
Dengan menggunakan taxi online, Hesti membawa ibunya menuju rumah kediaman Faiq dan keluarga kecilnya. Saat melihat rumah megah milik besannya, hati Dewi merasa senang bukan main. Ia merasa mendapat durian runtuh.
Ternyata Faiq Al Fareza menantunya adalah putra tunggal seorang pengusaha kaya di tanah air. Keinginannya untuk mempertahankan pernikahan siri Hesti dan Faiq semakin kuat. Ia tidak ingin melepaskan menantu tajirnya walau apapun yang terjadi.
Jam empat sore mobil Hani sudah memasuki pekarangan rumah. Ia terkejut melihat Hesti dan perempuan yang tidak ia kenal berada di kediaman mereka.
“Selamat sore bu Hani.” Hesti menyapanya dengan senyum puas, karena walau bagaimanapun posisi mereka sama sebagai istri Faiq.
“Selamat sore, silakan duduk.” Hani berusaha menyapa tamunya dengan santun.
“Jadi ini janda yang telah merebut kekasihmu itu?” omongan pedas Dewi langsung terdengar di telinga Hani. “Perkenalkan saya Dewi mertua Faiq.”
“Maaf bu, mas Faiq belum pulang. Apa ibu dan nona Hesti tidak mengabarinya saat datang kemari?”
“Hesti juga istri sahnya, dan ia berhak tinggal di rumah suaminya.”
Hani masih melayani tamunya dengan sopan. Ia meminta bi Ningsih untuk membuatkan tamu mereka minuman.
“Assalamu’alaikum…” terdengar suara Faiq memasuki rumah.
“Waalaikumussalam.” Mereka menjawab serempak.
Faiq terkejut melihat kehadiran Dewi dan Hesti yang tidak memberi infomasi kepadanya. Ia mengerutkan keningnya.
“Mas baru pulang.” Hani menghampiri Faiq dan langsung mencium tangan suami serta mengambil tas kerja Faiq.
“Menantuku, ibu mengantar Hesti kemari, karena sudah selayaknya ia ikut suaminya. Tidak pantas lagi ia tinggal di apartemen sendirian di saat ia sudah menikah.”
Hani merasakan kesedihan tiba-tiba datang menyergap mendengar ucapan Dewi. Ia memandang wajah Faiq dengan sendu.
“Maaf, bu. Dalam perjanjian kita kemaren tidak ada membahas masalah ini.” Faiq merasa tidak enak dengan Hani.
“Apa nak Faiq mau dibilang suami durhaka, karena menelantarkan istri sendiri?”
“Mas, aku ke dalam dulu.” Hani tidak ingin mengganggu urusan Faiq dan Hesti. Ia yakin Faiq akan tegas dengan komitmen awalnya.
Setelah Hani pergi dari hadapan mereka, Faiq menatap Dewi dan Hesti bergantian, “Saya akan merundingkan masalah ini dengan istri saya.”
“Ibu tunggu secepatnya.” Dewi menatap Faiq dengan tajam. Kini ia bisa melihat apa yang dikatakan Hesti memang benar, bahwa Faiq sangat mencintai istrinya yang kelihatan masih muda dan cantik.
Hani yang sedang mempersiapkan makan malam terkejut merasakan tangan kekar melingkar di perutnya.
“Maafkan mas, karena melibatkanmu dalam masalah ini.” Faiq meletakkan dagunya di bahu Hani yang masih membersihkan sayur di wastafel.
“Aku percaya padamu, mas, selama kamu menjaga kepercayaan yang kuberikan dan tidak menyia-nyiakan semuanya. Dan aku berharap sikapmu tidak akan berubah.”
“Kamu dan anak-anak adalah prioritasku sekarang. Aku tak akan mengubahnya, walau apapun yang terjadi.”
__ADS_1
“Tapi bagaimana dengan mertuamu?” Hani merasa sedih mengingat ucapan Dewi.
