
“Alhamdulillah acara sudah selesai.” Faiq merasa bahagia, karena kegiatan ditutup tepat sebelum waktu Zuhur. Ia sudah membayangkan setelah Ashar nanti ia sudah sampai di rumah. Wajah Hani dan anak-anak sudah berkelebat di matanya.
“Langsung pulang, bos?” Rudi menepuk bahunya melihat wajah kusut Faiq langsung berbinar.
“Udah dua hari nggak ngecass, mumet.” Faiq berkata jujur membuat Rudi melongo.
“Wah pak Ustadz ketularan mesum. Ha ha ha…” Rudi tak dapat menahan tawa mendengar perkataan Faiq. “Yah penganten baru masih hangat-hangatnya.”
“Mas, tolong saya…” tiba-tiba Hesti datang dengan berurai air mata.
Faiq mengerutkan kening. Perasaan tadi ia baik-baik saja, masih sempat bergurau dan mengajaknya makan siang bersama.
“Apa yang terjadi?” Faiq bertanya dengan penuh perhatian. Ia paling tidak tega melihat perempuan menangis.
“Ayah terkena serangan jantung. Dan aku harus pulang ke Banten sekarang.” Isakannya masih kuat membuat Faiq dan Rudi bingung.
“Aku akan mengantarmu pulang. Jalur kita searah.” Rudi mengambil keputusan dengan cepat. “Tiga jam kita sudah sampai di rumahmu.”
“Aku akan ikut.” Faiq menawarkan diri. Ia turut prihatin atas kabar ayah Hesti.
Senyum terkembang di bibir Hesti mendengar Faiq yang akan ikut mengantarkannya. Dengan cepat ia membereskan pakaiannya yang masih berada di kamar hotel.
Setengah jam kemudian ketiganya sudah berada di dalam mobil. Masih satu jam perjalanan menuju rumah Hesti tiba-tiba Rudi mendapat telpon bahwa putrinya yang baru berusia 1 tahun terkena demam tinggi dan harus dibawa ke rumah sakit.
“Kamu di mana sekarang?” wajah Rudi pucat mendengar perkataan istrinya.
“Rumah sakit Medika Permata Hijau bersama papa dan mama.” Ujar Shella istri Rudi yang terdengar cemas, “Mas akan pulang sekarang kan?”
Rudi menepikan mobil dan langsung menghentikannya. “Maafkan aku, karena tidak bisa mengantarmu sampai ke rumah. Aku akan menghubungi ojek online.” Ia menatap Hesti dengan perasaan tidak enak.
“Tidak apa-apa, aku akan mengantar Hesti sampai ke rumahnya. Ku harap anakmu baik-baik saja.” Sela Faiq cepat.
“Terimakasih.” Rudi segera turun dari mobil. Dan langsung membuka aplikasi ojek online yang tersedia di ponselnya.
Dengan perasaan senang Hesti berpindah duduk di samping Faiq. Keinginan yang baru kali ini tercapai, duduk berdua dengan orang yang telah ia senangi sejak awal.. Ia langsung memasang raut wajah sedih, agar Faiq semakin iba dengannya.
“Semoga ayah baik-baik saja.” Airmatanya menetes mengalir di pipinya.
Faiq terdiam. Ia tidak tau harus berbuat apa. Keheningan menyelimuti keduanya. Isakan Hesti masih terdengar di telinga Faiq. Sesekali ia memandang pada Hesti yang larut dalam kesedihan.
“Berdo’alah semoga Allah memberikan kesembuhan pada ayahmu.”
“Ayahku sudah sepuh, mas. Dia menginginkan aku segera menikah. Dua adikku perempuan dan laki-laki sudah menikah, dan memberinya cucu. Tetapi aku belum bisa memenuhi keinginannya.” Hesti menghapus air mata yang terus membanjiri pipi mulusnya.
“Jodoh itu Allah yang mengatur, Hes. Kita tidak bisa mendahului skenario yang telah Allah siapkan untuk kita.”
Tepat jam 5 sore keduanya sampai di rumah orang tua Hesti. Faiq segera memarkirkan mobil di halaman rumah yang cukup megah itu. Ayah Hesti merupakan anak sulung dari dua saudara. Begitu memasuki rumah paman dan bibi Hesti sudah berada di sana.
Mereka terkejut melihat Hesti yang datang bersama seorang lelaki tampan dan gagah. Ibu Hesti langsung berlari menghampiri putrinya.
“Akhirnya kau pulang sayang. Apakah dia laki-laki yang sering kau ceritakan itu?” Dewi sang ibu langsung mencecarnya dengan pertanyaan yang dibalas Hesti dengan anggukan.
Faiq terkejut mendengar pertanyaan Dewi, “Saya rekan sekantornya, bu. Dan saya hanya mengantar Hesti. Saya akan langsung pulang.” Faiq merasa tidak enak melihat pandangan seluruh orang di ruangan itu yang mengarah padanya.
__ADS_1
“Ibu… ayah memanggil.” Andre adik laki-laki Hesti mengejutkan semua yang berada di dalam ruangan.
