
Rasanya belum puas bagi Ivan mendayung bahtera berbagi kehangatan di siang yang tadinya panas, tapi sekarang awan gelap disertai hujan mulai turun membasahi bumi Jakarta. Ia tak membiarkan sedetikpun istrinya beristirahat dari permainan yang telah ia mulai. Dua jam telah berlalu. Kini Khaira terlelap dalam pelukannya karena kelelahan menuruti semua keinginannya.
Tatapan Ivan lekat memandang wajah menawan sang istri. Jemarinya membelai setiap sudut wajah yang selalu membuatnya semakin jatuh dalam pusaran cinta yang tak berujung. Ia berharap tidak ada lagi ujian dan masalah yang mengganggu keutuhan rumah tangga mereka.
Suasana hujan di luar hotel ditambah dinginnya AC dalam ruangan membuat rasa kantuk tak tertahankan. Akhirnya Ivan pun menyusul Khaira dan terlelap dengan posisi memeluk untuk saling menghangatkan.
Khaira terbangun tak lama kemudian. Ia menghela nafas mengingat pusaran badai telah berakhir beberapa saat yang lalu. Ia tidak mampu untuk bangkit. Tangan kokoh suaminya memeluknya sangat erat. Keringat mengucur dari pori-pori kulitnya, ia merasa gerah. Tapi tangan Ivan seperti lem menempel begitu erat membuatnya tak bisa berkelit.
Singa yang tadinya menunjukkan keperkasaannya, sudah terlelap dengan tenang dihiasi senyum yang terbit di wajah menyinarkan kepuasan, karena keinginannya sudah terpenuhi. Lagi-lagi Khaira tidak bisa berkutik atas keinginan Ivan.
Sekesal apa pun ia pada Ivan, tak mungkin ia menolak jika sang suami sudah menginginkan dirinya. Ia membalik badan memposisikan diri hingga wajahnya berhadapan dengan suaminya.
Ia menatap lekat wajah yang semakin menawan saat dipandang. Jemarinya mengusap bibir tipis berwarna coklat alami membuatnya tampak seksi. Berada dalam pelukannya terasa nyaman dan menenangkan. Khaira tak melepaskan tatapannya dari wajah tampan suaminya. Ia membayangkan aksi perempuan yang berusaha memikat suaminya tanpa ada rasa sungkan dan mempedulikan kehadiran dirinya sebagai istri sah Ivan.
Suara ponsel Ivan berdering. Khaira menghentikan aktivitasnya dan berusaha melepaskan kaitan tangan Ivan di pinggangnya. Ia memandang jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah tiga siang. Ia merasakan tangan Ivan bergerilya mencari spot favoritnya.
“Mas, ponselmu bunyi …. “ Khaira berkata pelan sambil mengusap punggung Ivan.
“Hm …. “ Ivan tak bergeming. Matanya masih tertutup tapi tangannya semakin lincah bermain di area kesukaannya.
“Massss …. “ Khaira sudah tidak tahan dengan perbuatan Ivan yang kini menempel rapat seperti anak bayi dengan nafas terasa hangat di lehernya.
Ivan tak peduli dengan perkataanya. Matanya terpejam tapi bibirnya telah melakukan aktivitas yang membuat Khaira menggigit bibir, dengan tengkuknya yang mulai meremang.
“Mungkin ada sesuatu yang penting\,” Khaira berkata lirih berusaha menahan desa***nnya atas ulah Ivan yang semakin menjadi.
“Gak ada yang penting saat ini selain kamu,” Ivan melakukan apa pun yang membuatnya merasa senang dan puas mengeksplor setiap inci sang pemilik keindahan ragawi yang hanya miliknya seorang.
“Ini udah hampir jam tiga Mas, kasian si kembar seharian kita tinggalkan,” Khaira merindukan Fajar dan Embun. Kalau keseringan seperti ini, ia jadi gak enak sama mbak Ira.
“Besok kita akan bawa si kembar jalan-jalan ke mall,” ujar Ivan santai dan kembali melanjutkan aktivitasnya dan memulai kecupan-kecupan ringan serta gigitan kecil di bahu mulus istrinya.
“Males!” Khaira berkata sinis sambil memandang suaminya dengan raut tak suka, “Ntar ketemu mantan keasyikan ngobrol mas melupakan keberadaan kami. Mendingan di rumah. Mas mau jalan sendiri silakan.”
