Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 250 S2 (Sebuah Tamparan Hebat)


__ADS_3

Ivan mengeluh dan menggelengkan kepala melihat Khaira yang berjalan semakin jauh. Begitu Danu tiba di hadapannya ia sebera mengulurkan Bobby dan meninggalkan mereka bertiga dengan tanda tanya besar di kepala Laura.


“Siapa perempuan itu? Kenapa tuan Ivan bersikap seperti itu terhadapnya?”  Laura tidak mempercayai penglihatannya.


Ia tak habis pikir dengan kelakuan Ivan. Ia telah mengetahui dari Berly bahwa Ivan telah berpisah dengan sang istri karena putranya meninggal dunia. Kepergian sang putra telah menimbulkan kesedihan yang mendalam pada Ivan, karena itulah ia berpikir bisa menyembuhkan kesedihan Ivan dengan Bobby sebagai senjatanya untuk menarik perhatian sang duda kaya yang kini telah menjadi target masa depannya.


Tapi melihat sikap yang ditunjukkan Ivan pada perempuan yang berpenampilan ketinggalah jaman itu membuat otaknya jadi berpikir keras. Ia yakin telah memiliki saingan baru untuk merebut hati sang hot duda.  Walau ia layak berbangga, karena dari segi penampilan, siapa pun tidak mampu menolak pesona yang ada pada dirinya.


Ivan menatap kecewa pada mobil yang telah membawa Khaira berlalu dari hadapannya. Saat ia tiba di ruang tunggu jemputan, Khaira telah memasuki salah satu taxi yang terparkir.


“Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini sayang .... “ Ivan menggelengkan kepala begitu taxi hilang dari pandangannya, “Penolakanmu membuatku semakin bersemangat untuk mendapatkanmu kembali.”


Ivan langsung memasuki taxi yang berada di hadapannya. Ia ingin kembali ke rumah mamanya untuk beristirahat. Pertemuan dengan Khaira walau pun ada drama penolakan di dalamnya tak menyurutkan keinginan Ivan dari rencana yang telah ia buat untuk masa depannya. Melihat wajah ayu sang istri telah menambah mood bosternya untuk berjuang dengan penuh semangat.


Ivan tak bisa menolak tawaran  Laura dan Bobby yang mengajaknya makan siang bersama ketika siang itu Laura dan Bobby mampir di kantornya. Padahal  ia dan Danu sudah berencana mengunjungi ustadz Hanan.


Akhirnya Ivan mengajak Laura dan Bobby semobil dengan mereka menuju restoran ternama yang ada tidak jauh dari  lokasi kantornya berada.


“Mommy, aku pengen beli mainan baru di sana .... “ telunjuk Bobby menunjuk sebuah mall megah yang berada di hadapan mereka.


“Kita makan di sana saja Dan,” Ivan segera membatalkan niat mereka untuk makan siang di restoran, “Jam segini susah untuk keluar masuk parkiran. Semua penuh.”


“Baik Bos,” Danu memahami keputusan Ivan yang tidak ingin membuang waktu.


Ia sangat memahami ritme kerja Ivan. Walau pun terlihat santai, tapi ia tak pernah melihat Ivan menyia-nyiakan waktu dalam bekerja. Semua terukur dan tepat waktu, mungkin itulah yang membuat para kliennya senang bekerja bersama mereka.


Ia tersenyum menyadari kegigihan perempuan yang begitu kentara menunjukkan rasa sukanya pada si bos yang tetap bersikap datar dan tidak menanggapi berlebihan terhadap keagresifan perempuan cantik itu.


Setelah makan siang, Ivan dan Danu memenuhi keinginan Bobby untuk membawanya ke pusat mainan anak.  Ivan dan Danu mengiringi langkah Laura dan Bobby dari belakang. Saat tiba dalam gerai mainan anak Ivan meminta Danu mengikuti Lauda dan putranya.


“Gunakan ini untuk pembayarannya,” Ivan mengulurkan black cardnya ke tangan Danu dan mengistirahatkan diri di kursi santai yang tersedia di lokasi mall megah itu.


“Abi, Umi Dede mau mainan balbie yang buanakkk .... “ suara kenes itu kembali hadir mengelus daun telinga Ivan. Ia langsung mencari sumber suara.


Ivan melihat ustadz Hanan dan istrinya menggandeng dua bocah kembar yang berlari penuh semangat saat memasuki gerai mainan anak.


