
“Mas Faiq….” mata Hani membulat melihat suaminya sudah duduk di sampingnya.
“Ibu kira kamu sangat sibuk hingga nggak bisa mengantar si kembar imunisasi. Untung Hanif dan Wulan juga kontrol.” Suara Marisa membuat Faiq merasa tidak nyaman.
“Benar, bu. Banyak berkas yang harus ku tanda tangani.” Faiq berusaha membela diri.
“Untung saja ada nak Fahmi, sehingga kita nggak bosan menunggu di sini.” Marisa tersenyum ke arah dr. Fahmi yang membalas senyuman Marisa sambil menganggukkan kepala pada Faiq.
Bukannya membalas senyuman dr. Fahmi, Faiq malah menatapnya dengan sinis. Marisa mengerutkan jidatnya melihat rona permusuhan yang tergambar di wajah putranya.
“Kita pulang sekarang, si kembar tidak boleh terlalu lama di luar rumah.” Ujar Faiq bangkit dari kursi, “Ayo sayang.…”
Dengan pasrah Hani mengikuti langkah suaminya. Ia tidak sempat berpamitan, karena jemarinya sudah berada dalam genggaman Faiq.
“Terima kasih atas traktirannya nak Fahmi.” Marisa tersenyum tulus pada Fahmi yang menatap kepergian Hani dengan nanar.
Wulan dan Hanif terlebih dahulu menaiki mobil yang ia bawa sendiri, sedangkan Hani, Marisa dan si kembar menaiki mobil Faiq.
Di dalam mobil hawa terasa dingin. Faiq yang membawa mobil kantor dengan supir yang bernama Kusnadi diam membisu.
Marisa heran dengan sikap putranya. Ia merasa tuntutan pekerjaanlah yang membuat Faiq jadi kaku seperti ini.
“Ra, ibu senang sekali dengan nak Fahmi. Ia sangat telaten dalam menangani Fatih dan Khaira. Sikapnya sangat sopan.” Suara Marisa memecah keheningan.
Telinga Faiq langsung berdiri tegak mendengar ucapan ibunya. Ia tidak suka mendengar ucapan Marisa barusan.
“Hm.…” Faiq mulai berdehem. “Kalau ada maunya selalu seperti itu.” Dengusnya tak senang.
“Nak Fahmi memang baik kok. Benar kan, Ra?”
Hani menganggukkan kepalanya. Faiq mencuri pandang Hani lewat kaca spion dalam. Ia kesal melihat Hani terlibat perbincangan dengan dr. Fahmi apalagi setelah mendengar cerita Hanif tentang kisah mereka di masa lalu.
“Empat bulan lagi Fatih dan Khaira harus imunisasi Campak. Jangan sampai lupa ya, Ra. Untung saja nak Fahmi memberi nomor ponselnya pada kita.”
__ADS_1
“Nggak usah ke dokter yang sok perhatian itu. Aku akan cari dokter terbaik untuk anak-anakku.” Pungkas Faiq tak senang karena ibunya terus memuji dokter yang menurutnya sangat menyebalkan.
“Dari mana kamu menyimpulkan bahwa dia sok perhatian?” Marisa jadi penasaran dengan perkataan Faiq.
Faiq kembali memandang wajah Hani yang juga kebetulan menatapnya. Melihat mata bening Hani yang menatapnya dengan raut bingung membuat Faiq menurunkan nada suaranya.
“Aku tidak suka ada orang yang caper dengan istriku dan memberikan perhatian yang berlebihan pada anak-anakku….” Ujar Faiq sambil menghela nafas pelan.
“Jarang lho ada dokter yang penuh perhatian seperti nak Fahmi. Ibu sangat menyukainya. Kenapa harus pindah dokter?” Marisa masih tidak memahami kecemburuan yang tengah membelenggu putranya.
Dengan kasar Faiq membuka pintu mobil dan membantingnya denganr keras. Ia langsung berjalan dengan cepat memasuki rumah, membuat Kusnadi sang sopir geleng-geleng kepala.
“Maafkan tuan, Nya. Suasana hati tuan sedang nggak baik.” Ujar Kusnadi pelan sambil membukakan pintu untuk Marisa.
Melihat kelakuan Faiq, Marisa hanya geleng-gelang kepala. Yang ia khawatirkan kedua cucunya terbangun, tetapi si kembar tetap anteng dan nyaman dalam tidurnya.
“Kamu itu ya, kalau ada masalah di kantor jangan dibawa pulang ke rumah. Untung saja Fatih dan Khaira nggak kebangun liat papanya emosi.” Marisa mengomeli Faiq yang sudah duduk di sofa ruang keluarga.
