
Dalam tidur panjangnya Hani merasa ia berjalan melalui lorong waktu. Ia melihat taman yang begitu indah. Hani mengamati sekelilingnya, ia melihat banyak anak kecil yang bermain dengan riang. Hani merasa asing dengan taman yang ia lewati.
Saat melintasi sebuah kolam Hani terkejut melihat kedua orangtuanya duduk dengan raut bahagia.
“Ayah, ibu…” Hani tak percaya akan berjumpa dengan sosok keduanya, “Aku merindukan kalian.”
Ginanjar dan istrinya langsung memeluk putrinya dengan perasaan bahagia.
“Papa …” Hani melihat Sofyan mertua lelakinya berjalan ke arahnya dengan senyum cerah.
Mereka saling mencurahkan kerinduan dan bercengkrama beberapa saat. Hingga akhirnya ketiganya berpamitan hendak meninggalkan Hani sendiri.
“Ayah dan ibu mau kemana?”
“Kami akan melanjutkan perjalanan. Percayalah ayah dan ibu sangat menyayangimu dan Hanif.”
“Aku ingin ikut bersama ayah dan ibu.”
“Ra, jalanmu masih panjang. Kamu belum bisa mengikuti ayah dan ibu.” Ginanjar menahan langkah Hani yang bersiap-siap mengikuti langkahnya.
“Benar apa yang dikatakan ayahmu, nak.” Sofyan juga menahan langkah Hani. “Masih ada tanggung jawab yang harus kamu jaga. Kembalilah…”
Hani melepas kepergian ketiga orang yang sangat ia hormati dan sayangi. Lamat-lamat ia mendengar suara orang mengaji menggaungkan Asma Allah, seraya berbisik…
“Bangunlah sayang, mas dan anak-anak membutuhkanmu…” Air mata Faiq menetes kembali saat memandang wajah pucat istrinya yang seperti mayat hidup.
Ia berbisik dengan pelan di telinga Hani. Saat jemarinya kembali menggenggam jemari Hani, pergerakan tiba-tiba terjadi.
“Ehm, ha…us. a..i..r…” suara Hani terdengar lirih hampir tak terdengar.
“Subhanallah, alhamdulillah, Allahu akbar …” Kalimat puji-pujian terdengar seketika dari mulut Faiq, menyadari bahwa istrinya sudah terbangun dari tidur panjangnya.
Dengan cepat Faiq memencet bel yang berada di samping bed Hani. Tatapan Hani berkerut saat melihat Faiq berada di hadapannya dengan penampilan kusut dan wajah dipenuhi kumis dan cambang halus yang belum sempat bercukur.
“Anda siapa?”
__ADS_1
“Dar!!!” Kontan saja pertanyaan Hani membuat Faiq terkejut. Ia menatap mata bening itu dengan perasaan berdebar-debar.
“Apa kamu tidak mengenalku sayang? Aku sangat bersyukur kamu telah sadar kembali. Anak-anak sangat merindukanmu. Juga bayi kita…” Faiq tidak bisa menahan kegembiraannya.
Hani menatap Faiq dengan bingung. Ia memang tidak mengenal lelaki yang berada di hadapannya. Dengan pelan Hani menarik jemarinya yang berada di dalam genggaman Faiq.
Faiq terkejut atas penolakan Hani. Ia menatap istrinya dengan lekat, tetapi Hani langsung mengalihkan tatapannya ketika dr. Eva dan asistennya menghampirinya.
Kini dr. Eva meminta Faiq untuk keluar dari ruangan. Ia ingin mengetes daya ingat Hani.
“Bunda mengenal lelaki tadi?” ia bertanya sambil tersenyum ramah, karena tidak ingin memaksakan Hani untuk berpikir lebih keras.
Dengan cepat Hani menggelengkan kepala. Ia meraba perutnya. Dan teringat sesuatu.
“Dokter, apakah saya sudah melahirkan? Bagaimana kondisinya? Apakah bayinya perempuan?”
Sontak pertanyaan Hani membuat dr. Eva bingung. Ia merasa Hani mengalami amnesia tetapi harus diobservasi lebih dalam jenis amnesia yang ia idap. Tetapi ia ingat kalau dalam kondisi hamil. Apa yang terjadi sebenarnya?
“Apa bunda ingat nama suami bunda, serta saudara yang lain, atau kedua orang tua?”
“Cukup bunda. Terima kasih atas informasinya ya...” Dr. Eva menghentikan ucapan Hani sambil tersenyum, “Sekarang bunda istirahat dulu ya. Dan bunda tidak usah khawatir putra-putri bunda dalam keadaan selamat.”