“Assalamu’alaikum .... “ Ivan langsung berdiri bergegas menghampiri keempatnya.


“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh .... “ ustadz Hanan dan ustadzah Fatimah menjawab kompak.


“Umi, ini kenalkan teman sekolah Abi namanya Ivan,” ustadz Hanan memandang istrinya sambil mengarahkan jari jempolnya, “Beliau inilah yang menggagas pendirian rumah sakit kanker anak.”


Ustadzah Fatimah memandang Ivan sambil menganggukkan kepala. Ia pun merasa tersentuh saat suaminya menceritakan kisah hidup Ivan padanya beberapa waktu yang lalu.


“Kenapa kamu berada di sini?” ustadz Hanan memandang Ivan dengan bingung  karena melihat Ivan sendirian di depan gerai mainan anak.


“Kebetulan rekan kerja kita membawa anaknya membeli mainan di dalam,” jawab Ivan santai.


“Abi, aku mau mainan lobot,” Fajar sudah tidak sabar melihat ustadz Hanan yang masih berbicara dengan temannya.


Ivan memandang bocah lelaki yang menarik tangan ustadz Hanan. Perasaan sedih tiba-tiba hadir di hatinya. Tatapannya beralih pada si mungil cantik yang berdiri di samping ustadzah Fatimah.


Mata bulat dan senyum yang terukir di bibir mungil itu membuat perasannya semakin tak menentu. Seperti ada yang mengikat, tetapi Ivan tidak tau apa itu ....


“Anak-anak sudah tidak sabar. Kami permisi dulu,” ustadz Hanan dan istrinya pamit.


Ivan memeriksa beberapa email yang masuk di ponselnya. Segera menandai perjanjian kerja sama baru yang masuk dan perpanjangan kontrak iklan yang telah berjalan. Tak terasa waktu berlalu. Ia tak menyadari bahwa sudah dua jam ia duduk sendiri menunggu Danu dan Laura beserta putranya.

__ADS_1


“Lho masih di sini?” ustadz Hanan  kini berdiri kembali di hadapannya.


Ivan memandang kedua bocah yang tampak bahagia dengan memegang mainan di tangannya masing-masing.


Danu dan Laura bersama Bobby turut keluar dengan membawa tas besar. Kiri dan kanan mereka penuh dengan tas berisi mainan, lain lagi yang berada di tangan Bobby.


“Mommy, mainanku banyak sekali. Terima kasih uncle,” Bobby berlari menghampiri Ivan sambil menunjukkan mainan mobil edisi terbaru.


Ivan tersenyum sambil membelai kepala bocah lelaki itu.


Ustadz Hanan menatap Ivan sambil tersenyum misterius. Ia yakin ada sesuatu yang terjalin dari pemandangan yang terlihat di depannya.


Laura menatap kedua bocah yang tampak senang walau pun mainan yang berada di tangan mereka hanya satu dan harganya tidak seberapa. Ia mencibir melihat keduanya. Tatapannya beralih pada pasangan yang berdiri di samping Ivan. Ia yakin keduanya adalah orang tua si kembar.


“Terima kasih banyak mas Ivan. Bobby sangat senang sekali atas hadiah yang mas Ivan beri,” dengan bangga Laura menunjukkan beberapa paper bag besar yang berisi mainan terkini di hadapan ustadz Hanan dan ustadzah Fatimah serta si kembar.


“Kami permisi,” ustadz Hanan pamit undur diri, “Kasian si kembar sudah merasa capek seharian.”


Ivan merasa terenyuh melihat si kembar hanya memegang mainan sederhana yang berada di tangan mereka masing-masing.


“Dan, pilihkan mereka mainan seperti punya Bobby,” Ivan berinisiatif untuk memberikan hadiah pada si kembar yang mulai mencuri hatinya.


“Ga usah Tuan,” ustadzah Fatimah dengan cepat menolak, “Bundanya si kembar ga suka kalau kami memberikan hadiah mainan yang banyak.”


Ivan terkejut mendengar ucapan ustadzah Fatimah, baru ia sadar bahwa si kembar bisa menjadi penghubung antara ia dan Khaira.


“Assalamu’alaikum,” ustadz Hanan dan istrinya bersama si kembar undur diri dari hadapannya.


