Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 24


__ADS_3

Adi yang sedang meeting di kantor dengan jajaran direksi sangat terkejut, ketika Johan memberitahunya bahwa Helen dilarikan ke rumah sakit karena mengalami pendarahan, Linda yang telah menelponnya. Setelah berkoordinasi dengan Johan, Adi langsung meninggalkan ruang rapat dan menginstruksikan Johan untuk menggantikan dirinya.


Dengan mengendarai mobil yang disupiri Karno, Adi memintanya langsung di antar ke rumah sakit Pondok Indah. Pikirannya benar-benar kalut, ia tidak berani menerka apa yang terjadi. Karena ini ketiga kalinya ia ke rumah sakit karena kondisi kandungan Helen.


Sesampainya di ruang IGD, Adi terkejut melihat mamanya dan Gilang yang menunggu di depan ruangan ICU. Dengan cepat ia berjalan menghampiri keduanya. Setumpuk pertanyaan telah siap untuk ia lemparkan kepada mamanya. Rasa khawatir menyerang Adi. Ia tidak ingin hal buruk menimpa Helen dan calon buah hati yang sangat ia harapkan.


“Apa yang terjadi mama?” Adi segera duduk di samping Linda yang masih menatap kaku ke dalam ruangan tempat kini Helen sedang ditangani para dokter.


Linda tak menjawab. Ia mengalihkan pandangan pada Gilang yang merasa serba salah, dan tidak tahu harus berkata apa. Adi menjadi gusar, karena keduanya saling berdiam diri. Pikirannya berkelana jauh, membayangkan janin yang berada dalam kandungan Helen.


Tak lama seorang dokter perempuan yang biasa menangani Helen keluar dari ruangan ICU tersebut. Adi sangat mengenalnya dengan baik, namanya Sarinah karena mereka beberapa kali berkonsultasi dengan dokter kandungan yang usianya sama dengan Helen dan teman kuliah Helen saat di Ausie, tetapi beda fakultas.


“Tuan Tama, saya perlu berbicara dengan anda.” Ujar dr. Sarinah sambil mengisyaratkan agar Adi segera mengikutinya ke ruangan.


Dengan perasaan berdebar Adi mengikuti langkah Sari dan memasuki ruang prakteknya untuk mengetahui informasi tentang keadaan Helen.


“Maafkan saya. Helen mengalami keguguran. Dan ia sudah divonis tidak akan bisa punya anak lagi  seumur hidupnya.”


“Darr!” serasa petir berbunyi di siang bolong, Adi terperanjat mendengar perkataan dr. Sarinah tentang kondisi istrinya. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana pendapat mamanya jika mengetahui kondisi Helen?


Dr. Sari menulis dibuku catatan yang terletak di atas meja kerjanya. Setelah selesai, ia menutup buku, kemudian menghela nafas panjang. Ia ingin menceritakan banyak hal pada suami temannya itu. Begitu banyak rahasia yang ia simpan dan ia tutupi karena menghargai Helen sebagai orang terdekatnya. Tapi kali ini ia akan berkata sejujurnya pada Adi. Karena ia tahu, bagaimana Adi dan Linda sangat menginginkan seorang cucu dari Helen.


“Tuan Aditama…” dr. Sari mulai menatap Adi dengan perasaan berkecamuk. “Maafkan kami, karena tidak mampu untuk mempertahankan janin yang sedang dikandung Helen. Rahimnya sudah cacat, jadi walaupun terjadi kehamilan tapi janinnya tidak akan mampu bertahan lama. Dan ini yang ketiga kalinya Helen hamil dalam keadaan normal tetapi mengalami keguguran.”


“Jadi maksud anda Helen tidak akan bisa hamil lagi?” Adi ingin memperjelas keterangan dr .Sarinah. Ia  tidak ingin terombang-ambing dalam ketidak pastian untuk menantikan kelahiran seorang anak dari rahim Helen.


Dr. Sarinah kembali menatap Adi dengan perasaan berkecamuk, “Sebenarnya saya ingin mengatakan hal ini sejak lama, tapi mengingat persahabatan saya dan Helen, terpaksa saya menyembunyikan kebenaran ini dari anda.”


Adi memandang dr. Sarinah dengan raut tak mengerti, “Jelaskan semuanya, dokter. Saya akan menerima segalanya dengan lapang dada.”


“Rahim Helen mengalami cacat karena kesalahan yang ia lakukan di masa lalu.” dr. Sarinah berkata dengan lirih. Selama ini Helen memintanya untuk menyembunyikan fakta tentang resiko hamil yang  ia alami kepada siapapun, kecuali kepada dr. Sarinah  yang kebetulan adalah dokter yang menangani kehamilannya sejak awal.