“Mari masuk, nak.” Paman Hesti yang bernama Thamrin mengajak Faiq masuk.
“Tidak usah, pak. Saya harus pulang secepatnya. Keluarga saya menunggu..” Faiq berusaha menolak.
“Mas, tolong aku…” Hesti memohon pada Faiq untuk mengikutinya memasuki kamar sang ayah.
Dengan berat hati Faiq mengikuti langkah Hesti. Ia tertegun melihat sosok tua ringkih yang berada di pembaringan yang lemah tak berdaya.
“Hes… apa kamu datang dengan kekasihmu itu…” suara Bambang ayah Hesti semakin lemah.
“Ya ayah.” Hesti menjawab pelan membuat Faiq terkejut mendengarnya. Ia benar-benar tak menyangka berada di situasi ini.
“Waktu ayah tak lama lagi. Ayah ingin melihatmu menikah, sebelum ajal menjemput ayah…”
Dokter yang mendampingi Bambang melihat jam di pergelangan tangannya. “Waktunya tidak sampai satu jam lagi.”
Tanpa berkata apa-apa Faiq melangkah ke luar kamar. Pikirannya berkecamuk dengan kajadian yang menimpanya.
“Mas…” Hesti berlari mengejarnya, “Tolong aku mas, demi ayah…” Hesti memeluk pinggang Faiq dari belakang.
Dengan pelan Faiq melepas tangan Hesti dari pinggangnya, “Maafkan aku, Hes. Aku nggak bisa mengkhianati Hani dan anak-anakku.”
Thamrin dan keluarga besarnya menghadang langkah Faiq. “Mari kita bicarakan ini baik-baik.” Thamrin mengajak Faiq dan keluarga besar duduk bersama di depan kamar Bambang.
“Tolonglah putri saya, nak. Dia sangat mencintai anda.” Dewi berkata dengan lembut berusaha membujuk Faiq, karena ia sudah mengetahui sejak awal bahwa anaknya telah jatuh cinta dengan seniornya di kantor.
Faiq mengusar rambutnya dengan kasar, “Saya baru menikah sebulan yang lalu. Maafkan saya tidak bisa menolong keluarga anda.” Faiq berkata dengan tegas. Pikirannya tertuju pada Hani dan anak-anaknya yang kini menunggunya di rumah.
“Begini saja, nak. Kamu cukup menikahi Hesti di depan ayahnya. Setelah 40 hari nanti, kamu boleh menjatuhkan talak padanya.” Thamrin berusaha memberikan solusi pada Faiq yang masih bersikeras menolak. “Kami siap menjadi saksi, bantulah kami.”
“Saya mencintai keluarga saya. Saya siap mengorbankan yang lain, asal tidak menikah dengan Hesti.” tolak Faiq.
“Mbak Dewi… “ panggilan Ira adik bungsu Dewi menghentikan pembicaraan mereka.
Dengan berat hati Faiq mengikuti langkah keluarga besar Hesti kembali ke kamar tempat Bambang berada. Dalam waktu 10 menit segala persiapan dilakukan. Dengan memanggil seorang ustad di pesantren terdekat akhirnya Faiq dengan terpaksa menikahi Hesti di depan ayahnya yang dalam keadaan sekarat.
“Saya terima nikah dan kawinnya Hesti Handayani binti Bambang Kusuma dengan mas kawin sebentuk cincin emas dan uang 20 juta tunai.” Suara Faiq tidak terlalu bersemangat saat mengucapkan ijab qabul.
“Sah…” seruan membahana memenuhi kamar yang dipenuhi dengan kerabat yang menyaksikan pernikahan dadakan antara Hesti dan Faiq.
Sementara itu Hani yang baru selesai melaksanakan salat Ashar terkejut mendapati foto pernikahannya yang bertengger di atas meja riasnya tiba-tiba terjatuh ke lantai.
“Astagfirullahaladjim…ya Allah apa yang terjadi dengan suami hamba ya Allah. Lindungi suami hamba ya Allah, hingga ia pulang kembali bersama saya dan anak-anak.” Jantung Hani berdegup kencang melihat kaca figura yang pecah tak bersisa.
Ia membatalkan diri untuk keluar dari kamar dan melanjutkan mengambil al-Qur’an untuk menenangkan pikirannya yang kacau setelah jatuhnya foto pernikahan mereka.
Di kediaman Hesti tepatnya di kamar ayahnya, dengan perlahan mata Bambang menutup sempurna dengan senyum mengulas di bibirnya yang kini tampak pucat.
“Bawalah suamimu ke kamar, nak. Setelah itu kita akan menyiapkan proses penguburan ayahmu.” Ujar Dewi pada Hesti, tetapi Faiq menolak, ia tidak ingin melangkah lebih jauh.
Thamrin segera berbenah untuk menyegerakan penguburan Bambang pada malam hari itu juga. Mereka tidak ingin membuat mayat tersiksa dengan membiarkan hingga esok, karena semua keluarga besar sudah berkumpul.
__ADS_1
Setelah penguburan mertuanya selesai, Faiq akan kembali ke Jakarta. Ia merasakan badannya sangat penat. Sudah satu jam ia tidak melihat keberadaan Hesti. Waktu Isya telah lewat.
