
Khaira dengan santai duduk di ruang kerjanya di gerai permata Kara Jewellery. Undangan menghadiri pameran perhiasan internasional di Singapura cukup menarik minatnya. Ia segera meminta Andini masuk ke dalam ruangannya, belum sampai 5 menit asistennya itu sudah stand by duduk di hadapannya.
“Kita berdua akan menghadiri pameran ini,” ujar Khaira sambil mengulurkan undangan pada Andini, “Saya minta mbak menghubungi mas Dewo di Lombok untuk mengirimkan karya terbaik pengrajinnya, serta mas Indro di Martapura. Saya ingin melihat hasil terbarunya. Jangan lupa juga kang Asep di Bandung. Rumah Produksinya di Dago Atas ku rasa cukup meyakinkan untuk ditampilkan pada pameran kali ini.”
Andini menulis semua yang disampaikan Khaira untuk segera ia tindak lanjuti. Ia merasa bersemangat untuk mengikuti pameran kali ini, karena kesempatannya untuk shopping barang branded di Singapura terbuka luas. Sudah lama juga ia tidak liburan. Keinginannya untuk bertemu dengan sahabat lamanya di negeri Lion tersebut teramat besar.
“Saya permisi mbak Rara,” Andini bangkit dari kursinya.
“Baiklah,” Khaira mengangguk mempersilahkan hingga akhirnya Andini menghilang di balik pintu.
Sepeninggal Andini, ia menyandarkan tubuhnya sambil mengelus cincin yang melingkari jemarinya. Mata Khaira terpejam mengingat kembali kenangan bersama almarhum Abbas. Sudah delapan bulan kepergiannya tapi setiap mengenangnya tak terasa air mata Khaira selalu menggenang.
Khaira segera mengambil wudhu begitu alarm ponselnya telah berbunyi menandakan masuknya waktu Zuhur. Dalam sujud terakhirnya Khaira mengadukan segala kegundahan serta kesedihan yang kembali menggerogoti palung hatinya terdalam.
Karena sudah kangen dengan Babby A, sepulang dari gerai perhiasannya Khaira dengan mobil sejuta umat peninggalan almarhum Abbas menyempatkan dirinya mampir ke kediaman Hasya. Ia melihat seorang perempuan seusia mertuanya sedang menggendong Babby A dan memberinya MP-ASI.
“Siapa itu mbak?” tanya Khaira hampir berbisik pelan saat sudah berdiri berdampingan dengan Hasya.
Ia merasa penasaran sambil menganggukkan kepala dengan sopan dan tersenyum tipis saat sudah berhadapan dengan perempuan setengah baya itu. Tangannya langsung terulur hendak meraih Babby A yang kini tampak tertawa lebar ke arahnya.
“Mamanya mas Denis temannya mas Valdo yang kemaren makan siang bersama. Namanya tante Hartini. Kebetulan beliau datang dari Jepang dan pengen mampir ke mari.” Hasya mengenalkan keduanya sekalian.
“Lho kok bisa?” Khaira merasa heran pantas saja kelihatan modis banget, nggak seperti ibu-ibu kebanyakan. Yang ini gaul, bray ….
“Mas Valdo itu udah seperti saudara dengan mas Denis. Tante Har ini udah kangen katanya hampir 10 tahun nggak ketemu masmu. Makanya begitu pulang ke Indonesia disempetin mampir ke mari. Ntar malem katanya mau nginap.” Hasya bercerita dengan penuh semangat.
Kini Khaira mengerti. Ia sadar mbaknya juga merindukan figur seorang ibu. Ibu mertuanya sudah lama meninggal dunia, sedangkan ayah mas Valdo tinggal di Singapura bersama Renata adik perempuan satu-satunya yang menikah dengan pengusaha ritel berkewargaan Singapura.
“Sinih tak bisikin …. “ Hasya menarik tangannya dengan cepat, “Bentar ya sayang, mama bawa bunda ke belakang dulu.” Hasya menyium Babby A dengan gemas sambil menganggukkan kepada pada tante Har yang memandang Khaira sambil mengulas senyum.
