
Khaira merasa berat untuk membuka mata. Kelopak matanya serasa dilem satu sama lain. Ia baru dapat memejamkan mata setelah salat Subuh karena Ivan masih ingin bermanja dengannya.
Samar-samar ia mendengar suara berisik, tapi matanya masih terlalu berat untuk diajak kompromi. Khaira tetap memanjakan matanya dengan mengindahkan segala keributan yang berada tidak jauh darinya. Beberapa saat kemudian suasana kembali tenang dan hening.
Ia merasakan pergerakan di sampingnya. Badannya terasa ringan melayang di udara dan akhirnya mendarat di tempat yang empuk. Khaira tetap tak peduli. Ia hanya ingin mengistirahatkan raganya yang masih terasa lelah.
“Sayang .... “ suara bariton dengan kecupan hangat ia rasakan mendarat di pipinya.
“Hmm .... “ Khaira menjawab seperlunya dan merapatkan selimut mengusir rasa dingin yang kembali menyerangnya tanpa membuka kelopak mata yang masih erat menempel enggan untuk melihat sekelilingnya.
“Untung saja si kembar sudah dibawa mbak Ira .... “ sayup-sayup suara Ivan terdengar di sampingnya.
Dengan pelan, Ivan mengangkat kepala istrinya menyusupkan tangannya menjadi bantalan dan meletakkannya kembali secara perlahan.
Ia tersenyum mengingat kedatangan Ira dan Ariq yang akan sarapan bersama dengan Ali sekeluarga sekaligus membawa si kembar untuk berwisata. Karena Khaira masih tertidur, mereka meminta Ivan untuk menyusul dimanapun keberadaan mereka untuk melanjutkan tour bersama anak-anak
Karena rasa dingin belum hilang, Khaira membalik badan dan memeluk Ivan dengan erat untuk menemukan kehangatan yang membuatnya merasa nyaman. Aroma parfum menyeruak di penciumannya membuat senyum tipis terbit di sudut bibirnya. Ia semakin menyorokkan kepalanya di dada suaminya.
Ivan melihat kelakuan istrinya hanya tersenyum dik*lum. Ia merasa gemes dan mencium kepala Khaira yang wangi lembut aroma shampo yang masih terasa segar. Ia memejamkan mata menikmati ketenangan di pagi menjelang siang bersama bidadari tersayang. Saat ini ia hanya membiarkan semua yang diinginkan istrinya tanpa ingin yang lain. Karena Khaira telah memberikan apapun yang ia butuhkan dan melayaninya hingga tak menginginkan yang lain lagi.
“Mas .... “ Khaira duduk di tempat tidur untuk membangunkan Ivan yang terlelap dengan nafas yang teratur.
Ia memandang lekat wajah menawan yang begitu memuja dan memanjakan dirinya serta si kembar setelah mereka kembali bersama. Ia berharap tidak ada lagi ujian pernikahan yang akan membuat mereka terpisah, dan hanya kebahagiaan yang senantiasa membersamai mereka.
Ivan membuka mata perlahan\, ketika merasakan kecupan hangat mendarat di bibirnya. Ia menahan tengkuk Khaira dan memperdalam ciuman istrinya dan mel*matnya dengan mesra. Aroma wangi tubuh istrinya menyeruak dalam penciumannya membuat ga*rah Ivan kembali.
“Mas .... “ Khaira menahan pergerakan tangan suaminya yang merayap dengan lincah.
Ia sudah berpakaian rapi untuk menyusul saudaranya yang lain. Dari pembicaraan dengan Rheina beberapa saat yang lalu, ia mengetahui bahwa rombongan mereka kini berada di Gerome Natural Park.
Khaira tidak ingin melewatkan liburan plus mereka. Gak lucu jadinya jika ia hanya menghabiskan waktu di kamar tanpa menikmati wisata dan keindahan Cappadocia yang sekarang banyak menjadi tempat impian para pelancong.
Ivan tak membiarkan Khaira terlepas begitu saja. Has*atnya sudah naik ke kepala. Entah kenapa saat berdekatan dengan istrinya ia tidak bisa menahan naluri alami yang begitu kuat dan harus ia salurkan saat itu juga.
“Bundaa .... “ suara Ivan semakin berat dengan tatapan penuh damba.
Tangannya sudah menemukan spot favoritnya. Sementara lengan kokohnya yang sebelah kanan merangkul pinggang ramping Khaira hingga membuat istrinya tidak bisa berkutik.
