Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 81


__ADS_3

Seorang dokter laki-laki berjalan dengan tergesa-gesa keluar dari luar ruangan operasi. Ia menghentikan langkahnya tepat di depan keduanya.


“Suami nyonya Hani di tunggu dr. Eva di ruangannya.”


“Ku doakan yang terbaik untuk Hani dan anak-anakmu.” Ujar Adi akhirnya.


“Terima kasih, bang.” Dengan cepat Faiq mengikuti langkah dokter muda itu. Kini ia kembali ke dalam ruangan dokter Eva.


“Silakan duduk tuan Al Fareza.” Dr. Eva sudah melepas seragam operasinya dan duduk di hadapan Faiq.


Ia membuka buku catatan pasien yang sudah penuh dengan tulisan tangan. Kemudian menghela nafas berat.


“Alhamdulillah Allah masih memberikan kehidupan pada istri dan anak-anak anda.” Dr. Eva menatap Faiq dengan penuh perhatian, “Selamat, istri anda telah melahirkan sepasang bayi kembar yang cantik dan tampan. Tapi karena usia kandungan yang baru memasuki 33 minggu, dengan terpaksa si kembar harus dimasukkan ke dalam inkubator, dan kita juga harus tetap berdoa, semoga kedua bayi anda mampu bertahan.”


“Alhamdulillah, ya Allah.” Faiq langsung mengucapkan syukur berkepanjangan mendengar ucapan dr. Eva.


“Tetapi ada yang harus anda ketahui, karena saat dibawa kemari bunda dalam keadaan  pingsan serta mengalami eklamsia dan benturan di kepala akibat terjatuh. Kondisinya kini dalam keadaan koma dan belum sadarkan diri…”


“Ya Allah, cobaan apalagi ini?” gumam Faiq lirih.


Ia terhenyak setelah mendengar perkataan dr. Eva yang menceritakan kondisi Hani tidak sedang baik-baik saja, karena benturan pada kepala bagian belakang sangat keras.


“Jika  ingin melihat putra dan putri anda, mari ikuti saya…”


Dengan langkah berat Faiq mengikuti dr. Eva yang mengantarnya ke ruang neonatal intensive care unit (NICU) yang diperuntukkan bagi bayi baru lahir yang perlu perawatan intensif atau dalam kondisi kritis.


Mata Faiq berbinar saat menyaksikan kedua buah hatinya yang masih merah berada di dalam inkubator. Berkulit putih serta rambut hitam ikal dan lebat menghiasi kepala si kembar. Tanpa terasa setetes air mata jatuh mengaliri pipi Faiq.  Kebahagiaannya melihat kedua buah hatinya telah lahir ke dunia tanpa kekurangan sesuatu apapun.

__ADS_1


“Dok, bolehkah saya mengazani keduanya?” Faiq meminta dengan penuh harap. “Saya janji tidak akan membuat keributan.”


“Baiklah.” Dr. Eva meninggalkan Faiq seorang diri.


Dengan penuh perasaan dan mengeluarkan suara lirih, Faiq mengumandangkan azan di sisi sebelah kanan, kemudian di sisi sebelah kiri. Ia memanjatkan do’a ke hadirat Allah yang Maha kuasa untuk memberikan kesehatan serta keselamatan bagi kedua buah hatinya.


Rasanya tak puas Faiq memandang ciptaan Allah yang begitu sempurna dalam bentuk malaikat kecil yang tampak terlelap. Hati Faiq merasa sedih melihat tubuh kedua bayi mungilnya dipenuhi alat-alat medis sebagai penyangga hidup mereka.


Setelah  puas memandang kedua buah hatinya, Faiq kembali menuju ruang inap istrinya. Ia terpaku melihat tubuh Hani dipenuhi dengan peralatan medis khusus. Ia berjalan mendekati tempat tidur Hani. Di sinilah kini Hani di rawat. Ia sudah berada di ruang Intensive Care Unit (ICU) selama 3 hari. Dan selama 3 hari pula Faiq tidak kembali ke rumah. Rudi lah yang dengan setia mengantarkan segala keperluan selama ia menunggu dan menjaga Hani dan si kembar.


Air mata tak berhenti mengalir di pipi Faiq saat melihat kondisi istrinya. Wajah teduh Hani tampak pucat tak berdarah. Tak henti-hentinya Faiq menyebut Asmaul Husna dalam doa-doanya demi kesembuhan sang istri.


Ia membuka aplikasi al-Quran di ponsel dan membacanya dengan lirih sambil menggenggam jemari Hani yang terasa dingin bagaikan es. Tak terasa air mata jatuh mengalir di pipi Faiq, ia merasakan kesedihan teramat dalam melihat Hani yang lemah tak berdaya.


Ketukan di pintu kamar menghentikan aktivitas Faiq. Ia mengecup kening Hani dengan lembut. Rasanya ia tak sanggup meninggalkan istrinya sendirian di ruangan yang sepi itu.


“Terima kasih Rud.”


Rudi masih berdiri tak bergeming. Ia dapat melihat kesedihan yang tergambar di wajah Faiq. Tapi Rudi tidak berani berkomentar. Ia sudah sering mengingatkan Faiq untuk tidak berhubungan lagi dengan keluarga Hesti, tapi tetap saja Faiq dengan rasa kemanusiaan yang tinggi selalu mengindahkan semua omongannya.


