Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 257 S2 (Memulai Rencana)


__ADS_3

“Bos, ada nona Laura di depan bersama putranya ... “ Danu memasuki ruangan Ivan setelah mengetuknya beberapa saat.


“Mulai saat ini aku tidak ingin bertemu perempuan mana pun,” Ivan menggelengkan kepala, “Kau buat alasan. Aku ingin cuti sementara dari semua pekerjaan.”


Danu terkejut mendengar ucapan Ivan. Ia menatap Ivan dengan kening berkerut. Tiga hari kepergiannya ke Singapura membuat sikap Ivan tertutup dan tidak banyak bicara.


“Bos sehat kan?” Danu kini memandang Ivan dengan perasaan khawatir.


Ivan langsung mengalihkan tatapannya dari ponsel yang berisikan beberapa gambar Khaira dan si kembar  yang sempat ia ambil saat mereka masih di Singapura.


“Kau pikir aku kesambet?” mata Ivan tajam menatap Danu yang akhirnya menggaruk kepalanya yang tidak gatal akibat mencurigai bosnya.


“He he .... maaf  Bos.”


Dengan terpaksa Danu kembali ke luar  menemui Laura yang sudah merasa senang karena melihat mobil Ivan sudah terparkir.


“Maaf   bu Laura, bos sedang tidak sehat sepulangnya dari Singapura kemaren. Beliau tidak bisa menemani siapa pun.” Danu merasa tidak enak hati karena berbohong. Tapi mau bagaimana lagi dari pada bonusnya berkurang.


Kekecewaan tergambar di wajah Laura mendengar ucapan Danu. Ia tidak percaya Ivan menolak bertemu dengannya, padahal sudah tiga hari ia selalu menunggu kabar Ivan melalui Berli bosnya.


Perasaan bahagia menghinggapi Laura mendengar kepulangan Ivan. Karena jadwal siang  ini kunjungan ke proyek pembangunan rumah sakit yang berjarak 10 km dari kompleks pesantren, Laura bersemangat sekali. Begitu menjemput Bobby dari sekolah ia langsung mampir ke kantor Ivan untuk mengajaknya makan siang dilanjutkan ke proyek bangunan.


Kini rencana yang telah ia susun untuk mendekati Ivan langsung ambyar mendengar penolakannya.


“Mami, aku ingin ke tempat oma. Hari ini papi akan mengajakku ke arena bermain. Aku juga rindu papi.” Bobby menarik tangan Laura yang masih berdiri mematung di hadapan Danu.


Danu diam melihat drama antara ibu dan anak di depannya. Ia tidak berkomentar. Sebenarnya ia heran juga dengan si bos. Perempuan di hadapannya sangat menarik, dan penampilannya membuat mata segar memandang, tapi kok si bos dingin dan cuek aja. Bosnya normal apa enggak sih. Hi ....


Danu menggelengkan kepala dengan pemikirannya sendiri. Tapi pikirannya mulai mengingat tingkah Ivan saat melihat foto si kembar dengan perempuan bercadar di pondok. Bahkan yang membuatnya heran, di atas meja Ivan tersusun foto-foto yang membuatnya jadi bertanya-tanya siapa gerangan perempuan bercadar serta bocah kembar yang ada di dalam foto tersebut.


Danu baru saja menghenyakkan tubuhnya di kursi di dalam ruangan kerjanya ketika Ivan masuk tanpa memberi salam.


“Bos!”  Danu terkejut dan langsung menyapanya.


“Aku ada proyek buatmu. Jika ini berhasil, rumah yang ada di Gading Serpong akan aku serahkan padamu,” Ivan berkata dengan serius sambil menghenyakkan tubuhnya di kursi berhadapan dengan Danu.


Danu terperangah tak percaya mendengar perkataan Ivan yang tiba-tiba memberikan teka-teki baru baginya.


“Wah, perumahan Gading Serpong Bos? Itu kan kompleks perumahan orang berduit?”  Danu menatap Ivan tak percaya, “Apa aku disuruh menghabisi nyawa orang Bos?”


“Astaga!” Ivan menggelengkan kepala mendengar perkataan Danu.


