Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 7


__ADS_3

Bab 7


Tangan Hani bergetar menyimpan berkas sertifikat rumah yang kini berada di tangannya setelah kepergian mertuanya.


Malam itu terjadi keributan besar di rumah Sofyan Prayoga. Linda dan Adi terkejut mendengar ucapan Sofyan yang mengatakan telah menyerahkan dan membaliknamakan rumah yang mereka tempati atas nama cucunya.


“Kenapa papa tidak bilang sama mama, kalau rumah itu papa hibahkan kepada perempuan miskin itu.” Linda tidak bisa menahan emosinya.


“Apa mama lupa, kalau dia telah memberi kita cucu, dan itu adalah hak si kembar dan juga adiknya.”


“Seharusnya papa merundingkan masalah ini terlebih dahulu.” Potong Adi cepat. Ia merasa kesal karena sampai saat ini juga belum terpikir untuk membeli rumah untuk ia dan Helen.


Helen yang duduk di sampingnya merasa gusar, karena rumah yang mereka tempati sangat mewah, dan harganyanya  pasti  mahal jika diuangkan.


“Papa sangat kecewa padamu. Dan perlu kamu ketahui, hanya rumah ini milik papa, sementara harta yang lain semuanya atas nama mamamu, termasuk perusahaan. Jika saja kalian tidak bercerai dengan senang hati rumah ini akan menjadi milikmu. Tapi kau telah memilih jalan sendiri…” tukas Sofyan lirih. Ia tiba-tiba merasakan kesedihan mengingat cucu-cucunya yang tinggal di rumah sederhana, sementara mereka tinggal di rumah mewah, yang tidak akan merasakan panas jika kemarau melanda, dan tidak kedinginan saat hujan tiba. “Papa harap kau tidak menyesali keputusan yang telah kau pilih.”


“Aku juga akan mempunyai keturunan dari Helen, papa. Dan papa tidak boleh melupakan bahwa Helen sekarang adalah menantu papa yang telah mengandung anakku.”


“Cih…” Sofyan berdesis sinis, “Harusnya kau sadar bahwa telah menikah lagi. Carilah rumah sendiri untuk keluarga barumu. Karena sampai kapanpun cucuku hanya dari rahim Hani. Dan papa harap tidak ada penyesalan di kemudian hari.” Sofyan segera meninggalkan ruang makan menuju ruang kerjanya.


Ia meraba jantungnya yang tiba-tiba nyeri, mungkin tensinya juga meningkat. Ia benar-benar marah dengan Linda dan Adi.  Ia sadar istri dan anaknya telah diracuni Helen, karena ia yakin perempuan itu hanyalah ular yang akan menggerogoti harta kekayaan mereka. Sedikit banyak ia mengetahui latar belakang keluarga Helen, hanya ia tak punya bukti untuk menunjukkan kebenaran pada Adi.


“Yang, bagaimana ini, apa kita akan tinggal di apartemen saja?” nada Helen terdengar lirih, sambil membelai perutnya yang semakin besar karena memasuki bulan kelima kehamilannya. Ia sangat berharap tetap tinggal di rumah megah itu.


“Kita tidak akan tinggal di apartemen, tetapi aku akan mencari rumah yang lebih besar dari rumah ini.” ujar Adi sambil mengecup tangan Helen yang ada di genggamannya. Ia sudah berjanji akan melakukan apapun untuk kebahagiaan Helen serta anaknya yang akan lahir nanti. Dan Adi akan berusaha lebih keras demi buah hatinya yang sangat ia harapkan dari kekasih yang menjadi cinta pertamanya itu.


“Papamu sungguh keterlaluan.” Linda berkata masih dengan kemarahan, “Apa sih kelebihan perempuan itu. Walaupun ia telah melahirkan anak-anakmu, tapi itu tak merubah keputusan mama. Mama akan lebih memperhatikan keturunanmu dari Helen. Percayalah, semua milik mama akan segera mama pindahkan atas namamu.”


Helen merasakan kebahagiaan luar biasa mendengar percakapan Adi dan ibunya. Ia merasa mendapat durian runtuh, karena semua harta yang ada akan menjadi milik anaknya kelak. Walaupun dalam hati kecilnya merasa iri, karena rumah yang mereka tempati sekarang letaknya strategis dan berada di kawasan elit di Jakarta. Hanya orang tertentu saja yang mampu membeli dan tinggal di kawasan itu. Tapi Helen tak berkecil hati, selama Adi dalam genggamannya, ia akan menuruti semua keinginannya.

__ADS_1


Siang itu rumah tampak sepi. Adi sudah meninggalkan rumah sejak tiga jam yang lalu. Linda juga ada kegiatan sosial dengan geng sosialitanya. Helen sedang memanjakan dirinya di taman belakang rumah. Para asisten rumah tangga sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Suasana memang tampak lengang.


Sofyan yang sejak malam tidak keluar dari ruang kerjanya, baru saja beranjak dari ruang kerjanya dan ingin menikmati suasana taman belakang rumahnya. Sudah lama ia tidak merasakan suasana tenang seperti ini. Kesibukan telah memangkas hari-harinya, hingga tak ada waktu yang tersisa untuk sekedar menikmati kopi hangat di pagi hari.