Laura melihat pandangan Ivan yang tak bergeming menatap kedua bocah yang berceloteh riang membawa mainan mereka dengan perasaan senang.  Ia mengerutkan kening melihat tatapan berbeda yang ditunjukkan Ivan pada bocah kembar itu.


Ia tak akan membiarkan Ivan memberi perhatian lebih kepada siapa pun kecuali putranya. Ia harus berjuang lebih keras untuk mendekatkan Bobby pada Ivan.


Tanpa menghiraukan keberatan Berli atas perbuatannya yang membawa Bobby ikut bersamanya ke pondok pesantren, kini mereka berempat sopir Berli sudah tiba di halaman parkir rumah ustadz Hanan.


Hari ini adalah peletakan batu pertama rumah sakit kanker anak. Dan ustadz Hanan mengajak semua pihak yang terlibat untuk berkumpul di kediamannya membaca doa bersama demi kelancaran pembangunan rumah sakit hingga selesainya nanti.


“Kenapa kamu membawa Bobby ke tempat kerja?” Berli melirik Bobby yang asyik bermain mobil tobot O di kursi belakang berdampingin dengan Laura.


“Pengasuhnya ada keperluan. Terpaksa ia ku bawa. Kalau pun pulangnya malam, aku akan membawanya menginap di hotel bersamaku,” tukas Laura cepat.


“Aku tidak menjamin lokasi ini ramah anak. Jangan sampai terjadi sesuatu yang mengganggu pekerjaan kita,”  Berli memelankan suaranya.


“Aku jamin itu,” Laura merasa puas karena Berli tidak memaksanya untuk mengantar Bobby pulang ke rumah.


Padahal selama ini Bobby biasa dibawa mantan mertuanya yang kebetulan tidak memiliki cucu. Tetapi saat Ivan memberikan perhatian khusus, Laura akhirnya tidak membiarkan Bobby untuk terus bersama sang nenek yang sangat menyayangi cucu satu-satunya.


Laura berusaha untuk mencari posisi duduk berdekatan dengan Ivan yang berada di antara para ustadz yang berada di barisan paling depan. Tapi melihat pakaiannya yang hanya menggunakan blaser dengan rok di atas lutut membuatnya sadar diri.


Ia masih menunggu di teras rumah sambil menggandeng  Bobby yang tampak bingung karena berada di tempat baru dengan ramainya manusia yang hadir untuk melihat peresmian dengan peletakan batu yang akan dilakukan oleh pejabat daerah setempat.


Sambil menunggu kehadiran pejabat yang berwenang, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan teriakan perempuan yang berada di halaman rumah ustadz Hanan. Sontak teriakan itu membuat para kyai dan ustadz yang berada di dalam rumah segera keluar untuk melihat apa yang terjadi.


“Tolong, ya Allah mas Fajar ....”  Mila ketakutan melihat Fajar yang jatuh terlentang.


Ustadz Hanan langsung berlari diikuti Ivan untuk mencari tau. Ia terkejut melihat Fajar terbaring  berlumuran darah karena menyenggol motor salah satu tamu undangan yang terlambat karena datang terburu-buru.


“Tolong Ustadz .... “  Mila menarik tangan ustadz Hanan dengan raut khawatir, “Bundanya barusan keluar.”

__ADS_1


“Tenang bu Mila. Kita akan membawanya ke rumah sakit,” ujar ustadz Hanan berusaha menenangkan.


“Aku akan mengambil mobil,” dengan cepat Ivan memutuskannya, “Kita akan membawanya ke rumah sakit terdekat.”


“Ustadz Hanan .... “  ustadz Helmi asisstennya menghadang langkah ustadz Hanan, “Biar saya yang mengurus ini. Anda sebagai tuan rumah harus mendampingi para pejabat yang hadir.”


Ustadz Hanan terdiam. Ia merasa apa yang dikatakan asistennya masuk akal. Tapi ia belum bisa mempercayai Ivan untuk membawa Fajar  bersamanya.


“Nanti Ustadz  bisa mengabari bundanya,” ustadz Helmi berusaha meyakinkan ustadz Hanan untuk membiarkan mereka mengurus Fajar.


“Baiklah.”


Kini Ivan bersama ustadz Helmi dan Mila babby sitternya membawa Fajar ke Puskesmas  terdekat dengan lokasi pondok.


Melihat pergerakan ustadz Helmi yang lambat membuat Ivan tidak sabar. Ia langsung meraih Fajar yang masih tidak sadarkan diri dalam pangkuan ustadz Helmi, dan menggendongnya menuju ruang IGD yang disediakan Puskesmas tersebut.


