Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 247 S2 (Hampa Tanpamu)


__ADS_3

Kupejamkan mata ini


Mencoba 'tuk melupakan


Segala kenangan indah


Tentang dirimu, tentang mimpiku


Semakin aku mencoba


Bayangmu semakin nyata


Merasuk hingga ke jiwa


Tuhan, tolonglah diriku


Entah di mana dirimu berada


Hampa terasa hidupku tanpa dirimu


Apakah di sana kau rindukan aku?


Seperti diriku yang s'lalu merindukanmu


Selalu merindukanmu


Tak bisa aku ingkari


Engkaulah satu-satunya


Yang bisa membuat jiwaku


Yang pernah mati menjadi berarti


Namun kini kau menghilang


Bagaikan ditelan bumi


Tak pernahkah kau sadari


Arti cintamu untukku?


Entah di mana dirimu berada


Hampa terasa hidupku tanpa dirimu


Apakah di sana s'lalu rindukan aku?


Seperti diriku yang s'lalu merindukanmu


Selalu merindukanmu


Oh, yeah


Oh-oh, entah di mana dirimu berada

__ADS_1


Hampa terasa hidupku tanpa dirimu


Apakah di sana s'lalu rindukan aku?


Seperti diriku yang s'lalu merindukanmu


Selalu merindukanmu


Entah di mana dirimu berada


Hampa terasa hidupku tanpa dirimu


Apakah di sana s'lalu rindukan aku?


Seperti diriku yang s'lalu merindukanmu


Selalu merindukanmu


Ivan termangu di meja kerja Baron mendengar alunan lagu lawas yang menggambarkan suasana hatinya saat ini. Hari-hari belakangan  ia semakin melow. Tidak ada semangat untuknya bekerja. Sudah seminggu sejak kunjungan pertamanya bertemu dengan ustadz Hanan. Keduanya hanya melakukan komunikasi via ponsel untuk memastikan bahwa perjanjian pembelian tanah akan langsung diurus pengacara masing-masing dengan didampingi notaris.


Padahal hari ini ia ada janji temu dengan Berli Anggara seorang kontraktor ternama yang jadi pemborong dalam pembuatan bangunan rumah sakit kanker anak. Ia memilih Berli karena telah direkomendasikan ustadz Hanan yang terbiasa bekerja sama dengannya.


Ia telah mengutus Danu dan Baron untuk bertemu dengan Berli di restoran yang telah mereka sepakati. Ia enggan untuk bertegur sapa dan berinteraksi dengan orang lain. Ia ingin menikmati kesendirian dengan melihat foto-foto Khaira yang ia simpan di album pernikahan.


Setelah rasa rindunya sedikit terobati, Ivan bangkit dari kursi. Ia melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 12 siang. Ia yakin  kesepakatan antara Danu dan Berli pasti sudah terlaksana. Ia langsung menuju mushola yang lokasinya berada di luar perusahaan.


Ivan merasa lega setelah mengadukan segala beban dan kegundahan yang ada di dalam hatinya kepada Sang Pemilik jiwa dan raganya. Dalam doa selalu ia panjatkan agar Yang Kuasa segera mempertemukan ia dan istrinya.


Ia tidak kembali ke dalam ruangan tetapi langsung ke ruang kerja Danu. Ia yakin  asistennya itu sudah kembali dari pertemuan bersama Berli. Saat Ivan membuka ruang kerja Danu, tidak ada aktivitas apa pun. Ruangan masih tampak sepi. Foto-foto masih tampak berserakan di atas meja kerjanya.


Ivan terpaku melihat foto sepasang bocah kembar yang duduk manis di tepi kolam. Dengan cepat ia meraih foto yang dicetak ukuran A4 tersebut. Perasaannya tergetar.


Tangannya menggeser foto-foto yang ada di atasnya berusaha mencari sesuatu. Ia berhasil menemukan foto lain yang menunjukkan seorang perempuan bercadar duduk menyamping sambil memperlihatkan sesuatu pada kedua bocah yang tampak tertawa senang.


Ivan menekan dadanya. Ia merasa sesuatu terjadi pada dirinya saat melihat kedua foto tersebut. Ia memandang foto dengan lekat. Kini ia semakin yakin bahwa memang ada kemiripan antara almarhum Bryan dengan bocah perempuan. Sedangkan bocah lelaki mengingatkan ia akan sorot pandangan Khaira yang datar dan dingin saat pertemuan pertama mereka.


