Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 303 S2 (Embun si Bad Girl?)


__ADS_3

Jam telah menunjukkan pukul 4 sore ketika Ivan telah keluar dari mushola. Wajahnya kini lebih segar karena air wudhu yang telah membasahi wajahnya. Khaira memandang wajah tampan suaminya dengan perasaan yang sukar dilukiskan.


Ia kini menyadari bahwa perasaannya secara perlahan mulai kembali seperti dulu. Perlakuan dan sikap Ivan telah mengembalikan asa yang sempat hilang karena kecewa atas masa lalu dan ujian pernikahan yang mereka jalani saat itu.


“Kita belikan mainan buat si kembar sekarang,” Ivan mengarahkan pandangan menuju gerai mainan anak.


“Mas, mainan Fajar dan Embun sudah banyak,” Khaira langsung menolak keinginan suaminya.


“Mas belum pernah membelikan mainan keduanya secara langsung, apalagi di tempat ini. Mas janji kali ini saja,” Ivan memandang Khaira penuh harap, “Mas hanya ingin melihat kebahagiaan Fajar dan Embun.”


Ia teringat saat menemani Laura dan Bobby mencari mainan, bocah lelaki yang tidak ada hubungan dengan dirinya. Tanpa perhitungan dengan loyalnya ia memberikan kebebasan untuk memilih mainan yang  digemari Bobby.


Masih lekat dalam benak Ivan, ketika Fajar dan Embun yang datang bersama ustadz Hanan dan istrinya sangat berbahagia walau pun hanya membawa satu mainan di tangan masing-masing, sedangkan Bobby seperti ibunya yang hobby shopping, 10 paper bag  dari berbagai  jenis mainan ia bawa pulang di hari yang sama. Pada saat itu hatinya telah tergetar melihat bocah kembar yang begitu dekat dengan ustadz Hanan.


Kesedihan menyelimuti perasaan Ivan. Si kembar terbiasa hidup dalam kesederhanaan walau pun ia dikelilingi om dan tante yang tajir melintir,  tetapi Khaira telah membiasakan keduanya untuk bersyukur dengan apa yang mereka miliki saat ini padahal jika Khaira mau, ia pun memiliki warisan yang tidak sedikit untuk melimpahi si kembar dengan semua kebutuhan serba wah.


Ia dan mamanya merasa sedih, semenjak perpisahan yang terjadi Khaira telah mengembalikan semua termasuk kartu kredit dan debit yang nominalnya tak terhingga, dan Khaira  melepaskan hak yang seharusnya menjadi miliknya saat Ivan pergi. Padahal dengan semua yang ia tinggalkan, Ivan berharap akan mengganti semua waktu yang telah mereka lalui.


Ia pun teringat percakapan yang pernah terjadi antara dirinya dan almarhumah mamanya. Saat malam kedua mamanya menemani mereka menjaga Embun dan Fajar yang masih di opname karena DBD.


Laras menceritakan pertemuan pertamanya dengan si kembar. Ia menyaksikan sendiri  ketika Bobby merebut mainan  yang berada di tangan Fajar. Saat itu ia tidak mampu berbuat apa pun karena Bobby dan Laura bersamanya. Ia dapat melihat kesedihan yang terpancar dari raut mata Fajar karena mainan yang ia sukai telah berpindah tangan.


Saat melihat wajah Fajar dan Embun yang diakui Ivan sebagai anaknya, Laras sudah tidak mampu berucap. Ia mengingat semuanya. Tatapan bening kesedihan di mata Fajar membuatnya meneteskan airmata. Ia tidak bisa membela cucunya sendiri, bahkan membelanjakan bocah yang tidak ada hubungan darah dengannya.


Mengingat peristiwa itulah hingga akhirnya Laras mewariskan semua harta dan property yang ia miliki atas nama kedua cucunya, sekaligus menebus rasa bersalahnya atas semua yang terjadi di masa lalu.


“Mas …. “ Khaira menegur Ivan yang termenung mengingat percakapan yang terjadi dengan almarhumah mamanya.


“Ya …. “ Ivan terkejut dari lamunannya.


“Katanya mau ajak Fajar dan Embun cari mainan di dalam,” Khaira memandang suaminya yang masih belum fokus.


“Apa Bunda gak masalah?” Ivan menatap Khaira dengan lekat.


Mulai sekarang ia dan istrinya  memang harus selalu berkompromi  dalam pengasuhan dan pendidikan Fajar dan Embun untuk masa depan yang lebih baik. Ia percaya, Khaira mampu melakukannya.  Dapat ia lihat keseharian si kembar yang tidak takut dengan orang lain, dan bisa berinteraksi dengan siapa pun disaat ia belum mengetahui bahwa keduanya darah dagingnya.


