
Dengan dibantu Hari, Ivan akhirnya memasuki kamar suite yang telah direservasi Hari. Di dalam kamar ia langsung menghempaskan diri di tempat tidur. Tenaganya telah habis tak tersisa. Khaira tak tinggal diam.
“Pak Hari, tolong pesankan makan siang. Mas Ivan harus segera minum obat,” Khaira menghilangkan rasa malunya untuk minta bantuan Hari.
“Apa lagi Mbak?” Hari menatap Khaira menunggu, karena ia melihat masih ada yang mengganjal di pikiran nyonya bosnya itu.
Ketukan di pintu menghentikan ucapan Hari. Dengan cepat ia membuka pintu. Petugas layanan kamar datang membawakan makan siang yang telah dipesan. Hari belum beranjak dari tempatnya. Ia yakin Khaira masih membutuhkan bantuannya.
Khaira mendekati tempat tidur. Ia melihat Ivan sudah basah mandi keringat. Ia segera membuka sepatu dan kaos kaki yang masih terpasang di kaki Ivan. Sudah saatnya suaminya minum obat dan vitamin yang sudah diberikan dokter.
Khaira membuka lemari yang berada di dalam kamar hotel. Ia hanya melihat bathrobe yang menggantung. Dari pada suaminya memakai baju basah, lebih baik ia memakai bathrobe yang tersedia.
“Mas …. “ Khaira menepuk punggung tangan Ivan yang terus mengeluarkan keringat dingin.
Ivan membuka mata dengan lemas. Ia melihat sorot kekhawatiran yang tergambar di wajah ayu istrinya.
“Mas makan dulu ya. Setelah itu minum obat.”
Suara lembut dan tatapan mata sayunya membuat perasaan Ivan menghangat.
“Baiklah sayang …. “
“Tapi sebaiknya mas buka baju dulu,” Khaira mengulurkan bathrobe di tangannya, “Pakaian mas udah basah keringat.”
Ivan merasakan kebahagiaan mulai mengaliri sekujur tubuhnya melihat perhatian yang diberikan Khaira. Melihat Ivan yang masih menatapnya dengan lekat membuat Khaira tidak sabaran. Ia langsung mengulurkan tangannya membuka kancing kemeja Ivan.
Senyum lebar terbit di wajah Ivan melihat perbuatan istrinya. Kalau saja ia tidak dalam kondisi lemah seperti ini, tentu perbuatan Khaira adalah sesuatu yang sangat ia harapkan.
“Kenapa mas tersenyum?” Khaira merasa heran dengan tingkah suaminya.
Ivan menggenggam jemari Khaira yang masih membuka satu demi satu kancing baju yang menutup tubuh kekar suaminya.
Melihat senyum Ivan membuat Khaira tersadar. Ia merasa seperti perempuan nakal dan ia tau pasti makna di balik senyum suaminya.
“Pak Hari, tolong bantu. Saya akan menyiapkan makanan mas Ivan karena setelah ini ia harus minum obat.” Khaira berkata dengan nada dingin melihat tatapan penuh arti Ivan yang memandangnya dengan lekat.
Hari dapat melihat ketegangan dari wajah Khaira. Ia mendekat dan melihat senyum yang tergambar di wajah Ivan.
“Yang, apa pantas Hari mengganti pakaian suamimu ini?” suara Ivan menghentikan aktivitas Khaira yang sedang mengisi nasi dan lauk pada piring.
Dengan memompa kesabaran, Khaira kembali mendekati Ivan yang menatap Hari dengan raut kesal.
“Kalau pak Hari keluar, tolong carikan pakaian ganti mas Ivan …. “ Khaira berkata dengan perasaan tak nyaman.
Hari tersenyum mengangguk. Ia tau Khaira juga memerlukan baju ganti untuk dirinya sendiri, tapi enggan untuk mengungkapkan. Ia memindai sebentar sosok Khaira untuk mengira ukuran yang akan ia carikan bagi bos dan istrinya.
__ADS_1
Ivan dapat melihat pandangan Hari pada istrinya. Ia merasa tidak senang dengan perbuatan mantan asistennya itu.
“Apa yang kamu lihat?” Ivan bertanya dengan nada kesal pada Hari.
Tanpa menjawab Hari mengacungkan kedua jempolnya pada Ivan. Ia yakin, Ivan akan sangat berterima kasih padanya nanti.
“Saya permisi,” Hari pamit undur diri.
Ia ingin memberikan kebebasan pada Ivan dan istrinya. Ia pun tak ingin membuat Khaira merasa tak nyaman dengan kehadirannya.