Ia jadi teringat dengan Roni asisten  lurusnya yang kini entah dimana keberadaannya semenjak resign dan memilih pulang kampung membantu usaha mebel pamannya. Ivan langsung menceritakan keinginannya dan ia berharap Danu membantu mewujudkannya.


Tepat ba’da Asar keduanya sudah duduk berhadapan dengan ustadz Hanan di rumahnya. Ivan tidak ingin menunda apa yang telah ia rencanakan  semenjak kepulangannya dari Singapura.


“Jadi mas Danu ingin membeli tanah kosong  di sekitar kompleks ini?” ustadz Hanan  tak percaya mendengar perkataan Danu yang menyampaikan keinginannya untuk membuat rumah di sekitar kompleks pesantren yang sangat luas dan sepi dari keramaian kota itu.


“Benar ustadz. Ibu saya pengen kehidupan tenang dengan suasana pedesaan. Dan saya rasa di sinilah tempat yang paling tepat,” Danu memandang Ivan dengan perasaan tidak nyaman.


Ustadz Hanan tersenyum. Ia dapat memahami perasaan orang tua yang terbiasa dengan kehidupan di desa. Selain suasananya tenang, jauh dari segala macam jenis polusi yang membuat kehidupan tidak sehat.


“Lokasi di sini sebenarnya sudah tidak ingin saya lepaskan. Tetapi karena orang tua mas Danu yang menginginkannya,  saya akan melepas  satu kapling di samping rumah si kembar,” ujar ustadz Hanan menjelaskan.

__ADS_1


Mendengar perkataan ustadz Hanan membuat senyum terbit di wajah Ivan. Rasanya ia ingin bersujud syukur saat ini juga, karena keinginannya terkabul. Ia tidak akan menundanya, secepatnya ia akan membangun rumah untuk memantau Khaira dan si kembar. Ia merasa do’anya terjawab dengan cepat.


Sejak awal kedatangan mereka, ketika mobil memasuki pekarangan  rumah ustadz Hanan, Ivan melihat si kembar bermain di halaman rumah yang berseberangan dengan rumah ustadz Hanan.  Sekilas  ia melihat  Khaira yang berdiri di teras rumah itu sambil memanggil si kembar.


Perasaan hangat sekaligus sedih menerpa sanubari Ivan mengetahui bahwa di rumah sederhana itulah Khaira dan kedua buah hatinya tinggal. Sangat jauh berbeda dengan kehidupan yang selama ini mereka jalani.


Rasanya saat itu juga ia ingin turun dan merangkul mereka, dan mengatakan bahwa ia tidak bisa hidup tanpa  Khaira, apalagi ada si kembar diantara mereka. Membuatnya enggan untuk menjauh dari mereka.


Saat Danu dan ustadz Hanan berbicara, matanya terus  mengamati setiap pergerakan di dalam rumah diseberang jalan yang telah ia ketahui sebagai tempat tinggal Khaira dan anak-anaknya.


Matanya tak berkedip, ketika dari kejauhan melihat si kembar didampingi seorang santriwati berjalan menyeberang jalan hingga kini mendekat ke arah mereka.


“Calamulekum .... “ suara kenes menghentikan percakapan ustadz Hanan dan Danu.


Si kembar berjalan beriringan memasuki rumah ustadz Hanan didampingi seorang santriwati.


“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” senyum mengembang di wajah ustadz Hanan melihat si kembar datang dengan membawa paper bag di tangan mungil Embun. Sedangkan Fajar membawa mainan pistolnya.


“Ustadz, ada titipan dari ustadzah Aisya buat Nyai,”  ujar santriwati yang mengiringi si kembar menemui mereka.


“Nyai masih di belakang. Bawa saja ke belakang,” ujar ustadz Hanan, “Sini dede Embun dan mas Fajar.”


Ivan memandang dengan perasaan sedih melihat si kembar yang kini duduk bermanja di pangkuan ustadz Hanan.


“Wah, sudah mandi wangi sekali.” Ustadz Hanan membelai rambut Fajar dan kepala Embun yang tertutup jilbab. Tatapannya beralih pada Ivan, “Mereka baru kembali dari Singapura. Di sini terasa sepi saat mereka pergi.”


