
Faiq masih termangu di meja kerjanya memandang wajah Hani melalui layar ponselnya. Wajah teduh dan senyum tipisnya sangat mengganggu Faiq. Ia sangat merindukan sentuhan istrinya. Sudah satu bulan ia berusaha mencari informasi ke sana kemari, tapi belum membuahkan hasil sama sekali.
Suara keributan di depan pintu membuat Faiq meletakkan ponselnya di atas meja. Rudi yang sudah dua minggu menjadi asisten pribadinya tampak tegang begitu memasuki ruangan.
“Apa yang terjadi?” Dengan wajah berkerut Faiq melihat Rudi berdiri di hadapannya.
“Aku tidak menyangka perbuatanmu telah membuat Hani dan anak-anakku pergi…” Adi berkata dengan nada marah saat memasuki ruang kerja Faiq.
Tanpa dipersilahkan sang empunya ruangan, Adi duduk dengan kasar di hadapan Faiq. Rudi dan Johan hanya berdiri menatap kedua bosnya yang terlibat perseteruan.
“Aku tidak mengerti maksudmu?” Faiq berpura-pura bingung dan berusaha santai di depan rivalnya.
“Kalau saja aku tidak mengantar mama berobat ke Jerman, sudah ku bawa pergi Hani dan anak-anak. Dan ku pastikan kau tidak akan menemukan mereka.”
Faiq memberi isyarat agar Rudi dan Johan meninggalkan mereka berdua. Ia ingin berbicara serius dengan Adi. Ia tau, Adi mempunyai relasi yang banyak. Posisinya sebagai pengusaha nomor satu menjadikan ia memiliki ahli IT yang kompeten di bidangnya.
“Maafkan aku, bang. Kesalahanku membawa Hesti ke rumah telah menyebabkan kesalah pahaman antara aku dan Hani, sehingga ia meninggalkan rumah membawa anak-anak. Tetapi aku telah mengembalikan ia pada keluarganya.”
“Tanpa kau ceritakan, aku mengetahui semuanya.” Adi menatap Faiq dengan tajam. “Aku akan berjuang untuk membawa Hani dan anak-anak kembali ke rumah.”
“Bang Tama tidak berhak melakukan itu. Hani masih istriku, dan dia sedang mengandung anakku.” Faiq merasa kesal mendengar perkataan Adi.
“Kau tidak mengenal Hani. Jika seseorang menyakitinya, tidak mungkin ada kata untuk kembali. Lihat saja, kau akan diperlakukan seperti orang asing…” Adi mengingat sikap Hani saat pertama kali mereka bertemu setelah perceraian terjadi.
“Itu tidak akan terjadi padaku. Aku tidak pernah mengkhianatinya.” Faiq bersikeras menolak argumentasi Adi, walau ia juga tau bagaimana Hani memperlakukan Adi yang notabene adalah ayah biologis anak-anaknya.
“Kita berdua tidak ada bedanya.” Adi memandang Faiq datar, “Sama-sama membuatnya terluka, dan meninggalkan rumah.”
“Aku tau, abang mempunyai tim IT yang handal. Dan aku ingin abang membantuku mencari keberadaan mereka.” Faiq akhirnya memohon pada Adi untuk meminta bantuannya mencari informasi tentang Hani dan anak-anaknya.
“Cih…” Adi menatapnya sinis, “Aku tak akan memberimu informasi apapun. Karena aku akan memperjuangkan mereka kembali. Mulai hari ini kita akan bersaing untuk mendapatkan mereka…”
Faiq terpaku mendengar ucapan Adi. Dengan angkuhnya Adi meninggalkan ruangan Faiq diikuti Johan yang memandang keduanya penuh tanda tanya. Ia tak akan membiarkan Adi merebut keluarga kecil yang sudah ia perjuangkan dari awal.
__ADS_1
Hani menyelesaikan hitungan pembayaran dengan seorang lelaki muda yang masih berdiri menghadapnya. Sambil tersenyum tipis Hani memberikan kembalian uangnya.
“Kembaliannya ambil saja.” Lelaki muda itu memandang Hani dengan lembut.
“Tidak usah, pak. Ini terlalu banyak.” Hani menolak keinginannya, dan tetap meletakkan uang sebesar 50 ribuan.
Lelaki muda itu menatap Hani dengan lekat, “Kenalkan namaku Irwan.” Ia mengulurkan tangannya pada Hani.
Dengan cepat Hani menangkupkan kedua tangannya di dada, “Maafkan saya, pak. Saya harus melayani pelanggan di belakang anda.” Hani memberi isyarat kepadanya, karena sudah ada 3 orang yang mengantri di belakang lelaki itu.
“Baiklah, saya permisi.” Sambil tersenyum dan menganggukkan kepala, lelaki itu berjalan meninggalkan Hani dan kesibukannya.
Setelah keadaan mulai sepi, Hani segera menyusun kembali uang yang berada di dalam laci meja. Tiba-tiba matanya berkunang-kunang. Badannya mulai terasa ringan, dan ia sudah tidak mengingat apapun.
Hani membuka matanya secara perlahan, kepalanya masih terasa berdenyut. Ia memandang sekelilingnya, tampak wajah-wajah yang begitu ia kenal menatapnya dengan raut cemas.