Saat ia melangkahkan kakinya menuju taman, terdengar sayup-sayup pembicaraan seseorang. Sofyan menajamkan pendengarannya. Ia yakin itu adalah suara Helen, istri Adi yang hingga saat ini belum ia akui sebagai menantunya.


“… tenang saja, pi. Parasit itu telah keluar dari rumah ini. Mas Adi telah menceraikannya. Sekarang akulah satu-satunya menantu mereka. Jadi papi tidak usah khawatir lagi. Semua dendam papi akan aku balaskan.”


Helen menganggukkan kepala menanggapi perkataan dari hp yang berada di telinganya. “Hanya si tua bangka itu yang keras kepala…” mata Helen melotot melihat Sofyan yang kini berada di depannya.


Sofyan merasakan darahnya menggelegak mendengar ucapan perempuan itu. “Mari ke ruangan kerja saya. Saya tunggu, kalau kamu masih ingin hidup dengan nyaman.” Ia beranjak meninggalkan Helen yang masih menatap nanar kepergiannya.


“Helen, Helen….” Panggilan dari hp tak ia perdulikan.


Helen merasakan gemetaran di seluruh badannya. Bagaimana ia begitu ceroboh telah membiarkan pihak lain mendengar ia berbicara dengan papanya. Dengan perasaan berdebar ia menuju ruang kerja mertuanya. Pintu ruangan tidak tertutup rapat. Ia segera masuk dan menutup pintu. Helen segera duduk di kursi di hadapan Sofyan.


Helen tersenyum sinis, “Aku tidak memerlukan restumu, tuan Sofyan yang terhormat. “Karena Adi sekarang sudah ada dalam genggamanku. Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskannya, dan kami saling mencintai.”


“Suatu saat Adi akan tau, bahwa kau hanya ular yang akan menggerogoti harta kekayaan Adi.” Sofyan berkata dengan sinis.


“Bermimpilah tuan, karena itu tak mungkin akan terjadi. Aku akan melenyapkan siapa pun yang akan menghalangi jalanku. Anak ini akan mengikat aku dan Adi selamanya.”


“Aku heran bagaimana kau bisa membodohi Adi hingga mempercayai omongannya dan menuduh istrinya berselingkuh?” Sofyan menatap Helen dengan tajam. Ia ingin mendengar pengakuan Helen yang telah membuat bukti palsu tentang perselingkuhan Hani.


Helen tersenyum tipis, “Perempuan itu memang bodoh. Mas Adi terlalu mencintaiku. Mana dia peduli sama perempuan kampung itu. Aku tau, kalau lelaki itu menolong Hani yang pingsan di mini market sehingga mengantarnya pulang.”


“Bagaimana kau tau kalau Hani berselingkuh sehingga hamil dari lelaki lain?” pancing Sofyan lagi.


“Aku mengetahui kapan mas Adi bercinta dengan gadis kampung itu, karena aku memasang CCTV di kamarnya. Hani memang tidak berselingkuh, tapi saat dia memeriksakan diri ke dokter kandungan, lagi-lagi ia pingsan. Kebetulan temannya berada di sana, skalian aja ku buat dokumentasinya.”

__ADS_1


“Kamu sudah keterlaluan Helen.” Sofyan benar-benar marah mendengar pengakuan Helen.


“Aku tidak akan menyerah, sebelum keinginanku tercapai.”


“Kau memang keras kepala seperti Budi.” Sofyan menggelengkan kepala melihat keberanian Helen menentangnya.


“Tidak usah menyebut papaku. Karena andalah yang menyebabkan kehancuran papa.”


“Kau salah. Papamulah yang terlalu rakus sehingga korupsi dana perusahaan…”


“Kalau anda tidak melaporkan papa pada polisi tak mungkin mama meninggal karena serangan jantung.”


“Itu bukan murni kesalahanku. Tapi papamu berselingkuh…” tangkis Sofyan cepat. Ia sangat mengetahui hal itu, karena mereka bertiga adalah sahabat lama.


“Anda tau, tuan. Papaku menyimpan dendam terhadap anda. Tapi tampaknya  keberuntungan masih berpihak pada anda, hingga lelaki miskin itulah yang tertabrak…”


“Apa…” Sofyan terkejut. Inilah kenyataan yang sangat ingin ia ketahui. Orang yang bertanggung jawab atas kecelakaan yang pernah menimpa dirinya empat tahun yang lalu adalah Budi teman lama yang kini menjadi musuhnya.


“Aku dan papa sudah mengatur semuanya. Kami akan merampas apa yang seharusnya menjadi milik papa.”


“Apa kau tidak mencintai suamimu. Dia sudah mengorbankan istri dan anak-anaknya agar dapat bersamamu.”


“Aku mencintai putra anda. Tapi aku akan melenyapkan cucu-cucu anda. Karena mereka tidak berhak mendapatkan sesenpun harta anda.” Ujar Helen berapi-api. “Jangan harap aku melepaskan mereka. Hartamu tidak akan sampai ke tangan mereka, karena isrimu mendukungku.”


“Kau …” Sofyan meremas jantungnya yang berdetak di luar kendali. Matanya melotot menatap Helen hingga jatuh tersungkur.


 


 

__ADS_1


__ADS_2