Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 78


__ADS_3

Faiq membatalkan niatnya kembali ke rumah. Ia membelokkan mobilnya menuju rumah sakit siaga raya, dimana Hesti menemani ibunya yang akan melakukan operasi tulang lututnya yang patah.


Saat Faiq menemui Hesti di ruang inap Dewi, ia sedang menangis melihat ibunya yang sudah bersiap memasuki ruang operasi.


“Aku tidak sanggup melihat kondisi ibu, mas…”


“Tenanglah Hes. Ini lebih baik dari pada ibumu tidak bisa berjalan lagi.” Faiq berusaha menenangkannya.


Keduanya duduk berdampingan di depan ruang operasi, hingga akhirnya ponsel Faiq berbunyi. Ia melihat nama Rudi tertera di sana.


“Assalamualaikum…”


“Bos, kapan berangkat? Ini sudah jam 3.”


“Astagfirullahaladjim,” Faiq mengusap wajahnya. “Aku akan langsung ke bandara sekarang. Tolong kamu mampir ke rumah, sekalian pamitkan pada Rara.”


“Baik, bos.” Rudi menutup panggilan ponselnya.


“Hes, aku pamit dulu. Informasikan keadaan ibu padaku. Sepulangnya dari Surabaya aku akan langsung mampir ke mari.” Faiq segera bangkit dari kursi tunggu dan berjalan dengan cepat.


Hesti merasa gembira mendengar ucapan Faiq. Ia serasa mendapat angin surga. Senyum tipis terbit dari wajahnya membayangkan kebersamaan yang bakal terjalin lagi antara ia dan Faiq.


Sudah dua hari Faiq berada di Surabaya. Kondisi showroom semakin berkembang dalam pengelolaan Hendra. Dan ia sangat puas dengan kinerja Hendra.


Sore nanti Faiq akan kembali ke Jakarta. Dua jam lagi pesawatnya akan berangkat. Sebelum menuju bandara Faiq masih menyempatkan diri  menelpon Hani.


“Sayang, bagaimana kabarmu dan anak-anak?” Ia merindukan istri dan anak-anaknya yang sudah dua hari tidak bertemu.


“Mereka baik-baik saja. Tapi aku yang nggak bisa tidur…” ujar Hani lirih, “Si kembar di dalam perutku selalu aktif, karena nggak ada papa yang menenangkan mereka…”


Faiq tersenyum membayangkan wajah Hani yang makin cantik pada kehamilannya kali ini.


“Tenang saja. Nanti malam papa mau jenguk si kembar, biar agak tenang.” Seringai tipis muncul di bibir Faiq.


“Itu sih maumu, mas.” Hani manyun mendengar ucapan ambigu suaminya.


“Mas udah mau berangkat nih, mau pesen apa, mungkin ada yang kamu inginkan?”


Hani berpikir sesaat, “Rujak cingur boleh deh mas. Pesannya 3 porsi ya…” nada Hani terdengar manja.


“Segitu cukup?” Faiq menggodanya. “Ntar mas pesanin dengan gerobaknya.”


“Mas nyindir ya, emang semenjak hamil sekarang aku kayak badut.” Hani mulai merajuk.


“Nggak kok sayang. Malahan makin cantik dan seksih…”


“Mas Faiq apaan sih….”


“Udah dulu ya. Sampai jumpa di rumah. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.”


Faiq tersenyum senang, karena tak lama lagi ia kembali berkumpul bersama istri dan anak-anaknya.


Tepat jam 4 sore pesawat yang membawanya sudah tiba di Jakarta. Dengan senyum lebar Faiq turun dari pesawat yang membawanya kembali dari Surabaya. Rudi sudah standby menunggunya.


Ponsel Faiq kembali berbunyi dengan cepat ia menyambutnya.


“Assalamua’alaikum, ada apa Hes?”


“Kondisi ibu drop, aku harus bagaimana mas?”


“Baiklah. Aku akan langsung ke sana.” Faiq menutup telponnya, “Rud, kita langsung ke rumah sakit menemui Hesti.”

__ADS_1


“Bos, kenapa kamu masih melibatkan diri dengan mereka? Apa mbak Hani tau masalah ini?”


“Tidak. Rara tidak tau, dan aku tidak ingin menceritakan masalah ini dengannya.”


“Seharusnya bos menceritakan semuanya pada mbak Hani.”


“Aku tidak ingin membuatnya salah paham.” Faiq memejamkan mata sesaat ingat percakapannya saat masih liburan di Mikie Holiday.


Melihat sikap Faiq yang keukeuh, akhirnya Rudi terdiam. Ia tau Faiq dalam keadaan letih. Terpaksa ia menuruti keinginan Faiq untuk mengantarkannya ke rumah sakit.


Rudi merasa kesal atas kebohongan Hesti. Ternyata kondisi Dewi tidaklah terlalu mengkhawatirkan seperti yang ia katakan di telpon. Buktinya begitu melihat Faiq memasuki kamar inap ibunya senyum cerah langsung terbit di wajah keduanya.