Kilat garah dapat Khaira lihat dari kedua sorot mata suaminya membuat Khaira menghentikan gerakan yang ingin menolak keinginan Ivan. Nafasnya mulai tak beraturan akibat sentuhan lembut jemari kokoh yang begitu memanjakan dirinya membuat ****** halus tak bisa ia tahan keluar dengan alami dari mulutnya.
Ivan merasa bangga dalam hati melihat istrinya yang mulai terpancing dengan perbuatannya. Ia memejamkan mata dengan tangan yang masih bergerilya.
Dengan sekali gerakan Ivan berhasil mengungkung tubuh wangi istrinya untuk kembali mengikuti alur permainan yang ia inginkan. Tak ada puasnya bagi Ivan untuk mengekplor apa pun yang ada pada istrinya. Ia hanya ingin mencurahkan segenap rasa yang ada dan memanjakan sang istri dengan segala kemampuan dan rasa cinta yang ia miliki. Sudah tak ada keinginan dalam dirinya untuk berbagi dengan orang lain. Hati, jiwa, dan raganya yang utuh hanya milik istrinya seorang. Ia telah meyakinkan diri, tidak ada siapa pun yang berhak atas semua yang ia miliki kecuali istri dan anak-anaknya.
Khaira mencubit pinggang suaminya dengan kesal setelah keduanya berjalan beriringan keluar dari kamar saat jam sudah menunjukkan pukul 10 siang untuk wilayah setempat. Bagimana ia tak merasa kesal, hingga di kamar mandi pun sang suami masih ingin bemanja dengan mengekplor setiap sudut yang ada.
“Cup .... “ Ivan melayangkan kecupan di pipi istrinya melihat raut merajuk yang tergambar di mata bening sang istri.
Khaira melotot memandang tingkah suaminya yang santai dengan senyum cerah yang membuat kadar ketampanannya berkali lipat. Jemari tangannya berada dalam genggaman Ivan dan tak terlepas walau sedetikpun.
“Hari ini saya akan menjadi supir untuk mengantar kemana pun dan memenuhi semua keinginan sang ratu,” Ivan berkata sambil membungkukkan badan saat keduanya sudah di gerbang hotel dengan sebuah mobil mewah terparkir yang disiapkan oleh pelayan hotel.
Ia sudah menghubungi pihak hotel untuk menyiapkan mobil terbaik yang akan membawanya dan Khaira menyusul rombongan yang sudah mengelilingi beberapa tempat.
Khaira tak bisa menahan senyum atas tingkah konyol suaminya yang tak peduli dengan tatapan beberapa bule yang melihat ke arah mereka.
Melihat senyum terbit di wajah ayu istrinya membuat Ivan merasa puas. Ia tak berkedip melihat wajah menawan yang telah mengikat hatinya. Rasanya ia tak ingin berbagi keindahan ciptaan sempurna sang pencipta. Ia dapat melihat beberapa lelaki bule yang memandang wajah istrinya yang tampak berbinar cerah dengan senyum merekah sempurna. Dunia seolah berhenti menikmati keindahan yang nyata di depan mata.
“Apalagi mengantar ke tempat tidur, akan hamba lakukan dengan senang hati .... “ Ivan berbisik sambil meniup cuping telinga istrinya.
Senyum lebar yang terbit di wajah Khaira langsung sirna. Ivan segera mengangkat tubuh ramping istrinya menghindari tatapan nakal para lelaki bule pada Khaira dan mendudukkannya pada bagian depan di samping supir.
Setelah menutup pintu mobil, Ivan segera memutar dan membuka pintu di samping kemudi. Hari ini ia siap menjadi supir dan akan mengantar sang istri kemana pun yang ia mau.
Keduanya kini berada di Gerome Natural Park yang merupakan salah satu destinasi favorit di Cappadocia. Di sini, mereka menikmati pemandangan dari bawah untuk melihat Hot Air Balloon Ride. Para pengunjung yang ingin menikmati untuk melihat panorama Cappadocia dari atas biasanya sejak pukul 2 dinihari telah datang untuk merasakan sensasi naik balon udara.
Khaira tidak melihat keberadaan si kembar bersama rombongannya. Ia yakin mas Ariq dan rombongan sudah mengelilingi beberapa tempat wisata. Keduanya mulai berjalan menyusuri area wisata yang juga ramai pengunjungnya.
Di Gerome National Park ini mereka juga mengunjungi Gerome Open Museum yang terdiri dari 11 gereja kuno. Gereja-gereja ini memiliki arsitektur yang unik bergaya Eropa klasik. Detail yang begitu rapi dengan pahatan di atas batu putih khas Gerome juga terdiri dari berbagai lukisan membuat Ivan dan Khaira merasa kagum akan keindahannya.