“Siapakah kalian? Kenapa aku merasa tidak asing melihat gambar ini?” batin Ivan berguman sendiri.


Karena tidak menemukan Danu, akhirnya Ivan keluar dari ruangan dan membawa kedua gambar  itu. Ia ingin memastikan sesuatu yang tiba-tiba bergejolak di hatinya. Ia tidak bisa menundanya lagi.


“Bos, tuan Berli menunggu di ruangan anda. Beliau masih ingin bertemu,” tiba-tiba Danu sudah muncul di hadapannya begitu Ivan keluar dari ruangannya.


Ivan terkejut tidak menyangka Danu berada di depan pintu yang baru saja ia buka. Ia berdiri sambil berpikir, jam di dinding sudah menunjukkan pukul 2 siang.  Tidak memungkinkan jika ia memaksa  pergi menemui ustadz Hanan  untuk membuktikan rasa penasarannya.


“Apa ada yang salah dengan gambar itu bos?” Danu merasa heran melihat Ivan membawa 2 lembar foto yang baru saja ia cetak.


“Tidak. Tapi khusus yang dua ini ku bawa,” jawab Ivan cepat, “Ayo ikut ke ruanganku menemui tuan Berli.”


“Baik Bos,” dengan cepat Danu mengangguk dan mengikuti langkah Ivan.


Tenyata Berli tidak datang  sendiri, ia didampingi sekretarisnya yang berpenampilan seksi bernama Laura. Keduanya segera bangkit dari kursi begitu melihat kedatangan Ivan dan Danu.


“Maafkan saya karena tidak bisa hadir pada pertemuan pertama kita,” Ivan segera mengulurkan tangan pada Berli yang menyambutnya dengan hangat.


Saat bertatapan dengan Laura ia hanya tersenyum tipis sambil menganggukkan kepala dan segera mengalihkan tatapan pada Berli.

__ADS_1


“Silakan  duduk kembali tuan Anggara,” Ivan mempersilakan Berli dan sekretarisnya duduk kembali di sofa yang tersedia.


“Saya sangat berterima kasih karena tuan Alexander mau bekerja sama dengan perusahaan kami,” Berli berkata dengan bersemangat, “Sepak terjang anda di dunia entertainment tanah air memang yang terbaik.”


“Anda terlalu memuji tuan Anggara. Saya sudah pensiun dalam tiga tahun belakangan,” Ivan tersenyum membalas ucapan Berli.


Laura mencibir mendengar perkataan bosnya. Ia tidak melihat ada barang-barang atau pun peralatan serba lux di ruang kerja Ivan yang sangat sederhana jika dibandingkan dengan milik bosnya di Cipta Graha Persada.


“Jadi kapan kita bisa survey lapangan untuk melihat lokasi yang akan didirikan bangunan rumah sakit kanker itu?” Berli  langsung bertanya.


Ia tipe orang yang tidak suka menunda pekerjaan. Karena itulah ustadz Hanan selalu menggunakan jasanya setiap ada proyek bangunan pemerintahan. Dan kali ini Berli sangat senang mengetahui bahwa proyek yang diberikan ustadz Hanan bukan main-main.


“Maaf tuan Anggara, ustadz Hanan sedang membawa mertuanya kontrol ke Singapura,” Danu menjawab dengan cepat, “Mungkin minggu depan kita baru bisa survey ke sana.”


Ivan langsung menatap Danu. Ia memang tidak pernah berkomunikasi langsung dengan ustadz Hanan. Ia menghela nafas, keinginannya untuk menemukan teka-teki yang sejak tadi menggantung di benaknya tampaknya belum terlaksana.


“Tidak, aku akan mencari tau sendiri,” guman Ivan hampir tak terdengar. Ia hampir melupakan bahwa dirinya tidak sendirian di dalam ruangan kerjanya.


“Ada masalah Bos?”  pertanyaan Danu membuat Ivan sadar bahwa masih ada orang lain dalam ruang kerjanya.


“Semua baik-baik saja,” sela Ivan cepat.


Ia memandang Berli yang menatapnya dengan kening berkerut. Sambil menyunggingkan senyum Ivan menganggukkan kepala.


“Maafkan kedatangan kami yang terkesan mendadak di tempat anda tuan Alexander,” Berli merasa tidak nyaman.


