Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 53


__ADS_3

Di kamar  dengan berurai air mata Hani masih menunggu kedatangan Faiq. Ia benar-benar sedih, padahal hari ini adalah hari jadinya ke 29 tahun. Tetapi nampaknya kehadiran Hesti telah membuat Faiq melupakan hari kelahirannya.


Di saat mereka belum dekat, Faiq selalu datang dan mengajak ia dan anak-anak makan di luar untuk merayakan tanggal kelahirannya. Kemudian Faiq akan membawa mereka bermain di play ground, serta memberikan hadiah istimewa untuknya.


Hani mengelus kalung bermata ruby, yang merupakan hadiah ulang tahun dari Faiq. Air matanya mengalir deras merasakan kesedihan yang teramat dalam. Kini Faiq telah membagi hatinya untuk perempuan lain, dan itu sangat menyakitkan bagi Hani.


Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Hani masih menunggu Faiq di kamar mereka.  Ia akan berbicara dari hati ke hati dengan Faiq. Mengingat omongan Dewi yang mengatakan bahwa Faiq tidak akan menceraikan Hesti, karena mereka akan melanjutkan pernikahan dan melegalkan pernikahan siri mereka.


Dengan kejadian yang ia lihat di kamar Hesti, Hani  telah mengambil keputusan bahwa ia akan mengalah. Ia  sadar hal itu akan berdampak pada anak-anak, tapi Hani sudah siap untuk terluka. Bukankah  ia sudah terbiasa.


Hani tertawa lirih menertawai kebodohan yang ia lakukan. Ia  tidak akan menyesalinya, mungkin ini cara Allah membuatnya lebih kuat. Dan ia pasrah, ia akan  kuat demi anak-anak. Apalagi mengetahui Hesti telah hamil anak Faiq, tentu saja Faiq akan mempertahankan pernikahan mereka. Karena Faiq sangat menyayangi anak kecil. Sedangkan dirinya, sampai detik ini belum ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa ia mengandung buah hatinya bersama Faiq. Dalam kelelahan dan kesedihan menunggu Faiq akhirnya Hani tertidur.


Pagi itu seperti biasa Hani turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan pagi untuk si kembar, dan sarapan pagi bersama yang lain. Ruangan makan terasa sangat hening. Hani mengernyitkan dahi, padahal jam baru menunjukkan pukul 6.30.


“Nyonya nggak perlu menyiapkan sarapan untuk tuan Faiq. Tuan muda sudah pergi dengan nyonya Hesti dan bu Dewi. Tuan berpesan dia akan ke Surabaya selama tiga hari. Jadi nyonya tidak perlu menyiapkan makanan untuk tuan.”


“Deg…” Luka hati Hani semakin menganga lebar. Dengan langkah berat ia kembali ke kamar. Setega itukah Faiq terhadapnya. Pergi bersama Hesti dan ibunya tanpa sempat berpamitan padanya. Air mata kembali mengaliri pipi Hani yang masih bengkak karena menangisi nasibnya dan anak-anak semalaman.


Kini dirinya dan anak-anak sudah tidak berarti di sisi Faiq. Dan pagi ini semuanya terbukti. Ternyata Hestilah yang jadi prioritas Faiq sekarang.


Hani menggeleng-gelengkan kepala menyadari kebodohan dirinya, harus mengalami perasaan terkhianati untuk kedua kali. Apa gunanya bertahan, jika Faiq sudah tidak membutuhkan ia di sisinya. Hestilah wanita beruntung yang akan menemani Faiq, dan sekarang sedang mengandung buah cintanya.


“Nyonya…” Ningsih mengejutkan lamunan Hani.


“Maafkan saya, bi.” Hani buru-buru menghapus air matanya.


“Bukannya saya ingin membela nyonya dan anak-anak. Tapi perbuatan Tuan sangat keterlaluan. Ia membuat anak-anak takut…”


Hani mencerna ucapan Ningsih, “Terima kasih atas perhatian bi Ningsih.”


