
Di sinilah keluarga kecil itu berada. Setelah memintakan izin untuk si kembar selama 2 hari plus hari Minggu, Faiq membawa keluarga kecilnya liburan dan menginap di Mikie Holiday Resort & Hotel. Ia sengaja menyewa Family-Standar Rate, karena ia yakin Hani nggak mungkin mau pisah kamar dari anak-anak.
Mikie Holiday Resort adalah tempat yang sempurna untuk menikmati keindahan Sumatera Utara; dari alam dan udara pegunungan yang segar dimana resor hotel berada. Dengan interior yang nyaman, hunian eksklusif atau pengalaman bermain wahana di Funland Theme Park. Selalu ada pemandangan yang menakjubkan dalam perjalanan menuju Mikie Holiday.
Faiq sengaja memilih liburan paket domestik mempertimbangkan kondisi Hani yang hamil muda. Selain itu ia melihat fasilitas yang disediakan Mikie Holiday Resort & Hotel sangat lengkap dan beragam.
Begitu sudah chekc in dan sampai di kamar yang sudah di pesannya, jam baru menunjukkan pukul 9 pagi. Faiq segera membantu Hani berbenah dengan menyimpan pakaiannya dan anak-anak di lemari yang berada di kamar hotel.
Si kembar dan Hasya sangat antusias begitu Faiq membawa mereka berkeliling melihat wahana yang tersedia di dalam lokasi penginapan. Saat melewati kolam renang khusus anak-anak, Ariq dan Ali sudah ribut pengen berenang, begitupun Hasya.
“Atu mau lenang.” Ia sudah melompat-lompat tidak sabar pingin terjun ke dalam air. Hani tersenyum menyaksikan tingkah ketiganya. Dengan sabar Faiq menuruti keinginan anak-anak. Dengan dibantu Hani untuk berganti pakaian akhirnya ketiganya beserta Faiq yang mengenakan celana pendek masuk ke dalam air.
Hani masih menikmati panorama alam yang mengelilingi keberadaan mereka. Dalam hatinya merasa bersyukur dapat menikmati keindahan yang telah diciptakan Allah untuk kawasan ia dan anak-anaknya saat ini, apalagi bersama keluarga kecil mereka.
Tiba-tiba suara ponsel di dalam tasnya menghentikan aktivitas Hani. Nama Gigi tertera di sana dalam mode video call.
“Assalamu’alaikum…” Hani tersenyum melihat sahabatnya yang sudah beberapa bulan ini tidak pernah memberi kabar.
“Waalaikumussalam.” Gigi menjawab cepat, “Eh, kamu lagi liburan di mana. Viewnya tampak indah dan cantik.”
Hani menunjukkan panorama yang ada di sekelilingnya lewat ponsel, dan tak lupa menunjukkan aktivitas anak-anaknya dan Faiq.
“Han, aku serius nih.” Gigi benar-benar penasaran dengan keberadaan Hani.
“Aku dan keluarga lagi liburan di kota Berastagi.”
“Eh, jadi kamu sekarang di Medan. Jauh amat liburannya, neng?”
“Jauh itu kalo keluar, Gi. Ini kita domestik aja. Tempatnya bagus dan suasananya adem, kebetulan belum musim liburan sih.”
“Han, aku minta maaf udah lama nggak nelpon kamu. Sekarang aku dan Fery memutuskan menetap di Denmark.”
__ADS_1
“Memang kenapa? Kemaren katanya di Jepang?”
“ Fery lebih nyaman di sini. Iklim investasi lebih aman dan menjanjikan...” Gigi bercerita panjang lebar.
Keduanya terlibat obrolan yang lumayan lama, hingga akhirnya Gigi mengakhiri pembicaraan mereka karena Fery akan mengajaknya menemui rekan bisnis mereka.
Hani merasa bahagia melihat ketiga anaknya bermain dengan riang. Selama ini ia memang belum pernah membawa anak-anak liburan ke suatu tempat. Jika hari libur pun, paling mereka dibawa main ke mall, namun itu sudah membuat mereka bahagia. Setelah puas bermain di kolam renang ketiganya merasa lapar.
“Mas mau ayam goreng.” Ujar Ariq saat sudah berganti dengan pakaian kering.
“Mas Ali juga sama.” Ali pun tak mau kalah.
Dengan telaten Faiq menuruti semua keinginan anak-anak. Ia membawa mereka memasuki Frisbee Entertainment yang menyediakan ayam goreng khas Mikie Holiday Resort. Ketiganya makan dengan lahap karena menunya sangat cocok dengan lidah mereka.
Perasaan Faiq sangat bahagia, melihat senyum terbit di wajah ayu istrinya. Sudah lama ia merindukan suasana seperti ini. Keputusannya membawa anak-anak liburan memang sangat tepat.
Jam sudah menunjukkan pukul 20 malam. Faiq dan Hani mengantar anak-anak tidur di ruangan atas. Karena kecapean, ketiganya langsung tidur dengan lelap. Faiq menuju rooftop kamar mereka. Ia melihat pemandangan malam hari yang sangat indah di tempat ia berada saat ini. Gemerlap lampu-lampu taman di lokasi ia berada sangat menakjubkan.
Melihat suaminya tidak ada di dalam kamar, Hani mengerutkan keningnya. Tirai kamar bergerak tertiup angin. Hani tersenyum, ia yakin Faiq pasti berada di luar menikmati keindahan kota Berastagi malam hari dari rooftop kamar mereka.