“Pulanglah, hari sudah larut.”


“Baiklah bos. Semoga mbak Hani segera pulih dan cepat sadarkan diri.”


Faiq memandang kepergian Rudi hingga hilang di pertigaan rumah sakit. Ia kembali ke kamar. Tanpa sepengetahuan orang di rumahnya Faiq meminta Rudi mengecek cctv dan mengirim ke laptopnya. Sambil menyandarkan diri di sofa rumah sakit itu, jemari Faiq mulai membuka laptop yang dibawa Rudi.


Ia melihat ke arah layar kronologis terjatuhnya Hani dari tangga lantai dua rumah mereka. Faiq mengerutkan kening dan membesarkan layar laptopnya. Tampak Hani menaiki tangga namun tangannya membuka ponsel yang ia bawa. Di tangga ke tujuh Hani menghentikan langkahnya dan menatap ponsel dengan raut terkejut. Tapi Faiq tidak bisa melihat apa yang membuat wajah istrinya berubah, hingga Hani memegang perutnya dan jatuh berguling ke tangga dasar.

__ADS_1


Mata Faiq berkaca-kaca saat melihat si kembar berlarian menghampiri Hani yang sudah terkapar tak sadarkan diri. Darah segar mulai membanjiri paha Hani. Tak lama kemudian ia melihat Adi yang datang bersama Linda. Tanpa berpikir panjang Adi langsung membopong Hani dan meminta Karman mengantar ke rumah sakit.


“Ya, Allah. Kenapa aku harus melewati semua ini. Apa yang terjadi sehingga Hani bisa terjatuh dan pingsan di tangga?”  Faiq mematikan laptopnya. Ia beralih pada ponsel Hani yang tampak retak kacanya.


Untunglah ponsel Hani tidak menggunakan pengaman. Sambil menyandarkan tubuhnya di sofa ia mulai membuka ponsel istrinya. Faiq mengernyitkan dahi saat melihat pesan terakhir yang diterima dari nomor tak di kenal.


Faiq terkejut melihat foto-fotonya saat makan bersama Hesti dan Dewi ada di dalam ponsel Hani, saat Hesti menggandeng tangannya dengan posisi intim sambil mendorong kursi roda bu Dewi juga ada di sana.


Foto saat ia bertiga Dewi dan Hesti menikmati rujak cingur sekembalinya dari Surabaya serta pesan chat yang masih tersimpan membuat hati Faiq terasa dihantam dengan batu besar. Jemarinya membuka chat terakhir yang sempat dibaca Hani.


“Astagfirullahaladjim…” Mata Faiq membulat saat membaca chat yang masuk ke ponsel Hani, “Ya Allah siapa yang tega berbuat sekeji ini?”


Kini pikiran Faiq mulai bekerja, bahwa apa yang  membuat Hani  berubah pendiam karena foto yang ada di ponselnya. Ia mengamati dengan seksama tanggal setiap pesan yang masuk. Ia mengepalkan jemari tangannya dengan perasaan geram. Kini ia tau penyebab kemurungan hari selama dua bulan terakhir. Dan Faiq menyesali kebohongannya. Tangan Faiq terus menscrol semua foto yang ada di ponsel Hani. Kembali matanya membulat saat  menggendong bu Dewi dan Hesti menggandengnya menuju apartemen Hesti.


“Ya Allah apa yang telah ku lakukan? Kembali hamba menyakiti istri hamba ya Allah.”


Air mata Faiq berlinang saat mengetahui penyebab Hani terjatuh dari tangga. Kini ia harus mencari tau siapa pelaku  yang dengan sengaja telah mengirim foto-foto dirinya serta untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya karena membuat istrinya terluka. Tangannya mengepal dengan keras, ternyata Hani telah mengetahui permasalahan yang  berusaha ia sembunyikan. Masalah yang ia anggap sepele tapi dampaknya sangat besar. Hampir saja Faiq kehilangan 3 nyawa sekaligus, anak kembarnya dan Hani.


Faiq kembali menghampiri tempat tidur Hani dan menggenggam jemarinya, “Maafkan aku, sayang. Karena menyembunyikan semua ini darimu. Aku tidak ingin menambah beban pemikiranmu. Bangunlah, apa kau tidak ingin menyaksikan putra-putri kita. Mereka sangat membutuhkanmu…” bisik Faiq dengan lirih.


Matanya menatap wajah Hani yang tampak tenang dalam tidurnya. Jemarinya membelai pipi Hani yang semakin tirus. Ia mencintai istrinya dan tak ingin kehilangannya, tapi ketidak jujuran Faiq membuat ia harus menyaksikan istrinya yang kini dalam keadaan koma.


“Sayang… sampai kapan kamu akan menyiksaku seperti ini…?” Faiq menatap wajah istrinya dengan perasaan berkecamuk.


Mata Faiq tidak merasa mengantuk sedikitpun. Ia tak mengalihkan tatapan dari wajah istrinya. Faiq khawatir, jika tertidur ia tidak akan melihat wajah istrinya lagi. Faiq ingin saat Hani terbangun dari tidur panjangnya, dialah orang pertama yang dilihat Hani.


 

__ADS_1


 


__ADS_2