“Hesti berada di kamarnya, nak. Pamitlah padanya kalau kamu ingin pulang.” Dewi mengamati kegelisahan yang tergambar di wajah Faiq. “Tenang saja. Ia akan baik-baik saja.”
Dengan perasaan tak menentu Faiq melangkah menuju kamar Hesti. Ia mengetuk pintu dengan pelan.
“Masuklah mas.” Terdengar suara lembut Hesti meminta Faiq untuk memasuki kamar yang tidak ia kunci.
Dengan perlahan Faiq melangkah memasuki kamar. Ia tidak menyangka melihat Hesti yang hanya mengenakan gaun tidur tipis sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah.
“Aku akan pulang. Setelah 40 hari ayahmu aku akan datang kembali ke mari, untuk mengakhiri semuanya.” Faiq berkata dengan datar.
Hesti hanya terdiam mendengar ucapan Faiq. Ia sedih mendengar nada Faiq yang dingin dari biasa. Ia memang berbahagia atas pernikahan yang terjadi. “Ini malam pertama kita, mas. Tidak bisakah kamu menginap malam ini saja. Aku akan melayanimu sebagai istri sahmu.”
“Aku tidak ingin merusakmu. Suatu saat kau akan menemui lelaki yang tulus mencintaimu.” Faiq membuang muka tidak ingin melihat Hesti yang kini berdiri di hadapannya sehingga menunjukkan tubuhnya yang tidak memakai dalaman.
“Aku siap menjadi yang kedua, mas. Mbak Hani tak perlu mengetahui itu. Kita akan merahasiakannya.” Hesti berjalan mendekat ke arah Faiq sambil membawa jus mangga yang kelihatan menyegarkan di tenggorokan.
“Aku tidak bisa mengkhianati Hani dan anak-anak. Aku sudah berjanji.”
“Bukankah lelaki boleh berpoligami. Dan aku rela, walaupun mas Faiq tidak tinggal bersamaku. Izinkan aku menjadi istrimu seutuhnya, mas.”
Faiq menggelengkan kepala dengan tegas. “Maafkan aku, Hes. Aku tidak bisa.”
Hesti menghela nafas menahan amarah yang sudah menggelegak di dadanya, “Baiklah. Aku menghormati keputusanmu. Sebelum mas pulang, minumlah untuk menghilangkan dahagamu. Aku tau, mas haus setelah penguburan ayah.” Hesti mengulurkan gelas bening itu ke tangan Faiq.
Faiq menerima gelas dari Hesti dan langsung meneguknya tak bersisa. Ia benar-benar kehausan, karena sejak sore hingga malam ini ia tidak meneguk setetes air dan sesuap nasipun belum masuk ke perutnya.
Hesti tersenyum puas melihat Faiq menghabiskan jusnya sekaligus. Ia tetap berdiri di depan Faiq sambil mengibaskan rambutnya mencoba menarik perhatian Faiq. Ia sengaja tidak memakai dalaman serta memakai wewangian yang membangkitkan hasrat kaum lelaki.
“Astagfirullahaladjim…” Faiq beristighfar dalam hati, belum dua menit ia menghabiskan minuman tubuhnya mulai terasa lain. Hawa panas mulai mengalir dalam darahnya. Keinginan untuk bercinta tiba-tiba mengganggunya. Ia menatap Hesti dengan tajam setelah otaknya berpikir dengan jernih.
Tanpa berkata apapun ia meninggalkan Hesti dengan terburu-buru. Melihat Thamrin dan Dewi beserta saudara Hesti yang masih berkumpul di ruang tamu, Faiq hanya menganggukkan kepala tak bersuara. Ia langsung menghubungi Andi sepupunya yang kebetulan tinggal di kota yang sama. Langkahnya lebar meninggalkan rumah besar itu.
“Tolong jemput aku.” Suara Faiq bergetar saat Andi menyambut telponnya. Ia langsung menyebutkan alamat rumah Hesti.
“Apa yang terjadi?”
“Jangan banyak tanya. Aku ingin kau mengantarku pulang ke rumah sekarang.”
Sepuluh menit kemudian mobil mewah hitam sudah berada di hadapannya. Dengan cepat Faiq masuk ke dalam mobil dengan tetap berzikir agar kemarahannya dapat teratasi.
“Apa yang terjadi padamu, bro?” Andi heran melihat wajah Faiq yang memerah seperti menahan sesuatu.
“Cepat temukan aku dengan Hani. Aku udah nggak bisa menahannya.” Faiq berkata dengan penuh kekesalan.
“Astaga.” Andi terkejut mendengar nada Faiq yang selama ini biasanya berbicara dengan santun.
“Aku terjebak dan dijebak. Besok aku akan bercerita. Sekarang sudah tidak ada waktu.” Faiq memejamkan mata berusaha menahan hasrat yang sudah sampai ke ubun-ubun.
Untung saja kondisi jalan sudah sepi di jam 10 malam itu. Dalam waktu 3 jam setengah Andi berhasil melarikan supercarnya untuk menyelamatkan nyawa sepupunya.
__ADS_1