__ADS_1
Keduanya mampir di masjid terdekat untuk melaksanakan salat Zuhur begitu waktu salat telah tiba. Ivan membawa Khaira ke restoran yang ada di sekitar masjid untuk menikmati makan siang.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan ke Land of Fairy Chimney atau dalam bahasa Indonesia dikenal dengan Daratan Cerobong Peri. Tempat ini merupakan salah satu destinasi favorit Cappadocia. Yang unik dari tempat ini sesuai namanya, berisikan bebatuan-bebatuan yang menjulang tinggi bak cerobong asap.
Bebatuan-bebatuan yang berbentuk goa dijadikan masyarakat setempat sebagai tempat tinggalnya. Saat senja hari, pesona di Land of Fairy Chimney ini pun semakin elok dan justru terlihat bak negeri dongeng.
Pasabag atau cara mengucapkannya dengan Pah-shah-bah merupakan daerah yang terkenal dengan kecantikan akan pemandangan yang berisikan bebatuan besar yang menjulang tinggi setinggi ratusan kaki. Bentuk-bentuk bebatuan di sini pun cukup unik, yakni menyerupai jamur raksasa karena pada ujungnya berbentuk kerucut.
Tak hanya menyerupai jamur, bebatuan di sini juga ada yang berbentuk topi pendeta, merpati, dan lain sebagainya. Pada zaman dahulu, Pasabag dijadikan sebagai tempat pengasingan para biarawan dari dunia luar.
Perjalanan mereka berakhir di Matis Carpet Weaving Village yang merupakan pusat olej-oleh dan cindera mata yang berada di Cappadocia. Di sini dijual berbagai macam karpet dengan kualitas yang sudah terkenal seantero dunia.
Karpet-karpet khas Cappadocia terkenal dengan proses pembuatannya yang dilakukan secara manual, sehingga harga yang ditawarkan lumayan tinggi. Tak hanya karpet, di sini juga tersedia berbagai macam pernak-pernik lainnya seperti baju dan keramik.
Ivan mendampingi sang istri yang tampak antusias melihat segala macam oleh-oleh khas Cappadocia yang tersedia. Walaupun tubuhnya sudah dipenuhi keringat yang mengalir tak membuat semangatnya luntur.
“Mas capek?” Khaira menatap suaminya yang masih berdiri di sampingnya dengan penuh perhatian.
Ivan menggelengkan kepala dengan senyum terbaik yang ia berikan pada sang istri. Ia tidak ingin mengecewakan kebahagiaan yang terpancar di wajah istrinya. Beberapa paper bag yang berisikan pernak-pernik hasil belanjaan Khaira telah memenuhi tangan kanan dan kirinya namun ia tak menunjukkan raut kelelahan.
Walau tubuhnya kini baru merasakan lelah akibat olahraga malam yang dilanjutkan dengan sarapan istimewa di pagi menjelang siang, tak menyurutkan langkah Ivan untuk mengikuti langkah sang istri yang masih melanjutkan mencuci mata menikmati segala keunikan yang tersedia di pusat oleh-oleh tersebut.
Menjelang Magrib mobil yang membawa mereka kembali ke penginapan. Ternyata rombongan Ariq juga baru tiba dengan dua buah mobil terparkir bersamaan dengan kedatangan mereka.
“Bundaaa ... ayah .... “ begitu Ivan dan Khaira keluar dari mobil sewaan suara kenes si kembar sudah mengejutkan mereka.
“Dedek ... masss ..... “ Khaira langsung merangkul bocil kembar kesayangannya ke dalam pelukan.
“Gimana honeymoon-nya?” Rheina berbisik di telinga Khaira begitu ia berdiri di samping adik iparnya, “Aku dan mas Ali siap menampung si kembar malam ini.”
“Apaan si mbak!” Khaira mengerucutkan bibirnya mendengar perkataan Rheina. Ia merasa malu karena semua pandangan beralih padanya.
“Katanya mau bikin adik buat si kembar,” Rheina mengedipkan matanya menggoda Khaira yang cemberut.
“Sini sama ayah. Bunda masih capek,” ujar Ivan pelan sambil meraih Fajar dan Embun dari pelukan Khaira dan menggendongnya di kiri dan kanan.
