Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 51


__ADS_3

Entah kenapa malam ini Hani menginginkan makan nasi Padang yang berada tidak jauh dari restoran mereka. Ia masih menunggu Faiq yang sedang berbicara dengan Handoko dan pak Arman di ruang kerja mereka.


“Mbak Hani tidak makan?” tanya Lina yang menemani Hasya yang sudah selesai makan.


Dewi dan Hesti memandang Hani yang mengaduk makanannya dari tadi tak berselera. Sedangkan si kembar sudah masuk ke kamarnya sejak 5 menit yang lalu.


“Kelihatannya nasi Padang enak ya, Lin.” Hani menelan salivanya membayangkan nasi Padang dengan santan kentalnya.


“Apa mbak Hani hamil? Kok tiba-tiba pengen nasi Padang?”


Dewi dan Hesti merasa tidak senang mendengar percakapan keduanya. Ini di luar rencana mereka.


“Nggak kok, aku barusan datang bulan.” Hani berkata santai, karena melihat flek dipakaian dalamnya pada saat ia mandi sore tadi.


Dewi dan Hesti merasa lega mendengar ucapan Hani. Senyum mengembang di wajah keduanya.


Perasaan Hani semakin gelisah. Keinginannya untuk makan nasi Padang benar-benar tidak bisa  ia tolak. Jam 9 malam, Faiq sudah memasuki kamar mereka.


“Mas,  aku ingin makan nasi Padang. Bisakah mas mengantarku?”


Faiq memandangnya, “Kenapa kamu tidak menghargai ibu. Ia sudah bersusah payah memasak untuk kita.”


“Bukannya aku tak menghargai ibu, tapi aku benar-benar ingin makan nasi Padang.” Hani berkata dengan lirih.


“Kamu ini bikin susah saja.” Dengan cepat Faiq bangkit dari pembaringan.


Melihat Hani yang tertunduk sedih membuat Faiq terdiam. Ia meraih jaket dan kunci mobil di meja rias Hani.


“Ayo cepatlah. Ini sudah hampir  jam 10 malam.”


Walaupun sedih, tapi senyum kecil terbit di bibir Hani. Ia segera memakai jaket serta jilbab instan yang tergantung di dalam lemari.


Saat menuruni tangga, tiba-tiba Dewi dengan gopoh mendatangi keduanya. Wajahnya tampak pucat.


“Nak Faiq, tolong bantuin Hesti. Ia terjatuh di kamar mandi…”


Dengan tergesa-gesa Faiq mengikuti langkah Dewi ke kamar tamu. Ia melihat Hesti yang meringis memijit kakinya di dalam kamar mandi. Faiq segera mengangkatnya dan membawanya ke tempat tidur.


“Apa yang terjadi, kenapa kamu tidak memanggilku?” Faiq berkata dengan lembut sambil memijit pergelangan kaki Hesti.


Hani menunggu di luar kamar. Ia turut khawatir mendengar keadaan Hesti. Ia tak berani memasuki kamar mereka. Dengan pelan Hani melangkah ke sofa ruang keluarga, menunggu Faiq.


Hesti dan Dewi merasa senang karena  Faiq tidak jadi mengantar Hani pergi ke luar untuk mencari nasi Padang.


“Apa perlu ku carikan tukang pijit? Aku khawatir kakimu akan bengkak, dan semakin sulit untuk dibawa jalan?” Faiq menatap Hesti dengan cemas.


“Ku rasa tidak perlu. Pijitan mas Faiq sudah membuatnya terasa enak.” Hesti menyunggingkan senyum manisnya.


Setelah beberapa waktu Faiq tersadar, Hani masih menunggunya di luar. “Aku akan mengantar Hani mencari nasi Padang.”


“Mas, tolong jangan tinggalkan aku.” Hesti merengek manja menatap Faiq. “Kakiku terasa sakit lagi, jika mas berhenti memijitnya.”


“Baiklah. Aku akan memberitahu Hani untuk membatalkan  keinginannya.”


Senyum mengembang di wajah Dewi dan Hesti mendengar ucapan Faiq. Mereka merasa senang melihat Faiq yang mulai mengacuhkan Hani dan anak-anaknya.


Faiq menghampiri Hani yang masih sabar menunggunya di sofa ruang tamu. Dengan santai ia membuka jaket dan meletakkan kunci mobil di atas meja.

__ADS_1


“Maafkan aku tidak bisa mengantarmu. Besok kamu bisa cari sendiri. Hesti sedang kesakitan, dan aku tidak bisa meninggalkannya.” Tanpa menunggu jawaban Hani, Faiq berlalu dari hadapannya kembali ke kamar Hesti.


Hani mengurut dadanya yang terasa sesak. Air matanya mengalir tak terbendung. Dengan langkah berat ia berjalan kembali menuju kamar mereka. Semalam-malaman Hani menangis merasakan kepedihan atas sikap Faiq.  Saat terbangun tengah malam, ia tidak melihat kehadiran Faiq di sisinya. Pikirannya mulai kalut, akankah rumah tangganya dapat ia pertahankan sampai akhir…


Pagi itu seperti hari biasanya, setelah menyiapkan pakaian Faiq, Hani segera ke kamar Hasya dan si kembar.  Sambil menggendong Hasya yang agak rewel, Hani berjalan menuju ruang makan.


