Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 60


__ADS_3

Sementara itu di kantor, Faiq sedang berbicara dengan Rizwar pengacara muda perusahaan. Ia memerlukan bantuan Rizwar untuk memproses perceraiannya dengan Hesti. Ia tau, pernikahan di bawah tangan, proses perceraiannya lebih simple dan tidak memerlukan waktu yang lama.


Tetapi Faiq sadar, Dewi ibu mertuanya adalah tipe orang yang tidak mau rugi. Jadi ia akan menggandeng Rizwar dan tetap memberikan harta gono-gini sebagai pertanggung jawabannya.


“Kapan kau akan menjatuhkan talaknya?” Rizwar ingin kejelasan Faiq setelah mendengar kronologis pernikahan Faiq dan Hesti.


“Sabtu ini aku akan membawamu ke rumah orangtuanya di Banten.” Faiq sudah memikirkannya matang-matang. Dan ia meminta Rudi untuk mengumpulkan keluarga besar Hesti di sana, seperti saat pernikahan dadakan mereka terjadi.


“Tiga hari dari sekarang.” Rizwar mulai menghitung hari untuk menyusun jadwal kegiatannya. Selain sebagai lawyer perusahaan ia juga memiliki perusahaan sendiri. “Aku akan membatalkan jadwal bertemu klienku di hari Sabtu nanti.”


“Terima kasih atas bantuanmu.” Faiq menjabat tangan Rizwar dengan erat.


Arman masuk ke dalam ruangan. Ia terkejut mengetahui Faiq sudah berada di kantor. Padahal baru sejam yang lalu ia ditelpon Darmawan yang kini berada di Italia menanyakan keberadaan Faiq. Dan ia mengatakan bahwa Faiq sedang dalam keadaan kurang sehat sehingga tidak bisa datang ke kantor.


“Selamat siang, Den.” Arman menundukkan kepalanya yang dibalas Faiq dengan anggukkan.


“Duduklah, pak Arman.”  Faiq membolak-balik berkas di atas mejanya. “Saya telah membaca laporan pemasukan dan pengeluaran hotel Horisson. Laporan PT. Horisson Motorcar  juga telah saya periksa. Menurut bapak, dimana lekat kejanggalan kedua laporan ini?”


Arman mengambil berkas di atas meja dan membacanya secara perlahan.  Ia memang sudah mencurigai selama dua bulan terakhir ada permainan di bagian keuangan dan pemasaran. Tapi ia masih mengumpulkan beberapa bukti untuk menangkap pelaku utama yang telah memalsukan laporan perusahaan.


“Baiklah, saya serahkan kasus ini kepada pak Arman. Saya percaya loyalitas bapak pada perusahaan ini.”


Terima kasih, den Faiq.” Pak Arman menatapnya dengan dalam, “Saya juga mengucapkan terima kasih atas bantuan den Faiq pada Hendra. Bulan depan mereka akan menikah.”


“Syukurlah.” Faiq tersenyum tipis, “Tapi saya mohon maaf tidak bisa hadir di pernikahan Hendra. Saya akan mentransfernya ke rekening Hendra.”


“Bantuan den Faiq dan tuan Darmawan sudah sangat banyak bagi keluarga kami. Hanya terimakasih yang sangat besar  dapat saya sampaikan atas kebaikan den Faiq dan tuan Darmawan.”


Faiq tersenyum, “Pengorbanan pak Arman untuk perusahaan juga sangat besar. Dan kami tidak bisa membantu melebihi kesanggupan kami.”

__ADS_1


Handoko memasuki ruangan, “Apa yang bisa saya siapkan untuk anda, pak. Sebentar lagi jam makan siang. Sesudah itu ada rapat bulanan.”


Aroma nasi Padang tiba-tiba memenuhi penciuman Faiq. Bayangan nasi berkuah santan kental berkelebat di pelupuk matanya.


“Han, menu siang ini aku ingin makan nasi Padang. Tolong pesankan.” Faiq merasakan keinginan yang kuat untuk menikmatinya.