“Selama ini tuan sangat perhatian pada nyonya dan anak-anak. Saya tidak habis pikir, kenapa tuan berubah secepat ini.”


“Sudahlah, bi. Mungkin saya memang bukan yang terbaik untuk mas Faiq. Saya ini hanya seorang janda dengan 3 anak.  Mas Faiq dan Hesti memang pasangan yang tepat. Saya akan mengalah untuk mereka.”


“Tapi nyonya, bagaimana dengan tuan besar dan nyonya besar?” Ningsih merasa khawatir mendengar nada Hani yang putus asa.


“Ibu dan ayah akan mengerti.” Pandangan Hani menembus ke luar jendela. “ Jika mas Faiq sudah tidak menginginkan saya dan anak-anak, apalagi yang harus saya tunggu. Saya sudah terbiasa terluka. Dan ini tidaklah seberapa…”


Ningsih merasa sedih mendengar ucapan Hani yang tak berdaya menghadapi kemelut rumah tangganya.


“Terima kasih atas bantuan bi Ningsih selama saya dan anak-anak tinggal di rumah ini.” Hani menyadari kesedihan perempuan parobaya yang bekerja di rumah mertuanya itu.


Dengan langkah tak bersemangat Hani menuju kamar Hasya. Ia melihat si mungil sedang minum susu sambil bermain boneka kelinci imutnya. Air mata mengalir di pipi Hani menyaksikan pemandangan itu.


Anak-anaknya yang tak berdosa, harus menyaksikan pertikaian mereka setiap hari. Tentu itu tidak baik untuk tumbuh kembang mereka di masa depan. Faiq yang ia harapkan akan menjadi imam serta ayah yang baik untuk membimbing mereka, malahan kini semakin jauh dari jangkauan.


Perusahaan serta Hesti dan Dewi telah memonopoli diri Faiq, sehingga  ia dan anak-anak tidak pernah lagi memiliki waktu bersama. Hani kini menyadari semua kesabaran yang ia miliki untuk tetap di sisi Faiq hanya sia-sia. Untuk apa ia berjuang, jika hanya sendirian. Sedangkan anak-anak membutuhkan dirinya.


Hani melangkah menuju kamarnya. Ia langsung menghubungi Hanif. Beruntung Hanif langsung menyambutnya.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum, ada apa mbak pagi begini sudah menelpon?”


“Dek, bawa kami ikut bersamamu!” pertahanan Hani jebol. Ia tak bisa menahan tangisnya lagi. Ia sudah lelah menghadapi drama rumah tangganya. Kesabarannya sudah di titik nadir.


“Apa yang terjadi, mbak? Kebetulan aku sekarang  berada di Bandung bersama Wulan.”


“Secepatnya mbak tunggu.” Hani langsung menutup ponselnya dan berniat mengemasi pakaiannya untuk dimasukkan ke dalam travel bag.


Tekadnya sudah bulat. Terserah orang menilainya kurang sabar menjalani ujian rumah tangga, ia tak peduli.  Hani tidak memikirkan diri sendiri. Tapi ia memikirkan psikologis anak-anak di masa depan, karena ini kali kedua ia mengalaminya.


Hani membongkar pakaian yang berada di lemari pakaian. Selama ia menikah dengan Faiq, belum pernah ia shopping pakaian baru, sehingga tak banyak waktu terbuang untuk memindahkan ke dalam travel bag. Setelah semua pakaiannya bersih tak tersisa ia memanggil  Lina.


Lina kini berada di kamar Hani dan terkejut melihat beberapa travel bag sudah berderet rapi.  Ia  melihat pemandangan di depannya dengan bingung.


“Lin, mulai hari ini kita akan pindah dari rumah ini. Segera bereskan pakaian si kembar dan dede. Sebentar lagi Hanif akan datang menjemput kita.”


“Apa yang terjadi, mbak?” Lina memandang Hani dengan raut penuh tanya.