“Apa yang mas bawa?” Hesti penasaran dengan jinjingan di tangan Faiq.


“Ini…” Faiq terdiam.


Hesti mendekatinya dan langsung mengambil kantong dari tangan Faiq.


“Wah bu, mas Faiq membawakan kita oleh-oleh rujak cingur…” Hesti tersenyum senang melihat isi kantong yang ia buka.


“Nak Faiq memang tau keinginan ibu, bahkan sebelum ibu meminta.” Dewi merasa Faiq benar-benar memperhatikan mereka.


Hingga pukul 7 malam Faiq baru keluar dari kamar inap Hesti. Ia mendengarkan cerita keluhan Dewi seputar pasca bedah tulang. Kini ia merasa badannya benar-benar kecapean.


Saat memasuki rumah Hani sudah menyambutnya dengan senyum cerah. Tiba-tiba rasa bersalah menyelimuti hati Faiq. Ia tidak memberitahu Hani tentang alasan keterlambatannya.


“Mas sudah pulang?” senyum manis tersungging di wajah ayunya.


“Belum tidur?”


“Aku menunggu oleh-olehnya…”


Faiq tercekat. Lidahnya tak mampu berucap. Ruangan hening sesaat. Ia menatap wajah Hani yang menunggu dengan mata berbinar.


“Sudahlah, lain kali ku carikan lagi.” Akhirnya hanya itu yang dapat Faiq ucapkan.


Dengan pelan sambil menahan air matanya, Hani berjalan meninggalkan Faiq yang merasa bersalah karena telah membuat kecewa istrinya.


Sesampainya di kamar mereka, tanpa banyak bicara Hani menyiapkan pakaian tidur Faiq dan langsung merebahkan diri di tempat tidur. Ia sengaja tidak ikut makan bersama yang lain, karena sudah membayangkan akan menikmati rujak cingur oleh-oleh suami tersayang. Air mata langsung terjun bebas begitu Hani memejamkan mata menahan kesedihan yang teramat dalam.


Melihat Hani yang tak banyak bicara membuat rasa bersalah Faiq semakin besar. Ia belum berani mendekat.


Pesan chat masuk terdengar di ponselnya. Dengan cepat Faiq melihat isinya.


“Terima kasih rujak cingur Surabayanya mas. Ibu jadi bersemangat makan. Mas Faiq tau aja apa yang kami inginkan.”


Faiq langsung menghapus chat dari Hesti. Semalaman ia tidak bisa memejamkan mata. Pikirannya kacau. Ingin berterus terang tapi ia tidak tau harus memulai dari mana. Karena sudah banyak kebohongan yang ia lakukan pada istrinya.


Ia tau Hani sengaja menyimpan kuintansi dan nota berobat di atas meja rias. Tapi Faiq tetap tutup mulut, dan membuang kuitansinya langsung ke tempat sampah. Hingga jam dua malam ia baru dapat memejamkan mata.


Hani membuka mata ketika azan subuh sudah berkumandang. Dengan pelan ia bangkit dari pembaringan. Kondisi hamil kembar delapan bulan membuatnya kesusahan, tapi Hani tetap berusaha.


“Mas, sudah azan subuh…”


“Hm…” Faiq berguman dalam tidurnya. Ia menarik selimutnya lebih dalam


Hani merasa sedih dengan sikap Faiq,  “Mas, ntar waktu Subuh habis lho…”


“Kamu duluan saja. Aku sebentar lagi…” Faiq membalikkan posisi tubuh membelakangi Hani.


Melihat sikap Faiq membuat kekecewaan Hani semakin dalam. Ia segera mengambil wudu dan melaksanakan salat Subuh sendirian, hingga berdoa. Saat sudah menyelesaikan salat Hani terus beristighfar di dalam hati ia berusaha meredam kekecewaan atas sikap Faiq yang telah berbohong dan menyembunyikan sesuatu darinya. Ia segera mempersiapkan pakaian Faiq untuk berangkat kerja nanti.


Dengan perasaan sedih Hani melangkah ke luar dari kamar. Sisa tangis semalam tampak membekas di wajahnya. Walau Hani berusaha menutupi dengan sapuan bedak tipis, tetap tidak mengurangi bengkak dan merah di wilayah matanya.

__ADS_1


Ia tetap melayani Faiq dan ketiga anaknya dengan menampilkan senyum. Ia  berusaha menahan diri untuk tidak bertanya pada Faiq.


“Sayang, nanti siang mas akan membawakanmu rujak cingur seperti permintaanmu kemaren. Maafkan mas karena melupakan pesananmu”


Hani menggelengkan kepala cepat. Ia sudah tidak menginginkan itu lagi. Yang ia inginkan sekarang adalah kejujuran dari suaminya.


Melihat sikap Hani yang lebih pendiam membuat Faiq jadi tidak enak hati. Saat Ariq, Ali beserta Hasya  mengikuti Karman untuk mengantar ke sekolah, Faiq mendekati Hani yang mencuci piring bekas sarapan mereka.


“Yang, maafkan aku karena telah mengingkari janjiku.” Faiq memeluk Hani dari belakang.