Tanpa berkomentar Handoko mengangguk menuruti keinginan bosnya. Ia segera keluar dari ruangan Faiq untuk meminta OB mencarikan pesanan bosnya.


Hesti merasa gusar sendirian di rumah mewah itu. Sudah dua hari Faiq tidak pulang ke rumah. Panggilannya melalui ponsel masuk, tapi tidak ada jawaban. Hesti semakin kesal. Padahal ia sudah merencanakan sesuatu untuk membuat Faiq mempertahankannya dalam pernikahan.


Ia mondar-mandir di dalam kamar. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Hesti benar-benar putus asa, Faiq berusaha menjauhinya dan tidak terlibat apapun dengannya. Walau ia tau, Hani dan anak-anak dibawa Hanif pergi, tapi menurut Marni, Faiq sedang berusaha mencarinya.


Marni juga menceritakan kalau Faiq mengalami morningsickness setiap pagi. Ia tidak bisa berdekatan dengan perempuan. Jika ada yang nekat mendekatinya, Faiq akan merasa mual, dan muntah. Akhirnya  sesama art  telah menyimpulkan kemungkinan Hani sedang mengandung.


Kekesalan Hesti semakin meningkat. Harusnya ia yang hamil. Tetapi Hani kini mengandung buah cintanya dengan Faiq, akan semakin susah ia mengamankan posisi sebagai nyonya Al Fareza.


Faiq sengaja tidak pulang ke rumah. Selama dua hari dia menginap di kantor. Di dalam ruangannya ia memiliki sebuah kamar untuk bersitirahat. Ia meminta bantuan Arbi yang seingatnya sangat mahir untuk meretas aplikasi.


Setelah ditemukan kebocoran laporan, keesokan harinya, Faiq langsung mengadakan rapat terbatas. Manajer Keungan, Sudarmin yang merupakan orang kepercayaan Darmawan dan Manajer Pemasaran Gamawan telah bekerja sama memanipulasi laporan. Mereka yakin Faiq sebagai pemain baru tidak akan menemukan kesalahan dalam laporan yang mereka buat. Tanpa kompromi, Faiq memindahkan keduanya menjadi staf biasa di perusahaan, karena keduanya memohon agar tidak dipecat.


Mengingat jasa mereka yang telah mengabdi selama puluhan tahun di perusahaan, Faiq mengabulkan permohonan keduanya. Dengan perjanjian tidak akan ada kenaikan jabatan lagi, hingga  masa pengabdian mereka berakhir. Satu permasalahan sudah diatasi.


Perjuangan Faiq untuk menemukan keberadaan Hani dan anak-anaknya belum membuahkan hasil. Sampai  detik ini, Arbi belum berhasil melacak keberadaan Hani ataupun Hanif. Mereka telah mengganti nomor ponsel, sehingga siapapun tidak ada yang mengetahuinya. Faiq sudah berusaha mendatangi tempat usaha Hani yang dipercayakan untuk dikelola Mawar dan suaminya. Mereka berdua juga tidak banyak membantu, karena Hani hanya menghubungi mereka lewat email.


Faiq memperpanjang sepertiga malamnya untuk mengadu pada sang Khalik. Di atas sajadahnyalah ia bisa mengeluarkan segala kegalauan dan kesedihan yang sedang melanda. Ia tidak berani menceritakan kepergian Hani dan anak-anak kepada kedua orangtuanya. Ia tak ingin membuat keduanya sedih.


Setelah puas menumpahkan segala kegundahan hatinya, Faiq segera ke kamar mandi. Esok hari ia sudah janjian bersama Rizwar dan Rudi untuk mengantarkan Hesti kembali ke rumah orang tuanya.


Pada sore sebelumnya Faiq bersama Rudi dan Rizwar sudah menyiapkan beberapa berkas  yang berisikan harta gono-gini yang akan diberikan Faiq selama hampir hampir 2 bulan Hesti menjadi istrinya. Walaupun dengan perdebatan kecil antara ketiganya, yang tidak rela Faiq memberikan   fasilitas kepada Hesti, tetapi Faiq tetap bersikukuh, karena ia tidak ingin dikemudian hari Hesti menuntutnya, yang tentu akan mengganggu dirinya dan keluarganya.

