
Di sebuah rumah mewah yang diselimuti kebekuan dan kesunyian, Adi masih menemani Linda yang kondisinya semakin memprihatinkan. Tiada semangat yang tampak dari wajah ringkih itu. Hari-harinya senantiasa ditemani penyesalan dan air mata.
“Mama tidak bisa terus seperti ini. Besok Reza dan Hani akan membawa anak-anak berkunjung kemari.”
“Benarkah…?” mendengar bahwa cucu-cucunya akan berkunjung membuat Linda sedikit bersemangat.
Adi memandang lekat wajah mamanya, “Barusan Reza memberitahuku. Jam 9 pagi mereka akan datang. Aku sudah meminta bi Surti untuk menyiapkan beberapa menu untuk menjamu mereka.”
Linda menatap Adi dengan raut sedih, “Mama merasa bersalah telah merampas kebahagiaanmu…” mata Linda berkaca-kaca menatap Adi yang lebih tegar menjalani kehidupannya.
“Aku sudah mengikhlaskan mereka, ma. Jika bahagia Hani dan anak-anak bersama Reza, aku hanya mendoakan semoga mereka selalu dalam lindungan Allah.”
“Bagaimana dengan Helen, apa kau akan menceraikannya?” Linda meneteskan air mata, mengingat kebohongan yang telah dilakukan Helen sehingga menyakiti Adi dan dirinya sendiri. “Mama harap kamu segera menemukan kebahagiaan.”
“Walaupun berpisah dengan Helen, aku belum memikirkan untuk menikah lagi. Aku akan melihat pertumbuhan anak-anak hingga mereka dewasa. Aku bahagia melihat tumbuh kembang mereka.”
Mata Adi berbinar saat mengatakan itu, membuat hati Linda membeku, serasa diguyur air es. Penyesalan semakin dalam di palung terdalam hatinya, yang akan menghiasi hari-hari terakhirnya. Linda berusaha menyembunyikan kesedihan hatinya. Ia akan menuruti apapun keinginan Adi sekarang.
Hani menguatkan diri untuk memasuki rumah yang membuatnya teringat kenangan penuh luka, selama 4 tahun berumah tangga.
Faiq menggenggam jemarinya erat. Ia menyadari trauma yang dialami Hani belum sepenuhnya pulih, walaupun perpisahan mereka sudah hampir 3 tahun berjalan.
“Papa, ini rumah siapa?” Ariq memandang Faiq dengan rasa ingin tau yang kuat.
“Ini rumah eyang putri. Mereka sudah menunggu kita.” Faiq tersenyum pada ketiga bocah polos itu.
“Silakan masuk, Tuan.” Bi Surti terkejut melihat kedatangan tamu yang sudah lama tidak ia lihat. Mata tuanya berkaca-kaca saat melihat Hani yang berdiri di samping Faiq dengan ketiga anaknya.
Ia sangat sedih mengingat kepergian Hani membawa si kembar dan kandungan yang baru berusia 3 bulan. Tak bisa ia ungkapkan betapa ia menyayangi Hani seperti putrinya sendiri. Surti lah yang paling tau, bagaimana kesulitan yang dijalani Hani setiap hari dalam mengasuh si kembar serta melayani Aditama suaminya.
“Bi Surti…” Hani memeluk perempuan parobaya itu dengan sepenuh hati.
“Nyonya…. Saya tidak menyangka bertemu kembali.” Tatapan Surti beralih pada tiga bocah ganteng dan cantik. “Wah, si kembar sudah besar…”
“Surti, tamunya tidak diajak masuk…” suara arogan Linda sudah kembali, mengejutkan Surti dan Hani yang masih bercengkrama membicarakan si kembar.
Surti tak bisa menahan kegembiraannya bertemu dengan Hani dan ketiga anaknya. Saat melihat Hasya, ia betul-betul terpana. Surti yang sudah bekerja puluhan tahun bersama Linda dapat melihat wajah Hasya yang benar-benar mirip dengan Adi saat masih kecil. Air matanya mengalir tanpa sadar membasahi pipinya yang semakin tirus di makan usia.
Kini semuanya berkumpul di ruang keluarga. Linda berusaha mendekatkan diri dengan ketiga cucunya. Ia mengeluarkan satu kardus besar mainan.
“Ayo, cucu-cucu eyang tersayang. Ini eyang dan ayah sengaja hadiahkan buat kalian.” Linda berkata dengan penuh semangat.
Si kembar memandang wajah Faiq dan Hani bergantian. Faiq menganggukkan kepala. Tetapi si kembar belum berani mendekati kotak mainan.
“Mas Ariq, mas Ali bunda akan memperkenalkan om Adi…” Hani menghela nafas sesaat. Selama ini ia tidak pernah menceritakan keberadaan Adi pada si kembar.