“Benar, cape juga gendong Fatih. Alhamdulillah, berat badan keduanya selalu meningkat tiap bulan.” Marisa tersenyum bangga melihat kedua cucunya yang sangat menggemaskan.
Faiq semakin kesal, karena istrinya tidak peka dengan kecemburuan yang kini ia rasakan karena melihat Hani berbicara dengan Fahmi begitu santai dan terbuka.
Ketika Marisa sudah keluar dari kamar mereka dengan serta merta Faiq menarik tangan Hani dan mengurungnya sehingga tubuh Hani tidak bisa bergerak.
“Mas, apa yang kamu lakukan?” Hani terkejut melihat Faiq yang begitu dingin dan kaku padanya.
Jemari Faiq mulai mengelus pipinya yang makin berisi setelah melahirkan. Kemudian turun ke bibir.
“Aku nggak mau lihat lelaki lain menatap wajah istriku….” Ucap Faiq lirih.
Jemarinya berpindah mengelus bibir istrinya yang tampak merah alami. Dengan cepat Faiq mendaratkan bibirnya dan langsung mel*matnya dengan rakus. Rasa kesal bercampur cemburu membakar jiwa Faiq. Ia mengangkat tubuh mungil Hani ke tempat tidur.
Hani tidak bisa menolak keinginan suaminya. Dengan pasrah ia mengikuti ritme permainan suaminya. Hingga dua jam ia dikurung Faiq di kamar, menuruti keinginannya dengan bermacam gaya. Kini Faiq terkapar kelelahan setelah melampiaskan emosi bercampur gairah yang sudah ditahannya sejak melihat Hani berbicara dengan Fahmi di ponsel ibunya.
__ADS_1
Hani memandang wajah suaminya yang kini terlelap dalam damai. Ia tersenyum tipis membayangkan wajah Faiq yang kesal saat menarik tangannya meninggalkan kafetaria rumah sakit.
Melihat ketulusan dan cinta yang ditunjukkan Faiq dalam keseharian, secara perlahan-lahan membuat rasa sayang mulai tumbuh di hati Hani. Ia membelai rambut suaminya dengan lembut.
“Mas, udah jam dua belas. Mandi dulu gih, udah Zuhur baru kita makan. Mas belum makan siang kan?” ujar Hani lembut.
Tangannya masih membelai rambut hitam tebal milik suaminya. Mendapat belaian lembut jemari istrinya membuat Faiq semakin terlelap dalam tidurnya. Akhirnya Hani beranjak mendekati box si kembar.
“Oek, oek….” Kedua bayi mungil terbangun dari tidur siangnya.
Mendengar tangisan si kembar akhirnya Faiq terbangun. Ia menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 1 siang.
“Si kembar udah pada bangun bobo ya?” Faiq bertanya pada Hani yang menggendong Khaira dan mengayunnya dengan pelan.
Sebelum melangkah ke kamar mandi ia berjalan menghampiri istrinya. Tanpa Hani duga Faiq mengecup pipinya sekilas.
“Papa mandi dulu ya sayang….” Ia membelai pipi chubby putri cantiknya.
“Apakah mas akan kembali ke kantor?” Hani masih menyempatkan diri untuk bertanya pada Faiq.
“Benar. Jam tiga nanti akan ada rapat pemegang saham. Ayah minta mas hadir di rapat itu.”
“Baiklah.” Hani menganggukkan kepala mengerti.
Saat Faiq selesai mandi dan keluar dari kamar mandi untuk melaksanakan salat Zuhur, kamar tampak sepi. Hani dan kedua bayinya sudah tidak berada di sana. Baju untuk Faiq berangkat ke kantor yang sudah disiapkan Hani. Rasa lapar menyerangnya tiba-tiba.
Setelah berpakaian rapi, Faiq langsung menuju meja makan. Hanya Darmawan yang tidak ikut makan siang bersama. Kebetulan Hanif dan Wulan belum kembali ke Medan, Marisa mengajaknya makan siang sekalian
Senyum kecil tergambar di bibir Hanif melihat iparnya turun dengan rambut yang masih basah. Wajah Faiq lebih segar, tidak seperti 3 jam yang lalu seperti cuka.
.”Wah, ternyata cuaca di rumah ini sangat panas, sehingga tuan rumah harus keramas siang-siang begini ….” Sindir Hanif sambil melirik Faiq yang bersemangat menikmati makan siang yang sudah disiapkan Hani.
Sontak Marisa memandang Faiq. Ia mengulum senyum, tatapannya beralih pada Hani yang wajahnya langsung merona mendengar perkataan Hanif.
__ADS_1