Ia tidak mungkin mengakui kecemburuannya pada Khaira melihat kedekatan si kembar dengan ustadz Hanan ataupun Anwar  yang  menunjukkan rasa sayang pada keduanya. Di sebalik itu ia yakin bahwa ada niat tersembunyi dari perhatian yang dilakukan lelaki mana pun pada Fajar dan Embun. Untung saja Khaira tidak penah melibatkan perasaannya sehingga ia menutup diri pada para lelaki yang berusaha mengisi hatinya. Khaira memang tercipta hanya untuknya. Dan Ivan meyakinkan diri bahwa sampai kapan pun ia akan menjaga dan terus memupuk perasaan cinta dan kasih sayangnya hingga Khaira tidak memandang lelaki lain.


Ia akan menyingkirkan rasa cemburu yang sempat hadir di pikirannya, karena sekarang Khaira adalah istrinya dan hanya miliknya. Siapa pun tidak bisa lagi merebut Khaira dari sisinya. Ia akan menjaga dan melimpahi Khaira dan si kembar dengan cinta serta kasih sayang  yang ia miliki. Ia tak peduli walau sekarang ia tak memiliki apa pun, karena semaua telah berpindah kepemilikan. Semua milik almarhumah mamanya menjadi kepunyaan si kembar, sedangkan apa pun yang ia miliki telah ia serahkan atas nama Khaira.


“Ayah …. “ suara Embun membuat Ivan mengalihkan tatapannya dari wajah istrinya.


Ia tersenyum melihat putri kecilnya terbangun dan sudah ingin dikeluarkan dari stoler, begitupun Fajar yang tampak senang ketika melihat gerai mainan sudah berada di hadapan mereka.


“Ayah, mas ingin Transfolmel … “ Fajar menatapnya dengan penuh harap.


“Ade mahu plinces syantik …. “ Embun tak mau kalah mendengar perkataan kembarannya.


“Siap kesayangan ayah,” Ivan tersenyum bahagia melihat si kembar yang penuh semangat begitu keduanya sudah terbebas dari stoler.


Khaira mengikuti ketiganya dari belakang sambil memegang stoler yang telah kosong. Ia tersenyum melihat Fajar dan Embun berlari dengan semangat menuju tempat mainan, sedangkan Ivan berusaha mengimbangi keduanya agar tidak terlepas dari pantauannya.


“Mas, kita temani ade dulu cari princessnya ya …. “ Ivan berkata sambil membelai kepala Fajar yang dibalas putranya dengan anggukkan.


Senyum terbit di wajah Ivan melihat tingkah Embun yang sibuk memilih barbie diantara sekian banyak yang sangat memanjakan mata. Pilihannya jatuh pada princess Elsa dan Anna.


“Cukup sayang?” Ivan melihat Embun yang telah memegang kedua boneka Elsa dan Anna.


“Mau pilih yang lain lagi?” Ivan masih memberikan penawaran pada putri kecilnya.

__ADS_1


Embun menggelengkan kepala dengan cepat. Matanya berbinar melihat kedua princess pilihannya telah berada dalam genggaman.


“Ayah carikan yang lain lagi ya?” Ivan masih berharap Embun memilih boneka yang lainnya.


“Mas …. “ Khaira yang sudah berdiri di belakangnya dengan tangan bersedekap tidak senang dengan sikap Ivan.


“Baik Bunda,” Ivan tersenyum melihat sorot protes yang tergambar dari tatapan sang istri, “Sekarang kita cari mainan mas lagi ya …. “


“Ya Ayah …. “ Fajar menjawab dengan senang.


Khaira memegang boneka pilihan putrinya dan membawanya langsung ke kasir, sedangkan Ivan menggandeng keduanya membawa ke stand mainan bocah lelaki. Ia berdiri melihat Fajar yang dengan semangat didampingi seorang penjaga stand mainan anak memilih mainan yang ia inginkan.


Embun berdiri di samping Fajar. Ia senang melihat beraneka robot mainan dari yang ukuran mini sampai ukuran besar melebihi dirinya. Fajar menunjuk sebuah robot Transformer berukuran sedang yang bisa dioperasikan menggunakan remote control.


“Yang ini?” dengan ramahnya pelayan toko mengulurkan robot yang telah ditunjuk Fajar.


Dengan gembira Fajar mengangguk. Pelayan toko segera mengulurkan robot Transformer edisi terbaru ke tangan Fajar.


Di luar dugaan sebuah tangan merampas robot yang sudah berada dalam pegangan Fajar, membuatnya terdiam.