__ADS_1


Hesti yang baru terlelap, merasa kesal karena tidurnya terganggu mendengar suara pesan masuk di ponselnya.  Ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 4 pagi.


“Siapa sih yang chat pagi buta begini?” Dengan gusar ia meraih ponsel yang terletak di atas nakas samping tempat tidur. Matanya langsung berbinar melihat nama My Hubby yang tertulis di sana.


Senyum cerah terbit di wajah Hesti, membaca chat Faiq yang memintanya untuk berkemas karena ia akan mengajak Hesti pergi tepat jam 8 pagi. Dengan semangat 45 Hesti bangkit dari peraduan. Ia ingin berias secantik mungkin untuk menunjukkan penampilan terbaiknya pada Faiq.


Faiq bersama Rizwar sudah berpakaian rapi untuk bepergian ke suatu tempat, Rizwar mengendarai sendiri mobil yang telah dipersiapkan Faiq untuk Hesti. Faiq segera menghubungi Rudi untuk mengikuti perjalanan mereka menuju kediaman orang tua Hesti. Setelah kedatangan Rudi, keduanya segera berangkat menuju kediaman Faiq  untuk menjemput Hesti.


Rudi tersenyum melihat Hesti yang didorong salah satu artnya menggunakan kursi Roda. Sambil menahan nafas, Faiq mengangkat  Hesti dari kursi roda dan mendudukannya di kursi tengah.  Hesti merasa sedikit kecewa, melihat Rudi yang berada di dalam mobil yang akan membawanya dan Faiq pergi. Dengan kesal ia duduk di kursi belakang, karena Faiq yang disupiri Rudi duduk di depan.


Faiq dan Rudi berbicara hal yang receh, membuat Hesti tidak senang mendengarnya. Hanya tawa-tawa kecil Faiq tertangkap telinga Hesti mendengar candaan Rudi yang kebetulan memang hobby ngebanyol.


Kening Hesti berkerut melihat mobil yang memasuki wilayah kota Banten. Pikirannya mulai bekerja. Ia berharap  semoga Faiq berubah pikiran untuk memperpanjang pernikahan mereka. Tapi ia berusaha menepis pikiran negatifnya.


“Aku akan mengembalikan kamu kepada keluarga besarmu hari ini.” ujar Faiq saat mobil semakin mendekati rumah Hesti.


Seminggu yang lalu ia telah menghubungi Thamrin, saudara laki-laki almarhum ayah Hesti yang menjadi saksi saat pernikahan dadakan mereka.


“Bukankah kau akan merawatku sampai sembuh. Kenapa kau ingkar janji mas?” suara Hesti terdengar parau.


Rudi mendengarkan perbincangan antara keduanya tanpa bermaksud menyambung ataupun mencampuri urusan mereka berdua.


“Aku tidak menyalahkan dirimu. Tapi keberadaanmu di rumah telah menciptakan suasana yang tidak nyaman antara aku dan keluargaku. Aku tau, kau telah sembuh. Jadi aku minta jangan mempermalukan dirimu sendiri di hadapan keluargamu.” Tegas Faiq.


Keduanya saling berpandangan lewat kaca dashboard.  Hesti tidak memahami maksud perkataan Faiq. Ia menggigit bibir bawahnya untuk berpikir cepat. Melihat tatapan Faiq yang tajam, tak ayal Hesti langsung memalingkan muka.


“Hem…” Rudi berdehem. Ia melirik Faiq sejenak. Rudi senang jika Faiq bersikap tegas. Ia tau sifat perempuan seperti Hesti, tidak akan mudah melepaskan seseorang yang sudah ia senangi, apalagi sejak awal ia sudah menyukai Faiq.


Akhirnya mobil memasuki pekarangan rumah Hesti. Di dalam halaman yang luas itu sudah terparkir beberapa buah mobil.

__ADS_1


 


 


__ADS_2