Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 160 S2 (Kecolongan)


__ADS_3

Ali setelah mengantar keberangkatan Khaira, Junior dan istrinya menyempatkan diri mampir ke perusahaan Ariq. Ia merasa senang karena melihat adik perempuan mereka sudah kembali beraktivitas dan ingin mengembangkan diri dengan melanjutkan pendidikan.


Keduanya berbincang dengan serius, tapi sesekali diselingi gurauan. Sebagai sesama pengusaha yang bergerak di bidang berbeda keduanya memang memiliki mobilitas tinggi, sehingga jarang berinteraksi. Dan kebetulan hari ini belum ada jadwal yang mendesak akhirnya Ali singgah untuk menemui Ariq.


Belum lama keduanya berbincang, tiba-tiba terdengar keributan dari luar ruangan direktur. Ariq merasa heran, selama ini tidak pernah ada keributan apalagi sampai di depan ruangannya. Keduanya terdiam sejenak penasaran dengan apa yang terjadi di luar. Hingga akhirnya ketukan di pintu menghentikan percakapan keduanya.


Hendro asisten pribadi Ariq datang dengan tergesa-gesa. Ia langsung mendekat pada Ariq sambil mengangguk hormat pada Ali yang menatapnya dengan heran.


“Permisi tuan, ada kunjungan dari tuan Alexander Ivandra yang ingin bertemu anda,” ujar Hendro pelan.


“Apa yang menyebabkan keributan di depan?” Ali menatap  Hendro dengan heran.


“Mba Mawar  berusaha menghalangi tuan Alex karena tidak membuat janji terlebih dahulu dengan anda tuan.”


Ariq menatap Hendro dengan heran. Sepertinya ia pernah mendengar nama Alexander Ivandra, karena cukup familiar di telinganya walaupun belum pernah bertemu dengannya. Dan ia juga pengen tau maksud kedatangan laki-laki itu ke perusahaannya.


“Apa ia mengatakan maksud kedatangannya ke mari?” Ariq menatap Hendro dengan tajam.


“Tidak tuan. Tapi ia mengatakan sangat mendesak. Dan tidak bisa ditunda lagi,” ujar Hendro bersungguh-sungguh.


“Biarkan saja mas. Aku jadi penasaran dengan maksud kedatangannya kemari.” Ali menatap Ariq agar segera menemui tamunya.


Hendro segera membukakan pintu untuk tamu yang sudah menunggunya dengan tegang di depan pintu. Ariq dan Ali memandang sosok menjulang yang memasuki ruangan dengan wajah tegang menahan amarah. Hendro segera keluar ruangan sambil mengangguk penuh hormat pada Ariq dan Ali.


“Selamat siang tuan Ariq maafkan saya karena tidak memberitahukan kedatangan saya pada anda.” Ivan langsung mengulurkan tangannya pada Ariq yang diterima Ariq dengan kening berkerut.


Ali menyambut tangan Ivan berusaha mengingat sosok yang tampaknya tidak asing dan cukup familiar menurutnya.


“Ada yang bisa saya bantu berkenaan dengan kedatangan anda?” Ariq segera mempersilakan Ivan duduk di sofa di mana Ali juga masih santai di hadapannya.

__ADS_1


Ivan segera menghempaskan tubuhnya di kursi di hadapan Ariq. Ia berusaha menekan kemarahan yang sempat naik ke ubun-ubun. Melihat keduanya Ariq yakin bahwa mereka adalah saudara kembar karena mirip satu sama lain.


“Ini Ali kembaran saya.” Ariq langsung memperkenalkan Ali yang tetap santai menghadapi  Ivan. Ia yakin ada raut kebingungan saat Ivan menatap keduanya bergantian.


“Saya akan menyampaikan maksud kedatangan saya,” Ivan menghela nafas seketika, “Saya ingin meminang adik anda nona Rara.”


Ariq dan Ali langsung bepandangan sambil tersenyum. Mereka tidak menyangka, tiada badai tiada hujan tiba-tiba ada yang datang melamar Khaira, sedangkan yang dilamar sudah pergi jauh.


Ali masih membrowsing mencari data tentang Ivan di medsos. Akhirnya yang ia cari langsung terbuka. Ia terkejut begitu mengetahui lelaki muda di depannya bukan orang sembarangan, tetapi pemilik New Stars Corp, perusahaan nomor satu yang bergerak di bidang entertainment.


Kening Ali berkerut saat melihat foto-foto Ivan bersama kekasih masa lalunya yang berseliweran dengan pose intim saat liburan di luar negeri maupun dalam negeri. Rasa bangganya akan status Ivan langsung ambyar begitu mengetahui bahwa lelaki yang ingin meminang adik kesayangannya adalah seorang player.


Ali berpindah duduk mendekati Ariq yang masih menatap Ivan dengan penuh selidik, ingin melihat kesungguhan dari lelaki muda yang ingin melamar adiknya. Ia mengulurkan ponsel pada Ariq agar saudaranya dapat melihat track record lelaki yang ingin mempersunting adik kesayangan mereka.


Ariq menerima ponsel Ali tapi belum merespon dan melihat apa yang terpampang di layarnya. Ia masih ingin melihat kesungguhan di mata lelaki muda itu, agar tidak ada penyesalan setelah melepas Khaira pada lelaki muda di depannya itu.


