Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 181 S2 (Nasehat Perkawinan)


__ADS_3

Gisel terkejut mendapat kabar dari Hari bahwa bos mereka telah menikah. Ia yang mengira ada hubungan terlarang antara Ivan dan Roni merasa kesal karena telat info. Tapi Gisel sadar diri begitu mendengar bisik-bisik pegawai lain tentang perempuan yang telah menjadi nyonya dari Alexander Ivandra.


“Wajar dong bos tertarik, perempuan itu cantik luar dalam dan idaman suami-suami masa depan,” cetus Mira saat makan siang di kantin.


“Kok kita nggak diundang ya?” Intan yang juga sudah lama naksir bosnya juga terkejut mendengar berita yang dibawa petinggi perusahaan yang diundang di resepsi.


“Manalah orang mau mengundang kita beb, beb. Kita ini hanya orang pinggiran,” sela Ilham salah satu staf di bagian advertising.


“Padahal aku udah yakin kalau bos bakal menikahi Sandra. Dia kan model terkenal dan kesayangan bos?” Ibra yang bekerja di bagian production house juga penasaran dengan perempuan yang telah berhasil menggaet bos pujaan para wanita di tempatnya bekerja.


“Menurut Hari, perempuan yang menjadi istri bos adalah keluarga konglomerat yang mewarisi Horisson Corps dan Kara Jewellery,” tutur Tika teman dekat Hari yang biasa diajak ‘main’.


“Pantesan …. “ monolog Gisel dalam hati.


Ia jadi teringat perempuan yang duduk semeja pada saat malam pagelaran Paris Fashion Week. Ia tidak melihat dengan jelas, karena ia dan Hari hanya bertugas di belakang layar. Dari cerita Sandra ia mengetahui kalau tatapan Ivan tak teralihkan dari seorang perempuan biasa yang membuat Sandra kesal luar biasa, karena Ivan mengacuhkan bahkan menolak keberadaannnya, hingga kepulangan bos mereka dipercepat karena ada urusan domestik yang tak bisa ditunda.


Akhirnya mereka menyelesaikan makan siang dengan berbagai perasaan yang berbeda mengetahui sang Most Wanted telah menemukan tempat untuk berlabuh.


“Apa masih lama Ron?” Ivan merasa kesal karena laporan bulanan yang harus ia tanda tangani belum kelar dibuat. Belum lagi perpanjangan kontrak yang sudah harus diperbaharui, masih banyak kekurangan dan kesalahan tanggal membuat kemarahan Ivan semakin menjadi.


Ia sudah berjanji pada Ariq  untuk makan siang bersama di rumah oma Marisa. Tapi karena pekerjaan  yang masih menunggu, belum lagi klien yang bertamu untuk memperbaharui kontrak membuat Ivan terkurung di kantornya. Rasanya stok kesabaran yang ia punya hampir habis untung Roni terus mengingatkannya.


“Bos telpon saja saudaranya mbak Rara …. “


Mata Ivan langsung melotot mendengar Roni menyebut nama istrinya tanpa embel-embel, “Ingat Roni, Rara itu istri bosmu.”


Roni cengengesan, “Maaf bos, sudah terbiasa. Bos tinggal hubungi ipar bos saja. Proyek ini kan juga untuk masa depan putra-putri bos kelak.”


Dengan cepat Ivan menghubungi Ariq dan menyampaikan permohonan maafnya tidak bisa makan siang bersama. Tapi ia berjanji sebelum jam makan malam ia sudah kembali ke rumah.


“Mulai sekarang bos harus mengurangi sikap arogan. Kalau masuk rumah atau pun menelpon wajib memberi salam …. “ Roni mulai menceramahi Ivan, karena ia tau keseharian Ivan, dan saat menelpon iparnya barusan gaya Ivan masih sama.


Rasanya Ivan ingin menjitak Roni, karena mengajarinya perkara sepele. Tapi pas kebetulan apa yang disampaikan Roni memang tidak pernah ia lakukan.


“Apa lagi yang perlu ku pelajari?” akhirnya Ivan mengalah.


Ia sadar banyak hal yang harus ia rubah dan harus ia benahi jika menginginkan Rara menerimanya dengan tulus.


“Salat harus tepat waktu. Bos sekarang kan mau jadi ayah tu, sudah seharusnya bos bisa jadi imam yang baik.”

__ADS_1


Ivan tercenung. Ia sadar, sudah lama tidak melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim. Terakhir kali ia Jum’atan saat masih awal kuliah di Indonesia. Begitu ia pindah keluar negeri semuanya hilang, blasss tak bersisa. Saat hari raya pun ketika pulang ke Indonesia ia tidak pernah mengikuti salat Id, ia lebih asyik dengan dunianya menghubungi pacarnya lewat vc.


