Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 102


__ADS_3

Faiq baru keluar dari kamar mandi. Ia mendekati tempat tidur dan melihat Hani sudah terlelap dengan tenang. Senyum tipis terbit di wajah tampannya. Faiq berjongkok dan mengecup kening Hani. Jemarinya membelai rambut istrinya yang masih terasa lembab karena habis keramas, akibat ulahnya yang terlalu cemburu berlebihan.


“Maafkan aku sayang, tapi kali ini tidak akan ada lagi yang akan menyakitimu.” Bisiknya pelan.


Faiq mengambil ponsel lama Hani yang kini tersimpan di lemari pakaian milik istrinya. Ia mengetahui bahwa Hani telah memeriksa ponsel lama yang masih ia simpan. Faiq sengaja tidak membuang ponsel lama Hani, karena ia yakin suatu saat semua yang tersimpan di sana dapat digunakan sebagai barang bukti.


Dan tanpa sepengetahuan Hani dan Marisa, Faiq telah memeriksa cctv salon tempat keduanya memanjakan diri saat itu. Rudilah yang mengurus semua. Di sanalah Faiq mengetahui bahwa Hesti lah yang telah menceritakan kisah masa lalu yang berusaha ia sembunyikan agar istrinya tidak bersedih hati.


Dengan cepat Faiq memakai kaos serta jaket kulitnya. Ia segera menelpon orang-orang yang sudah ia hubungi sejak tadi. Faiq melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 2 dini hari. Ia tidak ingin menundanya lebih lama. Ia meraih kunci mobil yang terletak di meja rias Hani, dan bergegas keluar untuk menuntaskan misinya.


Hesti yang sudah menunggu sejak 3 jam yang lalu merasa uring-uringan. Saat pintu apartemennya diketuk, dengan semangat 45 ia langsung membuka pintu. Alangkah terkejutnya Hesti, karena yang datang bukanlah orang yang ia nantikan.


“Ibu, Andre, mengapa datang malam-malam begini?” tanya Hesti dengan nada kecewa.


Andre dan Dewi memasuki apartemen Hesti hanya tersenyum kecut. Keduanya merasa kesal karena Faiq menelpon mereka 3 jam yang lalu dan meminta mereka datang secepatnya ke tempat Hesti.


“Tuan Faiq yang meminta kami datang. Apa mbak membuat masalah lagi?” Andre menatap Hesti dengan raut curiga.


Hesti membuang muka, ia tidak menyangka perbuatan isengnya membuat Faiq mengumpulkan keluarganya. Dan ia tidak bisa menebak rencana apa yang akan mereka lakukan sehingga Andre menunjukkan sifat permusuhan terhadapnya. Ruangan hening sesaat.


Andre yang merasa berhutang budi terlalu banyak pada Faiq tidak bisa berbuat apa pun selain menuruti keinginannya. Dewi merasa heran saat Andre menceritakan keinginan Faiq untuk bertemu di apartemen Hesti, otak bisnisnya berjalan dengan cepat.


Bunyi  bell apartemen memutus keheningan yang tercipta. Hesti sudah tidak bersemangat lagi untuk melihat siapa yang berkunjung pada waktu dini hari.


“Assalamu’alaikum …. “ terdengar suara mengucap salam dari luar.


“Wa’alaikumussalam.” Andre menjawab dengan cepat.


Dewi dan Hesti terkejut melihat Faiq tidak datang sendiri, tetapi diikuti 3 orang laki-laki, dan hanya dua yang ia kenal  yaitu Rudi dan Rizwar.

__ADS_1


“Silakan duduk mas.” Andre dengan sigap mempersilakan mereka berempat duduk di sopa panjang yang berada di ruang tamu.


Hesti tidak menyangka Faiq akan membawa rombongan yang tidak ia ketahui maksud dan tujuan kedatangan mereka.


Andre meminta Hesti dan ibunya untuk duduk bersama. Kini mereka duduk berhadap-hadapan.


“Mohon maaf atas kedatangan kami yang begitu tiba-tiba di tengah malam ini.” Rizwar mulai membuka suara. “Tentu bu Dewi, Hesti dan Andre masih ingat dengan saya.”


Hesti memandang Faiq dengan penuh tanya. Wajah Faiq kelihatan datar tak ramah seperti biasa. Ia tidak berani menyapa Faiq, dan hanya terdiam mendengar perkataan Rizwar.