Faiq menyadari Hani kesulitan meneruskan perkataannya. Ia menggenggam jemari Hani dengan erat memberitanya kekuatan, “Mas Ariq dan mas Ali sekarang tidak hanya punya papa, tetapi juga mempunyai seorang ayah. Om Aditama adalah ayah kalian.”
Ariq dan Ali memandang Hani dan Faiq bergantian. Selama ini mereka tidak pernah mendengar Hani menceritakan ayah mereka, karena Hanif lah yang selalu berada bersama mereka.
__ADS_1
“Ariq, Ali… maafkan ayah yang selama ini tidak pernah ada untuk kalian. Tapi percayalah ayah sangat menyayangi kalian.” Suara Adi bergetar saat mengatakan itu.
Hani tidak bisa menahan air matanya. Faiq merengkuh bahu Hani dengan erat. Ia membiarkan Adi mendekati si kembar yang memandang Adi tak berkedip.
Bahu Adi bergetar saat kedua bocah kecil itu berada di pelukannya. Ia memeluk keduanya dengan erat. Rasa bahagia hadir mengisi kekosongan jiwanya. Ia mencium kening keduanya secara bergantian, tanpa terasa air mata mengalir di pipinya, sesuatu yang tak pernah ia alami sebelumnya.
“Unda, dedek mahu icu…” Hasya turun dari pangkuan Faiq dan berjalan mendekati kotak mainan.
Suasana haru menyelimuti ruangan itu. Sudah tidak ada dendam di hati masing-masing. Hani merasa bersyukur, karena Linda dan Adi mengakui keberadaan ketiga anaknya. Melihat keakraban si kembar bersama Linda dan Adi membuat beban berat yang ada di Pundak Hani terasa terangkat.
Senyum tampak tersungging di bibir Adi melihat bocah cantiknya berjalan mendekati kotak mainan.
“Ayah sengaja belikan mainan untuk mas Ariq, mas Ali dan dedek. Ambillah yang kalian mau. Semuanya untuk kalian.”
Kini senyum terbit di wajah Ariq dan Ali. Tanpa malu-malu mereka segera bermain bersama di ruangan keluarga itu.
“Terima kasih atas kunjungan kalian, membuat mama bersemangat hari ini.” Adi merasa bersyukur sekali, karena Faiq menyetujui undangannya untuk mengunjungi mereka di hari Minggu ini.
Faiq menggenggam jemari Hani yang terasa dingin, kini mulai menghangat. Ia sadar, trauma Hani belum hilang mengingat banyaknya peristiwa pahit yang ia alami di rumah besar itu. Ia melihat wajah Hani yang sedih tak bersemangat saat mulai memasuki rumah telah sirna, berganti dengan senyum cerahnya.
“Reza, aku ingin membicarakan sesuatu padamu.”
Faiq melepaskan genggamannya pada jemari Hani, “Ra, aku akan mengikuti bang Tama, tunggulah di sini.” Ia mengelus pundak Hani lembut yang dibalas Hani dengan anggukan kepala.
Kini tinggallah Linda dan Hani bersama ketiga bocah di ruang tamu itu. Suasana hening sesaat. Hasya mulai kegiatannya membongkar berbagai jenis mainan mobil, robot serta pernak-pernik lainnya.
“Mama…” suara Linda terasa sangkut di tenggorokan. Matanya memandang Hani berkaca-kaca. Menantu yang telah ia sia-siakan, dan kini telah dimiliki sahabatnya sendiri. Cucu-cucunya yang sangat cantik dan tampan yang tidak pernah ia akui. Kini di bersama merekalah kebahagiaan dapat ia rasakan.
Melihat kesedihan di wajah mantan mertuanya, membuat dada Hani bergemuruh. Ia tidak bisa membenci Linda, walau bagaimana pun darahnya mengalir pada anak-anaknya. Apalagi melihat kondisi Linda yang semakin kurus, dengan wajah tirus tak bersemangat membuatnya merasa sedih.
“Tante, saya sudah melupakan semuanya. Saya ingin tante tetap sehat.”
“Bunda, kenapa eyang menangis?” Ariq masih duduk memegang robot yang diulurkan Hasya padanya.
Linda mengusap air matanya dengan cepat, “eyang teringat dengan almarhum suami eyang…” bayangan wajah suaminya yang menunjukkan tes DNA Hasya, tak ia pedulikan, malahan ia terus mencela dan menghina ayah dan ibu Hani yang hanya memiliki rumah makan sederhana dan tidak sederajat dengan keluarga mereka.
“Lebih baik tante istirahat.” Hani tidak tega melihat wajah pucat Linda, tubuh ringkih itu bergetar mengingat perbuatannya melawan suaminya sendiri, yang telah memperjuangkan hak menantu dan cucu-cucunya.