Ivan menghela nafas menanggapi perkataan ustadz Hanan. Dia belum berencana menceritakan semuanya. Tapi ia harus siaga, bisa saja ustadz Hanan bergerak cepat.


“Salim dulu sama temen Abi .... “ ustadz Hanan meminta si kembar menyalami Ivan dan Danu yang duduk di hadapannya.


Ivan tak dapat menahan perasaanya ketika Embun mengulurkan tangan padanya dengan mata bulatnya menatap Ivan dengan raut menggemaskan.


“Kamu cantik sekali sayang .... “ Ivan menciumnya dengan penuh perasaan. Kini ia mengalihkan pandangan pada Fajar yang memandangnya dengan bingung, “Sini .... “


Fajar menatap ustadz Hanan sekilas yang dibalas ustadz Hanan dengan anggukan. Ia mendekat pada Ivan dan mulai mengulurkan tangan mungilnya.


Ivan dengan perasaan terharu meraih Fajar dan mendudukkan di pangkuannya. Ia mencium kening Fajar dengan sepenuh hati. Matanya berkabut menahan perasaan haru karena untuk pertama kali dapat menyentuh dan memeluk kedua buah hatinya.


Ustadz Hanan dan Danu merasa heran melihat si kembar yang tidak menolak dengan semua perlakuan Ivan.


“Biasanya mereka takut jika berdekatan dengan orang baru,” ustadz Hanan tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya melihat si kembar yang kini duduk anteng di samping Ivan.


Ivan tersenyum menanggapi perkataan ustadz Hanan. Seandainya ia bercerita sebenarnya pasti keduanya akan terkejut mengetahui keadaan sebenarnya. Tapi Ivan masih menahan semuanya hingga waktunya tepat.


“Kapan saya dapat menggunakan tanah itu ustadz?” Danu kembali ke topik awal pembicaraannya dengan ustadz Hanan, “Saya ingin membangun rumah di sana secepatnya.”


“Wah, mas Danu udah tidak sabar ya bawa istrinya ke rumah baru .... “ ustadz Hanan tidak bisa menahan senyum mendengar pertanyaan Danu.


“Saya belum menikah Ustadz. Mungkin saja bisa ketemu jodoh di sini,” Danu menjawab dengan santai.


“Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin .... “ ustadz Danu mengaminkan dengan cepat.


“Masalah harga bagaimana ustadz? Saya ingin membayarnya sekaligus,” Danu melihat Ivan terus  memberi isyarat padanya untuk mempercepat tawar menawar menjadi akad jual beli sehingga ia bisa menjalankan rencana selanjutnya.

__ADS_1


“Baiklah,” ustadz Hanan kembali menghubungi ustadz Helmi  yang membantunya dalam setiap pekerjaan di luar tugasnya sebagai pengasuh ponpes al-Ijtihad.


Sudah satu minggu ini Khaira merasa heran, melihat kesibukan mobil yang lalu lalang dan berhenti di tanah kosong samping rumahnya. Bahan-bahan bangunan mulai menumpuk seperti akan dibangun rumah yang tampaknya tidak sederhana.


“Tanah di samping rumah saya sudah dijual ya Mbak?” Khaira langsung bertanya pada ustadah Fatimah  saat keduanya sudah selesai melaksanakan salat Zuhur di masjid.


“Benar,” ustadzah Fatimah menjawab cepat, “Rekan abinya si kembar yang bernama mas Danu membeli tanah di samping rumahmu.”


“Oh,” Khaira manggut-manggut, “Pantas saja mobil nggak ada henti-hentinya keluar masuk membawa bahan bangunan.”


“Eh, orangnya masih lajang lo Dek .... “ ustadzah Fatimah mulai menatap Khaira dengan penuh arti.


“Mbak pasti sudah tau jawabanku,” Khaira segera mengalihkan pembicaraan malas menanggapi perkataan ustadzah Fatimah yang selalu menjebaknya.


