
Ivan memandang Sandra yang terlelap dengan tenang di sampingnya setelah pertarungan yang mereka lewati beberapa saat yang lalu. Setelah percakapan terakhir dengan Abbas kemaren, ia sudah bertekad untuk mulai merancang masa depan bersama Sandra. Memang saat ini ia belum terlalu mengenal kepribadian wanita yang selalu menghangatkan ranjangnya itu. Tapi selama ini, Sandra lah yang paling mengerti apa yang ia inginkan.
Mata Ivan tak bisa ia pejamkan. Dengan pelan ia bangkit dari tempat tidur king size di hotel president suite tempat ia dan Sandra menghabiskan waktu malam ini. Keduanya bisa bersama karena kebetulan menghadiri undangan resepsi pernikahan salah satu relasi Ivan.
Melihat wajah Abraham sang pengantin pria dan wanita yang tampak bahagia membuat Ivan semakin bersemangat untuk menata hari depan. Hatinya merasa hangat melihat kedua mempelai pengantin berjalan beriringan menghampiri tamu dan berbaur bersama.
Ia membuka ponselnya dan melihat foto kiriman Sandra yang memperlihatkan sebentuk cincin berlian indah dengan tulisan, future dream. Ivan tersenyum, ia yakin Sandra juga punya keinginan yang sama dengannya.
Tanpa sengaja Ivan melihat postingan Abbas. Foto dua tangan yang sejajar di atas meja, dengan tulisan, bahagia itu sederhana asal kau selalu di sisiku. Ivan melihat cincin emas belah rotan yang melingkar di jari putih perempuan.
Ia tersenyum tipis, melihat kesederhanaan yang ditampilkan dalam postingan Abbas. Ia jadi penasaran dengan sosok perempuan yang membuat Abbas selalu optimis menatap masa depan. Ia terus menscroll medsos Abbas berusaha mencari, tapi tak ia temukan gambaran perempuan yang menjadi calon istri Abbas.
Keheningan malam terganggu dengan suara ponsel Sandra. Ivan memandang sekilas nakas di mana posisi ponsel berada, tapi suara ring tone terus berbunyi membuat Ivan menghentikan aktivitasnya.
Panggilan video call Bobby tampak di layar. Ivan mengerutkan keningnya. Ada apa malam-malam begini asistennya menelpon.
“Ya Bob …. ?” dengan perasaan enggan Ivan menjawab panggilan Bobby.
Bobby terkejut, karena bukan Sandra yang menjawab. Ia menggaruk kepala untuk menutupi kegugupannya.
“Ma … maafkan ssa … saya, pak. Hanya ingin mengingatkan nona Sandra, bahwa besok pagi ada jadwal. Terima kasih, selamat malam.” Bobby mengakhiri panggilan vcnya dengan cepat.
Ivan meletakkan kembali ponsel di atas nakas. Matanya tertuju pada selembar kertas seperti nota yang terselip di laci tas Sandra. Ia mengambil kertas tersebut dan membacanya sekilas.
“Klinik Ibu dan Anak Kasih ….” Ivan mengerutkan jidatnya.
Ia membaca dengan teliti, tertulis janji temu hari Juma’t jam 4 sore. Ivan tersenyum tipis. Ia menyimpan nota tersebut dan kembali ke pembaringan. Matanya masih belum mau terpejam. Bayangan wajah mamanya kembali membuat Ivan menyalangkan mata. Kini ia yakin untuk memulai hubungan yang serius dengan Sandra. Toh, mereka berdua sudah sama-sama dewasa. Apalagi yang dicari ….
Senyum terulas di bibir Ivan. Sebuah rencana lamaran romantis akan ia buat untuk sang kekasih. Ia tidak ingin mengecewakan Sandra yang selalu ada saat ia butuhkan. Hal pertama yang akan ia lakukan adalah memberikan hadiah berupa cincin yang ada tersimpan di ponselnya sebagai kejutan untuk Sandra.
