilakukan oleh Hasya di jemari lentik Afifah. Senyum sumringah terpancar di wajah kedua sejoli.


Khaira yang duduk di samping oma Marisa merasa dejavu melihat acara yang berlangsung. Ia berpandangan dengan bu  Ila yang juga menatapnya dengan raut sendu. Hati Ila merasa sedih memikirkan nasib menantunya. Ia berharap menantunya segera menemukan kebahagiaan.

__ADS_1


“Nak, semoga kamu segera menemukan jodoh pengganti Abbas,” bisik bu Ila lirih di telinganya.


“Ibu jangan mengkhawatirkan itu. Aku baik-baik saja,” Khaira berkata dengan perasaan getir.


“Eh, tante Marisa.” Suara perempuan lembut mengejutkan Marisa yang masih mendengarkan pembicaraan antara  Ila dan Khaira.


Marisa memandang perempuan parobaya yang masih kelihatan energik yang berdiri dengan anggun di hadapannya.


“Serasa kenal …. “ Marisa mengernyitkan dahi berusaha mengingat.


“Saya Larasati tante.  Putrinya Anggit teman SMA tante.”


“Oh, nak Laras. Maafkan tante. Sudah tua penurunan daya ingat,” Marisa tersenyum sambil menyambut pelukan wanita yang kini ia ingat.


“Tante masih sehat dan cantik kok.”


“Wah, pandai juga ibu ini berbasa-basi,” Khaira memandang Laras yang kini terpaku menatapnya.


“Tante dekat lo sama almarhum bundamu. Dia perempuan yang sangat istimewa. Pantas saja papamu sangat mencintaimu.”


“Terima kasih tante,” Khaira tersenyum tipis.


Laras menatapnya dengan lekat. Ia melihat kecantikan alami yang terpancar di wajah perempuan muda di depannya. Ia jadi teringat putra semata wayangnya. Andai saja ia bisa mempunyai menantu seperti Khaira, ia siap menukar kekayaan yang dimilikinya asal perempuan itu mau jadi menantunya.


“Kamu masih lajang nak?” tanya Laras penuh kehati-hatian. Ia khawatir membuat perempuan muda di depannya tersinggung.


Khaira terdiam sesaat, sambil memutar cincin berlian di jari manis kanannnya kemudian tersenyum pada Laras.


“Saya sudah menikah tante,” jawabnya pelan.

__ADS_1


“Maafkan tante sayang,” Laras menghela nafas penuh kekecewaan. Harapannya yang sempat membuncah kandas tak tersisa.


Marisa dan Ila hanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban Khaira. Keduanya hanya bisa mengelus dada.


“Tante dan almarhum bundamu pernah menjodohkan kamu dan  Vandra,” tatapan Laras menerawang jauh.


Khaira tersenyum tipis sambil menepuk punggung tangan Laras yang menggenggam jemarinya.


“Mungkin saya bukan yang terbaik untuk putra tante. Setiap orang akan menemukan jodohnya masing-masing.”


Akhirnya Laras memeluk Khaira dengan erat, perasaan terharu melingkupi hatinya. Ia memandang wajah teduh dengan mata bening itu.


“Kamu sangat baik seperti almarhum bundamu. Semoga kebahagiaan selalu menghampirimu,” Laras melepas pelukannya.


“Semoga tante juga selalu sehat, dan diberi umur yang panjang dan tetap bahagia.”


Kedua perempuan berbeda generasi itu saling tersenyum hangat, hingga akhirnya Laras kembali bergabung dengan keluarga Afifah yang merupakan keponakannya, karena mama Afifah adalah sepupu sekaligus teman dekatnya.


“De, lihat laki-laki di samping om Sadewo,”  Hasya mulai berbisik halus padanya.


Khaira mengikuti arahan Hasya. Seorang lelaki muda menatapnya akhirnya Khaira memalingkan muka.


“Itu saudara Afifah yang paling tua. Seorang duda. Istrinya meninggal 3 bulan yang lalu karena melahirkan,” Hasya berkata dengan lirih.


“Lantas kenapa mbak menceritakan ini padaku?” Khaira kembali memandang ke depan dan tatapan mata keduanya beradu,  Khaira dengan cepat mengalihkan pandangan.


“Saat kamu di Paris, Junior cerita sama mbak kalau mas Fahri ingin ta’aruf denganmu.” Hasya memandang lelaki muda itu sambil menganggukkan kepala yang dibalasnya dengan perbuatan yang sama.


“Mbak ku mohon, jangan membuatku sedih.” Khaira mulai merasakan gejolak di hatinya.  Ia sedang berusaha menguatkan hati dan berdamai dengan rasa sakit yang ia alami.

__ADS_1


Akhirnya Hasya terdiam. Ia tak berani berkata-kata lagi. Ia memandang Ariq dan Ali yang menatapnya dengan raaut keheranan karena melihat wajah Khaira yang berubah sendu, tidak seperti saat berangkat tampak santai dan banyak bicara menceritakan pencapaiannya selama di Paris walaupun disebalik itu ada peristiwa kelam yang ia sembunyikan.


Akhirnya telah diputuskan pernikahan dan resepsi Junior akan dilaksanakan satu bulan dari sekarang. Malam  itu terlewatkan dengan kebahagiaan bagi sebagian orang dan kesedihan yang hanya Khaira sendiri yang merasakan.


__ADS_2