
Kini keduanya duduk di Sparks Café yang terletak di jalan utama. Hanif memesan kopi hitam begitupun Faiq. Keduanya saling berdiam diri beberapa saat.
Faiq meletakkan ipad yang sedang memutar rekaman cctv di rumahnya di hadapan Hanif. Hanif meraih ipad dan menonton video yang diputar dengan seksama.
Tanpa menunggu Hanif menyelesaikan tontonannya, Faiq menceritakan semua yang ia alami hingga kejadian saat ia pergi ke Surabaya.
Hanif menggeleng-gelengkan kepala mendengar cerita Faiq, “Rasanya tak masuk akal di zaman internet masih ada orang menggunakan jampi-jampian seperti itu.”
“Sebenarnya aku juga tidak percaya. Tapi mau bagaimana lagi. Memang itu kenyataannya.” Faiq menghela nafas lega setelah menceritakan kepada Hanif. Dua langkah telah berhasil ia lalui.
“Lantas bagaimana dengan janin yang dikandung Hesti? Apa mas Faiq tidak mau bertanggung jawab?”
Faiq tertegun, “Dari mana kamu mendapat gosip murahan itu?”
“Mungkin saja.” Hanif menjawab sekenanya.
“Sampai detik ini aku belum pernah menyentuhnya.” Ujar Faiq terus terang. Ia tidak ingin ada kesalah pahaman lagi antara ia dan iparnya.
Hanif menghirup kopinya hingga ludes tak bersisa. Tatapannya beralih pada Faiq. “Apa mas Faiq sudah menceraikannya?”
“Ya. Aku menggandeng Rizwar pengacara perusahaan agar tidak ada tuntutan lagi di masa yang akan datang.”
“Keenakan Hestinya dong. Dia dapat banyak selama menjadi istri sirimu.”
__ADS_1
“Sudahlah, jangan menyindirku lagi. Tolong bantu aku kembali pada Rara.” Pinta Faiq penuh harap. “Dua bulan lebih aku jauh dari mereka. Itu benar-benar menyiksaku…”
“Mas Faiq berjuanglah sendiri. Dari dulu aku menyetujui hubungan kalian. Tapi untuk berbicara dengannya…” Hanif menatap Faiq dengan wajah suram, “Aku sangat mengenal karakter mbak Hani. Dia sangat tertutup. Sampai detik ini aku tidak berani berbicara masalah kalian.”
Faiq mengangguk lemah, “Sebelum bertemu Rara, aku ingin bertemu anak-anak. Aku sangat merindukan mereka.”
“Baiklah. Aku akan membicarakan hal ini dengan Wulan.” Hanif membaca chat dari Wulan yang menanyakan keberadaannya, karena tidak memberitahu keberadaannya.
Faiq menghela nafas sesaat. Ia menghabiskan kopi yang tinggal sedikit. “Besok aku akan mampir untuk bertemu dengan anak-anak. Siapa yang menemani mereka di rumah?”
“Mbok Darmi dan Lina. Ariq dan Ali lebih betah main di rumah. Keduanya kini sudah bersekolah di SD Negeri 060839.” Ujar Faiq santai. “Aku jadi penasaran dari mana mas Faiq tau kami berada di sini?”
“Aku sering mampir ke kantor Aditama. Dari sanalah aku mengetahui keberadaan kalian.”
“Apa kalian sempat bertemu?” Faiq penasaran.
“Sedapat mungkin aku menghindarinya. Walau harus ku akui, sampai detik ini, ia rutin mentransfer keperluan anak-anaknya lewat rekening. Nominalnya sangat fantastis. Mbak Hani adalah janda kaya yang sangat beruntung.”
“Kamu memang ipar yang ngga ada akhlak.” Faiq mengecam ucapan Faiq, “Apa kamu lupa aku ini masih suami Rara.”
“Sorry, mas. Soalnya mbak Hani nggak pernah membahas kamu dalam setiap pembicaraan kami. Padahal si dede sering bilang kangen papa, begitupun Ali yang sering menanyakan kabar mas Faiq.”
Wajah Faiq berubah sendu mendengar cerita Hanif. “Aku memang belum terlalu mengenal karakter Rara. Tapi percayalah, aku sangat mencintainya. Apapun akan ku lakukan untuk membuatnya kembali padaku.”
__ADS_1
“Mbak Hani adalah tipe orang yang penyayang dan tulus. Tetapi sekali tersakiti, dia akan menyimpannya dan selalu mengingat apapun yang telah orang itu perbuat padanya.” Hanif memandang Faiq, “Ku harap mas Faiq akan sabar menghadapinya. Apa lagi ia sedang mengandung anakmu.”
Faiq mengangguk, “Aku sedih melihatnya bekerja di warung mertuamu. Apalagi dalam keadaan ia sedang mengandung.”
“Aku tau. Tapi mbak Hani bersikeras membantu ibu. Apa lagi ibu belum mampu menambah karyawan. Padahal dari tabungan si kembar ia bisa membangun usaha apa saja yang ia inginkan. Belum lagi kiriman tuan Adi.”
Mendengar ucapan Hanif, perasaan sedih kembali menggelitik hati Faiq. Ia yang nota bene suami Hani, tapi sampai saat ini belum pernah menafkahi sang istri.
“Aku memang suami yang tidak peka.” Rutuknya pada diri sendiri.
Hanif memandang Faiq dengan kening berkerut, “Memangnya apa yang mas Faiq lakukan?”
“Bukan apa-apa.” Faiq malu jika harus menceritakan apa yang mengganjal di pikirannya pada Hanif. “Sudah jam 11 malam. Besok pagi aku akan mengunjungi anak-anak.”
“Kapan mas Faiq kembali ke Jakarta?”
“Jika urusanku dan Rara sudah kelar, aku akan pulang sebentar. Kalau bisa, aku akan membawa mereka kembali bersamaku.”
“Baiklah. Aku akan selalu mendukung mas Faiq. Bagaimana kabar ayah dan ibu?” Hanif mengalihkan topik pembicaraan.
“Ayah dan ibu di Paris. Mereka belum mengetahui kepergian Hani dan anak-anak. Aku sengaja merahasiakan ini.”
Keduanya sepakat untuk mengakhiri pertemuan. Hanif mengantarkan Faiq sampai ke penginapan. Ia juga turut melihat kamar tempat Faiq beristirahat. Ia turut prihatin dengan keadaan Faiq yang kini mengharapkan istri dan anak-anaknya kembali. Dan ia berjanji untuk membantu Faiq. Keduanya saling mendukung satu sama lain.
__ADS_1