Ivan membiarkan Khaira mengelap tubuhnya dengan handuk kering yang berada di dalam kamar mandi. Kemudian Khaira segera memasangkan bathrobe yang sudah ia siapkan sejak tadi dan mengikat talinya dengan erat.
“Sekarang mas makan dulu, setelah itu baru minum obat.”
Ivan menganggukkan kepala menyetujui semua keinginan istrinya. Ia pun tidak nyaman dengan situasi ini. Kalau saja kondisi tubuhnya fit, ada banyak rencana yang bermain di kepalanya. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada antara dirinya dan Khaira.
“Kamu juga harus makan sayang …. “ Ivan mengarahkan sendok ke mulut Khaira, karena ia sudah merasa kenyang.
“Aku akan makan belakangan,” Khaira menolak suapan Ivan.
Ia mengambil kantong obat yang terletak di atas nakas. Mengeluarkan beberapa kapsul yang harus diminum suaminya.
Dengan badan yang masih menggigil Ivan menerima obat dari tangan Khaira dan meminumnya segera. Khaira kembali mengelap keringat dingin yang masih enggan pergi dari pelipis suaminya.
“Sekarang mas istirahat dulu. Dan cobalah untuk tidur,” Khaira membereskan sisa makanan yang tersedia.
Khaira terkejut ketika menyelimuti tubuh Ivan yang masih menggigil, tangan Ivan meraih tangannya. Ia memandang Ivan yang menatapnya penuh arti.
“Terima kasih telah merawatku,” Ivan mengecup jemarinya dengan mesra. Keberadaan Khaira di sisinya dan merawatnya membuat Ivan yakin bahwa Khaira mulai menerima dirinya.
“Ini sudah kewajibanku mas,” Khaira menyunggingkan senyum tulus, “Cepatlah sembuh, aku tidak ingin Fajar dan Embun mencari kita.”
Sebuncah kebahagiaan terbit di hati Ivan mendengar Khaira menyebut kita. Ini berarti bahwa kehadirannya sudah cukup berarti bagi Khaira walau pun ada embel-embel si kembar di dalamnya.
Perasaan cemas belum hilang dari benak Khaira. Walaupun sudah minum obat, belum ada perubahan berarti dari kondisi Ivan. Keringat dingin masih terus mengalir. Khaira tak berhenti menyeka keringat yang terus mengalir menganak sungai di dahi suaminya.
Kalau saja Ivan tidak menolak, ia ingin suaminya rawat inap di rumah sakit. Tapi Ivan berkeras hati. Ia ingin istirahat di hotel saja, karena yakin kondisinya hanya kelelahan dan kurang istirahat. Dibawa tidur beberapa jam, ia yakin fisiknya akan kembali seperti sedia kala., dan mereka bisa melanjutkan perjalanan pulang.
Khaira baru selesai melaksanakan salat Magrib ketika pintu kamar di ketuk tiba-tiba. Ia yakin bahwa layanan kamar yang mengantarkan makan malam telah tiba.
Saat pintu kamar terbuka ia terkejut, ternyata Hari yang datang mengantarkan dua paper bag yang ia yakini berisi baju untuk Ivan. Tetapi paper bag satunya ia lihat dari merk yang ada pada covernya ada pakaian wanita. Tak mau banyak berpikir aneh, Khaira segera mengucapkan terima kasih atas semua bantuan yang telah Hari lakukan.
Hari tidak datang sendiri, ada Roni beserta istrinya serta Sandra yang ikut masuk ke dalama kamar penginapan mereka.
“Bagaimana keadaan Ivan?” Sandra langsung menerobos masuk tak mempedulikan tatapan Roni dan istrinya yang bingung dengan kelakuannya.
__ADS_1
Khaira menatap Sandra tak percaya dengan sikapnya yang tak mempedulikan keberadaan dirinya. Ia mengikuti langkah Sandra yang mendekati tempat tidur.
“Van, apa yang terjadi padamu?” Sandra hendak mengulurkan tangannya ke wajah Ivan.
“Tolong jangan ganggu mas Ivan. Dia baru saja beristirahat,” ujar Khaira cepat. Ia menahan tangan Sandra yang hampir menyentuh wajah Ivan. Ia jadi kesal dengan Sandra yang tidak sadar diri memberikan perhatian berlebihan pada suaminya.
“Bagaimana kondisinya mbak?” Roni bertanya penuh perhatian.
Ia telah ditelpon Hari yang menceritakan kondisi Ivan yang lemah setelah pulang dari pernikahannya dan terpaksa harus menginap di hotel karena tidak mampu untuk melanjutkan perjalanan pulang. Kebetulan acara resepsi hanya sampai jam lima sore sehingga Roni merasa lega karena sudah bisa berganti pakaian.