“Aku dimana?” Ia memandang Wulan yang duduk di sampingnya.
“Apa yang terjadi padaku” Hani memandang Hanif yang tampak gusar sambil memainkan ponselnya, sedangkan Wulan masih dengan senyum sumringahnya.
“Mbak Hani sedang mengandung 8 minggu…”
Hani menutup mulutnya dengan perasaan berkecamuk antara sedih dan bahagia. Ia sedih, karena kehamilan kali ini ia harus melalui seorang diri. Bahagia karena yang Kuasa kembali memberinya anugerah tak ternilai dengan kehadiran janin yang kini sedang bertumbuh di rahimnya.
“Lelaki itu tidak hanya memberi luka, bahkan meninggalkan jejaknya di rahimmu.” Hanif berkata dengan kesal.
“Mas…” Wulan meraih tangan Hanif, “Semua ini sudah kehendak Allah. Kita tidak boleh memprotesnya. Allah lebih tau apa yang terbaik untuk mbak Hani.”
“Dia tidak hanya menghamili istri mudanya. Tetapi mbak Hani pun telah mengandung janinnya.” Hanif memukul tembok klinik itu dengan kesal.
Mata Hani berkaca-kaca, “Sudahlah, dek. Mbak akan menjaganya dengan baik.”
“Kita akan merawatnya bersama-sama.” Wulan memeluk Hani dengan iba, “Keluarga kita akan semakin ramai dengan bayi yang nanti akan mbak lahirkan.”
__ADS_1
Hani tersenyum menanggapi perkataan adik iparnya. Ia tidak menginginkan apapun sekarang. Cukup ia berkumpul bersama Hanif serta keluarga kecilnya sudah merupakan kebahagian terbesar yang ia rasakan.
Sementara itu jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Faiq sudah kembali ke rumah. Ia meminta Ningsih untuk mengemasi barang-barang Hesti yang masih tertinggal di kamar tamu rumah mereka.
Ningsih dibantu Giyem mengeluarkan barang-barang yang lumayan banyak dari lemari yang tersusun di dalam kamar. Paper bag belanjaan terakhirnya bersama Hesti dan Dewi masih utuh tersimpan di lemari.
Entah sudah berapa banyak uang yang ia keluarkan untuk menuruti keinginan Hesti dan ibunya yang hobi shopping barang-barang branded selama mereka berada di rumahnya. Hari Sabtu yang biasanya ia lalui untuk bermain di taman bersama dengan si kembar tetapi sudah berganti dengan jadwal membawa Hesti dan Dewi shopping sekaligus makan di luar.
Faiq melihat keduanya dengan perasaan sedih. Ia teringat saat melihat cctv waktu Hani dengan berurai air mata mengeluarkan pakaiannya yang tidak seberapa dari lemari pakaian. Sedangkan ia begitu memanjakan Hesti dengan menuruti keinginannya untuk berbelanja segala assesoris perempuan dari ujung rambut hingga ujung kaki, sehingga lemari Hesti isinya dua kali lipat di banding lemari Hani yang isinya tidak seberapa banyak.
Saat ulang tahun Hesti, ia meluangkan waktu untuk mengajak mereka makan di restoran mewah, serta membelikan jam tangan merk terkenal sebagai hadiah ulang tahunnya. Sedangkan ulang tahun istrinya, malah Faiq melupakannya.
Hani terlalu mandiri, dan tidak pernah memintanya untuk membelikan sesuatu apapun selama pernikahan mereka. Ia menerima semua apa adanya tanpa pernah mengeluh sedikit pun selama 4 bulan pernikahan mereka.
“Maafkan aku, sayang…” Faiq berkata lirih dalam hati.
Bayangan Hani yang melayaninya selama pernikahan bagaikan film utuh yang diputar di otaknya. Sementara Faiq sendiri belum pernah memberikan nafkah lahir kepada sang istri. Padahal ia telah menyiapkan dua kartu untuk keperluan Hani dan anak-anaknya, sehingga Hani tidak perlu mengeluarkan uang dari sakunya sendiri.
“Ya Allah. Aku telah berdosa karena belum pernah memberikan uang belanja pada Hani selama pernikahan kami…” Faiq menghela nafas dengan berat.
Ia baru menyadari selama pernikahan belum pernah memberikan sepeserpun uang kepada Hani. Padahal ia telah menyiapkan beberapa kartu yang bisa digunakan Hani untuk keperluan rumah tangga maupun belanja kebutuhan Hani dan anak-anaknya.
Faiq menyandarkan tubuhnya di sofa yang berada di kamar tamu, begitu Ningsih dan Giyem telah menyelesaikan pekerjaan mereka.
“Kami permisi, den.” Ningsih dan Giyem pamit undur diri.
“Terima kasih, bi.” Faiq menganggukkan kepala pada keduanya.
Setelah keduanya berlalu dari hadapannya, Faiq memejamkan mata di sofa itu. Ia menyesali kebodohannya yang mudah diperdaya Hesti dan Dewi sehingga menyia-nyiakan Hani dan anak-anak mereka, dan melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang suami terhadap Hani, serta seorang ayah bagi anak-anaknya.
__ADS_1