
Dengan gelisah Ivan dan Ariq menunggu Khaira di ruang ICU. Ia belum sempat menceritakan kejadian sebenarnya. Pikirannya kalut, apalagi saat melihat darah mengalir sehingga menodai gaun putih yang dipakai Khaira saat acara syukuran berlangsung.
“Apa yang sebenarnya terjadi sehingga Rara terjatuh?” Ariq tidak bisa menunggu lebih lama. Ia ingin mengetahui kisah sebenarnya.
Tanpa menyembunyikan apa pun, Ivan menceritakan semua yang terjadi. Ia yang terkejut karena melihat Irene berada di dalam kamarnya dan menggunakan peralatan milik Khaira di meja rias, hingga ia menarik Irene untuk keluar dan berakhir dengan jatuhnya Khaira karena terpeleset akibat menginjak hand body yang belepotan di lantai.
“Aku tidak menyangka Rara mengalami kejadian yang menyedihkan seperti ini.” Ariq menggelengkan kepala tak percaya.
Baru saja ia merasa lega dan mendoakan untuk kebahagiaan keduanya, kini ujian kembali datang menimpa adiknya. Apa yang harus ia lakukan. Rasanya ia pingin memukul Ivan yang tidak bisa memberikan keamanan pada istrinya.
Ivan menundukkan kepala dengan kedua tangan menutup wajahnya. Ia kesal dengan Irene yang menyebabkan Khaira jatuh hingga tak sadarkan diri. Dapat ia lihat sorot kekecewaan di mata Khaira saat melihatnya berdua apalagi dalam kondisi Irene yang memeluknya erat.
“Apa kau mempunyai hubungan dengan Irene selama ini?” Ariq menatap Ivan tajam. Ia harus membuat keputusan tegas demi adik kesayangan mereka.
“Aku tidak pernah berhubungan dengan perempuan selain Sandra,” jawab Ivan tegas, “Aku tidak tau apa yang ada di pikiran Irene. Selama ini aku tidak pernah terlibat dengannya.”
“Dasar perempuan tidak tau malu,” tanpa sadar Ariq memaki perempuan yang telah membuat adiknya celaka, “Aku tidak akan membiarkannya selamat kalau sampai terjadi sesuatu pada Rara.”
Tak lama kemudian Ali, Valdo serta Fatih sudah berada di rumah sakit menyusul mereka berdua. Wajah mereka tampak tegang.
“Bagaimana keadaan Rara?” Fatih langsung menembak Ariq yang menyandar dengan tegang, sedangkan Ivan masih berdiri di depan ruang ICU dengan raut penuh kekhawatiran.
“Masih menunggu observasi dokter,” jawab Ariq tegang.
“Perempuan gila itu sudah mengakui semuanya,” ujar Ali seketika.
“Apa maksudmu?” Ariq kini memandang Ali dengan rasa ingin tau.
“Dia sengaja masuk kamar Ivan dan Rara. Dia juga penyebab kesalah pahaman yang terjadi hingga Rara jatuh terpeleset akibat perbuatannya.”
“Lantas apa yang kalian lakukan?” Ariq terus mengejar Ali untuk mendapatkan kepastian pada pelaku kejahatan yang membuat adiknya masih tak sadarkan diri hingga saat ini.
“Om Darwis dan istrinya minta maaf sambil menangis agar kita tidak menuntut putrinya,” Ali menghela nafas kasar, “Rasanya ingin ku cekik perempuan gila itu.”
“Lalu perempuan itu?” Ariq masih tidak puas dengan jawaban Ali.
“Ia menangis memohon ampun pada oma dan ibu, agar tidak dipidanakan.”
Ariq terdiam. Ia tau, oma pasti telah mengambil keputusan yang bijak. Ia tidak bisa berbuat apa-apa. Yang dapat ia lakukan saat ini hanya menunggu kabar Khaira yang saat ini belum sadarkan diri.
Setelah satu jam kemudian dr. Andre, SpOg., beserta asistennya yang menangani Khaira keluar dari ruangan ICU dengan keringat penuh mengaliri keningnya.
“Saya ingin bertemu dengan suami nyonya …. “
“Saya dok,” Ivan menjawab dengan cepat.
Ia mengikuti langkah dr. Andre dengan cepat. Begitu sampai di dalam ruangan dr. Andre segera memintanya duduk.
__ADS_1
Perasaan Ivan tidak nyaman melihat lelaki yang usianya hampir sebaya dengannya itu tampak tegang sambil menulis sesuatu pada buku catatannya.
“Maafkan kami tidak bisa mempertahankan janin yang berada dalam kandungan istri anda,” dr. Andre menatap Ivan dengan raut sedih, “Rahim nyonya sangat lemah, apalagi dengan kondisi janin yang baru berumur 6 minggu sangat rawan benturan sekecil apa pun.”