Ariq sengaja menceritakan kebenarannya. Ia tidak ingin orang beranggapan ia menyembunyikan status adik kesayangan mereka.


“Saya sudah mengetahui statusnya sejak lama, karena almarhum Abbas adalah teman saya,” jawab Ivan seketika.


“Apa anda yakin akan melamar Rara. Selama ini dia selalu menutup diri, dan ia sangat menyintai almarhum Abbas,” Ariq menatap Ivan yang wajahnya kini mulai mengeras, “Saya tidak akan memaksa Rara jika ia tidak mau menerima lamaran anda.”


Ivan berusaha menahan kemarahan. Kedua saudara kembar Rara membuat ia harus menekan kuat emosi yang sudah mulai menguasai dirinya, dan mengimbanginya dengan berusaha tersenyum. Ia mulai berpikir kalau seandainya keduanya tau apa yang telah ia lakukan pada adik kesayangan mereka, bisa-bisa ia tidak bisa keluar dengan selamat dari ruangan itu.


Ketukan di pintu menghentikan percakapan yang terjadi. Ivan melihat ke arah tamu yang baru datang. Ia terkejut, seorang laki-laki muda yang sangat mirip dengan Rara berjalan ke arah mereka sambil mengucapkan salam.


“Assalamu’alaikum …. “ sapanya sambil menyunggingkan senyum ramahnya.


“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” Ariq dan Ali menjawab bersamaan.

__ADS_1


“Wah, maafkan saya mengganggu. Lagi ada rapat dengan klien ya?” Fatih menatap Ivan yang menatapnya  dengan takjub.


“Dia bukan klien, tetapi orang yang ingin melamar Rara,” ujar Ariq cepat, “Kenalkan tuan Ivan, ini adik saya Fatih saudara kembarnya Rara.”


Dengan cepat Ivan menyambut uluran tangan Fatih. Kini ia teringat omongan Denis tentang 4 palang pintu yang harus dihadapi jika ingin menaklukkan Rara. Sekarang yang ia hadapi 3 orang, tapi Ivan tidak gentar. Mereka tidak akan bisa menolak lamarannya, karena telah ada benihnya di rahim adik kesayangan mereka, dan Ivan merasa di atas angin sekarang.


Mawar membawakan kopi beserta snack untuk ketiga tamu Ariq yang masih tampak santai dalam berbicara.


Melihat wajah Fatih yang sangat mirip Khaira membuat perasaan Ivan menghangat seketika. Ia dapat melihat kekompakan saudara-saudara perempuan yang kini menjadi target masa depannya.


“Tuan Ivan ini adalah orang yang ingin melamar Rara,” Ariq menatap Fatih seksama, “Apa Rara pernah menceritakan bahwa dia dekat dengan seseorang?”


Fatih menggeleng cepat, “Oma juga tidak pernah cerita kalau Rara sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Tetapi Azkia melihat di sosmed Anwar kalau lelaki itu memosting kebersamaan mereka saat di Paris menghadiri undangan Agnes dan Beno,”


Tangan Ivan mengepal mendengar ucapan Fatih, apalagi mengingat omongan Hari tentang rencana bodoh Rara yang ingin meminta bantuan Anwar untuk mengakui bayi miliknya.


“Aku dan Ali juga ada bersama mereka. Melihat kebersamaan mereka dan Rara yang mulai membuka diri pada Anwar membuatku cukup lega,” Ariq berkata dengan santai, tanpa menyadari bahwa orang di hadapannya tensinya mulai naik secara perlahan.  Ia akhirnya menyadari ucapannya saat melihat wajah Ivan mulai berubah tegang.


“Maafkan pembicaraan kami yang mungkin membuat anda tak nyaman. Tapi kami sangat tersanjung, anda telah datang untuk melamar Rara di saat dirinya ingin melanjutkan pendidikan ke Amerika.”


“Cih!” batin Ivan di dalam hati. Ia masih memikirkan perkataan yang tepat agar ketiga saudara Rara di depannya tidak syok mendengar apa yang bakal ia katakan, bahwa Rara pergi membawa miliknya yang paling berharga.


Ariq tertegun saat Ali kembali mengulurkan ponsel padanya. Berkali-kali ia menahan nafas mengetahui track record lelaki yang ingin memperistri adiknya. Bagaimana ia bisa melepaskan adik kesayangan mereka pada laki-laki yang sudah terbiasa bermain dengan berbagai perempuan, dan itu tidak sehat dalam kehidupan rumah tangga Khaira kelak.


“Maafkan kami, karena tidak bisa menerima niat baik anda tuan Alexander Ivandra,” ujar Ariq datar. Ia mengembalikan ponsel pada Ali yang lansung diberikan Ali pada Fatih yang menatap Ariq tidak mengerti.


Saat Fatih membaca ponsel Ali, tak ayal dia pun merasa kesal. Siapa yang mau memiliki ipar yang biasa dikelilingi perempuan cantik setiap saat. Tentu saja ia tidak siap melihat penderitaan saudari perempuannya yang harus hidup di dalam tekanan karena memiliki pasangan pemuja kaum perempuan, dan memiliki relasi di manapun.


Dukung, kritik, saran, like dan vote sangat author harapkan. I love semua reader kuh ......

__ADS_1


__ADS_2