Hani tetap diam tak bergeming. Ia masih melanjutkan mencuci piring, tetapi air matanya kembali mengalir menganak sungai.


Dari sudut matanya Faiq dapat melihat air mata yang mengalir dari wajah istrinya. Ia membalikkan wajah Hani dan menatap mata bening yang kini tampak sendu. Jemarinya  menghapus air mata yang masih menggenang di sudut mata Hani.


“Siang nanti mas akan membawamu makan siang yang ada menu rujak cingurnya, ya…” Faiq berusaha membujuknya.


“Aku sudah tidak menginginkannya.” Suara Hani terdengar lirih.


Perasaan Faiq semakin tidak menentu mendengar jawaban Hani. Ponselnya berdering, Rudi memberitahunya bahwa akan ada meeting dengan klien jam 8 pagi di kantor mereka.


Sebenarnya berat bagi Faiq untuk meninggalkan Hani dalam keadaan bersedih seperti itu, tapi mau bagaimana lagi, pertemuan kali ini juga penting.


“Secepatnya aku akan kembali ke rumah.”


Faiq mengecup keningnya sesaat dan berjongkok di hadapannya  sambil membelai perut buncit istrinya.


“Anak papa jangan nakal ya, kasian bunda cape. Papa sayang kalian.” Faiq mengecup perut Hani dan memandangnya dengan lekat.


Saat bayangan Faiq sudah menghilang dari pandangan matanya. Air mata Hani kembali terjun bebas.


“Ya Allah ujian apa lagi ini? Kenapa mas Faiq berbohong. Aku ingin ia berterus terang, sesakit apapun aku akan menerimanya…” lirih Hani sedih.


“Tring” Nada pesan berbunyi dari ponselnya.


Hani langsung membuka pesan chat. Matanya membulat menyaksikan foto yang berada dalam ponselnya. Tampak Hesti, Dewi dan Faiq makan bersama di sebuah ruangan.


Dada Hani berdebar keras. Ia tidak tau siapa yang sakit, tapi ia yakin posisi mereka berada di dalam sebuah ruangan rumah sakit. Melihat menu yang tersaji membuat rasa kecewa Hani semakin besar.


Nikmat sekali makan rujak cingur oleh-oleh dari yang tersayang…


Tulisan yang tertera di bawah foto itu membuat kesedihan Hani semakin berlipat-lipat.


“Mas Faiq  benar-benar  tega…”  Hani menepuk dadanya yang terasa sesak.


Dengan berurai air mata Hani kembali ke kamarnya. Ia benar-benar tak menyangka Faiq menyembunyikan kedekatan ia dan Hesti serta Dewi. Dan tanpa sepengetahuan Hani, Faiq telah membiayai pengobatan salah satunya.


Jika Faiq mau berterus terang, Hani akan berusaha menerimanya. Tetapi Faiq malah menyembunyikannya, dan Hani merasa sakit karenanya. Ia hanya istri yang tidak dianggap, karena Faiq tidak melibatkannya dalam masalah itu.


Faiq menyadari sikap Hani yang semakin pendiam akhir-akhir ini. Tapi ia berusaha mengacuhkannya, ia tetap seperti biasa mengajak anak-anak main ke taman, membawa mereka jalan-jalan.


“Yang, sesudah kontrol kita  bawa anak-anak makan di luar ya…” ujar Faiq saat tiba di rumah sore itu.


Hani mengangguk, ia enggan untuk berbicara dengan suaminya. Ia tau, perbuatan mendiamkan suaminya tidak baik. Tetapi ia berusaha berdamai dengan perasaannya sendiri yang sudah dibohongi Faiq. Ia terluka dan sakit hati atas sikap Faiq.


“Yang, kamu baik-baik saja?” Faiq menyadari Hani semakin tidak bersemangat belakangan ini.


Setiap ia kembali dari kantor, Hani sudah tidak pernah menyambutnya. Ia lebih sering duduk menyendiri di taman belakang. Faiq memandang dari kejauhan. Ia menghela nafas dengan berat.


Dengan pelan Faiq berjalan menghampiri Hani yang masih menekuri ikan koi di dalam kolam di taman belakang rumah mereka.


Faiq meletakkan tangannya di atas pundak Hani. Tapi Hani tetap tak bergeming. Ia menyadari kehadiran Faiq.


“Yang, sebentar lagi kita akan kontrol kandunganmu.” Melihat sikap diam Hani akhirnya Faiq duduk di samping.

__ADS_1


Dengan segera Hani bangkit, “Aku akan berganti pakaian…” Tanpa menghiraukan suaminya Hani langsung berjalan tanpa menoleh ke belakang.


Faiq mengeluh dalam hati atas sikap Hani. Tapi ia tidak bisa menyalahkan perubahan yang terjadi pada istrinya, ia sendiri tidak mau berterus terang. Ia tidak ingin Hani salah paham atas bantuan yang ia berikan pada Dewi. Semata-mata ia menghargai Dewi sebagai orang tua, dan sedang memerlukan uluran tangannya, tidak lebih dari itu.


__ADS_2