Ia melihat si kembar sedang sarapan  karena Faiq telah berangkat kerja lebih awal. Ia hanya mendengar percakapan Dewi dan Hesti yang mengatakan bahwa Faiq ada  pertemuan dengan klien di perusahaan.


Konsentrasi Hani terpecah mengingat rumah tangganya yang kini terasa hambar. Komunikasinya dengan Faiq sudah tidak seintens dulu. Apalagi  sikap Faiq yang semakin dingin terhadap dirinya dan anak-anak.


“Apa yang mengganggu pikiranmu?” Mawar menatapnya dengan prihatin, karena Hani tidak bersemangat saat tiba di kantornya. “Apa karena pelakor itu?”


“Aku tidak tau, mbak. Mas Faiq sudah tidak sehangat dulu.”


“Sejak kapan dia berubah seperti itu?”


Hani tercenung sesaat, “Semenjak bu Dewi dan Hesti menginap di rumah, sikapnya mulai dingin. Mas Faiq tidak penah lagi menyempatkan bermain dengan anak-anak.  Waktunya lebih banyak digunakan mengobrol bersama bu Dewi dan Hesti.”


“Ku rasa Faiq terkena sihir.” Mawar berkata sekenanya, “Kamu tau, daerah asal Hesti itukan masih banyak yang menggunakan hal gituan.”


“Aku nggak percaya mas Faiq diguna-guna.” Hani menggelengkan kepala, “Mas Faiq ibadahnya kuat.”


“Eh, jangan salah ya. Ilmu pelet itu itu bagian dari sihir. Rasul kita saja pernah terkena sihir. Makanya ada ayat-ayat dalam al-Qur’an untuk menghindari ilmu sihir yang dikirim oleh orang yang berniat jahat.” Mawar berkata dengan serius.


Hani menatap Mawar dengan ragu. “Aku tidak tahu harus berbuat apa, mbak. Perjanjian pernikahan mereka telah lewat dari satu bulan. Tapi nampaknya tidak ada keinginan mas Faiq untuk menceraikan Hesti.”


“Justru itu. Mereka berusaha mengendalikan Faiq lewat sihirnya. Kamu harus mencari orang yang bisa mengobati Faiq, agar ia bisa sadar kembali dari pengaruh sihir mereka.”


Hani merenungkan perkataan Mawar. Sebenarnya omongan Mawar cukup masuk akal. Tapi ia tidak terlalu yakin. Dan Hani tidak tau, harus meminta bantuan pada siapa, disaat Hanif sudah memulai kehidupan baru di tempat yang sangat jauh.


Hani terkejut saat kembali ke rumah, melihat vas bunga berserakan dan gelas yang pecah berhamburan di lantai.


“Apa yang ibu lakukan.?” Hani menepis tangan Dewi yang masih memegang telinga Ariq.


“Mas hanya mengambil bola yang terlepas dari tangan Ali. Tak sengaja menyenggol tante yang berjalan membawa minuman.” Ariq bercerita pada Hani.


Hani melihat Hesti yang duduk di sofa sambil memainkan ponsel. Ia mencermati ucapan Ariq. Berarti Hesti hanya berpura-pura belum bisa berjalan, dan mereka telah dibohongi.


“Mbak Hesti sudah sembuh dan menyembunyikannya dari kami?” Hani menatap Hesti dengan tajam.


“Memang masalah. Aku berhak tinggal di sini. Aku juga istri mas Faiq. Aku akan mempertahankan pernikahan kami. Kamu terima atau tidak, tidak masalah buat aku.”


“Tidak ku sangka kalian tega melakukan itu.” Hani menatap Hesti dan ibunya dengan perasaan kecewa dan marah yang bercampur jadi satu, “Kalian telah menyalahgunakan kepercayaan mas Faiq. Aku akan menceritakan kebohongan kalian pada mas Faiq.”


“Nggak masalah kamu mau ngomong apa. Karena mas Faiq sekarang sudah ada dalam genggamanku. Kami berdua saling mencintai…”


“Aku tidak percaya. Mas Faiq tidak pernah mencintai mbak Hesti.”


“Harusnya kamu itu sadar diri. Kamu itu janda. Tidak pantas menjadi istri mas Faiq.”


“Tolong jaga ucapan mbak Hesti. Aku menghargaimu karena kamu adalah tamu di rumah ini.”


Hesti tertawa sinis, “Apa kau lupa, aku juga istri mas Faiq. Jadi posisi kita sama di rumah ini. Lihat saja, tidak lama lagi mas Faiq akan segera melegalkan pernikahan kami.”


“Itu tak akan mungkin terjadi. Aku akan menjaga keutuhan rumah tangga kami. Mas Faiq tidak akan menduakanku. Mas Faiq akan segera menceraikanmu.” Hani membalas ucapan Hesti dengan lantang.