Kini keduanya berjalan berbarengan keluar dari masjid. Ustadzah Fatimah  memutar kembali ke rumahnya bersama ustadz Hanan yang sudah menunggunya.


Khaira tersenyum sambil mengucapkan salam ketika berpapasan dengan ustadz Hanan. Dengan cepat ia berlalu dari hadapan keduanya.  Khaira segera memanggil babby sitter si kembar untuk kembali ke rumah. Jam mengajarnya sudah selesai. Para santriwan dan santriwati pun kini kembali ke kamar masing-masing setelah melaksanakan salat berjama’ah.


Sementara dari dalam mobil Ivan mengamati Khaira yang berjalan mengiringi si kembar yang berlari-lari kecil. Suara lembut Khaira saat melarang Embun berlari kecil terdengar sayup-sayup di telinga Ivan. Ia ingin segera berkumpul bersama Khaira dan anak-anaknya. Rasa rindu begitu sangat menyesakkan dada. Ivan menekan dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri.


Ketiganya sudah berada di hadapan, tetapi ia belum bisa berbuat apa-apa selain mengamati, tidak lebih tidak kurang. Ia tak ingin membuat Khaira membencinya jika harus memaksakan kehendak seperti dulu. Semua telah berbeda.


"Mas tau, kalau Ivan mengetahui keberadaan Rara dan si kembar?" Fatih yang saat itu berkunjung ke perusahaan Ariq juga bertemu Ali yang sudah ditelpon Ariq.


"Aku tau, bahkan saat di Singapura aku juga memantaunya," Ariq berkata santai.


"Bagaimana kalau Ivan nekat dan bertindak semaunya?" Ali mulai khawatir karena ia mengenal sosok Ivan yang suka memaksakan kehendak.


"Aku percaya Rara. Dia akan mampu menghadapi semua," Ariq tersenyum tipis, "Aku yakin Ivan tidak akan berani berbuat lancang."


"Bagaimana kalau perkiraan kita salah?" Fatih pun merasa khawatir dengan kehadiran Ivan.


"Percayalah padaku. Kita akan mengikuti permainan Ivan," Ariq tersenyum misterius, "Kalau sampai ia membahayakan Rara dan si kembar, maka terpaksa kita turun tangan."


Mendengar perkataan Ariq yang meyakinkan mereka, akhirnya Ali dan Fatih tidak memperpanjang pembicaraan mereka. Keduanya yakin dengan keputusan Ariq yang telah memikirkannya secara matang.


"Jangan sampai Sasya tau kalau Ivan telah membangun rumah di samping Rara," ujar Ariq setelah ketiganya terdiam beberapa saat, "Aku tidak ingin


"Yang benar Mas?" Fatih memandang Ariq tak percaya, "Darimana mas Ariq dapat informasi ini?"


"Kedua orang yang menjaga Rara dan si kembar selalu memonitor pergerakan Ivan.  Mereka dapat dipercaya,"  Ariq berkata sambil menghela nafas perlahan.


"Apa Rara tau hal ini?" Ali tak sabar mendengar ucapan Ariq.


"Tidak," jawab Ariq enteng, "Biarkan saja. Semua ini pendewasaan untuk kita semua. Tak selamanya kita bisa menyembunyikan dari Ivan apa yang telah terjadi."


"Bagaimana kalau ia mengetahui fakta bahwa si kembar darah dagingnya?"  Ali masih sangsi dengan keputusan Ariq.


"Ia tidak mungkin membahayakan si kembar. Suatu saat ia pun harus tau bahwa Rara bukanlah perempuan mandul seperti yang telah mereka sangka."


"Bagaimana kalau ia ingin kembali bersama Rara?" Fatih kini mulai berpikir kalau itu semua bisa terjadi.


"Semua kita kembalikan pada Rara. Dia akan memutuskan yang terbaik bagi dirinya dan si kembar," Ariq menjawab dengan tenang.

__ADS_1


***Komentarnya banyakin ya\, untuk suplemen author menyelesaikan kisah Khaira dan Ivan dalam menemukan jalan terbaik bagi kehidupan mereka di masa yang akan datang. Tetap dukung. Salam sayang untuk reader semua .... ***


__ADS_2