Keduanya berjalan berdampingan menuju ruang makan. Hasya langsung duduk yang diikuti Khaira duduk di sampingnya.
“Ngapain sih mbak?” tanya Khaira langsung. Ia jadi penasaran dengan sikap Hasya yang tampak penuh teka-teki, seolah pembicaraan mereka begitu rahasia sehingga harus bersembunyi dari orang lain.
Hasya menatap saudara perempuannya lekat, “Mas Denis tertarik padamu. Dia sudah bilang sama masmu untuk melamarmu.”
“Astagfirullahadjim!” Khaira terperanjat matanya langsung membulat menatap Hasya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“De, sudah waktunya kamu membuka diri. Abbas sudah meninggal, kamu masih sangat muda." Hasya menatapnya lekat, "Sudah saatnya kamu memikirkan diri kamu. Nggak mungkin selamanya kamu hidup sendiri …. ”
Khaira menatap Hasya dengan raut sendu, “Aku nggak bisa membuang a Abbas dari pikiranku. Aku sudah berjanji akan setia hingga maut menjemputku.”
“Kamu nggak bisa berprinsip seperti itu. Jalanmu masih panjang. Umurmu baru saja 26 tahun. Apa kamu sanggup hidup sendiri sampai tua?” Hasya tak percaya mendengar perkataan adik perempuannya.
“Aku merasa a Abbas selalu ada di sampingku. Dan aku tidak memerlukan yang lain,” ujar Khaira dengan sungguh-sungguh.
“Mbak tidak bisa memaksamu. Tapi coba pikirkan apa yang mbak katakan." Hasya menarik nafas perlahan, rasanya berat baginya untuk mengatakan itu pada Khaira, tapi ia tetap berusaha, "Mungkin sekarang pikiranmu masih terfokus padanya, cobalah untuk membuka hatimu. Mbak yakin masih ada kebahagiaan lain yang menantimu.”
Tak terasa setetes air mata mengalir di pipi tirus Khaira. Bagaimana ia bisa melupakan Abbas yang telah mengunci hatinya dengan begitu kuat. Tak sanggup ia jika harus mencari pengganti Abbas. Tidak sekarang, tidak juga untuk masa yang akan datang.
__ADS_1
“Maafkan mbak yang telah membuatmu bersedih. Mbak tidak bermaksud apa-apa. Semua terserah kamu. Mbak tetap mendukung apa pun keputusanmu,” ujar Hasya pelan.
Ia merasa sedih melihat perubahan raut adiknya. Mungkin terlalu cepat ia menyampaikan apa yang diceritakan Valdo kemaren malam di saat menjelang tidur. Dengan cepat Hasya bangkit dari kursi. Ia menepuk bahu Khaira dengan pelan.
“Sudahlah, jangan dipikirkan apa yang mbak katakan. Ini rahasia kita berdua ya… kalau mas datang, pura-pura aja kita tidak pernah membahas masalah ini.” Hasya kembali menatap adiknya dengan lekat.
Khaira mengangguk pelan. Ia berusaha tersenyum walau pun kegetiran yang ia rasakan di lubuk hati yang terdalam. Ia tidak ingin membuat saudari perempuannya bersedih karena terus memikirkan nasib dan masa depan dirinya.
Keinginannya untuk menggendong dan melepas kerinduan pada Babby A sirna sudah, apalagi saat berjalan ke ruang depan melihat Valdo berjalan tidak sendirian tetapi diikuti seseorang yang telah terang-terangan menunjukkan bahkan mengakui perasaan meskipun lewat saudara iparnya, membuat Khaira jadi bad mood.
Di pagi Minggu yang cerah, Ivan dan Denis sudah janjian untuk bermain golf bersama di Permata Sentul Golf Club. Ivan memang termasuk anggota aktif. Walaupun tidak saban minggu, tetapi dalam satu bulan paling tidak ia meluangkan waktu selama 3 kali untuk bermain golf dengan rekannya sesama pengusaha.
