Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 290 S2 ( Akibat Skin to Skin …)


__ADS_3

Khaira terkejut mendengar suara Ivan yang begitu dekat.  Ia merasakan nafas Ivan yang hangat terasa menderu di telinganya.  Tatapan keduanya bertemu, Khaira melihat kilat gairah yang sudah lama tidak nampak di wajah suaminya.


Ia merutuk dalam hati karena harus berada di situasi seperti ini. Saat Ivan sudah dapat tidur dengan tenang, seharusnya ia segera bangkit dan berpakaian kembali, tetapi ia malah ikut tidur dengan  keadaan yang membuatnya seperti jablai. Sekarang seolah dia telah menyiapkan hidangan lengkap yang siap dinikmati. Kalau sudah seperti ini siapa yang salah?


Khaira menggelengkan kepala terus menyesali kealpaannya sehingga terjebak dengan kondisi yang membuatnya kurang beruntung. Sesuatu yang keras terasa menghimpit di pahanya yang masih berada dalam jepitan kedua paha Ivan. Ia merasa Ivan terus menduselkan kepalanya di leher membuat Khaira semakin tenggelam dalam perasaan kalutnya.


Ivan menahan senyum merasakan ketegangan Khaira yang masih terdiam kaku dalam pelukannya. Kali ini ia tidak akan menahannya lagi. Hidangan istimewa sudah berada di depan mata. Ia akan menikmati hidangan pembuka terlebih dahulu sebelum menuju hidangan utama yang begitu memanjakan mata.


“Masss …. “ Khaira berusaha menahan tangan Ivan yang mulai membuka pengait br* yang masih menutup kedua aset kembarnya.


Ivan menggelengkan kepala tetap meneruskan keinginannya. Ia menahan senyum yang terbit di sudut bibirnya mendengar helaan nafas Khaira yang mulai pasrah dengan kelakuannya. Ia mulai memberikan kecupan dan gigitan-gigitan kecil di tempat yang ia inginkan, karena akses sudah ia dapatkan walau pun semua tidaklah mudah dan dilalui dengan berbagai drama penolakan istrinya secara halus.


Khaira menahan kepala Ivan yang kini menunduk menikmati keindahan dua bukit yang begitu menantang untuk ia daki. Tubuhnya mulai meremang dengan semua sentuhan yang dilakukan Ivan padanya.


Ivan tak peduli dengan kelakuan Khaira. Ia menahan kedua tangan istrinya dan menyatukannya di atas kepala Khaira. Ia kembali memberikan sentuhan, yang lama kelamaan membuat Khaira tak berkutik dan terjatuh dalam permainan  suaminya yang sudah berpengalaman dalam menaklukkan perempuan.


Desa*** Khaira membuat Ivan makin bersemangat.  Ia semakin intens menyentuh  dan mengakrabi apa yang ia inginkan karena semua akses sudah dalam tangannya.


Melihat wajah Khaira yang memerah menahan gairah yang sudah ia bangkitkan, senyum kepuasan terbit di wajah Ivan. Kini tiba saatnya ia mengakhiri puasa yang sudah terlalu lama dan berbuka dengan hidangan terbaik yang sudah sangat ia idamkan.


Dengan perlahan dan penuh kelembutan ia mulai menyatukan dirinya dan Khaira. Tak semudah yang ia perkirakan. Ivan memeluk Khaira saat ia melihat kesakitan yang dialami istrinya dengan memejamkan mata dan menggigit bibir bawahnya.


Ivan kembali memberikan sentuhan agar Khaira merasa nyaman dan menerima semua perlakuannya. Setelah beberapa saat, keinginan Ivan tercapai dengan sempurna. Seperti takut akan menyakiti istrinya, Ivan melakukan dengan segala kelembutan dan penuh kesabaran  untuk mencapai puncak kenikmatan surgawi dengan membawa Khaira bersamanya.


Perasaan bahagia langsung hadir memenuhi jiwa Ivan begitu telah selesai mengarungi gelora cinta yang penuh kesempurnaan bersama sang bidadari yang kini telah kembali ke pelukan seutuhnya.


Beban berat yang  selama ini begitu mengganggu dan terasa di pundak membuatnya tersiksa untuk melangkah langsung hilang tak berbekas. Tubuhnya terasa bugar dan sehat seperti sedia kala.  Ia menghela nafas dengan segala kelegaan dan kebahagiaan yang sempurna.


Ia mengecup kening Khaira yang dipenuhi tetesan keringat dengan mesra. Dalam hati ia mengucap syukur tak henti-hentinya atas kenikmatan yang telah dianugerahkan Yang Kuasa. Ia berjanji dalam hati akan lebih berhati-hati menjaga keutuhan rumah tangganya dan menyakinkan diri akan melindungi semua yang ia cintai dari segala macam bahaya yang mendekat.


Khaira merasa malu menatap wajah Ivan setelah apa yang telah mereka lalui bersama. Ia ingin melepaskan pelukan dari tubuh kokoh suaminya, tapi Ivan tak bergeming tetap merengkuhnya dengan erat di dada bidangnya. Ia merasakan detak jantung suaminya berlari dengan cepat seperti yang ia alami saat ini.


