Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 121 S2 (Tentang Abbas Setyawan)


__ADS_3

Sobat author tercinta, kita akan kembali mengikuti kisah perjuangan putra putri Hani, bersama Adi maupun Faiq dalam melanjutkan hidup. Di sini akan menceritakan lika-liku Khaira dalam mendapatkan cinta sejati. Dukung terus ya ….


12 Tahun telah berlalu.


Ariq telah menikah dengan teman kuliahnya yang anggun dan bersahaja putri dari seorang pimpinan pondok pesantren. Dan kini ia dan istrinya telah dikaruniai seorang putra  berusia 3 tahun yang bernama Fadhil Mubarak. Ali pun sama dengan kembarannya telah memiliki seorang putri cantik berusia 2 tahun yang diberi nama Khansa Khumaira. Istri Ali pemilik butik terkenal di Jakarta yang bernama Rheina Adibarata. Keduanya telah memimpin usaha peninggalan almarhum Adi di bidang masing-masing.


Bimo kini telah pensiun dan kembali ke Singapura dan telah menemukan tambatan hati di usianya yang tidak lagi muda. Ia kini menikah dengan Maharani teman kuliahnya yang seorang janda memiliki satu anak dan telah memiliki seorang cucu. Mereka kini menetap di sana dan melanjutkan usaha Bimo yang sempat ia tinggalkan.


Kehidupan Hasya pun tidak jauh berbeda. Ia berprofesi sebagai dokter anak dan menikah dengan seorang dokter bedah bernama Rivaldo seorang duda yang ditinggal mati istrinya saat melahirkan putri kecilnya yang bernama Aqeel Ananda yang berusia 2 tahun. Kini ia sedang hamil muda berusia 3 bulan.


Fatih pun tidak jauh berbeda dengan saudaranya yang lain.  Saudara  kembar Khaira ini juga telah menikah dengan putri rekan bisnisnya. Fatih menerima perjodohan yang telah disepakati Marisa dan rekan bisnisnya. Kini Fatih dan Azkia istrinya sedang menanti kelahiran anak pertama. Keduanya tinggal di rumah orang tua Azkia Salsa Nabila karena Azkia putri tunggal dari pengusaha properti terkenal di Jakarta.


Tama Adnan Fareza atau yang biasa dipanggil Junior baru seminggu selesai wisuda dari fakultas hukum. Dia satu-satunya yang tidak ingin meneruskan jejak kedua orang tua mereka. Kedekatannya dengan Hanif pamannya, membuat kekaguman sendiri bagi Junior.


Hanif tidak pernah membeda-bedakan perhatian antara anak kandungnya Gibran yang kini juga telah menikah dengan Alifa. Keduanya berprofesi sebagai dosen di salah satu universitas swasta terkenal. Sedangkan Elvira putrinya yang seumuran Junior juga telah menyelesaikan studi pada bidang yang sama.


Linda telah meninggal dua tahun yang lalu. Rumah besarnya kini ditempati Ali dan istrinya. Sedangkan Ariq memiliki rumah sendiri, begitu pun  Hasya dan suaminya.


Darmawan pun telah berpulang ke rahmatullah setahun yang lalu. Kini Marisa telah berusia 80 tahun. Ia merasa bersyukur masih diberi Yang Kuasa kesempatan untuk mendampingi cucu-cucu serta cicitnya yang terus bertambah setiap tahun.  Marisa sangat berbahagia di usia tuanya walau tanpa Darmawan di sisinya, melihat kebersamaan mereka serta perhatian yang selalu tercurah baik dari Ariq, Ali serta Hasya yang selalu mengunjunginya di akhir pekan.


Di rumah besar, Marisa tinggal ditemani Khayra dan Junior.  Ia tidak ingin kesepian seorang diri di rumah. Walaupun atas keputusan bersama kini mereka menyediakan seorang perawat senior yang berusia 40 tahun yang bernama Rumaila biasa di panggil sus Ila untuk menemani keseharian Marisa.


Malam ini keluarga besar akan berkumpul di kediaman Marisa untuk bermusyawarah dalam rangka mempersiapkan acara pernikahan putri kesayangan keluarga besar yaitu Khayra Althafunnisa yang tinggal satu bulan lagi.


Sementara itu di sebuah kafe terkenal yang telah dirintis Abbas selama dua tahun bersama sang tunangan Khayra tengah terjadi perbincangan serius antara Abbas dan teman sekaligus mantan bossnya Alexander Ivandra yang merupakan pemilik perusahaan New Star Corp., yang menaungi beberapa advertising agency, production house, dan studio film.

__ADS_1


“Jadi kamu yakin akan menikahi perempuan itu?” Ivan  bertanya sambil memandang Abbas dengan senyumnya yang meremehkan.


Abbas tersenyum dengan bahagia. Sekilas bayangan ayu bermata sendu berkelebat di benaknya.


Ivan menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskan di muka Abbas dengan santai.


“Pernikahan itu hanya merepotkan. Aku tidak ingin terlibat hubungan rumit seperti itu …” desisnya tajam.


“Pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Dengan adanya tali pernikahan kita dituntut untuk bertanggung jawab tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Dan aku ingin menghalalkan Rara menjadi pendampingku hingga di surga-Nya nanti,” ujar Abbas dengan perasaan bahagia.


“Non sense!” Ivan mendengus tak suka, “Visi kita berbeda. Aku tidak suka dengan segala sesuatu yang mengikat.”