“Percayalah, apapun yang terjadi hanya kamu satu-satunya di hatiku. Hesti tidak akan mampu menggantikan posisimu di hatiku…” Faiq mencuri ciuman di pipi Hani.
Hesti yang kebetulan mengintip merasa hatinya sakit. Tanpa berkata apapun ia berlari dengan cepat meninggalkan kediaman rumah Faiq tanpa mempedulikan panggilan ibunya. Tiba-tiba…
“Brak.” Sebuah motor yang melaju dengan kecepatan penuh menabrak Hesti hingga jatuh tak sadarkan diri.
Karman terkejut melihatnya. Ia langsung menemui Faiq dan memberitahukan kejadian tabrak lari di jalan depan rumah mereka.
Dengan cepat Faiq dan Dewi menghampiri kerumunan di jalan. Keduanya terkejut melihat Hesti yang tergeletak tak sadarkan diri.
“Hesti, apa yang terjadi denganmu sayang?” Dewi menjerit histeris melihat putri sulungnya dalam keadaan mengenaskan.
“Pak Karman, ayo kita ke rumah sakit.” Tanpa berpikir panjang Faiq langsung mengangkat Hesti dan membawanya menuju mobil yang telah tersedia. Dengan cepat Dewi mengikuti langkah Faiq.
Ketiganya membawa Hesti ke rumah sakit terdekat. Dewi menangis melihat keadaan putrinya, membuat Faiq merasa tidak enak hati.
“Tenanglah, bu. Saya akan bertanggung jawab atas Hesti. Selama ia belum sembuh saya akan menanggung semua biaya perawatannya.”
“Bagaimana nak Faiq akan merawatnya, sementara kalian berdua tidak tinggal serumah…”
“Selama Hesti dalam masa penyembuhan, saya akan membawanya pulang ke rumah.”
Senyum puas tergambar di wajah Dewi. Rencananya akan berhasil, jika Hesti dan Faiq tinggal dalam satu atap.
“Bagaimana dengan istri tuamu?”
Faiq dan Dewi kini berada di ruangan dokter bedah yang bernama Ivan, yang telah melihat kondisi Hesti. Dan melakukan penanganan pertama saat Hesti berada di ruangan IGD.
“Saat kami rontgen tidak ada cacat ataupun benturan yang beresiko di kepala. Korban hanya mengalami shock, itulah alasan ia pingsan. Korban mengalami cidera ringan dan memar pada kaki, yang membuatnya agak susah berjalan. Tetapi dengan penanganan yang cepat, kondisi korban akan segera pulih. Dalam jangka waktu tiga hari korban bisa dibawa pulang kembali. Karena tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Syukurlah.” Faiq merasa lega mendengar ucapan dr. Ivan.
“Apa hubungan anda dengan pasien?”
“Suaminya, dokter.” Dengan cepat Dewi menjawab, karena melihat Faiq yang masih berpikir untuk menjawab pertanyaan dr. Ivan.
“Baiklah, silakan anda tanda tangani berkas pasien.”
Setelah Hesti di tempatkan di ruang VVIP, Faiq segera meminta izin kepada Dewi untuk kembali ke rumah. Ia akan menceritakan kejadian yang menimpa Hesti dan meminta Hani untuk menyetujui keputusannya yang akan merawat Hesti hingga sembuh.
Hani menanti di rumah dengan perasaan kalut. Ia khawatir mendengar kecelakaan yang menimpa Hesti. Dengan gelisah ia menanti kedatangan Faiq.
Saat mobil memasuki rumah, ia menanti dengan cemas. Ia terkejut melihat keadaan Faiq dengan kemeja lusuh yang dipenuhi debu serta percikan darah .
“Maafkan aku, Ra. Aku belum sempat menceritakan padamu kecelakaan yang menimpa Hesti. Dia ditabrak pengendara motor di jalan depan rumah, hingga pingsan.”