Sebuah lamaran romantis sesuai keinginan Sandra akan ia lakukan tapi dibumbui dengan pernak-pernik lainnya yang mungkin tidak akan dilupakan Sandra seumur hidup. Setelah puas dengan planning lamaran yang akan ia buat, akhirnya Ivan bisa memejamkan mata tepat pukul 4 pagi.
__ADS_1
Sentuhan lembut di bibirnya membuat Ivan membuka mata, walaupun perasaan ngantuk masih menyiksanya tapi ia tersenyum begitu Sandra memberikan kecupan hangat di pagi yang agak dingin, ditambah hujan yang mulai turun.
“Yang, aku harus pergi sekarang. Bobby sudah menunggu di lobi,” ujar Sandra sambil menangkup wajah Ivan dengan kedua tangannya.
Ivan menganggukkan kepala. Sandra yang sudah cantik dan wangi dengan penampilan seksinya selalu menyegarkan pandangan Ivan. Jika Sandra tidak ada jadwal ingin rasanya Ivan menahannya di pagi itu untuk melanjutkan beberapa ronde sebagai mood bosternya di hari ini. Ia yakin dalam seminggu ke depan, Sandra pasti akan disibukkan dengan syuting film terbaru serta syuting beberapa iklan televisi yang ia sendiri telah melihat kontraknya.
Sepeninggal Sandra Ivan merebahkan diri kembali untuk melanjutkan tidurnya yang belum maksimal. Ia sudah berencana untuk meminta bantuan Abbas mengurus sesuatu yang berkaitan dengan lamaran pada kekasihnya.
Siang itu Abbas duduk bersama Ari yang ia tunjuk sebagai manajer kafe. Pemikiran Ari sebagai orang yang paling senior di kafe sangat membantu Abbas. Ari adalah pemilik lama kafe yang telah ia beli dan kelola bersama Khaira. Ari menjual kafenya karena kesulitan keuangan pada saat istrinya menderita penyakit kanker rahim, hingga akhirnya Yang Kuasa memanggilnya. Kini Ari tinggal bersama kedua orang tuanya dengan satu anak perempuan yang baru berusia 10 tahun.
Karena mencari pekerjaan di masa sekarang susah, apalagi putrinya yang bernama Sisi susah untuk ditinggal akhirnya Ari moemohon pada Abbas untuk tetap diijinkan bekerja bersamanya. Di sanalah kedekatan keduanya di mulai.
Tepat jam 1 siang, Abbas kembali dikejutkan dengan kedatangan Ivan ke ke dalam ruangannya. Ia hanya menyunggingkan senyum melihat wajah Ivan yang lebih cerah, tidak seperti beberapa waktu yang lalu.
“Wah, yang menuju hari H, suegerrr terosss …. “ Ivan duduk di hadapannya dengan santai.
“Pastilah … menuju halal.” Abbas berkata dengan raut kebahagiaan.
Senyum tersungging di wajahnya saat membayangkan melewati itu semua bersama Khaira. Tujuh tahun kedekatannya bersama Khaira bukanlah sesuatu yang mudah. Ia sangat memahami perbedaan antara mereka seperti bumi dan langit.
Tapi semesta mendukung hubungan yang telah terjalin. Saudara Khaira yang nota bene pengusaha ternama dari dua nama besar tidak pernah mempermasalahkan kedekatan mereka. Hingga pertunangan yang terjadi pada saat ayahnya meninggal membuat keduanya semakin dekat.
“Bas, aku mohon bantuanmu.” Ivan berkata dengan serius begitu duduk di hadapan Abbas yang sudah santai sambil menyandarkan tubuh di kursi kerjanya.
“Bantuan apa yang bisa ku berikan untukmu?” tanya Abbas santai sambil menghirup kopi yang belum sempat ia minum sejak pagi karena kesibukannya membereskan pelaporan.
“Aku ingin memberikan surprise lamaran buat Sandra.”
“Wah! Kemajuan yang luar biasa.” Abbas mengacungkan kedua jempolnya mendengar perkataan Ivan.