“Aku akan mengalah. Mas Faiq akan segera meresmikan pernikahannya dengan Hesti, karena Hesti telah mengandung anaknya.” Hani menjawab pertanyaan Lina dengan penuh kesedihan.


“Tapi mbak, bagaimana dengan tuan Faiq? Apa tuan mengizinkan mbak pergi membawa anak-anak untuk meninggalkan rumah ini.” Lina berusaha menahan Hani agar tidak gegabah meninggalkan Faiq bersama dengan siluman ular.


“Aku sudah tidak kuat, Lin. Mas Faiq sudah mengingkari janjinya. Tidak ada lagi yang ku tunggu di rumah ini. Kita akan berjuang dari awal.”


Lina merasakan kesedihan majikannya. Ia sendiri melihat bagaimana perlakuan Dewi serta Hesti yang selalu menghina Hani ditambah sikap Faiq yang tidak hangat seperti dulu.


“Baik, mbak.” Lina segera berlalu meninggalkan Hani yang merasa lelah membereskan semua pakaiannya.


“Apa yang terjadi, mbak?” Hanif memandang Hani dengan bingung melihat tas sudah tersusun rapi.


“Aku tidak ingin membicarakannya. Bawa semua barang-barangku. Bawa kami pergi kemanapun.” Hani tidak ingin menangis di depan Hanif dan Wulan. “Aku menyerah. Kamu benar. Perempuan itu telah merencanakan dari awal, dan ia berhasil menguasai mas Faiq.”


“Faiq berengsek!” Hanif meninju  pintu kamar Hani dengan emosi, sehingga tangannya mengeluarkan darah. “Aku akan membalas perbuatanmu. Kau telah menyakiti keluargaku.”


“Dek…” Hani meraih tangan Faiq yang terluka, “Mbak tidak apa-apa. Mbak harus kuat demi anak-anak. Janganlah kamu menambah kesedihan mbak.”


“Kemana bajingan itu?” Mata Hanif memerah menahan amarah. Ia kecewa melihat kakaknya tersakiti untuk kedua kali.


“Ia dan Hesti pergi ke Surabaya selama 3 hari.”  Jawab Hani cepat.


Wulan membersihkan  tangan Hanif yang berlumuran darah. Ia berusaha menenangkan Hanif yang masih terbakar emosi.


“Mbak minta kamu turunkan semua foto pernikahan yang ada di rumah ini hingga bersih tak tersisa.” Hani berkata dengan getir. Perasaannya sakit saat mengatakan itu.


“Mbak yakin?” Hanif menatap Hani yang tampak tegar.


“Ini sudah keputusan mbak.”


“Baiklah.” Hanif mengangguk dengan cepat. Ia tau, Hani bukan tipe orang yang suka dibantah. Ia akan menuruti semua keinginan saudara kembarnya itu.

__ADS_1


Dalam jangka waktu tiga jam tidak ada lagi figura yang berisi foto-foto Hani di rumah itu. Termasuk foto si kembar bersama Darmawan dan istrinya sudah bersih. Layaknya orang pindahan Hanif menelpon rental mobil untuk mengangkut semua barang Hani dan keponakannya dari rumah megah itu.


Karman serta Bagong yang merupakan satpam penjaga rumah terkejut melihat dua mobil box  memasuki rumah majikannya. Ia  tau Faiq tidak berada di rumah,  karena ia yang mengantarnya ke bandara jam 6 tadi pagi.


“Nyonya, apa yang terjadi?” Karman menghampiri Hani yang sudah bersiap untuk meninggalkan rumah.


“Maafkan saya, pak. Kami akan pindah. Mohon sampaikan permohonan maaf saya untuk ayah dan ibu.”


“Apakah den Faiq tau?” Karman memandang Hani penuh tanda tanya. Sedikit banyak ia mendengar cerita dari Ningsih istrinya yang bekerja sebagai ART di rumah itu.


“Nanti mas Faiq akan mengerti.” Hani memandang lelaki sepuh itu dengan perasaan sedih. “Saya pamit, pak. Dan mohon jangan beritahukan hal ini padanya. Saya tidak ingin mengganggu mas Faiq dan mbak Hesti.”