Pihak dokter yang bertugas siang itu langsung menangani Fajar di dalam ruangan serba putih. Mila terus meneteskan air mata melihat kondisi  anak asuhnya yang masih belum sadarkan diri.


Seorang dokter perempuan yang memeriksa kondisi Fajar tersenyum menenangkan Mila yang tidak bisa menahan kekhawatirannya dan terus menangis.


“Tenang ibu, ade kita ini hanya shock,” dr. Eli yang memeriksa Fajar berkata pelan.


“Tapi darahnya banyak Dokter .... “ Mila masih tetap dengan kekhawatirannya.


“Darahnya banyak karena kulit dede masih terlalu tipis, sehingga benturan pada jalan beraspal akan menyebabkan luka robek  sehingga menyebabkan memar dan darah mengalir.  Ibu jangan khawatir ya. Sebentar lagi dedenya pasti bangun.”


Ivan dan ustadz Helmi mendengarkan penjelasan dokter dengan seksama. Mereka mengamati setiap tindakan yang dilakukan dokter.


“Ayahnya boleh keluar untuk mengisi administrasi,” seorang petugas administrasi menghampiri Ivan dan ustadz Helmi yang masih menunggu di kamar periksa.


Ivan dan ustadz Helmi berpandangan satu sama lain. Akhirnya keduanya berjalan beriringan menuju ruang pendaftaran untuk mengisi adminsitrasi yang telah disediakan pihak Puskesmas.


Ivan melihat dengan seksama tulisan tangan ustadz Helmi yang mengisi kertas tentang biodata pasien. Matanya membulat saat  membaca nama kedua orang tua si kembar yang ditulis dengan lancar.


“Ibu Kandung  Aisya Setiawan, ayah kandung Abbas Setyawan .... “  jantung Ivan seolah berhenti berdetak membaca kertas putih yang masih berada di meja di hadapannya.


Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat dengan matanya. Jemari ustadz Helmi masih  menulis kelengkapan lainnya.


“Permisi, tolong dimana anak saya dirawat .... “ suara lirih perempuan mengembalikan  pikiran Ivan.


Ia terkejut melihat Khaira yang berdiri di ruang pendaftaran. Dengan cepat ia bangkit, tanpa meminta persetujuan Khaira ia langsung meraih tangannya dan membawanya menuju ruang periksa.


Khaira tidak bisa menolak perlakuan Ivan. Ia pasrah dengan yang terjadi saat ini. Keinginannya hanya satu bertemu putranya.


“Bunda ... bunda .... “ suara tangisan bocah mulai terdengar saat Ivan  dan Khaira membuka pintu ruang periksa.


“Mas ... ini Bunda sayang .... “ tangis Khaira langsung pecah melihat kondisi Fajar yang kini terbalut plester di jidat serta beberapa tempat di tangan dan kakinya.


Ia langsung memeluk Fajar dengan erat. Saat ustadzah Fatimah menghubunginya via ponsel, ia yang masih berada di minimarket langsung ke Puskesmas mengetahui kondisi Fajar yang dibawa oleh Mila dan ustadz Helmi.


Ivan tidak bisa menahan air matanya menyaksikan peristiwa ini. Ia menepuk dadanya dengan keras. Ia tidak tau harus berkata apa saat mengetahui bahwa Khaira menulis nama almarhum Abbas sebagai suaminya dalam dokumen keluarganya.


Tamparan terhebat  yang membuatnya seperti dijatuhkan dari tempat tertinggi hingga jatuh berkeping-keping tak tersisa. Ia kini teringat perkataan ustadz Hanan. Bagaimana ia bisa lupa, ketika ustadz Hanan menceritakan kedatangan Khaira tiga tahun yang lalu ke pondok dalam keadaan hamil.


"Mereka anak-anakku, si kembar adalah anakku  .... " bibir Ivan tak berhenti berucap dengan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir di wajahnya.


Ia merutuki diri sendiri karena terlambat mengetahui semuanya. Walau pun tanpa alat canggih, ia yakin bahwa si kembar adalah darah dagingnya yang telah disembunyikan olah keluarga besar istrinya. Ivan tersandar di pintu ruang periksa menyaksikan Khaira yang masih memeluk putra mereka dengan penuh kasih.

__ADS_1


__ADS_2