
Dua bulan telah berlalu, kondisi Hani belum menunjukkan perubahan. Tapi Faiq tak putus asa. Ia selalu berada di samping istrinya. Sambil membaca al-Qur’an juga mengagungkan asma Allah, dalam doa ia mengharapkan keajaiban demi kesembuhan sang istri. Setelah mendapat info dari Rudi bahwa Hesti lah yang mengirimkan semua foto-foto serta chat yang ada di ponsel Hani, Faiq langsung memblokir semua nomor yang berkaitan dengan Hesti dan ibunya.
Ia belum memikirkan langkah yang akan ia ambil agar si pelaku mempertanggung jawabkan perbuatannya sehingga istrinya kaku tak berdaya dalam keadaaan koma. Jika Hani sudah bangun dari koma, Faiq akan memikirkan langkah selanjutnya.
Hanif baru kembali ke Medan, karena Wulan kini dalam keadaan hamil muda. Ia merasa tenang meninggalkan Hani karena mengetahui bahwa Marisa dan Darmawan sudah kembali ke Indonesia.
Hanif juga sempat mengunjungi Adi dan Linda untuk menemui ketiga keponakannya. Mengingat perlakuan buruk Linda dan Adi di masa lalu, sebenarnya Hanif enggan untuk menemui keduanya. Tapi mau bagaimana lagi, ia harus menjumpai keduanya untuk menitipkan ketiga ponakannya.
“Paman…” Ariq dan Ali berlarian saat Hanif sudah duduk di ruang keluarga.
Dengan perasaan terharu Hanif memeluk keduanya. Ia melihat kedua ponakannya dalam keadaan sehat dan terawat.
“Dedek mana?” Hanif merindukan si mungil.
Adi baru turun dari lantai atas sambil menggendong Hasya yang masih kelihatan mengantuk, karena Hanif mengunjungi mereka di jam satu siang. Kebetulan hari Minggu, Adi mengkhususkan diri untuk bermain bersama anak-anaknya.
“Dedek….” Hanif memanggil namanya dengan lembut.
Mata bulatnya terpana melihat Hanif yang sudah lama tidak ia temui. Rasa kantuk Hasya langsung hilang. Dengan cepat ia melompat dari pangkuan Adi.
“Paman….” Ia memeluk Hanif dengan kuat, “Atu mau main boya tama paman…”
Mendengar ucapan Hasya, Hanif dan Adi saling melempar senyum. Ia membelai rambut kriwil Hasya yang dikepang dua.
“Nanti dedek dan mas berdua akan paman ajak jalan-jalan.”
“Paman, kapan bunda kembali. Mas Ariq kangen sama bunda….” Ariq menatap Hanif dengan wajah sedih.
__ADS_1
Sudah dua bulan mereka tidak bertemu dengan Hani. Adi dan Linda hanya mengatakan bahwa Hani di rawat di rumah sakit karena melahirkan.
“Ayah bilang, bunda belum bisa pulang. Aku juga rindu sama bunda dan papa.” Ali menimpali pembicaraan keduanya.
Perasaan Adi seperti dicubit mendengar ucapan anak-anaknya. Memang dua bulan ini, ketiga anaknya ia bawa bersamanya. Walaupun ia dan Linda mencukupi kebutuhan mereka, tetap saja nama Hani dan Faiq selalu mengisi keseharian mereka. Adi tidak bisa berbuat apa-apa. Tapi melihat sikap anak-anak yang bisa menerimanya cukup membuat Adi dan Linda bahagia.
“Ku harap kamu bisa melupakan kesalahan kami di masa lalu.” Ujar Adi sambil mengamati Hasya yang bermain di pangkuan Hanif.
Hanif memandang Adi, “Selama anak-anak bahagia, aku tidak akan mempermasalahkan semuanya. Kita adalah keluarga, dan siapa pun tak bisa menyangkalnya. Aku juga mengucapkan terima kasih, karena mas Adi mau merepotkan diri atas masalah ini.”
“Mereka anak-anakku, sudah sepantasnya aku melindungi mereka.” Mata Adi tampak berkabut, “Aku turut prihatin atas kejadian yang menimpa Hani.”
Mendengar ucapan Adi, Hanif terdiam. Ruangan menjadi hening sesaat, hanya celotehan ketiga bocah yang membuat ruang tamu yang megah itu kelihatan ramai.