“Mau kah kau membimbingku Ron?”  akhirnya Ivan menatap Roni dengan pasrah.


“Saya juga masih belajar, bos.” Roni menjawab cepat, “Coba bos hubungi pak Marthak pengelola mushala di bawah. Saya rasa beliau orang yang mumpuni di bidang ilmu agama.”


Ivan mengingat nama yang disebutkan Roni. Senyum tipis terbit di wajahnya mengingat lelaki sepuh yang mengelola mushala di perusahaannya dan biasa menjadi iman salat bagi pegawainya yang lain.


“Terima kasih atas masukanmu Ron. Aku sangat menghargainya.” Ivan menepuk bahu Roni begitu pekerjaan yang harus ia tanda tangani sudah selesai semua.


Saudara Khaira masih berkumpul di rumah oma Marisa membantu beres-beres rumah setelah pesta pernikahan  yang digelar di hotel terlaksana dengan meriah walau terjadi accident pengantin perempuan pingsan. Banyak spekulasi yang berkembang menyalahkan tindakan sang mantan, padahal kenyataan yang sebenarnya sungguh bertolak belakang, hanya Khaira sendiri yang tau, dan ia tak ingin membaginya dengan siapa pun.


Saat makan siang, semua berkumpul di meja makan. Oma Marisa dan bu Ila merasa bahagia melihat cucu-cucu serta cicitnya yang meramaikan rumah sehingga jadi meriah. Petugas kebersihan yang membereskan sisa-sisa paket serta ucapan selamat yang memenuhi pekarangan rumah oma Marisa baru saja selesai melaksanakan tugasnya. Kini yang tersisa tinggal keluarga inti saja.


Khaira ikut berkumpul bersama saudaranya menikmati makan siang yang telah disiapkan. Menu rumahan adalah yang terbaik di lidahnya. Dan ia tidak menolak saat bu Ila mengisi piringnya dengan semua lauk pauk yang tersedia.


“Wah makanmu de, kaya kuli bangunan aja,” Hasya mulai melirik piring Khaira.


“Bumil harus tercukupi gizinya,” ujar Ira membela dengan cepat.


“Terima kasih mbak.” Khaira merasa senang atas pembelaan Ira.


Dengan santai ia menikmati semua yang berada di dalam piring. Ada kerupuk, ayam goreng, bakwan udang dan semua makanan laut yang diolah bu Ila memenuhi piringnya.


Junior menatap Khaira kesal, sementara yang ditatap tetap acuh sambil melanjutkan makan siangnya tanpa peduli dengan kekesalan Junior.


Ariq dan Ali  masih menikmati hidangan yang tersedia di atas meja makan. Mereka menunggu mungkin saja Ivan memenuhi undangan mereka untuk makan siang bersama di rumah oma Marisa.


  “De, sekarang statusmu sudah berbeda,” Ariq mulai berbicara dengan serius. Ia memandang Khaira yang sudah selesai makan siang.


Semua yang berada di meja makan terdiam mendengar perkataan Ariq. Mereka hari ini memang sengaja berkumpul untuk membekali pengantin baru agar tidak salah melangkah di waktu yang akan datang.


“Kita semua sudah tau masa lalu suamimu,” ujar Ariq pelan, “Dan  Ivan sudah  bicara banyak dengan kami. Kami bisa melihat kesungguhannya.”


Khaira terdiam. Ia bingung harus berkata apa. Ia tau arah pembicaraan saudaranya. Mereka tidak tau hati kecilnya masih berperang, dan masih mencoba untuk membuka hati pada Ivan sosok pemaksa yang membuat hidupnya tidak tenang.


“Sebuah rumah tangga akan menjadi tempat yang nyaman jika ada ketenteraman di dalamnya,” Oma Marisa mulai menyampaikan wejangannya, “Jadikan rumah tangga kita baiti jannati. Ada kenyamanan dan ketenteraman di dalam rumah tangga. Membuat penghuni rumah merasa nyaman dan tenteram saat kembali ke rumah. Jika jauh dari rumah ada kerinduan untuk kembali ….”


Khaira merasa sedih mendengar ucapan oma Marisa. Semua yang diucapkan oma adalah impian yang sejak awal sudah ia rancang bersama Abbas. Kini cita-citanya telah kandas bersama kepergian Abbas.

__ADS_1


“Seorang istri menjadi tanggung jawab suaminya. Apa pun yang dilakukan seorang istri harus sepengetahuan suami. Redha Allah tergantung redha suami,” oma Marisa kembali melanjutkan wejangannya.