Melihat kedatangan kedua pengusaha muda tajir itu, para gadis muda yang bertugas sebagai caddy rebutan untuk melayani keduanya. Denis menerima dengan senang hati saat seorang gadis yang bernama Lala mengulurkan tangan padanya dan menawarkan bantuan.
“Katanya udah insyaf.” Ivan mencibir ke arah Denis yang masih berbincang dengan Lala. Ia membiarkan gadis berambut pirang yang bernama Sarah membawakan tongkat golfnya.
Ivan tak mempedulikan ketiganya yang kini berbincang sambil bercanda gurau di belakangnya. Dengan cepat ia melangkahkan kaki menuju kafe yang menjadi tempat mangkal para pemain golf begitu sudah selesai dengan aktivitasnya.
“Malam ini nganggur mas?” Lala mulai melempar umpannya pada Denis yang santai menghisap rokoknya, tetapi tatapannya terarah sambil tersenyum menggoda ke arah Ivan yang tak bergeming dan tidak mempedulikan kehadirannya malah sibuk dengan ponselnya.
“Mas yang satu ini kok dingin amat sih?” Sarah juga mulai mencoba menarik perhatian Ivan.
Denis tertawa melihat Ivan yang tak bergeming dengan godaan dua cewek yang berusaha menarik perhatiannya dengan bermacam cara.
“Dia udah nggak tertarik dengan perempuan mbak.” Denis berkata seenaknya, yang dibalas Ivan dengan pelototan tajam tapi kembali ke mode diam menatap ponselnya.
“Mas sendiri?” Kini Lala menatap Denis dengan lekat.
“11 12,” jawab Denis santai sambil mengedipkan mata pada Ivan yang memandangnya dengan senyum kecut.
“O … M … G …. “ Sarah dan Lala kompak menutup mulut.
Dari sudut matanya Ivan melihat keduanya mulai bergegas. Dengan cepat Denis mengeluarkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah dan meletakkannya di atas meja.
“Terima kasih atas servis kalian.” Denis memberi isyarat pada keduanya untuk mengambil uang tersebut, “Semoga lain waktu kita bertemu lagi.”
“Nggak pa-pa deh. Kalau main ke mari kita temani lagi,” Lala berusaha tersenyum manis tapi dengan bibir mencibir memandang rendah pada keduanya.
Sepeninggal dua gadis berprofesi sebagai caddy tersebut Denis tak bisa menahan tawanya. Ia langsung memukul bahu Ivan dengan keras.
“Aku khawatir dengan berita terbaru abad ini,” tawanya tak juga berhenti.
“Apa maksudmu?” Ivan menghentikan berselancar di dunia maya. Sejak tadi ia asyik membuka medsos almarhum Abbas melihat foto-foto lama yang tersimpan di sana, untuk menjawab rasa penasaran yang terus mengganggunya.
“Ceo New Star Corp berpisah dengan Kekasihnya akibat memiliki Penyimpangan …. “
Sontak tinjuan Ivan melayang dengan kuat di bahu Denis, membuatnya menghentikan ucapannya karena tidak menyangka Ivan akan bereaksi cepat dengan perkataannya.
“Aku masih normal.”
__ADS_1
“Siapa bilang kamu bengkok?” Denis tertawa kecil, “Aku hanya ingin menyelamatkan diri dari dua gadis itu.”
Ivan tertawa sinis, “Perempuan itu di mana-mana sama. Membosankan.” Ia menghempaskan ponselnya ke atas meja.
Kekecewaanya bertambah, karena yang dicari tak ia temukan. Ivan tak mungkin menceritakan perasaaannya saat ini pada Denis, bisa-bisa perjaka tua itu menertawainya habis-habisan karena termakan omongannya sendiri.