__ADS_1


“Apa maksud dokter? Kesalahan apa yang dilakukan Helen di masa lalu?” Kening Adi berkerut mendengar perkataan dr. Sarinah. Ia tidak ingin ada kebohongan dalam rumah tangga yang ia jalani. Cukup sekali ia melakukan kesalahan yang sangat fatal.


“Helen pernah melakukan aborsi sebanyak 2 kali, yang pertama saat ia kelas 1 SMA dan yang kedua saat ia kuliah. Aborsi secara illegal yang terjadi belakangan ini banyak menyebabkan luka bahkan cacat pada rahim. Mungkin inilah yang terjadi pada Helen. Kita belum pernah melakukan observasi mendalam, karena Helen menolak melakukan itu.”


Adi terperangah tak percaya. Dadanya seperti dihantam jutaan anak panah yang membuatnya hancur seketika. Helen pernah melakukan aborsi di usia 16 tahun. Sedangkan ia melakukan yang pertama kali pada saat pesta perpisahan SMA.


Ingatan Adi berkelana ke masa lalu. Di malam itu selepas menghadiri pelepasan sekaligus perpisahan SMA 68 di Hotel bintang empat, Helen mengajaknya mampir di apartemen Helen. Adi yang begitu memujanya menuruti keinginan kekasihnya. Setelah meminum air jeruk yang dihidangkan Helen perasaan panas langsung menyergap tubuh Adi.


Tanpa berpikir panjang, Adi menuruti nafsu yang bergelora di dalam jiwa mudanya. Bisikan-bisikan erotis penuh gairah membuat darah mudanya bergolak dengan cepat, hingga akhirnya perbuatan terlarang itu ia lakukan pertama kali bersama Helen.


Ketika keesokan pagi terbangun, Adi terkejut, karena ia masih di apartemen Helen dan keadaannya polos tanpa tertutup benang selembarpun. Ia mendengar suara tangis lirih di sampingnya. Adi memandang ke sudut  kasur, tampak Helen sedang menangis terisak-isak menutupi dirinya dengan selimut. Bercak merah tergambar dengan jelas di selimut yang menutupi tubuh polos Helen.


“Maafkan aku.” Adi merengkuh tubuh Helen kedalam pelukannya. Ia menyadari bahwa perbuatan yang ia lakukan telah membuat mahkota berharga seorang gadis menjadi terampas, “Aku akan bertanggung jawab, dan tak akan meninggalkanmu. Karena aku yang merenggut mahkota berhargamu.” Adi mengecup kening Helen dengan penuh perasaan. Dan ia merasa bangga sekaligus bahagia menjadi lelaki pertama dalam hidup Helen.


“Tuan Aditama…”


Lamunan panjang Adi terhempas mendengar panggilan dr. Sarinah. Ia menjadi gelagapan, “Maafkan saya dokter.” Adi mengalihkan pandangannya pada teman istrinya itu. Ia tak tau apa yang harus ia katakan saat ini. Pikirannya benar-benar buntu. Kebenaran yang sangat menyakitkan baru saja ia ketahui. Berarti Helen menyimpan rahasia ini selama 20 tahun. Sementara ia begitu memuja Helen  karena ia yakin dirinyalah lelaki pertama dalam hidup istrinya.


“Tolong hibur istri anda. Jangan biarkan ia berduka terlalu dalam. Kehilangan yang ketiga kali akan berpengaruh pada psikologisnya. Saya tau, anda sangat mencintai Helen. Bantulah ia melewati masa sulit ini.”


“Ya, Allah. Apakah ini karma karena aku telah menyia-nyiakan anakku serta menuduh Hani berselingkuh?” Adi terpuruk tak berdaya di kursi depan ruangan Helen. Ia mengusar rambutnya dengan kasar. Kebohongan apalagi yang disembunyikan Helen.


“Tama…” Gilang duduk di sampingnya dengan perasaan bersalah. “Maafkan aku atas kejadian yang menimpa Helen.”


“Apa maksudmu?” Adi memandang Gilang dengan raut kebingungan. Pikirannya sedang kalut, sehingga tidak bisa memikirkan hal lain.


“Tante Linda telah salah paham pada kami berdua. Saya dan Helen tanpa sengaja bertemu di mall, dan saya menraktirnya minum, hingga tante menuduhku dengan Helen bermain di belakangmu. Saat Helen ingin mengejar tante, ia terpeleset karena menabrak lori.”


Adi tertegun. Otaknya berpikir cepat. Tak mungkin mamanya menuduh orang sembarangan, tapi mengingat perbuatan Linda terhadap Hani dan anak-anaknya membuat Adi kembali lemah, “Sudahlah. Tidak apa-apa. Aku bersyukur kamu cepat membawa Helen ke mari.”


Gilang hanya mengangguk membalas ucapan Adi. “Baiklah, aku permisi dulu, sampaikan salamku pada Helen. Semoga ia segera pulih.”