Dengan cepat Khaira meraih paper bag yang ditinggalkan Ivan karena menggendong si kembar menuju kamar penginapan mereka. Ia melihat saudaranya juga membawa paper bag yang sama dari tempat-tempat yang telah mereka kunjungi.
Saat makan malam, semuanya berkumpul di restoran yang berada di area penginapan. Khaira terkejut melihat kehadiran Junior diantara saudaranya yang lain. Ia dan keluarga kecilnya terlambat datang karena si kembar yang masih asyik bermain bersama sang ayah.
Keduanya tak ingin melewatkan waktu bersama sang ayah untuk mencoba mainan baru yang telah dibelanjakan Ali seharian tadi. Ivan dengan antusias menemani Embun dan Fajar, karena ia pun merasa rindu seharian tidak bersama kedua buah hatinya.
“Kalian ini sempat-sempatnya curi waktu,” sindir Ira sambil tersenyum penuh makna saat Khaira menghenyakkan tubuh di sampingnya.
“Semua tak seperti yang mbak pikirkan,” jawab Khaira lirih, “Si kembar mencoba mainan baru bersama ayahnya. Lha, ayahnya kalo udah bersama si kembar sampai lupa waktu.”
“Iyain aja napa?” goda Rheina sambil mengedipkan mata pada Khaira.
Semua yang berada di meja makan hanya menyimak pembicaraan ketiga perempuan yang mendominasi saling tidak mau mengalah. Hingga akhirnya suara Ariq menghentikan omongan tak bermakna diantara ketiganya.
“Jadi Junior, apa yang menyebabkan kedatanganmu kemari?” suara Ariq membuat semua pandangan mengarah pada Junior.
“Aku mengikuti bos yang ingin bertemu kliennya yang seorang pengusaha Farmasi di sini,” Junior menjelaskan dengan gamblang maksud dan tujuan kedatangannya yang dadakan tanpa membawa istrinya.
“Bagaimana keadaan Afifah?” Ira langsung memberondongnya.
“Sekitar satu mingguan diperkirakan dokter akan melahirkan,” ujar Junior dengan senyum bahagia yang tergambar jelas di wajahnya.
Ali menghela nafas, “Maafkan kami yang tidak bisa mampir untuk menjenguknya. Lusa kami harus segera kembali. Ada meeting bulanan yang tak bisa ditinggalkan.”
Ariq mengangguk menyetujui perkataan saudaranya. Tatapannya beralih pada Ivan dan Khaira yang masih mendengarkan pembicaraan mereka.
“Bagaimana Ra? Kalian bisa mampir mengunjungi Afifah?” Ariq bertanya penuh harap.
Tatapan Ivan beralih pada sang istri. Apa pun yang akan dikatakan Khaira ia siap mengikuti. Ia tau, kedua saudara ipar perempuannya dalam kondisi berbadan dua dan tidak mungkin untuk melakukan perjalanan ke Tokyo lagi.
“Jika bundanya si kembar siap. Saya akan mengikuti kemana pun,” tegas Ivan.
Khaira tersenyum mengangguk menyetujui perkataan suaminya. Ia pun berkeinginan yang sama untuk mengunjungi Afifah mumpung mereka masih belum kembali ke Indonesia. Kalau sudah kembali, dan berkutat dengan kegiatan pondok, maka akan sulit untuk meninggalkan jadwal yang sudah tersusun dengan rapi.
__ADS_1
Mereka masih asyik berbincang ketika sudah menyelesaikan makan malam. Rheina langsung menghubungi Hasya dan Azkia melalui vc. Keduanya tampak heboh dengan memesan berbagai oleh-oleh perjalanan.
Ali hanya tersenyum mendengar suara Hasya yang tampak bersemangat sambil menyapa mereka semua. Azkia dan Fatih turut bergantian berbicara dengan Rheina. Suasana benar-benar meriah.
Masih dalam percakapan hangat penuh canda, deringan ponsel Ariq membuatnya menghentikan percakapan dengan Junior.
“Assalamu’alaikum .... “ Ali langsung mengucap salam begitu panggilan terhubung.
“ .... “
Wajahnya langsung berubah kaku membuat yang lain terdiam melihat perubahan yang terjadi pada raut Ali.
“Urus saja sesuai aturan yang berlaku,” Ali langsung menyimpan ponselnya dengan raut dingin.
“Kenapa mas?” Rheina menatap suaminya dengan rasa khawatir.
Pandangan Ali beralih pada Ivan dengan sorot tajam. Ivan yang melihat tatapan iparnya yang seperti menyimpan sesuatu masalah jadi mengernyitkan dahinya.