Ia sudah tidak mempedulikan apa pun masa lalu suaminya. Fokus utamanya hanya si kembar, membesarkan keduanya dan terus melimpahi kasih sayang yang ia punya. Ia hanya khawatir dengan kelalaian yang dilakukan Ivan membuat Fajar dan Embun terlepas dari pantauannya. Dan ia tak ingin hal itu terjadi untuk kedua kalinya.
“Bunda cemburu?” Ivan tersenyum senang mendengar ucapan Khaira.
Khaira mendelik dan bangun langsung menarik selimut menutupi dirinya yang masih polos, membuat Ivan pun bangun dari posisi baringnya.
“Cemburu itu tanda tidak percaya diri,” Khaira menatap tajam suaminya yang memandangnya dengan lekat, “Aku sudah sangat paham dirimu mas, luar dan dalam malah. Semua dari ujung rambut dan ujung kaki aku sangat hafal.”
Ivan semakin senang mendengar ucapan Khaira. Ia tersenyum melihat sorot tajam di mata bening istrinya.
“Aku gak akan terkejut jika masih ada mantanmu entah dari benua mana lagi yang akan datang untuk menarik perhatianmu. Semua itu bagiku tidak penting. Keamanan Fajar dan Embun itu yang paling penting.”
Khaira bergegas bangkit dari tempat tidur dengan membawa selimut bersamanya. Ia ingin mengakhiri omong kosong dengan Ivan yang masih berusaha mengulur waktu.
“Hei, mau kemana?” Ivan menarik bahu Khaira membuatnya jatuh dan menabrak tubuh Ivan hingga posisinya berada di atas tubuh suaminya.
“Gak ada gunanya bicara sama kamu Mas,” Khaira berkata dengan kesal.
Khaira mencoba bangkit, Ivan memeluknya dengan erat. Ia tak menyia-nyiakan kesempatan yang terjadi. Diluar dugaan Khaira, Ivan langsung menyatukan bibir mereka. Ciuman Ivan yang berlangsung lama membuat Khaira tak bisa bernafas. Ia menepuk dada suaminya karena merasa pasokan oksigen yang ia hirup sudah tak bersisa. Ivan tersenyum puas setelah mengakhiri ciuman panasnya.
“Hari ini kamu membuatku semakin ....” Ivan sengaja memotong perkataannya. Tatapannya begitu lekat dengan penuh pemujaan, “Aku sangat menginginkanmu. Dari beberapa jam yang lalu kepala semakin senut-senut.”
__ADS_1
“Kan udah …. “ Khaira berusaha melepaskan diri dari rengkuhan suaminya. Ia yakin posisinya sekarang tidak aman. Ia sudah sangat mengenal arti tatapan mata Ivan yang memandangnya penuh harap.
“Bukankah Bunda mengenalku luar dalam,” Ivan membalikkan perkataan Khaira membuat wajah istrinya merona.
Ia mulai melancarkan sentuhan-sentuhan yang membuat Khaira terasa melayang di udara. Kalau sudah begini, mana bisa ia menghindar. Ia tau bahwa dalam urusan begini suaminya sangat mahir.
Ivan mulai menikmati hidangan pembuka di sesi kedua secara perlahan untuk memancing istrinya. Ia ingin Khaira mendominasi kali ini. Ia berusaha menulikan telinga agar tidak mendengar desa*** Khaira dan nafasnya sendiri yang mulai memburu.
Tahu bahwa Ivan sengaja memancingnya, membuat Khaira membalik keadaan. Ia mulai melayani permainan Ivan dan mengambil alih kendali, dengan segala kemampuan yang ia miliki. Kali ini ia tidak akan kalah.
Melihat keagresifan istrinya Ivan senang luar biasa. Ia merasa menjadi seorang raja yang dilayani dan dijamu dengan menu teristimewa. Aksi Khaira tidak berhenti, ia akan membuat suaminya takluk dan bertekuk lutut.
“Yang, please …. “ Ivan sudah tidak tahan merasakan sesuatu yang memberontak ingin dikeluarkan.
Khaira dengan santai berpindah obyek. Ia sengaja membalas perbuatan Ivan yang sengaja mengulur waktu membuatnya kelelahan.
“Please …. “ suara Ivan bergetar menahan gai*** yang sudah di ujung kepala.
Khaira tersenyum sambil memandang wajah suaminya yang menatapnya penuh damba. Ia semakin memperlambat tempo.