Ivan merasa gemes melihat tingkah Khaira seperti ABG yang malu-malu dengan wajah kemerahan menyembunyikan wajah di dadanya. Bidadari yang begitu ia rindukan, yang dengannya ia ingin sehidup sesurga kini sudah berada dalam pelukan.


Ia teringat dengan mas Ariq. Kakak iparnya itu memang yang terbaik. Kalau seandainya mas Ariq tidak meminta Khaira mendampinginya, belum tentu mereka berada di posisi seperti sekarang ini. Dan kakak iparnya si bibir ceriwis mbak Hasya, bukannya ia tidak mendengar saat Khaira menghubungi mbak Hasya  untuk menceritakan kondisinya yang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Ia teringat dengan jelas saat Khaira membuka celana panjangnya hingga menyisakan boxer yang melekat di tubuhnya. Ia tidak menyangka saat Khaira mulai membuka bathrobe yang ia pakai dan menyisakan br* dan cd yang menutupi bagian intimnya.


Hatinya menghangat ketika merasakan Khaira memeluk tubuhnya yang menggigil. Bukannya ia tidak tau metode skin to skin yang dilakukan Khaira padanya. Ia adalah lelaki dewasa dengan segudang pengalaman tentang cara menaklukkan perempuan.


Tapi terhadap Khaira ia tidak ingin melakukan secara frontal. Khaira berbeda dengan perempuan lain yang pernah menghangatkan ranjangnya di masa lalu. Walau terkadang masa lalu membuat Ivan membenci dirinya sendiri.


Sekarang saatnya ia menata masa depan tanpa melibatkan orang-orang dari masa lalu yang hanya akan merusak kebahagiaan yang akan ia rajut bersama Khaira dan anak-anaknya.


Ivan mensyukuri berkah sakit yang ia derita,  membuatnya dapat merasakan kembali indahnya memadu kasih dengan sang bidadari hati. Padahal tak ada dalam rencananya untuk menginap bahkan bermalam di hotel. Tapi alam berkehendak lain, dan ia merasa waktu berpihak padanya sehingga semua bisa terjadi di luar rencana. Dan ia bersyukur untuk semua yang terjadi.


Setelah nafasnya kembali normal, jemari Ivan mulai kembali menyusuri lekukan indah yang membuatnya semakin mabuk kepayang.


“Mas …. “ belum hilang debaran jantungnya yang berpacu cepat, kini Khaira merasakan kembali sentuhan-sentuhan yang menggetarkan jiwa dan raganya.


“Hm …. “ Ivan tak berhenti dengan perbuatannya.


Ia masih ingin mengarungi bahtera asmara bersama sang bidadari. Mumpung mereka masih berada di hotel dan jauh dari rutinitas keseharian. Ivan tak ingin melewatkan waktu yang ada. Ia harus memanfaatkan sebaik mungkin. Jika sudah kembali ke rumah ia yakin, akan banyak drama yang dilakukan Khaira untuk menghindari kebersamaan mereka, dan si kembar adalah senjata paling ampuh dan tameng bagi Khaira.


Ah, ia jadi merindukan dua buah hati kesayangannya yang begitu menggemaskan. Tapi saat ini yang lebih menggemaskan adalah bundanya. Ivan berusaha menyembunyikan senyumnya dari tatapan penuh selidik Khaira.


Azan Subuh berkumandang disaat Ivan mengakhiri sesi berbagi kehangatan dan kemesraan untuk kedua kalinya. Ia melihat wajah cemberut  istrinya  yang kesal dengan ulahnya tapi tak bisa menolak keinginannya.


Sebuah tangan kokoh telah mengangkat tubuhnya membuat Khaira seperti melayang di udara. Ia tak menyangka Ivan telah menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi. Ia bergidik ngeri, takut kalau Ivan akan melanjutkan  permainannya.


“Jangan khawatir, masih banyak waktu,” Ivan berkata sambil tersenyum.


Ia diam saat Ivan membawanya memasuki bathtube dan mulai mengisi airnya dan mencampuri dengan air hangat.


“Aku bisa melakukan sendiri,” Khaira berusaha menolak Ivan yang mulai mengoles sabun mandi dan memijat punggungnya dengan lembut.


“Biarkan aku melakukannya,” Ivan tersenyum sambil menjauhkan spons dari tangan Khaira, “Selama ini aku selalu memandikan si kembar. Sekarang aku ingin melakukannya buat bundanya Fajar dan Embun.”


Khaira terdiam mendengar ucapan Ivan. Ia tak bisa menolak keinginan Ivan untuk melakukan apapun pada dirinya. Ivan memiliki hak seutuhnya, dan ia tak ingin menjadi istri nusyuz seperti yang telah diingatkan mas Ariq padanya.