“Ada masalah?” Ariq tak bisa menahan rasa ingin tahunya karena suasana yang tadinya hangat menjadi hening tanpa suara.
“Apa yang terjadi mas?” Junior semakin penasaran melihat sikap Ali yang penuh teka-teki.
“Sebaiknya bawa anak-anak kembali ke kamar,” suara Ali kembali menginterupsi.
Semua tatapan mengarah padanya dengan penuh kekhawatiran. Ali tersadar dengan sikapnya yang membuat semua merasa cemas. Senyum tipis terbit di wajahnya. Ia tidak ingin membuat keluarganya cemas karena berita yang ia dengar bukanlah sesuatu yang fatal.
“Jangan khawatir, bukan apa-apa .... “ Ali menormalkan raut wajahnya sambil mengulas senyum, “Sekarang sudah mulai larut, kasian anak-anak sudah kecapean.”
“Baik mas,” Ivan menjawab dengan cepat.
“Antarlah Rara dan si kembar, kemudian kembali ke mari,” Ali berkata pelan membuat Ivan mengerutkan jidatnya.
Ia yakin ada hal penting yang membuat Ali memintanya untuk kembali duduk bersama dengan yang lain.
“Kenapa lama?” tatapan tajam Ali membuat Ivan senyum kecut.
“Biasa mas, si kembar rewel kalo udah mau tidur. Banyak dramanya .... “ Ivan mengusap kepalanya pasrah akan tatapan tajam iparnya.
“Si kembar atau mas Ivan yang curi kesempatan?” Junior berkata seenaknya sambil tertawa kecil membuat Ali menatapnya tajam.
“Siapa yang menelponmu tadi?” Ariq tidak mempedulikan ucapan Junior karena ia benar-benar penasaran dengan perubahan sikap Ali.
“Petugas rumah sakit mengatakan bahwa Claudia menjatuhkan diri dari balkon rumah sakit. Kondisinya meninggal dalam keadaan mengenaskan....”
“Innalillahi wainnailaihi rajiun .... “ Ariq berucap seketika. Ia tidak menyangka Claudia telah mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu.
“Aku merasa tidak puas, karena dia tidak mendapatkan hukuman yang setimpal,” Ivan berkata dengan kesal dan penuh amarah.
“Kita tidak bisa berbuat apapun. Toh, semuanya telah terjadi. Aku meminta pihak rumah sakit untuk mengurus semuanya, karena tidak ada saudaranya yang bisa dihubungi,” Ali berkata dengan pelan.
Ia dapat melihat raut kemarahan yang tergambar di wajah Ivan. Claudia telah menciptakan banyak permasalahan dalam hidupnya, jadi wajar kalau Ivan merasa geram karena ia tidak mendapatkan hukuman yang setimpal atas semua perbuatan yang ia lakukan. Tapi mau bagaimana lagi semua telah terjadi.
“Sudahlah ... berdamailah dengan semuanya. Semoga kehidupanmu dan Rara selalu dalam lindungan Allah,” akhirnya Ariq berkata pelan sambil menepuk pundak Ivan berusaha meredakan kemarahan yang belum hilang dari raut wajahnya.
“Benar mas. Lupakan semua perbuatan mantanmu itu....”
Ali menatap Junior dengan tajam mendengar ucapannya yang membuat rahang Ivan mengeras.
“Semoga mas Ivan, mbak Rara dan si kembar selalu berbahagia .... “ Junior segera mengucapkan kalimat penghiburan dengan dua jari lambang damai pada Ivan yang akhirnya menghela nafasnya dengan berat.
“Sudah saatnya kalian menata masa depan yang lebih baik. Semoga tidak ada lagi gangguan dalam rumah tangga kalian,” ujar Ali karena melihat Ivan tak bereaksi.
“Jadikan semua peristiwa lalu sebagai pengalaman kalian dalam menempuh hidup yang lebih baik di masa depan,” Ariq menambahkan perkataan Ali.
“Peace .... “ Junior berkata sambil memamerkan senyum.
Tingkah Junior tak ayal membuat Ariq dan Ali tak bisa menahan senyumnya. Kehadirannya memang selalu membuat suasana jadi meriah, kapanpun dan dimanapun.
***Maafkan otor ya yang baru sempat update. Banyak kerjaan yang membuat otor belum bisa meluangkan waktu. Tapi mudah-mudahan otor bisa meneruskan dunianya keluarga kecil Ivan dan Rara. Sayang untuk reader semua ....***
__ADS_1