“Sudah saatnya kamu berfikir lebih serius, Van. Usiamu  sudah memasuki 32 tahun. Kapan lagi kamu mulai memikirkan untuk berkomitmen. Hubunganmu dan Sandra sudah terlampau jauh. Apa kau tidak ingin memiliki keturunan yang bakal jadi penerusmu nanti?” Abbas bertanya dengan hati-hati.


Ia sangat menghargai mantan bossnya itu. Ia tau, kehidupan Ivan sangat jauh dari agama. Sebagai pemilik New Star Corp., membuat Ivan seperti madu yang selalu dirubungi lebah di manapun ia berada. Tapi dirinya dan hatinya telah dimiliki Sandra sang model sekaligus bintang film terkenal dan termahal yang bekerja di bawah naungan agensinya.


Abbas tersenyum tipis, “Van, aku tau selama ini kamu telah dibutakan oleh Sandra. Carilah pasangan yang membuatmu merasa nyaman.”


“Aku senang bersamanya. Dia mampu memenuhi semua kebutuhanku. Tidak ada perempuan lain yang melebihi dia. Apalagi sebagai seorang perempuan semua kriteria telah Sandra miliki. Dan aku tidak merasa rugi membiayai segala keperluannya.”


“Apa kau akan terus hidup seperti ini sampai tua?” Abbas bertanya dengan pelan, “Aku berkata seperti ini karena aku menghargai persahabatan kita selama ini. Siapa lagi yang akan mengingatkanmu. Terlepas kau adalah mantan bosku. Tapi sebagai teman yang baik, sudah sepantasnya kita saling mengingatkan.”


Ivan tertawa sinis, “Sudahlah, Bas. Urus saja pernikahanmu dengan perempuan itu. Sebagai mantan bos dan teman baikmu, aku akan membiayai semua keperluanmu. Tinggal kamu hitung berapa biaya yang harus dipersiapkan. Semua akan aku transfer, termasuk bonus tiket bulan madu untuk kalian berdua.”


“Terima kasih. Aku tidak memerlukan apapun dari mu. Rara dan aku sudah sepakat tidak ingin mengadakan pesta berlebihan.”

__ADS_1


“Wah, tumben calonmu tidak ingin resepsi yang serba mewah. Apa dia berasal dari planet lain?” Ivan tertawa sinis mendengar perkataan Abbas.


Sandra saja pernah mengungkapkan jika Ivan ingin melamarnya menginginkan pesta pertunangan di atas kapal pesiar mewah, apalagi pernikahannya nanti. Dengan segudang kesibukan keduanya hingga saat ini belum ada ikatan yang pasti, tetapi seantero negeri sudah paham, bahwa keduanya adalah pasangan ideal abad ini.


“Dia perempuan terbaik yang pernah ku kenal. Ku rasa kau juga akan tertarik padanya jika aku memperkenalkan padamu,” ujar Abbas pelan.


Ivan tertawa sinis, “Kau membuatku tertawa. Tidak ada siapa pun perempuan sebanding dengan Sandra. Dia memenuhi kriteria sebagai seorang perempuan. Simpanlah gadis itu untuk dirimu sendiri. Aku tidak akan tertarik pada siapa pun.” Ivan berkata dengan sesumbar.


Abbas hanya menanggapi perkataan Ivan dengan menggelengkan kepala tak percaya. Ia begitu mengagumi Khayra. Keduanya adalah teman satu kampus. Khayra begitu berbeda dengan gadis-gadis lain yang ia temui. Sifatnya sangat mandiri dan tidak pernah memilih dalam berteman.


Keduanya dipertemukan karena sama-sama aktif dalam kegiatan BEM. Abbas tidak pernah mengetahui bahwa Khayra adalah putri kesayangan keluarga Darmawan, dan pemilik perusahaan perhiasan nomor satu di Indonesia.


Penampilannya sangat sederhana dengan ciri agamis yang meliputi kesehariannya. Keduanya sering berdiskusi masalah agama disela-sela kegiatan BEM yang mereka ikuti di Universitas Indonesia.


Hingga musibah ayah Abbas yang seorang karyawan swasta tertabrak sebuah mobil mewah hingga mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk operasi yang akan dilakukan pihak rumah sakit. Tanpa sungkan Khayra menawarkan bantuannya untuk menanggung semua biaya pengobatan ayah Abbas. Tapi takdir berkata lain, Allah lebih sayang pada almarhum Hasan. Sebelum operasi dilaksanakan beliau terlebih dahulu menghembuskan nafas terakhir.


Abbas sangat terpukul atas kepergian ayahnya. Ia merasa patah semangat, karena sudah berjanji akan membahagiakan kedua orang tuanya. Ibunya yang hanya seorang perawat di rumah sakit swasta juga merasa sedih kehilangan orang yang sangat ia cintai.


Khayra terus menyemangati Abbas, hingga hubungan keduanya semakin dekat. Dan Khayra lah yang meminta izin pada Abbas untuk memperkerjakan ibunya sebagai perawat Marisa di rumah.


Saat pertama Khayra menyampaikan keinginannya, Abbas menolak. Ia malu karena terlalu banyak merepotkan sahabatnya. Tapi kesungguhan Khayra dan niatnya yang benar-benar tulus membuat Abbas tidak menolak.


Dan keberuntungan Abbas tidak hanya sampai disitu, ternyata sang pemilik mobil yang mengakibatkan kecelakaan hingga merenggut nyawa ayahnya adalah Ivan Alexander.  Dari sinilah hubungan persahabatan keduanya dimulai.


 

__ADS_1


 


__ADS_2