“Itu punya Mas!” dengan beraninya Embun mengambil robot yang berada di tangan seorang bocah lelaki yang telah merebut mainan pilihan kembarannya.


“Hei, itu milikku!” bocah lelaki yang ternyata adalah Bobby tidak senang dengan perbuatan Embun. Ia mencoba mengambilnya kembali.


Embun bersikeras mempertahankan robot yang sudah dipilih Fajar.  Ia tidak senang dengan perbuatan Bobby yang merampas mainan saudaranya.


Pengasuh Bobby terkejut melihat kejadian di depan matanya. Ia tidak bisa berbuat apa pun karena selama ini semua orang di rumah selalu memanjakan Bobby dan menuruti semua keinginannya.


Di luar dugaan Bobby mendorong Embun hingga ia jatuh, dan mengambil robot yang terlepas dari tangannya.


“Sayang …. “ Ivan terkejut menyadari putri kesayangannya terjatuh karena didorong bocah lelaki yang tidak asing di matanya.


Ia meraih Embun yang masih memberontak karena tidak terima mainan saudaranya dirampas paksa. Wajah putrinya sudah memerah  dan mulai menangis karena kesal.


Dengan berani karena ada ayahnya, Embun kembali mengambil robot di tangan Bobby dan menyerahkannya pada Fajar yang terdiam tak bergeming.


“Mami, dia mengambil mainanku,” Bobby berkata dengan kesal sambil mendorong Embun kembali. Tatapannya beralih pada Ivan. Ia merasa senang, “Uncle, aku mau mainan itu.”


Ivan memandang Bobby dengan perasaan kesal. Ia melihat Embun yang merasa senang karena Bobby tidak berani merebut kembali.


Laura terkejut melihat keberadaan Ivan dan si kembar di tempat yang sama dengannya.  Ia melihat bagaimana perbuatan Embun terhadap putra kesayangannya. Kalau seandainya tidak ada lelaki yang pernah ia targetkan untuk masa depannya, ia akan berbuat apa pun untuk mengambil kembali mainan pilihan putranya. Tapi sekarang ia tidak bisa melakukan itu. Ia harus jaim sekarang, agar Ivan melihatnya sebagai perempuan yang memiliki kelembutan dan penuh kasih sayang.


“Bobby sayang, kan masih banyak mainan yang lain?” suara Laura terdengar lembut mendayu dengan lirikannya pada Ivan.


“Tapi Bobby maunya yang itu Mamiii …. “ Bobby masih bersikeras.


“Itu punya masss!” Embun tidak mau kalah.


“Memang putriku,” monolog Ivan dalam hati sambil menahan senyum melihat betapa keukeuhnya Embun mempertahankan apa yang telah menjadi miliknya.


“Dasar Bad girl!” Laura mendesis pelan tak senang melihat bocah perempuan yang telah membuat putra kesayangannya menjadi kesal.


Khaira yang kini berada di belakang Laura merasa tidak senang mendengar ucapannya yang menyebut putrinya dengan perkataan  yang tidak pantas.


“Maaf  Nyonya, saya tidak terima dengan apa yang anda sematkan pada putri saya,” Khaira berhenti tepat di samping Laura membuatnya terkejut.


“Aku tidak mengatakan apa pun,” Laura merasa tidak nyaman karena Ivan menatapnya dengan tajam.


“Sayang,” Khaira memandang Laura sekilas dan melangkah mendekati Fajar yang masih terpaku, “Cari mainan yang lain saja ya …. “

__ADS_1


Fajar mengangguk. Khaira merasa lega karena putranya menghindari pertengkaran yang akan membuat mereka menjadi pusat perhatian orang lain. Ia sudah terbiasa mendidik Fajar untuk mengalah pada adiknya atau apa pun yang bisa mendatangkan keributan.


“Gak boleh! Ini mainan mas,” Embun tetap bersikeras mempertahankan robot pilihan Fajar. Ia meraihnya dari tangan Fajar dan memeluknya dengan erat.


“Uncle tidak sayang pada Bobby lagi?” bocah lelaki itu menghampiri Ivan yang berjongkok di samping putrinya.


Perasaan Ivan terbagi. Ia paling tidak betah melihat kesedihan yang tergambar di wajah anak kecil. Tetapi melihat sikap Embun yang memperjuangkan milik saudaranya membuat Ivan mengambil keputusan sendiri.


“Ade, kita cari robot yang lain ya. Mas udah gak suka dengan robot itu,“ Khaira berusaha membujuk Embun saat ia dan Fajar mendekati Embun yang masih kokoh tak melepas robot dipelukannya.


“Bobby cari mainan yang lain saja ya,” Ivan berkata lembut berusaha membujuk Bobby, “Uncle akan membayar semua mainan yang Bobby pilih.”


