Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 161 S2 (Penghakiman)


__ADS_3

Ivan terkejut mendengar jawaban Ariq atas lamaran yang ia sampaikan untuk Rara. Bagaimana mungkin mereka menolak niat baiknya untuk menyunting adik perempuan mereka dan memberikan kehormatan karena ia telah mempertanggungjawabkan perbuatannya pada Rara.


“Apa alasan anda menolak niat baik saya. Dan perlu anda ketahui, saya bisa memberikan kehidupan yang lebih dari sekedar layak pada adik anda,  yang mungkin tidak akan mampu diberikan Abbas,” ujar Ivan seketika


Ali tersenyum sinis mendengar perkataan Ivan yang menyebut ipar mereka yang telah meninggal. Sebenarnya ia malas menanggapi, tapi karena Ivan menyebut orang yang telah meninggal yang telah dicukupkan Allah nikmatnya di dunia, membuatnya turut terpancing.


“Hanya Abbaslah lelaki terbaik yang pantas mendampingi Rara. Seharusnya anda berkaca tuan Ivandra, lelaki baik akan mendapatkan perempuan terbaik. Dan saya lihat anda telah memiliki kekasih, ternyata anda orang yang sangat terkenal. Sehingga sangat mudah memperoleh perempuan dari kalangan mana pun. Dan sayangnya itu bukan adik kami.”


Emosi Ivan tersulut mendengar perkataan Ali yang telah merendahkannya. Tapi ia masih berusaha menahan diri, “Apa yang anda lihat dan anda dengar semuanya adalah masa lalu. Setiap orang punya masa lalu.”


“Sayangnya masa lalu anda tidak cukup baik, sehingga kami tidak bisa menerimanya. Dan nampaknya adik kami tidak tertarik pada anda,” Ali masih berbicara dengan emosi.


Ariq merasa ruangan memanas. Ia memandang Ivan dan Ali yang tampak diliputi ketegangan dengan wajah yang saling menatap dengan tajam.


“Apakah selama ini anda dan Rara sudah menjalin komunikasi intensif sehingga anda nekad datang menemui kami?” akhirnya Ariq berusaha menetralkan suasana horor yang terjadi. Ia tidak ingin dianggap tuan rumah yang tidak menghargai tamu.


“Saya menyukai Rara sejak awal bertemu. Dia perempuan terbaik yang pernah saya kenal,” Ivan berkata dengan terus terang.


“Rasa suka saja tidak cukup untuk memulai hubungan berumah tangga. Harus ada rasa saling antara keduanya,” Ariq berkata dengan bijak, “Apalagi pernikahan adalah ibadah yang tidak terputus. Yang pertanggung jawabannya tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.”


Ivan mengagumi kedewasaan pada Ariq. Setiap apa yang ia katakan walaupun tidak membuatnya senang, tapi setidaknya ia merasa dihargai.


“Saya tidak hanya suka, tetapi saya mencintai  Rara. Perasaan ini datang tidak seketika, tetapi telah berproses. Dan saya telah yakin akan pilihan saya tentang Rara.”


“Bagaimana dengan Rara, apakah ia juga memiliki perasaan yang sama dengan anda?” Ariq kembali memandang Ivan penuh selidik, ingin melihat keseriusannya dalam mempertanggungjawabkan apa yang ia katakan.


Ivan tercenung. Ia tau, sampai detik ini ia belum mampu untuk menaklukkannya. Tapi benih yang kini dikandungnya membuat Rara tak bisa pergi darinya. Dan ia akan berusaha dan membuktikan bahwa ia mampu membuat Rara mencintainya sepenuh dan setulus hati.


“Saya sangat menghargai orang yang ingin meminang Rara. Dengan kepergian Abbas membuatnya menutup diri, dan itu membuat kami khawatir. Jika anda bisa memberi waktu pada Rara. Biarkan dia berpikir untuk menentukan masa depan yang terbaik bagi dirinya. Jika jodoh,  pasti bertemu.”


Ariq menghela nafas beberapa saat sebelum melanjutkan perkataannya. Ia melirik Ali yang diam dengan jari terkepal, sementara Fatih hanya mengangguk-anggukkan kepala mendengar ucapannya.

__ADS_1


Ivan tau, perkataan Ariq sangat tepat. Tapi ia dan Khaira tidak memiliki waktu yang banyak, semua orang pasti akan mengetahui bahwa Khaira hamil, dan yang jadi permasalahan lelaki lainlah yang akan mengakui darah dagingnya. Mana mungkin ia membiarkan hal itu terjadi di saat ia telah mengakui kepemilikannya atas diri Khaira.


“Saya tidak bisa menunda waktu lagi untuk melamar Rara. Pernikahan ini harus dilaksanakan secepatnya,” Ivan akhirnya memberikan penekanan pada ucapannya.


Ariq terkejut mendengar perkataan Ivan yang terdengar memaksakan kehendaknya. Ia melihat  Ali yang kini menegang mendengar kearoganan Ivan dalam memaksakan keinginannya untuk melamar Rara.


“Atas dasar apa anda meminta kami untuk menerima lamaran anda terhadap Rara?” kejar Ali penasaran.


“Rara kini mengandung anakku. Dan kehamilannya diperkirakan lima minggu,” tandas Ivan seketika membuat ruangan hening seketika.