Begitu resepsi pernikahannya selesai, yang menyisakan keluarga besarnya saja, akhirnya Roni mengajak istrinya untuk melihat kondisi Ivan. Sandra yang kebetulan masih berada di rumah Roni memaksa ikut. Ia masih berharap banyak dengan Ivan.
“Mas Ivan baru saja tertidur. Dokter mengatakan bahwa mas terlalu lelah dan kurang istirahat.”
“Jadi istri tidak becus. Tidak bisa mengurus suami,” suara Sandra terdengar sinis membuat siapa pun yang mendengarnya pasti merasa kesal, apa lagi Khaira, “Selama kebersamaan kami Ivan tidak pernah sakit. Ia begitu sehat dan kuat.”
Khaira berusaha menahan rasa dongkolnya atas ucapan Sandra yang berbicara seenaknya tidak melihat situasi dan kondisi.
“Baiklah mbak, semoga bos pulih seperti sedia kala. Maafkan kami yang telah datang mengganggu,” Roni merasakan suasana yang tidak nyaman di dalam ruangan, “Biar bos dapat beristirahat, kami pamit pulang.”
Sandra tidak bergeming masih berdiri di sisi tempat tidur Ivan. Sedangkan Hari, Roni dan Miska sudah berjalan bersama menuju pintu kamar.
“Maafkan aku, bukannya aku ingin mengusir mbak Sandra, tapi mas Ivan perlu beristirahat.”
“Apa hakmu mengusirku?” Sandra merasa kesal dengan ucapan Khaira.
“Mbak Sandra itu harusnya mikir. Aku istrinya dan aku ingin memberikan pelayanan yang terbaik untuk kesembuhan suamiku.”
“Kau akan menyesal melakukan ini. Lihat saja kalau Ivan sadar,” Sandra masih dengan pedenya berdiri menatap Ivan.
“Aku mohon …. “ Khaira berusaha menekan kemarahannya untuk menghadapi sikap tak tau malu Sandra.
“Aku yakin, Ivan akan menerimaku kembali,” Sandra berkata dengan sombong menatap Khaira dengan tatapan merendahkan, “Terlalu banyak kenangan yang kami miliki bersama. Apalagi kamu tidak bisa memberikan keturunan buat Ivan.”
Khaira tidak mengomentari ucapan Sandra. Ia membiarkan perempuan itu mengoceh semaunya. Apa yang ia katakan sedikitpun tidak berarti bagi Khaira. Ia tidak akan mempedulikan apapun kecuali kebahagiaan Fajar dan Embun.
“Ivan pasti menerima kehadiran bayiku. Dia sangat menyukai anak-anak,” Sandra berkata dengan bangga sambil membelai perutnya yang buncit.
“Sudah selesai ocehannya mbak?” Khaira bertanya dengan santai, “Kalau sudah silakan keluar. Kalau mbak Sandra masih berkeras, aku akan memanggil petugas pengaman, karena mbak telah mengganggu ketenangan kami sebagai tamu di hotel ini.”
“Kau! Kau mengusirku. Lihat saja jika Ivan terbangun, kau akan menyesali karena telah mengusirku,” Sandra berkata dengan gusar melihat sikap Khaira yang santai tidak terprovokasi dengan perkataannya.
“Lakukanlah semaumu. Sekarang silakan keluar dari kamar ini, sebelum kesabaranku habis," Khaira mulai mengeraskan suaranya di depan Sandra.
Dengan kesal Sandra melangkah keluar dari kamar dengan menahan emosinya. Padahal ia berharap bisa semalaman di kamar ini untuk menemani Ivan. Tapi perlakuan Khaira membuatnya terbakar amarah. Ia benar-benar tidak mengetahui bahwa Ivan telah kembali bersama Khaira. Yang ia tau, keduanya telah berpisah semenjak Ivan membawa pergi Bryan dan Claudia bersamanya ke luar negeri, dan ia pun tidak pernah lagi bertemu dengan Claudia saat terakhir bersama di Singapura hampir empat bulan yang lalu.
__ADS_1
Tapi ia tak putus harapan. Ia yakin Ivan akan menerima dirinya kembali karena hubungan yang pernah terjalin di masa lalu. Apalagi ia merasa, dirinyalah satu-satunya yang mampu memberikan segalanya pada Ivan, lelaki tampan dan tajir yang selalu ia idamkan sampai detik ini.
***Sabar para pemirsah\, masih pemanasan dulu ya .... Jangan lupa\, komentar\, like\, vote nya agar author selalu semangat menuju adegan uwunya. Ha ha ha .... ***