Ivan sudah tidak tahan dengan keisengan istrinya. Ia ingin membalik keadaan. Saat Ivan ingin menguasai dirinya, dengan sekuat tenaga Khaira menahan hingga posisinya tetap diuntungkan.
“Yang, aku takluk. Please …. “
“Wah, tuan Alexander Ivandra mengaku kalah,” Khaira tertawa kecil melihat wajah memerah suaminya, “Di mana kemampuan tuan Alexsander yang begitu diidamkan semua wanita hingga di tiap sudut kampung selalu ada?”
“Hanya kamu satu-satunya,” Ivan menjawab dengan lugas.
Khaira mengakhiri pertempuran yang ia menangkan dengan telak. Senyum puas terbit di wajahnya melihat suaminya yang tersenyum sumringah walau pun harus mengaku kalah.
Saat check out dari hotel genggaman tangan Ivan begitu kuat di pergelangan tangannya seolah takut terlepas. Tatapannya hanya sebentar memandang yang lain, kembali fokus pada wajah istrinya, membuat Khaira jadi jengah.
“Kamu mengenalnya?” ia langsung bertanya melihat sikap istrinya.
“Gak kenal. Aku hanya membalas kesopanan orang itu mas.”
“Gak usah diliat,” Ia menutupi keberadaan Khaira saat mulai memasuki lift dan beberapa orang lelaki mulai memasuki lift yang sama dengan mereka, “Cukup memandangku saja.”
Ivan masih memandang lekat istrinya. Bayangan kemesraan yang terjadi masih bermain di kepalanya membuatnya tersenyum-senyum senang.
Khaira merasa malu dengan tatapan suaminya. Ia menggeser badannya ke tengah. Dengan cepat Ivan menariknya kembali dan menukar posisi Khaira di pinggir lift yang mereka naiki. Ia tak ingin siapa pun memandang dan dekat dengan istrinya. Hanya ia yang boleh melihat dan memandang wajah bidadari yang telah membuatnya kalah telak.
Ia bernafas lega begitu lift telah tiba di lantai dasar. Dengan cepat ia menggandeng Khaira meninggalkan para lelaki yang masih terlibat perbincangan ringan.
“Fokus dong mas,” Khaira berbisik pelan di telinga suaminya melihat petugas resepsionis yang berbicara pada Ivan.
“Kamu yang terhebat,” ujar Ivan. Pikirannya masih mengingat badai yang mengguncang kamar mereka yang benar-benar di luar dugaan.
“Apaan sih!” Khaira menjadi malu mengingat betapa li**nya ia di kamar tadi.
“Aku suka.” Ivan berkata santai membuat resepsionis memandang keduanya dengan perasaan malu karena paham apa yang sedang dibicarakan.
“Maumu Mas,” Khaira mengalihkan tatapan karena merasa jengah dengan sikap suaminya yang masih membahas hal yang membuatnya ingin menenggelamkan diri ke palung terdalam.
Ponsel Khaira berdering. Ia melihat nama ustadzah Fatimah tertera di sana. Ia memberi tanda pada Ivan untuk menjawab telpon yang dibalas Ivan dengan anggukan, setelah melihat nama yang tertera pada ponsel istrinya.
__ADS_1
Mulai detik ini ia akan mengontrol dan melihat nomor yang masuk dan menghubungi istrinya. Ia tidak ingin lelaki lain memiliki imajinasi liar tentang Khaira.
Setelah urusan dengan resepsionis beres, Ivan berjalan mendekat pada Khaira yang masih asyik berbicara dengan ustadzah Fatimah yang menanyakan keberadaannya dan si kembar. Kebetulan ia sedang berada di Jakarta dan sudah merindukan keduanya. Ustadzah Fatimah akan datang berkunjung ke rumah mereka.
“Mas Alex …. “ suara perempuan kembali menghentikan langkah Ivan.
Ia melihat Emma yang berpakaian rapi dan tampak anggun melangkah ke arahnya dengan senyum mengembang.
Emma merasa kalau pertemuan ia dan Ivan adalah takdir Allah, dan ini kedua kalinya mereka bertemu setelah pertemuan tadi malam membuatnya bersemangat.
“Wah gak nyangka kita bertemu di sini. Ada bisnis apa mas Alex berada di sini?”
Ivan tersenyum tipis, “Kamu sendiri?”