Air mata Khaira kembali menetes. Ia teringat Abbas. Sosoknya yang ramah dan santun tak mungkin ia lupakan begitu saja. Perhatian serta tingkah lakunya yang sopan dan tidak sembarangan dalam memaksakan kehendak membuat Khaira merasa aman. Sekilas wajah Ivan hadir di benaknya, langsung merusak suasana hati Khaira.


“Kita tidak bisa memilih siapa yang bakal jadi pendamping kita, semua sudah diatur Allah. Kita hanya mengikuti skenario Allah. Jika kita ikhlas maka Allah akan memberikan kemudahan bagi kita untuk menjalaninya.”


Khaira mulai terisak-isak mendengar perkataan oma Marisa. Sampai saat ini ia belum merasakan kenyamanan saat bersama suaminya, malahan rasa kesal dan tidak tenanglah yang terus mengiringi langkahnya saat bersama Ivan.


“Semua memang butuh waktu,” oma menambahkan lagi, “Seperti dirimu dan almarhum Abbas, kalian telah lama bersama. Tentu bukan hal yang mudah bagimu untuk  melupakannya. Tapi yakinlah, Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha kita selama kita terus berusaha,” oma memandang cucu perempuan kesayangannya dengan mata berkaca-kaca.


Rasanya ia berat melepas Khaira untuk mengikuti suaminya pindah ke rumah mereka yang baru. Tapi mau bagaimana lagi, sekarang Khaira sudah memiliki keluarga sendiri. Ia berdosa jika meminta Khaira tetap bertahan bersama mereka.


“Sekarang Ivan adalah suamimu, imammu ... Redanya  akan menjadi reda Allah ... Berbaktilah pada suami, di tangan kita perempuanlah yang menciptakan ketenangan dalam rumah tangga ... Sebagai istri kita harus banyak bersabar … Istri yang patuh dan taat pada suami dijanjikan Allah surga …. “


Semua terdiam mendengar wejangan oma Marisa. Ia berkata sambil berurai air mata mengingat tugasnya telah selesai mendidik dan mengantarkan cucu-cucunya menjadi orang yang berguna dan mampu meneruskan perusahaan yang ditinggal oleh orang tua masing-masing. Dan ia bersyukur saat pembagian warisan peninggalan almarhum suaminya serta anaknya, semua menerima dengan ikhlas dan berjanji akan menjaga amanah dan tetap berbagi dengan orang yang tidak mampu.


Hingga menjelang sore suasana di rumah oma Marisa masih ramai. Khaira menikmati saat berkumpul bersama saudaranya. Ia merasa senang karena tidak melihat si’pemaksa’ berada diantara saudaranya.


 


 


Setelah salat Isya, Khaira langsung membaringkan tubuhnya di peraduan. Seharian bermain bersama ponakan yang lain serta Babby A membuatnya kelelahan.  Ia sudah tidak terpengaruh dengan ketukan di pintu kamar, karena sudah terlelap dalam buaian.


Karena besok hari Minggu, tinggal Hasya dan Ariq beserta keluarganya yang masih tinggal untuk menginap di rumah oma. Masih ada beberapa hal yang ingin Ariq bahas bersama saudara ipar yang baru bergabung dengan keluarga mereka.


Tepat jam 20.30 Wib Ivan kembali ke rumah. Ia tidak membawa pakaian yang banyak. Rencananya dua hari ke depan mereka akan segera menempati rumah baru. Ia hanya membawa pakaian santai.


“Assalamu’alaikum …. “ Ivan  memasuki ruang keluarga yang masih terang benderang karena Hasya dan Ariq beserta pasangannya masih duduk santai bersama oma dan bu Ila.


“Wa’alaikumussalam,” semua menjawab dengan kompak.


“Maafkan keterlambatan saya,” Ivan berkata dengan penuh penyesalan.


“Tidak masalah. Kami  memakluminya,” jawab Ariq cepat.


“Mandilah dulu biar lebih segar,” Hasya langsung mengarahkan Ivan menunjuk kamar  Khaira yang tidak jauh dari tempat mereka berada.


“Terima kasih mbak,” Ivan mengangguk penuh hormat pada keluarga yang baru ia masuki hari ini. Ia sangat bersyukur sebelum kembali ke rumah Roni telah memberikan amunisi yang cukup sebagai modal awal untuk menarik hati keluarga istrinya.

__ADS_1


Ivan memasuki kamar dengan perlahan. Senyum tipis menghiasi bibirnya melihat sosok yang tertidur dengan damai di pembaringan. Rasanya ia ingin menyatukan diri untuk berbagi kehangatan di tempat tidur  yang sama, tapi sayang ia masih harus menemui ipar  dan oma yang masih menunggu di ruang keluarga.


Doakan author khilaf lagi malam ini ya. Saran, kritik, dan likenya mana.... sayang semua ....


__ADS_2