Hanif mengalihkan pembicaraan, “Bagaimana keadaan tante Linda? Ku dengar kondisinya semakin baik…”
“Aku turut bahagia mendengarnya.” Hanif kembali memandang Adi, “Apa mas Adi tidak ingin mencari pengganti bu Helen?”
Adi tercenung sesaat, jika ia dibolehkan memilih, ia ingin kembali ke masa lalu bersama Hani dan anak-anaknya. Tapi kenyataan sekarang sudah berbeda. Hani bukanlah miliknya, sudah ada seorang lelaki yang telah menggenggam hatinya dan menjadi jodoh sang mantan yang kini telah mengikat hatinya.
“Kebahagiaan anak-anak adalah prioritasku sekarang. Aku belum siap untuk kembali berumah tangga. Aku takut perhatianku terhadap mereka akan terbagi.” Pandangan Adi beralih pada Ariq dan Ali yang kini bermain mobil remote control di hadapan mereka.
Hanif memandang si kembar. Ia merasa kini sikap Adi benar-benar berubah. Andai waktu bisa diputar kembali pun, Hanif akan dengan senang hati mengakui Adi sebagai iparnya. Tapi masa lalu tetaplah masa lalu. Setiap manusia tidak tau apa yang telah ditetapkan Allah. Sebagai manusia sudah sepantasnya kita selalu ber-husnudzon pada Allah, karena Dia-lah sebaik-baik pengatur rencana. Biarlah masa depan tetap menjadi kejutan, dan jika ikhlas menjalani maka kebahagiaanlah yang akan dirasakan.
“Nak Hanif…” Linda datang menghampiri mereka.
“Selamat sore tante…” Hanif menyalami Linda dengan sopan, “Bagaimana kabar tante sekarang?”
__ADS_1
Linda tersenyum dengan ramah, “Alhamdulillah, tante merasa lebih sehat sekarang. Kehadiran mereka membuat rumah ini menjadi ramai.”
“Syukurlah kalau itu membuat tante merasa nyaman.”
Linda menatap ketiga cucunya. Melihat celoteh riang Hasya membuatnya tersenyum. Gadis mungil itu benar-benar menjadi kesayangan mereka. Ia tidak tau bagaimana kehidupannya jika Hani dan keluarga barunya tidak mengizinkan ia dekat dengan cucu-cucunya.
“Nak Hanif, tante mohon maaf atas kesalahan yang tante perbuat terhadap kalian…” mata tua Linda tampak berkaca-kaca saat mengucapkannya pada Hanif.
“Tante, saya dan mbak Hani sudah lama melupakan itu. Tante tidak usah memikirkannya lagi. Kami slalu mendoakan supaya tante selalu diberikan kesehatan, karena anak-anak masih membutuhkan eyangnya.”
Mata Linda berkaca-kaca mendengar ucapan Hanif. Kebahagiaannya sudah sempurna sekarang, karena memiliki cucu yang tampan dan cantik. Ketiga cucunya lah yang telah memberikan kebahagiaan yang tidak dapat ditukar dengan apa pun. Walau terkadang ia merasa sedih, melihat Adi yang kini tidak pernah memikirkan kebahagiaannya sendiri.
“Nak Hanif kapan kembali ke Medan? Bagaimana kabar istri dan mertuamu?” Linda bertanya dengan ramah.
“Alhamdulillah tante, Wulan dan mertua saya dalam keadaan sehat.”
“Kenapa kamu tidak kembali ke Jakarta dan memulai usaha di sini? Aku dengan senang hati akan membantumu…”
Adi berusaha menawarkan posisi sebagai pengacara di perusahaannya. Ia sudah tidak memakai jasa Bernhart lagi. Semenjak Bernhart berpisah dengan istrinya karena ia menikahi seorang klien membuat usaha lawyer-nya sepi.
“Bukankah mas Adi memiliki pengacara yang sangat berkualitas.” Hanif berusaha menolak secara halus, “Saya lebih nyaman di kota kecil. Dan Wulan sudah cocok dengan lingkungan di sana.”
Adi tersenyum mendengar jawaban Hanif. Ia sangat paham dengan karakter Hani dan Hanif, keduanya tidak suka menggantungkan diri dengan orang lain. Mereka selalu hidup sederhana dan apa adanya.
__ADS_1