“Kurang ajar!” Ali langsung melompat dan melancarkan pukulan ke wajah Ivan.


Ia benar-benar tidak terima dengan pengakuan Ivan yang mengatakan telah menghamili Khaira. Ivan yang tidak siaga terkejut menerima serangan bertubi-tubi dari Ali.


Ariq terkejut mendengar pengakuan Ivan. Bagaimana lelaki muda itu bisa menghamili adik kesayangan mereka yang begitu mereka jaga dengan baik, bahkan Ariq sempat menyewa body guard yang mengawalnya hingga kembali ke tanah air.


Fatih berusaha melerai. Ia khawatir melihat Ivan yang tidak melawan menghadapi amukan Ali yang benar-benar emosi.


Ia melihat wajah Ivan yang kini babak belur dengan darah yang mulai mengalir di sudut bibirnya. Hal itu membuat Fatih khawatir.


“Biarkan saja. Biar dia mempertanggung jawabkan perbuatannya,” Ariq masih membiarkan Ali yang memukuli Ivan dengan membab* buta.


Ivan sengaja tidak melawan, ia sadar perbuatannya tidak termaafkan. Hingga ia membiarkan saudara Khaira menghukumnya. Dan ia pantas menerima semua hukuman yang mereka berikan.


“Mas, bagaimana kalau dia mati. Apa mas mau ponakan mas nggak punya ayah?” desak Fatih kesal karena melihat Ariq yang terpaku melihat Ivan yang kini tak berdaya dengan tubuh tersungkur di lantai.


Walau pun badannya terasa hancur lebur akibat perbuatan Ali, tapi tak ayal senyum tipis terbit di wajah Ivan mendengar perkataan Fatih yang terdengar  mengkhawatirkannya.


“Lebih baik ponakanku nggak punya ayah dari pada beriparkan lelaki seperti dia. Aku akan melaporkan perbuatannya yang telah menodai Rara ke pihak berwajib,” Ali masih geram dan tidak terima atas perbuatan Ivan.


Ariq menggelengkan kepala, “Kita tidak bisa berbuat ceroboh dengan melaporkan hal ini ke  pihak berwajib. Kasian Rara, dia akan lebih tertekan. Kita harus berpikir tenang untuk menemukan jalan yang terbaik.”

__ADS_1


Tiba-tiba ponsel Ariq berdering mengejutkan mereka yang masih berpikir untuk mencari solusi permasalahan antara Khaira dan Ivan.


“Assalamu’alaikum ….” Ariq menyapa Junior yang melakukan vc dengan wajah tegang, “Kalian sudah bersiap terbang ke Inggris?”


“Wa’alaikumussalam. Mas, kami tidak jadi terbang  mbak Rara pingsan.”  Junior berkata dengan nada penuh kekhawatiran, “Sekarang masih di Medical Services – Changi Airport.”


“Astaga!” emosi Ali bangkit lagi.


Ia hendak meraih kerah baju Ivan yang baru saja dibantu Fatih untuk bangkit setelah terkapar babak belur. Beruntung  Ariq langsung menarik tangannya sehingga tidak mencapai apa yang ia inginkan.


“Siapkan jet sekarang. Kita akan menjemput Rara dan membawanya pulang.” Ariq menyuruh Ali untuk mempersiapkan jet pribadi yang akan terbang menjemput Rara.


Tatapan  perang pada Ivan tergambar di mata Ali, walaupun  dengan terpaksa ia keluar dari ruangan. Ia masih belum puas menghukum lelaki yang telah melecehkan adik perempuan kesayangan keluarga mereka. Kalau saja ada pistol di tangannya Ali tak akan segan-segan menembakkan ke kepala Ivan, untuk melobangi otaknya yang telah merencanakan dan melakukan perbuatan keji pada Rara.


“Kita akan membahas ini sepulangnya saya dari Singapura,” Ariq menatap Ivan dengan prihatin.


Rasanya ia ingin tertawa melihat wajah Ivan tak berbentuk,  lebam di sana-sini dengan bibir robek yang masih mengalirkan darah.


“Saya akan ikut pergi. Memastikan bahwa anak saya baik-baik saja,” Ivan meminta agar Ariq mengizinkannya pergi menjemput Khaira.


Ariq menggeleng tegas, “Apa kau yakin dengan wajah hancur seperti itu? Persiapkan saja dirimu. Sekembalinya dari Singapura aku akan menghubungimu.”


Ariq cukup terkesan dengan Ivan. Ia berusaha menyakinkan dirinya sendiri untuk mempercayai kesungguhan Ivan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya yang telah membuat Khaira hamil.


“Apa omongan tuan Ariq bisa saya pegang?” Ivan menatap Ariq dengan pandangan tak yakin. Ia khawatir tidak akan dipertemukan kembali dengan Khaira dan kehilangan akses atas anak yang kini dikandung perempuan masa depannya.


“Semoga saja aku tidak berubah pikiran,” Ariq tersenyum tipis, “Dan ku harap aku bisa mempercayaimu, karena laki-laki yang dipegang perkataannya bukan janjinya.”


 


Dukung, dukung dan terus dukung ya ......

__ADS_1


__ADS_2