Keheningan tercipta sesaat diantara keduanya. Denis kembali menghisap rokok dalam-dalam, kemudian menghembuskan asapnya secara perlahan.
“Sudah dua minggu kamu di sini. Apa sudah menemukan apa yang kamu cari?” tiba-tiba Ivan teringat kembali omongan Denis yang ingin serius mencari pasangan hidup.
Denis kembali menghisap rokok dan menghembuskannya dengan cepat berusaha membuang kegundahan yang kini ia rasakan.
“Permata langka,“ gumannya lirih.
Ivan mengerutkan jidatnya mendengar ucapan sepupunya yang bernada sumir dan tidak bersemangat, “Wah, menarik sekali! Baru kali ini sang cassanova tidak bersemangat mengejar cinta masa depannya.”
“Yang ini beda.” Denis menatap Ivan serius, “Dia adik ipar temanku. Saat melihatnya pertama kali, ku rasa aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama.”
“Ck ck ck …. “ Ivan menggelengkan kepala tak percaya mendengar cerita Denis yang baginya terlalu didramatisir, “Terlalu berlebihan.”
“Kau mengatakan itu karena belum mengalaminya sendiri.” Denis berkata dengan kesal karena Ivan menyepelekan perasaannya, “Semoga kau mengalami apa yang ku rasakan.”
“Aku bukan lelaki melow seperti dirimu. Itu tak kan pernah terjadi.” Ivan mencibir pada Denis, “Kita berbeda.”
Denis kembali menghisap rokoknya dengan perasaan gundah. “Perempuan itu janda. Dan dia belum bisa melupakan mantan suaminya.”
Perasaan Ivan merasa tidak nyaman mendengar ucapan Denis, “Apakah dia baru saja melahirkan?” kejar Ivan cepat.
“Malahan kebalikannya. Ku rasa dia masih ori,” tandas Denis cepat, “Saudara-saudaranya mengharapkan ia segera menikah. Tapi perempuan itu membuat benteng yang kokoh untuk dirinya sendiri. Perlu perjuangan untuk mendekatinya.”
“Syukurlah.” Ivan berguman tanpa sadar tapi masih tertangkap indera pendengaran Denis.
“Apa kini kamu jatuh cinta dengan janda temanmu yang baru melahirkan itu?” kejar Denis cepat. Ia mulai mencurigai sikap Ivan yang akhir-akhir ini mudah tersulut emosi.
“Simpan saja pertanyaan itu untuk dirimu sendiri.” Ivan berkata dengan malas.
Ia segera bangkit dari kursi dan membereskan tas ransel miliknya untuk menempatkan ponsel serta peralatan ringan sehabis bermain golf lalu berjalan dengan santai meninggalkan Denis yang masih asyik menikmati rokoknya.
Denis merasa kesal atas sikap Ivan yang berjalan dengan santai. Ia langsung membuang rokok yang masih tersisa separo, dengan cepat berjalan menyamai langkah kaki Ivan yang panjang.
“Kalau cinta bilang saja, gak usah gengsian.” Denis mengejeknya begitu sampai di dalam mobil.
Ivan hanya melengos kesal. Perkataan Denis seperti cambuk baginya untuk memperjuangkan apa yang telah mengganggu pikirannya akhir-akhir ini. Tapi ego mengalahkan rasa penasaran yang ada di benaknya. Dan Ivan berusaha menolak perasaan itu.
Siang itu Ivan mendampingi Arya yang datang bersama pasangannya untuk melakukan sesi foto pre-wedding di tempat yang telah disepakati. Karena merasa cocok dengan menu rumahan rekomendasi Ivan kemarin, Arya membawa tunangannya yang bernama Melinda untuk mampir di kafe restoran milik Abbas. Ivan berusaha menolaknya, ia mengkhawatirkan sesuatu.
Dukung terus, vote, kritik, saran dan like yang banyak. Untuk mempermudah halu di dunianya Khaira dan Ivan ya. Sayang untuk reader semua...
__ADS_1