__ADS_1
“Astagfirullahaladjim, ya Allah. Sekarang bagaimana kondisinya?” Hani turut prihatin atas keadaan Hesti.
“Dia sudah ditangani dokter dengan baik. Tiga hari lagi ia sudah bisa pulang.”
“Syukurlah.” Hani lega mendengar ucapan Faiq.
Faiq menggenggam tangan Hani, “Selama Hesti dalam masa pemulihan, mas harap kamu tidak keberatan ia tinggal di sini.”
“Apa tidak ada pilihan yang lain, mas?”
Faiq menatap wajah istrinya dengan lekat, “Mas janji, itu tidak akan lama. Percayalah…”
Hani terpaksa mengangguk, “Ya, Allah jauhkan pikiran hamba dari segala prasangka buruk…”
Faiq dapat membaca kegalauan yang terpancar di mata bening Hani, “Ra, kamu harus yakin. Mas melakukan ini karena naluri kemanusiaan.”
“Aku percaya padamu mas…”
Hani mengikuti langkah Faiq ke kamar dan segera mempersiapkan keperluan suaminya dengan cepat. Setelah berganti pakaian santai, Faiq menyempatkan diri bermain bersama dengan anak-anaknya.
Ketika malam mulai menjelang dan mentari telah naik ke peraduan, begitupun Faiq, kini ia dan Hani sudah berbaring dengan santai di tempat tidur mereka.
“Sudah hampir dua bulan kita menikah, apa sudah ada tanda-tanda kehidupan di sini?” Faiq membelai dengan lembut perut Hani yang tertutup gaun tidur.
“Semoga Allah segera mengabulkan keinginanmu, mas.” Hani menggenggam jemari Faiq dan menahannya di atas perutnya.
“Kenapa kamu tidak pernah menemui ayahnya anak-anak saat ia kemari?” Faiq menatap tepat di manik mata istrinya. Beberapa kali ia melihat Adi datang menemui si kembar dan Hasya, tetapi tidak pernah melihat Hani diantara keempatnya.
Hani tersenyum tipis, “Aku hanya menjaga diriku agar tidak membuat suamiku cemburu.”
“Kamu memang bidadariku sayang…” Faiq mengecup jemari Hani dengan lembut. “Aku menyadari, Aditama menyesali keputusannya telah menceraikanmu. Aku dan Hanif sering membicarakan masalah ini.”
“Aku tidak akan mungkin kembbali ke masa lalu. Sekarang mas adalah masa depanku dan anak-anak.”
Faiq menatap lekat mata bening di depannya, “Semenjak mengenalmu, dan menikahimu tiada lagi yang mas inginkan di dunia ini. Semoga Allah menjaga rumah tangga kita hingga ke Jannah nanti…”
“Aamiin ya Allah….”
Faiq memeluk erat tubuh istrinya menyalurkan kasih sayang serta kerinduan yang sudah ia tahan sejak siang tadi. Di malam dingin disertai curahan hujan, membuat keduanya menciptakan kehangatan dalam kenikmatan berumah tangga.
Saat selesai sarapan pagi, Faiq mengumpulkan para pekerja di rumahnya. Ia memberitahukan pada mereka bahwa ia akan membawa Hesti pulang ke rumah. Ia tidak menceritakan kepada mereka hubungan antara ia dan Hesti sebagai suami istri, tetapi kerabat jauh yang sedang dalam masa penyembuhan.
“Bi Ningsih, mohon bantuannya untuk membantu segala keperluan nona Hesti saat ia berada di rumah.”
“Baik, tuan.” Ningsih mengangguk.
Faiq tersenyum puas, karena ia tidak ingin membagi perhatian antara Hesti dan keluarga kecilnya. Ia pun sudah merencanakan untuk menyewa tenaga seorang perawat selama Hesti tinggal bersama di rumah mereka.
__ADS_1