Ivan mulai menceritakan rencana yang akan ia buat untuk Sandra. Ia sudah membayangkan lamaran romantis sesuai yang diinginkan Sandra. Ia harap hubungannya akan langgeng sehingga membuat mamanya senang.
__ADS_1
Sekembalinya dari pertemuan dengan Abbas, Ivan kembali ke kantor. Ia segera menghubungi Roni untuk membeli cincin sesuai rekomendasi Sandra. Perasaan Ivan merasa lega setelah beberapa saat mendengar bahwa cincin yang diinginkan Sandra telah berada di tangan Roni.
Tepat jam 11 siang, Ivan sudah bersiap-siap untuk mengunjungi Sandra di apartemennya. Dengan berpakaian santai ia menuju apartemen mewah Sandra yang merupakan pemberiannya sebagai kado ulang tahun Sandra ke 27 enam bulan yang lalu.
Ivan mengerutkan keningnya begitu memasuki apartemen Sandra yang tampak hening. Ia sudah mendapat informasi dari Gladys bagian manajemen artis bahwa jadwal Sandra 2 hari ini kosong. Ivan sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk melamar Sandra di kapal pesiar yang telah disiapkan pegawainya.
Ivan mengerutkan keningnya mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar Sandra. Kecurigaan tiba-tiba datang menghampirinya. Rasa amarah tiba-tiba bergolak di dada Ivan. Ia tau apa yang sedang diperbuat di kamar itu. Tapi bukan dirinya jika harus melabrak pasangan mesum yang menggunakan fasilitas pemberiannya.
Tangan Ivan mengepal dengan erat. Ia duduk di sofa dengan menahan amarah di dada, ingin mengetahui siapa teman ‘main’ Sandra di siang hari yang lumayan panas itu. Matanya tajam nyalang menatap pintu kamar yang masih tertutup rapat.
Pintu kamar terbuka dengan perlahan. Ternyata permainan belum berakhir, Sandra masih bergayut mesra dengan posisi kakinya melingkar di tubuh lelaki muda yang menjadi teman ‘main’nya.
Ivan berdiri dengan cepat dan berkata dengan penuh kemarahan, “Apa kalian masih ingin melanjutkan permainan kotor ini?”
Sontak kedua pasangan mesum itu terperanjat melihat ada orang yang menyaksikan perbuatan mereka.
“Sayang …. “ Sandra dengan cepat turun dari gendongan Bobby dan membetulkan posisi gaunnya yang sudah tidak berbentuk.
“Sudah berapa lama kalian bermain di belakangku?” kecam Ivan dengan penuh kemarahan.
“Sayang …. kami hanya …. “
“Selesaikan urusan kalian berdua.” tanpa memberi kesempatan pada Sandra, Ivan pergi meninggalkan apartemen dengan perasaan geram, kesal dan berjuta perasaan lain yang terasa memecahkan kepalanya.
Sandra terpaku di lantai dengan wajah ditekuk. Ia tidak menyangka Ivan menangkap basah perbuatannya dengan Bobby yang sudah berlangsung 6 bulan belakangan ini.
Hubungan tanpa komitmen antara ia dan Ivan membuat Sandra tidak bisa berbuat banyak. Memang ia akui, Ivan memberikan segala kemewahan dan memenuhi semua keinginannya, tapi terkadang di saat hasrat datang dan keduanya saling berjauhan terpaksa ia harus mencari kepuasan untuk dirinya sendiri.
Hubungan antara Sandra dan Bobby dimulai saat keduanya ada pemotretan di Surabaya. Kedekatan keduanya terjadi semenjak Sandra mencari supir pribadi untuk memobilisasi segala jadwalnya yang padat merayap.
Saat pulang pemotretan di Bandung keduanya sama-sama teler hingga tidak sadar tidur di tempat yang sama di dalam penginapan. Begitu bangun ntah godaan setan yang terlalu kuat atau memang sudah ada rasa. keduanya saling menghangatkan satu sama lain, hingga akhirnya saling ketergantungan dan mulai bermain api tanpa sepengetahuan Ivan.
__ADS_1