“Putra-putri?” Hani mengerutkan keningnya, “Dokter jangan bercanda, terakhir saya USG bayi yang saya kandung adalah perempuan.”
“Baiklah bunda. Benar putri anda perempuan. Ia sangat cantik seperti bundanya.”
Senyum langsung terbit di wajah Hani mendengar ucapan dr. Eva. Wajah sendunya hilang seketika mendengar ucapan dr. Eva.
“Bunda harus berpikir rilex ya. Jangan stress, kasian dedek bayinya perlu asupan ASI dari bunda.”
“Terima kasih, dokter.” Hani tersenyum mengangguk mendengar ucapan dr. Eva.
Ketika dr. Eva keluar dari ruangan tempat Hani berada Hanif dan Faiq sudah menunggunya dengan tegang.
“Anda berdua silakan ke ruangan saya, satu jam lagi. Saya bersama dokter yang lain akan mengambil tindak lanjut untuk menangani kasus yang dialami nyonya Hani.” Dr. Eva meminta keduanya menunggu.
__ADS_1
Hanif dan Faiq kini berada di dalam ruangan praktek dr. Eva. Keduanya sama-sama tidak sabar untuk menunggu dr. Eva yang masih meeting bersama dengan beberapa dokter yang menangani Hani.
Satu jam kemudian dr. Eva sudah berada di dalam ruangan. Ia menatap Hanif dan Faiq bergantian.
“Saya minta anda berdua memperkenalkan diri kepada saya.” Pinta dr. Eva.
Faiq dan Hanif segera memperkenalkan diri masing-masing pada dr. Eva. Tanpa terasa satu jam perbincangan yang terjadi antara ketiganya. Dr. Eva menanyakan kisah masa lalu Hani, yang dengan lugas dijawab Hanif.
“Berdasarkan analisa para dokter yang menangani, kemungkinan nyonya Hani mengidap amnesia. Tetapi akan kita lakukan observasi lebih mendalam, untuk mengetahui jenis amnesianya.”
“Apakah itu membahayakan istri saya, dok?” Faiq bertanya dengan nada cemas.
“Kalau yang selama ini terjadi, biasanya pasien yang mengidap amnesia melupakan beberapa peristiwa penting yang telah lalu, atau bisa jadi kebalikannya akan melupakan peristiwa-peristiwa baru.” dr. Eva menjelaskan dengan sabar.
Hanif dan Faiq mendengarkan dengan seksama. Jika hal itu terjadi pada Hani maka Faiq tidak bisa membayangkan hari-harinya akan kembali sepi.
“Bagaimana tim anda bisa mendiagnosa istri saya mengalami amnesia?” Faiq masih tidak mempercayai apa yang dialami Hani.
“Bukankah anda sudah menyaksikan sendiri, bahwa nyonya Hani tidak mengingat anda.”
Bibir Faiq terkunci mendengar ucapan dr. Eva. Ia mengingat tatapan kebingungan Hani karena dialah orang pertama saat Hani terbangun dari koma selama tiga bulan.
“Kami sebagai tim dokter akan meneliti penyebab nyonya Hani mengalami amnesia dengan melakukan serangkaian pemeriksaan penunjang berikut: Tes kognitif, untuk memeriksa kemampuan berpikir dan mengingat, Tes darah, untuk mendeteksi infeksi pada otak, MRI (magnetic resonance imaging) memanfaatkan medan magnet dan gelombang frekuensi radio atau CT scan (computed tomography scan) adalah tindakan medis menggunakan sinar-X untuk melihat adanya kerusakan, perdarahan, dan tumor otak, dan Elektroensefalogram (EEG), untuk mendeteksi aktivitas listrik pada otak.”
”Lakukan yang terbaik untuk istri saya, dok. Berapa pun biaya yang diperlukan akan saya siapkan.” Faiq berkata dengan sendu.
Dengan langkah tak bersemangat Faiq menuju ruang dimana Hani di rawat. Ia duduk di kursi tunggu di depan kamar Hani, berusaha mengurangi rasa sedih yang tiba-tiba menderanya.
Tim dokter telah membawa Hani melakukan serangkaian pemeriksaan untuk mengetahui dengan pasti jenis amnesia yang dialami Hani.
Faiq memejamkan mata mengingat peristiwa demi peristiwa sebelum terjatuhnya Hani dari tangga. Andai waktu dapat ia putar kembali, ia tak akan meninggalkan Hani begitu mereka pulang kontrol kandungan. Ia akan tetap di rumah mendampinginya dan menjaganya, tak akan ia biarkan Hani melakukan apa pun yang akan membahayakan dirinya dan janinnya.
__ADS_1