Dengan diikuti ketiga buah hatinya Hani mengantarkan Linda menuju kamar untuk beristirahat.
Seorang perempuan muda yang bernama Indah segera menghampiri mereka, “Sekarang sudah saatnya nyonya minum obat.”
“Indah, kenalkan ini cucu-cucuku.” Senyum terbit di wajah tirusnya, “Ini bunda mereka.”
“Perkenalkan nama saya Indah. Saya perawat yang ditugaskan tuan Aditama melayani nyonya Linda.”
Hani menyambut uluran tangan Indah sambil menganggukkan kepala. Dengan dibantu Indah, Hani memapah Linda mengantarnya ke kamar.
“Biarkan anak-anak main di sini. Mama tidak ingin jauh dari mereka…” dengan suara bergetar Linda memohon kepada Hani.
__ADS_1
Sementara itu di ruang kerja, Adi dan Faiq terlibat perbincangan serius. Aditama mengeluarkan beberapa berkas perusahaan yang telah ditandatangani Linda di depan pengacara mereka Rusdi.
“Apa maksud semua ini?” Faiq melihat berkas-berkas itu sambil mengerutkan kening.
“Mama divonis kanker otak. Dokter memperkirakan mama hanya mampu bertahan sekitar 6 bulan lagi.”
“Astagfirullahaladjim.” Faiq terkejut mendengar perkataan Adi.
“Mama ingin mewariskan semua hartanya untuk si kembar. Mama ingin menebus kesalahannya terhadap Hani dan anak-anakku…” Mata Adi memerah menahan kesedihan.
“Apa karena itu kau meminta kami datang kemari?”
“Benar.” Adi memandang Faiq. Tangannya dengan cepat mengambil berkas di dalam laci meja. “Aku ingin kau menjelaskan masalah ini.”
Faiq terkejut melihat foto pernikahannya dengan Hesti berada di tangan Adi. Ia melihat kemarahan tergambar jelas di wajah Adi.
“Jika kau ingin mempermainkan Hani, aku tidak akan tinggal diam.” Adi meremas foto itu hingga teronggok dan menjadi sampah yang tak berguna, “Kau tentu tau, aku dan Helen sudah berpisah. Jadi tak sulit bagiku untuk rujuk dengan Hani.”
“Itu di luar kendaliku. Tapi aku bersumpah tidak mempermainkan Rara. Jika Hesti sudah sembuh, aku akan menceraikannya.” Dengan cepat Faiq menceritakan kisahnya dan Hesti.
Adi tertawa sinis, “Ingat gerak-gerikmu dalam pantauanku. Aku akan membawa mereka kembali ke rumah ini, jika hal buruk terjadi.”
Faiq membalas tatapan Adi, keduanya saling memandang dengan tajam, “Aku tidak akan membiarkan kau mengambil apa yang sudah jadi milikku.” Faiq merasa kesal atas ancaman Adi.
“Kita lihat saja, sampai dimana Hani bisa bertahan dengan sandiwara gadis itu.”
Faiq mengerutkan dahinya mendengar omongan Adi, “Kamu memata-matai rumahku?”
“Aku hanya melindungi anak-anakku. Aku tidak ingin siapapun menyakiti mereka.”
“Aku jamin itu. Siapa pun tidak akan bisa merebut mereka dariku. Apapun yang terjadi.”
Sepulangnya dari rumah Aditama, Faiq merasa tidak tenang dengan ancaman Adi. Ia tak habis pikir darimana Adi mengetahui pernikahan sirinya dengan Hesti. Raut wajahnya yang biasa tampak tenang jadi gelisah. Ia tau ancaman Adi tidak main-main.
Pada saat makan malam, suasana benar-benar hening. Hani seperti biasa melayani Faiq serta si kembar, setelah mereka selesai baru ia makan. Tapi karena ada Dewi dan Hesti, ia pun makan bersama mereka.
“Nak Faiq, hari Rabu besok ibu dan Hesti akan pulang ke rumah. Ada acara tahlilan memperingati 40 hari almarhum ayah. Ibu ingin nak Faiq turut hadir di sana.” Suara Dewi memecah keheningan.
Faiq memandang Hani yang diam tak bergeming. “Besok pagi saya dan Hani akan mengantar ibu dan Hesti ke sana. Maafkan kami tidak bisa sampai sore, saya dan Hani tidak bisa meninggalkan anak-anak.”
“Yah, nggak apa-apa. Paling tidak nak Faiq masih menampakkan diri di hadapan keluarga almarhum ayah.” Dewi berusaha menutupi rasa kesalnya dengan tersenyum.
__ADS_1