Karman menatap  dengan nanar barisan mobil yang kini meninggalkan rumah. Ia sangat menyayangkan sikap Faiq yang tidak tegas terhadap Dewi dan Hesti. Tapi mau bagaimana lagi, Hesti juga istri sah Faiq.


“Ah, pusing aku.” Karman memukul kepalanya sendiri. Ia hanya berharap semoga Faiq cepat menyadari kesalahannya. Ia sangat menyayangkan keputusan Hani untuk meninggalkan rumah. Tapi mau bagaimana lagi, kalau yang menjalani sudah tidak kuat, buat apa juga bertahan malah akan semakin menyakitkan.


Faiq yang sedang menghadiri pembukaan showroom mobil mewahnya jam 10.00 pagi itu, tiba-tiba merasakan mual luar biasa. Tanpa berkata apapun ia langsung berlari ke wastafel dan memuntahkan semua isi perutnya.


Hendra yang merupakan asisten Faiq  merasa heran dengan kelakuan bosnya. Dengan cepat ia menghampiri Faiq.


“Tuan apa yang terjadi dengan anda?” ia menatapnya penuh khawatir.


“Aku tidak tau, Hen. Sudah dua hari ini aku sering mual dan muntah.” Faiq masih terpaku di depan wastafel itu. Rasa lemah menghampirinya. “Apa masih ada kegiatan lain yang harus aku ikuti?”


“Begitu pengguntingan pita selesai, anda hanya perlu bertemu dengan beberapa klien yang sudah memesan mobil dari 3 bulan yang lalu.”


“Baiklah. Aku langsung ke kantor saja. Tamu yang datang bawa ke ruanganku.” Faiq berjalan meninggalkan Hendra dan memasuki lift menuju lantai 3 ruang kerjanya.


Faiq mengamati kantor barunya. Ia merasa puas dengan pencapaiannya baru-baru ini. Showroom di Surabaya benar-benar di luar ekspektasinya. Kantornya sangat bagus dan penataan ruangan sesuai keinginannya. Hanya kurang satu, Faiq memandang setiap sisi ruangan berusaha mencari kekurangan yang mengganjal di pikirannya.


“Oh ya. Ruangan ini akan lebih hidup jika ku pasang foto Hani dan anak-anak.” Sekilas senyum tipis tersungging di bibir Faiq.


Ponsel di saku celananya bergetar. Faiq langsung meraihnya. Ia berharap Hani yang menghubunginya. Entah kenapa begitu sampai di Surabaya wajah Hani dan anak-anak berkelebat di kepalanya. Tapi Faiq harus menelan kekecewaan, bukan Hani yang menghubunginya, tetapi Hesti.


“Assalamu’alaikum…” Faiq menjawab panggilan Hesti.


“Waalaikumussalam. Mas sudah sampai di Surabaya. Kenapa tidak menghubungiku. Aku dan ibu sudah sampai di rumah. Apa mas masih merasakan mual kaya tadi pagi?” serentetan pertanyaan Hesti seperti kereta api langsung mengalir di telinga Faiq.


“Aku baik-baik saja. Syukurlah kamu dan ibu sudah tiba rumah. Sampaikan salamku padanya. Saat aku kembali aku akan menghubungimu.”


“Ya, mas. Jangan lupa jaga kesehatanmu. Kalau perlu periksa ke dokter.”


“Baiklah.” Faiq langsung memutus telpon dan mengalihkan panggilan ke nomor Hani.


Hesti merasa kesal karena ponselnya diputus sepihak. Tapi senyum terkembang di wajahnya. Ia yakin, keinginannya menjadi nyonya Al Fareza akan segera terwujud. Saran dan bantuan ibunya benar-benar bermanfaat.


Hesti mengusap perutnya yang rata. “Tak lama lagi aku akan merasakan mengandung darah dagingmu, mas. Dan aku akan menunggu malam pertama kita.”


 

__ADS_1


 


__ADS_2