__ADS_1


“Terimakasih, Lang.” Adi membiarkan Gilang berlalu dari hadapannya. Ia masih duduk di kursi tunggu di depan ruangan. Hatinya terlalu sakit mengetahui kebenaran bahwa bukan ia orang yang pertama di hati Helen. Bahkan Helen sudah dua kali melakukan aborsi karena hubungan terlarangnya dengan lelaki lain. Dan yang lebih menyakitkan, Helen tak mungkin lagi memberinya seorang anak.


“Arg…” Adi meremas mukanya dengan kasar.  Ia merasa kesal dan ingin melampiaskan kemarahannya. Ia tak tau, harus berkata apa saat Helen membuka mata nanti. Ia benar-benar membenci kebohongan yang diciptakan Helen.


Taklama kemudian Linda datang bersama dengan Johan. Ia melihat betapa memprihatinkan keadaan putra satu-satunya yang selalu ia banggakan. Dengan pelan ia duduk di samping Adi.


“Makanlah dulu. Sekarang sudah jam tiga sore. Kamu telah melewatkan jam makan siang.” Linda berkata dengan lembut. Ia merasa sedih melihat Adi yang tampak kusut, “Johan juga telah mengambilkan pakaian gantimu. Segera bersihkan dirimu.”


“Aku akan berganti pakaian setelah Helen pindah ruangan.” Ujar Adi. “Mama tunggulah di sini, aku ingin membicarakan sesuatu pada Johan.” Adi memberi isyarat pada Johan melalui lirikan matanya untuk segera mengikutinya.


Setelah mengurus kepindahan Helen ke ruangan VVIP, Adi dan Johan melanjutkan langkahnya ke kafetaria di rumah sakit.


“Apa yang terjadi  tuan?” Johan memecah keheningan yang sudah tercipta setelah mereka duduk di kafetaria yang masih tampak lengang, hanya ia dan Adi yang berada di sana.


Johan melihat muka Adi tampak muram. Gurat kemarahan tergambar jelas di sana. Buku-buku tangannya mengepal gelas dengan kuat, seolah ingin memecahkan gelas yang kini berada dalam genggamannya.


“Kini Tuhan telah menghukumku. Helen tak akan bisa melahirkan satupun keturunanku.”


“Maksud tuan?” Johan masih belum paham dengan pembicaraan Adi yang penuh teka-teki. Ia menatap wajah Adi yang tampak menahan kemarahan. Jemari Adi mengepal dengan kuat, dan Johan melihat itu dengan jelas.


“Sebelum berhubungan denganku dia telah memiliki kekasih, dan pernah melakukan aborsi sebanyak dua kali, sehingga rahimnya cacat. Setiap hamil dia akan selalu keguguran. Rahimnya tidak kuat dan ia tidak akan bisa melahirkan seorang anak sampai kapanpun.”


“Astaga…” Johan terperanjat mendengar ucapan Adi. Kembali ia mengingat ucapan Hanif tentang kebahagiaan yang tidak akan mereka temui selama hidupnya.


“Sekarang aku tak punya harapan lagi terhadap Helen. Dia telah membunuh segala angan dan mimpiku untuk mempunyai anak dari rahimnya.” Adi memandang Johan dengan wajah merah padam. “Kau tau Jo, saat dr. Sarinah menceritakan  hal ini, rasanya  perjuanganku selama ini hanya sia-sia. Untuk siapa aku  memperbesar perusahaan, hingga menjadikannya menjadi nomor satu di negeri ini, jika keturunan yang kuharapkan akan menjadi penerusku tidak akan pernah ada…”


Johan hanya terdiam mendengar keluhan Adi. Bagaimana tidak, Adi dan mamanya telah membanggakan Helen yang akan melahirkan penerus perusahaan mereka dan menjadi satu-satunya putra mahkota dari bisnis Aditama Prayoga yang sudah menggurita. Tapi kenyataan telah memangkas kepercayaan Aditama hingga ke akarnya.


Johan menatap wajah bosnya dengan prihatin. Mungkin dosa Adi dan ibunya serta Helen terlalu besar kepada Hani dan anak-anaknya, sehingga Tuhan membalas perbuatan mereka dengan lebih menyakitkan. Tapi Johan tidak berani memvonis, semuanya sudah menjadi ketetapan Yang Kuasa, Dia yang memberi ujian baik itu kesenangan dan kesusahan, Dia pula yang menghukum jika hamba-Nya berbuat kesalahan.


“Saya turut prihatin Tuan. Semoga anda sekeluarga mampu menghadapi musibah ini.” Hanya itu yang dapat Johan sampaikan. Terus terang, ia merasa sedih atas peristiwa yang menimpa Adi, tapi ia tidak bisa berbuat apapun.

__ADS_1


 


 


__ADS_2