Kalau tidak memikirkan Khaira, rasa-rasanya Ivan ingin mengulang kembali aktivitas panas mereka untuk membayar waktu selama tiga tahun jauh dari istrinya. Tapi ia harus mengalah. Ini hanya permulaan, masih banyak waktu yang akan ia miliki bersama Khaira untuk mendayung gelora asmara berbagi kehangatan bersama. Ia akan memenuhi janjinya pada Khaira bahwa mereka hanya mandi tidak lebih titik.

__ADS_1


Kini keduanya telah selesai melaksanakan salat Subuh. Dalam doanya tak putus Ivan mengucapkan syukur kepada Yang Kuasa karena telah mengembalikan semua miliknya dalam pelukan.


Khaira telah secara ikhlas memberikan haknya dan menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri. Rasa bahagia begitu memenuhi segenap jiwa dan raganya. Ivan merasakan bahwa dunia telah berada dalam genggamannya. Ia tidak menginginkan hal lain lagi. Keinginannya hanya satu memberikan kebahagiaan bagi Khaira dan si kembar untuk menjalani kehidupan di masa yang akan datang.


Begitu selesai berdoa, Ivan membalik tubuhnya hingga berhadapan dengan Khaira. Ia tersenyum dengan tatapan mesra saat Khaira mengulurkan tangan padanya. Dengan cepat Ivan meraih Khaira dalam pelukan.


“Terima kasih telah menerimaku kembali,” Ivan berkata dengan lembut sambil menangkup wajah Khaira dengan kedua tangannya.


Ia menatap lekat mata bening istrinya yang sudah tidak sedingin biasa, walau masih ada raut kesal tergambar di sana. Tapi Ivan tak peduli. Ia mencium kening Khaira dan memeluknya dengan erat sambil memejamkan mata merasakan kehangatan yang kembali mengaliri segenap jiwa dan raganya.


Khaira diam membiarkan semua perlakuan Ivan padanya. Yang ia ingin lakukan sekarang adalah berbaring untuk menormalkan tubuhnya yang masih terasa lelah.


“Setelah ini kita akan sarapan di bawah,” ujar Ivan sambil melepaskan pelukannya.


“Aku masih ingin beristirahat,” ujar Khaira pelan.


“Baiklah sayang. Mas akan pesan layanan kamar untuk mengantarkan sarapan kita.”


Khaira segera melipat kain sarung dan baju koko yang tergeletak di hadapannya, karena Ivan telah melepasnya dengan santai. Ia melengos melihat Ivan yang hanya menggunakan boxer sambil membuka  paper bag yang berisi pakaian yang telah dibawakan Hari untuknya. Ivan merasa puas, karena pilihan Hari tidak mengecewakan. Ia melihat satu kaos dan satu kemeja dengan dua celana kain yang satunya pendek dan cocok untuk dipakai bersantai. Ia langsung memakai kaos dan celana pendek tanpa mempedulikan wajah merona Khaira yang harus terjebak dalam situasi seperti ini.


Khaira pun segera membuka paper bag yang ia yakini untuknya. Ia terkejut ketika melihat  isi pakaian wanita yang berada di dalamnya. Dua buah  pakaian yang berbeda.  Selera Hari lumayan. Ia melihat gamis dengan motif yang menarik, tetapi pakaian yang satunya, dengan cepat Khaira memasukkan kembali ke dalam paper bag.


“Kenapa Yang?” Ivan merasa heran melihat perubahan wajah Khaira yang kini memerah


Ia penasaran dan meraih paper bag yang disimpan Khaira di samping tempat duduknya. Tangan Khaira menahan paper bag itu, tapi dengan cepat Ivan mengambilnya dari tangan Khaira.


“Ha ha ha …. “ tawa Ivan seketika pecah begitu membuka paper bag yang berisi sebuah baju tidur tipis dan seksi  tanpa lengan berwarna merah, “Hari yang terbaik.”


Khaira melotot tak senang melihat Ivan yang tertawa dengan raut bahagia sambil mengibar-ngibarkan baju seksi itu dan menciumnya seketika.


“Bos dan anak buah gak ada akhlak,” ujar Khaira seketika.


Mendengar ucapan Khaira, senyum Ivan semakin lebar.  Ia akan menambah waktu menginap mereka semalam lagi, dan otak Ivan sudah menyiapkan berbagai rencana untuk menghabiskan waktu semalam lagi.


Khaira malas meladeni Ivan yang langsung menelpon Hari dan mengucapkan terima kasih atas semua belanjaannya. Entah apa lagi yang mereka bicarakan, tapi Khaira dapat melihat wajah bahagia suaminya saat berbincang bersama Hari.

__ADS_1


Ia segera menjatuhkan diri di tempat tidur dengan mukena yang masih membungkus tubuhnya. Ia khawatir, jika tak bergerak  Ivan akan memintanya berganti baju lucknut yang telah dibelikan asisten durjana suaminya.


*** Hayoooo\,  komentar\, vote dan likenya mana. Udah othor penuhi keinginan semuanya menunggu adegan pemersatu bangsanya .... ***


__ADS_2