“Saya manager hotel ini,” Emma berkata dengan penuh kebanggaan. Ia yakin Ivan masih seperti yang ia kenal dahulu. Ia berharap kalau Ivan lajang, ia ingin memulai hubungan kembali. Ia tau masa lalu mereka kelam, jika Ivan memberi kesempatan mereka untuk bersama, ia ingin membuat komitmen demi masa depan yang lebih baik.
Ia ingin Ivan menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab dan mulai merancang masa depan dan membuang segala masa lalu untuk memulai hubungan yang lebih serius.
“Selamat ya,” Ivan tersenyum ramah. Walau bagaimana pun ia menghargai Emma sebagai orang yang pernah bekerja padanya di masa lalu. Matanya masih mencari keberadaan Khaira yang terlepas dari pandangannya.
Emma merasa Ivan tidak terlalu menghiraukan kehadirannya. Padahal ia sudah berusaha menampilkan yang terbaik agar Ivan memandangnya seperti sejak awal ia memulai kiprahnya pada agensi milik Ivan.
Mata Ivan akhirnya menangkap keberadaan Khaira yang duduk santai di sofa di lobi hotel yang berjarak lima meter darinya, masih fokus memandang ponselnya.
“Sebentar,” Ivan memandang Emma sekilas dan melangkahkan kaki mendekati Khaira yang santai bermain ponsel.
Sejak lima menit yang lalu Khaira sudah mengakhiri perbincangannya dengan ustadzah Fatimah. Saat ingin kembali pada Ivan, ia melihat perempuan berhijab terlibat percakapan serius dengan suaminya. Akhirnya Khaira membatalkan niatnya untuk mendekati Ivan dan memilih menunggu di sofa membiarkan keduanya menyelesaikan pembicaraan mereka.
“Sayang …. “ Ivan memanggilnya dan meraih tangannya membuat Khaira bangkit dari sofa dan mengikuti langkah Ivan.
Emma terpaku melihat lelaki yang ia harapkan di masa depan telah menggandeng perempuan yang berpakaian serba tertutup dengan niqab yang menutupi wajahnya.
Ivan menautkan jemarinya pada jemari Khaira membawanya berjalan mendekati Emma yang menatapnya dengan nanar.
“Emma, kenalkan istriku. Aisya …. “ Ivan berkata dengan raut senang.
“Assalamu’alaikum Bu Emma …. “ Khaira menyapa dengan sopan. Ia melihat perempuan berhijab yang memandang suaminya dengan tatapan berbeda.
“Wa … wa’alaikumsalam …. “ Emma menjawab dengan gugup.
Hatinya retak seketika melihat perlakuan Ivan pada perempuan yang ia akui sebagai istrinya. Kelihatan dari wajah Ivan begitu mencintai dan tak ingin melepaskan tatapannya pada sang istri dengan tangan yang erat menggenggam.
“Kita pulang sekarang sayang?” Ivan berkata dengan lembut, membuat perasaan Emma semakin sedih.
Ia kini tau, ternyata lelaki masa depannya telah memiliki kehidupan yang lebih baik dengan perempuan yang ia yakin memiliki segalanya, karena mampu membuat Ivan tak mengalihkan tatapannya dari apa pun yang berada di dekatnya.
“Baik Mas,” Khaira tersenyum pada Ivan dan mengalihkan tatapan pada Emma yang membuang muka tak tahan melihat kemesraan yang terjadi di hadapannya, “Kami permisi Bu. Assalamu’alaikum …. “
“Wa’alaikumsalam …. “ Emma menjawab dengan penuh kesedihan.
“Ternyata kamu telah menemukan surgamu sendiri dengan bidadari pilihan hatimu. Aku turut bahagia untukmu mas Alex,” Emma berkata dengan getir.
Selama di dalam mobil Ivan tersenyum dengan wajah sumringah. Tangan kirinya menggenggam tangan Khaira dan sesekali mengecupnya. Ia harus mengikat Khaira dengan kuat. Mungkin proyek untuk memberikan adik pada si kembar bisa dipercepat, dan Khaira semakin terikat serta bergantung padanya.
Atau bulan madu mungkin? sehingga Khaira melupakan semua kesakitan serta kekecewaan atas kesalahannya di masa lalu?
__ADS_1
Khaira pura-pura memejamkan mata melihat sikap kekanakan suaminya yang seperti mendapat mainan baru yang sangat berharga sehingga dipegangnya dengan erat dan enggan ia lepaskan.
***Dukung terus ya .... Like\, kritik dan saran serta Vote dari reader tersayang sangat aku tunggu."