“Kami juga tidak menyangka kalian berkunjung pada waktu sekarang. Kenapa tidak besok pagi atau siang sekalian?” Dewi turut membuka suara.


“Maafkan atas kedatangan kami yang mengejutkan ibu sekeluarga …. “ Faiq mulai membuka suara.


Ruangan hening sejenak. Dewi memandang penuh kekaguman pada mantan menantu idamannya. Hesti menajamkan pendengarannya tak ingin melewatkan kata-kata yang akan diucapkan sang pujaan.


“Apa maksud mas Faiq?” Hesti mulai merasa tidak nyaman mendengar arah pembicaraan Faiq.


“Saya akan melakukan apa pun untuk menjaga keselamatan istri dan anak-anak saya. Tetapi tindakan Hesti benar-benar sudah tidak bisa ditolerir lagi.”


“Saya tidak melakukan apa pun.” Hesti berusaha berkilah.


Faiq mengeluarkan ponsel lama Hani dan memberikan kepada Hesti. Ia semakin kesal melihat sifat Hesti yang penuh drama dan pura-pura tidak mengetahui apa pun.


“Kenapa nak Faiq menuduh Hesti melakukannya. Bisa saja itu perbuatan orang yang cemburu dengan Hesti sehingga memfitnahnya seperti ini.” Dewi bersikeras membela putrinya.


Faiq menatap Dewi dengan tajam, “Sebenarnya saya tidak tega menuduh ibu dan Hesti berbuat yang tidak-tidak, apalagi berusaha memisahkan saya dan Hani dengan menggunakan ilmu sihir.”


“Mas Faiq sungguh keterlaluan menuduh kami tanpa dasar.” Hesti merasa tidak nyaman kedoknya dan Dewi dibuka Faiq di depan Andre dan orang yang tidak ia kenal.

__ADS_1


“Selama ini saya sangat mempercayai kalian, dan saya menghargai bu Dewi karena saya juga mempunyai seorang ibu. Tetapi kepercayaan yang telah saya berikan telah disia-siakan.”


“Mas Faiq, aku melakukannya karena aku sangat menyintaimu …. “ Hesti akhirnya tak dapat menahan perasaannya.


“Perasaanmu itu bukan cinta, Hes. Kamu hanya terobsesi padaku.” Faiq berusaha mengingatkan Hesti.


“Aku benar-benar mencintaimu mas …. “ Hesti benar-benar menjatuhkan harga dirinya, “Aku siap menjadi nomor dua, dan aku tidak masalah, walaupun mas Faiq jarang mengunjungiku.”


Faiq menggelengkan kepala melihat sikap Hesti yang tidak tau malu. Ia menjadi jengah menghadapinya.


“Kamu itu menarik Hesti. Masih banyak laki-laki di luaran sana yang lebih baik dariku.” Faiq menatap Hesti datar.


“Mas, tidak bisakah kau mengabulkan keinginanku.”


“Maafkan aku Hes, aku hanya mencintai istriku. Perasaan tidak bisa dibohongi. Ku harap kamu mengerti.”


“Kenapa tidak ada yang mengerti perasaanku …. “ Hesti mulai terisak-isak.


“Nak Faiq, kenapa tidak memberikan kesempatan pada Hesti untuk membuktikan bahwa ia tulus mencintaimu?” Dewi tetap mendukung perbuatan anaknya.


“Mohon maaf, bu. Saya hanya ingin menegaskan, mulai saat ini saya tidak ingin berhubungan lagi dengan keluarga ini.”


“Begitu burukkah keluarga kami di mata nak Faiq. Mentang-mentang kami miskin.” Dewi merasa gusar mendengar ucapan Faiq.


“Ini tidak ada hubungannya dengan status sosial. Saya hanya ingin melindungi keluarga saya dari hal yang membahayakan.” Faiq menatap Andre sekilas, “Maafkan aku, Dre. Terpaksa aku melakukan ini.”


Andre menatap Faiq dengan perasaan serba salah. Ia tidak tau sama sekali perbuatan ibu dan kakaknya, karena ia sibuk bekerja di luar kota.


“Saya pamit pulang sekarang. Silakan Rizwar lakukan tugasmu.” Faiq menatap Rizwar yang masih duduk dengan tenang di sopa panjang tersebut.

__ADS_1


__ADS_2