“Ku rasa kamu yang akan turun dari rumah ini.  Aku berani bertaruh.” Hesti tersenyum dengan congkak. Ia sudah merasa di atas angin. “Tak lama lagi foto pernikahan kami lah yang akan menghiasi rumah ini.”

__ADS_1


Hani merasa gundah mendengar ucapan Hesti. Separuh hati ia menyangkalnya, tetapi di sisi lain, ia sendiri melihat dan merasakan bagaimana perhatian  Faiq terhadap istri mudanya itu. Apalagi pernikahan mereka sah di mata agama.


“Apapun akan kulakukan untuk kebahagiaan Hesti. Karena kau lah yang merebut Faiq dari sisinya.” Dewi turut memojokkan Hani.


“Kamu itu hanya seorang janda. Tidak pantas mendapatkan lelaki lajang seperti mas Faiq. Aku akan segera memiliki mas Faiq seutuhnya.  Ia  akan segera melepaskanmu.” Dengan angkuh Hesti berjalan meninggalkan Hani.


“Apa yang terjadi?”


Mendengar suara Faiq, Hesti langsung menjatuhkan diri di samping sofa ruang keluarga. Ia langsung memijit kedua kakinya sambil meringis kesakitan.


Faiq melihat kekacauan  yang terjadi di ruangan itu. Ia mendekati Hesti yang terduduk dengan berurai air mata.


“Mas Ariq tak sengaja menyenggol tante yang membawa minuman, hingga gelasnya jatuh menimpa vas bunga.” Ali berkata dengan wajah ketakutan.


“Hesti melatih kakinya berjalan, saat keduanya masuk bermain bola.” Dewi menjawab pertanyaan Faiq. Matanya tajam menatap si kembar.


“Tapi saya sudah sering melihat tante berjalan di kamarnya…” Ariq berusaha meyakinkan Faiq.


“Papa sudah bilang jangan bermain bola di dalam rumah.” Bentak Faiq keras.


“Kami tidak bermain, papa. Bola terlepas dari tangan Ali. Dan Saya ingin mengambilnya, tapi tak sengaja menabrak tante…”


“Kenapa kalian semakin kurang ajar?” Faiq merasa kesal, karena setiap ia berkata si kembar selalu menjawabnya. “Kemana sopan-santun kalian?”


“Mas, tolong dengarkan anak-anak berbicara.” Hani merasa tersinggung karena Faiq membentak kedua anaknya. Hal yang tak pernah dilakukan Faiq selama ini.


“Yang harus mendengar itu mereka. Kecil-kecil begini sudah pandai berbohong.” Faiq semakin kesal mendengar pembelaan Hani pada si kembar. “Aku jadi tidak tenang meninggalkan Hesti di rumah, kalau keadaan seperti ini…”


“Aku tidak apa-apa. Mas baru pulang kerja pasti lelah.” Hesti berkata dengan lembut, sambil membelai tangan Faiq yang berada di pundaknya.


“Aku akan mengantarmu ke kamar.” Tanpa mempedulikan keberadaan Hani dan anak-anaknya Faiq mengangkat Hesti dan mengantarnya ke kamar.


Hani membawa kedua putranya ke kamar mereka. Ia menenangkan dirinya sendiri agar tidak menangis di depan keduanya. Sesampai di sana ia melihat Hasya yang sudah tidur di temani Lina.


Ia memeluk si kembar dengan perasaan berkecamuk. Ia kuat menahan kesakitan atas sikap Faiq, tapi ia tidak tega melihat kedua putranya dibentak serta diperlakukan kasar di depan matanya sendiri.


“Bunda, apakah papa membuat bunda sedih?” Ali menatap Hani yang melamun sambil membelai rambut Hasya yang tertidur dengan lelap.


“Tidak sayang. Bunda tidak sedih.”


“Tapi kenapa bunda menangis?” Ariq menggenggam tangan Hani yang bergetar.


Mendengar perkataan Ariq, air mata Hani tak terbendung. Ia kembali memeluk keduanya dengan erat. “Bunda sayang kalian. Apapun yang terjadi, kalian bertiga lah yang menguatkan bunda.”


“Tante dan nenek sangat jahat.” Ariq memandang Hani dengan sedih, “Mereka sudah menyakiti bunda.”


Hani terkejut mendengar kedua bocahnya mengatakan hal seperti itu. Ia menggelengkan kepala, “Tidak sayang. Nenek dan tante sangat baik. Mereka telah membantu bunda di rumah ini.”


“Tapi nenek sering memarahi kami, dan mengatakan bahwa papa tidak menyayangi kami dan bunda. Papa hanya menyayangi tante  Hesti dan anaknya.” Ariq mengadu pada Hani apa yang telah dikatakan Dewi padanya.


“Anaknya?” Jantung Hani berdetak cepat, “Apakah mereka sudah….”


“Tante juga sering mencubit dedek, hingga nangis…”


Hani tak percaya mendengar ucapan Ariq. Pikirannya mulai berkelana jauh. Ia tidak bisa membiarkan permasalahan ini berlarut-larut lebih lama. Ia akan meminta ketegasan Faiq malam ini, apapun yang terjadi.


 

__ADS_1


 


__ADS_2