Laura merasa tidak puas dengan perkataan Ivan. Ia memandang Khaira dengan kesal. Ia tidak terima dirinya dan putranya diabaikan Ivan.


“Mami, aku mau cari mainan yang lain saja. Itu sudah kuno,” dengan santainya Bobby melangkah berlalu dari hadapan mereka.


Ia merasa senang mendengar ucapan Ivan yang membolehkan untuk mengambil beberapa mainan yang ia sukai. Tentu saja ini tawaran yang sangat menarik.


Dengan terpaksa Laura mengikuti langkah putranya dengan hati dongkol. Tapia pa mau dikata Bobby sudah terlanjur bahagia dan berssemangat memilih mainan baru.


“Mbak, masukkan nota mereka dalam tagihan saya,” Ivan berkata serius pada pelayan toko yang mengikuti langkah Laura dan Bobby.


“Baik Tuan,” pelayan toko mengangguk dengan hormat pada Ivan dan Khaira dan berjalan dengan cepat menyusul Laura dan Bobby.


“Mas mau mainan apa lagi?” Ivan kembali menawari Fajar yang kini merasa senang setelah Embun mengembalikan robot ke tangannya.


“Sudah Ayah,” Fajar menjawab cepat.


“Tapi punyaan mas baru satu, ade saja ada dua …. “ Ivan berusaha membujuk putranya. Ia yakin seperti yang telah lalu, Bobby pasti akan membeli mainan yang banyak.


“Mas, jangan terlalu berlebihan pada si kembar,” Khaira berbisik di telinganya agar Ivan lebih selektif dan mengikuti aturan yang telah ia buat selama ini.


“Baik Bundaku sayang …. “ melihat pelototan mata bening istrinya membuat Ivan mengalah.


“Selamat sore Bos, Nyonya …. “ Danu menyapa keduanya membuat Khaira terkejut. Ia tidak menyangka asisten suaminya menyusul mereka ke mal.


“Dan, uruslah semua pembayarannya,” Ivan menunjuk sosok Laura dan Bobby yang masih di kasir.


Ia kemudian mengulurkan mainan yang telah dipilih Fajar dan Embun untuk dibawa ke kasir. Tak lupa Ivan meminta agar Danu membawa stoler, karena ia akan menggandeng keduanya yang sudah segar kembali.


“Baik Bos. Saya permisi sekarang. Assalamu’alaikum …. “ Danu pamit dengan segera.


“Wa’alaikumussalam warahmatullah,” semuanya menjawab kompak.


Saat berjalan, Ivan teringat  dengan percakapan yang terjadi sekilas antara Khaira dan Laura yang membuat wajah istrinya kesal. Ia jadi penasaran dengan yang terjadi, karena selama mereka kini telah bersama Khaira tidak pernah memperlihatkan raut kesalnya pada orang lain.


“Yang, mas lihat tadi kamu tampak kesal pada Laura. Apa yang terjadi?” Ivan menghentikan langkahnya.


Sebenarnya Khaira sudah melupakan percakapan yang terjadi antara ia dan Laura. Ia yakin, Embun tidak akan seperti itu, karena ia dan ustadzah Fatimah serta lingkungan pondok selalu menjaga dan mencontohkan perilaku terpuji bagi santri di kalangan pondok.


“Gak ada yang perlu dikhawatirkan mas. Hanya percakapan ringan,” Khaira berusaha menghindar.


“Gak mungkin!” Ivan menatapnya penuh rasa ingin tau, “Mas mengenalmu …. “


“Hm ….” Khaira menghela nafas. Ia khawatir Ivan akan bereaksi mendengar perkataan Laura tentang putri kecilnya.


“Katakan, Mas ingin tau,” Ivan terus menuntutnya.


“Aku kesal perempuan itu menyebut putriku Bad Girl,” ujar Khaira kesal kembali karena perkataan Laura kembali terngiang di telinganya.

__ADS_1


Ivan tertegun. Ia tidak menyangka Laura yang berpenampilan anggun dan lemah lembut mengatakan sesuatu yang tidak pantas pada putri kecilnya. Saat ini juga dadanya bergemuruh menahan kemarahan. Ia tidak terima jika ada seseorang yang berkata tidak baik dan memojokkan anak dan istrinya. Ia akan bertindak untuk menutup mulut siapa pun yang menjelekkan keluarganya.


***Selamat menjalankan Ibadah Puasa\, bagi saudara Otor yang menjalankannya. Semoga amal ibadah kita diterima Yang Kuasa dan tetap sehat hingga di penghujung. Semangat terus ya. Sayang reaader semua .... ***


__ADS_2