Melihat Hani yang sudah berdiri di sampingnya, Faiq langsung menggeser posisinya. Kini ia memeluk Hani dari belakang, dan menumpukan wajahnya pada bahu Hani.
“Sudah lama mas merindukan saat-saat seperti ini.” Ujar Faiq lirih. “Jangan pernah untuk meninggalkan mas lagi. Hidup mas terasa hampa saat kalian tidak ada di rumah.”
Hani merasakan kehangatan menjalar di sekujur tubuhnya. Ia terdiam mendengarkan curhat Faiq. Hatinya tersentuh mendengar kejujuran Faiq.
“Saat mas di Surabaya dan dibawa Hendra check up ke dokter, dari sanalah mas tau bahwa kamu sedang mengandung.” Faiq membalik tubuh Hani hingga posisi mereka berhadapan.
Ia menatap mata bening yang begitu memukau. Di bawah remang-remang lampu rooftop mata Hani tampak memancarkan kejora membuat Faiq tak berkedip sekejap pun.
“Mas minta maaf, selama pernikahan kita belum pernah memberikan nafkah untukmu. Malah hari ulang tahunmu mas juga tidak ingat.”
__ADS_1
Mendengar ucapan Faiq hati Hani merasa tergores. Ia tak ingin mengingat apapun yang membuatnya sedih. Hani membalikkan badan, tak kuasa membalas tatapan Faiq yang begitu menusuk hingga ke relung hatinya.
Faiq menyadari wajah Hani yang berubah sendu, dan mulai menghindari tatapannya. Ia menahan gerakan Hani.
“Sayang…” Faiq langsung memeluk Hani dengan erat. “Mas janji, akan mengganti setiap kesedihan yang kamu dan anak-anak rasakan dengan kebahagiaan.”
Hani akhirnya membalas pelukan suaminya dengan erat. Ia pun sangat merindukan suaminya. Hampir empat bulan mereka terpisah, karena prahara dan campur tangan orang asing yang ingin merusak rumah tangga mereka.
Faiq melepaskan pelukannya. Ia menangkup wajah Hani dengan kedua tanganya.
“Jangan pernah memalingkan wajahmu, mas nggak sanggup melihatmu berpaling.”
Faiq mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Hani. Tatapannya jatuh pada bibir Hani yang sudah bergetar menahan tangis. Tanpa menunggu persetujuan Hani, bibir Faiq menyentuh lembut bibir istrinya, dan ********** dengan pelan.
Ciuman Faiq semakin lama semakin menuntut. Tangannya sudah tidak lagi terkondisikan, mulai bergerilya menuju spot favoritnya. Akhirnya Hani pun ikut terhanyut permainan suaminya.
Tanpa melepaskan tautan dibibirnya, Faiq menggendong Hani kembali ke kamar tidur. Dengan menggunakan kaki Faiq menutup pintu kamar. Ia membaringkan Hani di tempat tidur, dan mulai melanjutkan aksinya.
“Mas ingin menjenguk anak-anak kita. Bolehkan? Mas akan mengingat ucapan dr. Bayu.” Bisik Faiq di tengah ciuman panas mereka.
Hani mengangguk pasrah. Ia pun sangat merindukan sentuhan dan cumbuan suaminya yang begitu memuja dirinya. Akhirnya hanya bunyi desahan yang bersahutan yang mengisi keheningan di malam sunyi itu. Di tambah hujan yang tiba-tiba mengguyur langit Berastagi di malam itu membuat kehangatan yang tercipta di kamar mereka berlangsung dengan durasi yang lebih panjang.
Faiq terbangun saat alarm ponselnya menunjukkan pukul 4 Subuh. Ia menatap wajah Hani yang masih tertidur lelap. Jemarinya membelai wajah ayu sang istri. Ia tak bisa berpaling sedetikpun darinya. Matanya yang sendu, hidungnya yang bangir telah membuat Faiq jatuh cinta sedalam-dalamnya.
Tangan Faiq mulai meraba perut Hani yang kini semakin kelihatan. Karena tubuh keduanya yang masih sama-sama polos di bawah selimut tebal, akhirnya membangkitkan sesuatu kembali dari dalam diri Faiq.
Hani yang masih dalam mode ngantuk, merasa terganggu dengan kecupan-kecupan ringan yang dilakukan Faiq pada wajahnya. Nafas Faiq yang terasa hangat menerpa wajahnya. Hani membuka matanya. Sorot mata Faiq menyiratkan sesuatu.
“Sayang, mas ingin sarapan sekarang….” Suaranya terdengar serak dan berat.
Hani menatap wajah Faiq dengan bingung, “Bukankah masih subuh, mas. Mungkin kokinya masih bersiap...."
__ADS_1
Senyum tipis terbit di wajah tampan Faiq, “Mas mau sarapan kamu. Mas janji akan melakukan dengan pelan. Ya … ya ….”
Hani tidak bisa menolak keinginan Faiq. Dengan sabar ia mengikuti permainan suaminya. Ia paham, perpisahan selama hampir empat bulan membuat Faiq kelimpungan karena sebagai lelaki normal, tentu kebutuhan biologisnya sangat besar apalagi di usia produktifnya saat ini. Hingga akhirnya Faiq menyelesaikan misinya dan menggendong Hani ke kamar mandi.