“Panggil Ivan saja,” Ivan berkata pelan, “Terlalu formal rasanya bagi saya.”


“Baiklah Ivan. Saya menyetujuinya,” akhirnya Berli bangkit dari kursi dan segera bersalaman dengan Ivan, “Terima kasih atas kerja sama yang akan terjalin ini.”


Ivan mengangguk dan keduanya bersalaman dengan erat memastikan bahwa kerja sama mereka akan berjalan hingga selesai. Ivan merasa lega ketika kedua tamunya sudah berlalu dari ruang kerjanya.


“Bos, apa nggak salah dengan ucapanmu tadi bahwa tuan Alexander pengusaha kaya?” Laura berusaha mengorek keterangan dari Berli tentang lelaki tampan yang cukup mencuri perhatiannya. Tapi melihat ruang kerja sederhananya membuat Laura tidak percaya.


“Jangan melihat buku dari sampulnya,” Berli memandang sekretarisnya tajam. Ia yakin Laura adalah tipe perempuan yang mudah dirayu dengan berbagai kemewahan dan cepat berpindah pada lelaki yang sanggup membiayai gaya hidup sosialita yang kini ia jalani.


Ia dan Laura memang memiliki kedekatan khusus. Laura adalah sekretaris plus baginya karena itu ia malas untuk menikah karena tidak ingin terikat dengan tanggung jawab. Ia menyukai menjadi lajang tanpa ada aturan khusus yang harus ia jalani jika menjalin hubungan serius. Padahal usianya hampir kepala empat dan ia masih betah sendiri menjalani kehidupan serba bebas.


Sementara itu Ivan dan Danu masih membahas seputar kerja sama yang telah ditanda tangani pihak Berli  dan Danu selaku wakilnya. Kini tatapan Ivan kembali tertuju pada foto yang tergeletak di atas mejanya. Ia meraih foto itu dan memandangnya dengan lekat.


“Kenapa Bos tertarik dengan kedua foto ini?” Danu tak bisa menahan rasa penasarannya. Ia dapat melihat tatapan penuh arti dari sorot mata Ivan yang tak bergeming dari kedua foto di tangannya.


“Aku merindukan istriku .... “ Ivan berkata lirih.


Danu terdiam mendengar perkataan bosnya. Ia baru bekerja selama tiga tahun mengikuti Ivan dan tidak pernah tau kehidupan pribadi bosnya. Dan selama ia bekerja, tidak ada seorang pun yang berani mengungkit atau pun menceritakan Ivan terhadapnya.


“Wajah kedua bocah ini mengingatkanku pada istriku yang kini pergi entah kemana,” Ivan berkata lirih membuat Danu melongo mendengar curhat bosnya.


Ivan menyandarkan tubuhnya di kursi kerja dan mulai memejamkan mata mengingat tatapan lembut dan senyum manis istrinya yang sampai saat ini masih melekat erat di benaknya.


Ia kembali membuka mata dan menegakkan tubuhnya. Dengan cepat Ivan meraih foto perempuan bercadar yang kini mengganggu pikirannya.


“Siapakah kau sebenarnya ustadzah Aisya? Apakah kau merubah identitasmu yang asli?” tiba-tiba pikiran Ivan bekerja cepat.


Ia  mulai berpikir untuk menyatukan kepingan-kepingan puzzle berupa rekaan tentang pertemuan-pertemuan tak terduga dengan keluarga Khaira. Dan ia yakin dengan keberadaan si kembar akan menjawab dan menyatukan segala kepingan puzzle sehingga menemukan jawaban dari kunci permasalahan yang kini coba ia selesaikan sendiri.

__ADS_1


***Dukung terus ya\, moga author khilaf untuk up dan up lagi. Salam sayang untuk semua. Liburan ini author banyak disibukkan dengan kegiatan membawa ortu jalan-jalan seputaran wilayah kabupaten Ketapang Kal-Bar. Jadi jarang up\, tapi author usahakan agar secepatnya bisa memberikan yang terbaik untuk reader kesayangan yang selalu menunggu kisah cinta Ivan dan Khaira. Komennya selalu saya tunggu untuk lebih semangat dalam menyajikan kehidupan mereka. Kalau ada yang tidak sesuai dengan ekspektasi reader\, mohon maafkan author\, karena author juga masih dalam tahap belajar menulis dan terus membaca.  Dukung ya...***


__ADS_2