Kaki Ivan serasa lunglai tidak bertenaga saat keluar dari ruangan dr. Andre. Ia berjalan dengan bingung seolah tanpa tujuan.
“Mas Ivan!” panggilan Fatih membuatnya mengangkat wajah.
Di luar dugaan Fatih, Ivan langsung memeluknya dengan perasaan sedih. Ia terkejut melihat kelakuan kakak iparnya yang tampak seperti orang putus asa.
Ariq, Ali dan Valdo terkejut melihat Ivan yang menangis sambil memeluk Fatih. Valdo langsung mengejar dr. Andrew yang keluar dari ruang prakteknya untuk mencari tau kondisi Khaira yang sebenarnya.
Fatih membiarkan Ivan menumpahkan semua kesedihan yang ia rasa. Ia turut prihatin melihat keadaan Ivan yang benar-benar terpuruk.
Ariq dan Ali tertegun mendengar cerita Valdo yang baru saja berbicara dengan dr. Andre. Kini mereka tau apa yang dirasakan Ivan. Mereka pun larut dalam kesedihan yang dirasakan iparnya itu, walau mereka tau semua bukanlah kesalahan Ivan.
Tak ingin melihat kesedihan berkepanjangan akhirnya Valdo berusaha mengembalikan suasana yang tegang itu.
“Sudahlah, jangan terlalu bersedih. Kalian masih muda. Masih banyak waktu untuk membuat gantinya.”
Ali merasa kesal mendengar ucapan Valdo yang tidak melihat situasi dan kondisi orang sedang dalam keadaan berduka.
“Aku merasa bersalah pada Rara, karena tidak mampu melindunginya,” akhirnya Ivan mulai bersuara ketika sudah puas menyalurkan kesedihannya.
“Jika kau ingin melepasnya sekarang tidak masalah. Bukankah kau menikahinya untuk mempertanggungjawabkan bayi yang ada dalam kandungannya saja?” Ariq segera menyampaikan apa yang mengganjal di pikirannya sejak awal.
“Mungkin saja kau ingin kembali hidup bebas tanpa ikatan?” Ariq berkata pelan tanpa makna, “terlanjur Rara pun belum mempunyai perasaan apa pun padamu. Aku akan mendukungnya jika Rara ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri.”
“Bagaimana mungkin aku akan melepaskan Rara. Aku sangat mencintainya.” Ivan berkata dengan tegas.
Ia berjalan menuju bed tempat Khaira yang masih berada dalam pengaruh obat. Ivan menatap wajah istrinya dengan perasaan sedih. Ia membelai rambut Khaira dengan sepenuh hati. Bagaimana mungkin ia berpisah dengan Khaira, perasaannya sudah terlalu dalam. Ia rela kehilangan apa pun tapi tidak dengan perempuan yang kini telah memenuhi jiwa dan raganya.
Mereka kini berada di dalam ruangan VVIP, tempat Khaira mendapat perawatan intensif. Ariq menelpon istrinya memberitahukan bahwa Khaira akan menginap di rumah sakit malam ini hingga beberapa hari ke depan.
“Apa mas tega memisahkan mereka?” Fatih bertanya pelan pada Ariq yang terus mengamati gerak-gerik Ivan yang kini duduk di samping bed mendampingi Khaira yang masih di bawah pengaruh obat.
“Kita lihat saja saat Rara sadar nanti. Kita ikuti apa pun keinginannya. Aku tidak ingin membuatnya tertekan. Dia sudah cukup menderita selama ini. Jangan kita korbankan perasaannya hanya untuk menyenangkan yang lain,” Ariq berkata sambil menghela nafas berat.
Ia tidak tau, kenapa hidup Rara selalu diuji dengan bertubi-tubi cobaan. Padahal selama ini mereka tidak pernah menyusahkan orang lain bahkan selalu membantu setiap orang yang membutuhkan.
“Rara … sayang …. “ Ivan terus membelai wajah Khaira sambil memanggil namanya berharap istrinya segera membuka mata.
Ia tidak ingin meninggalkan istrinya walau sedetik pun. Ia khawatir, Ariq dan saudaranya yang lain akan membawa Rara pergi jika ia tidak berada di samping istrinya.
Ariq memandang Ivan sambil menggelengkan kepala. Rasanya ia pengen menertawakan tingkah Ivan yang kekanakan tidak ingin sedetik pun meninggalkan istrinya.
“Apa kamu tidak salat Subuh, sebentar lagi waktunya habis,” sindir Ariq karena melihat Ivan yang kusut dengan mata merah menahan kantuk semalaman menunggu Khaira sadar, “Aku tidak akan membawa Rara pergi. Sudah salat sana!”
__ADS_1
“Aku titip Rara mas,” ujarnya pelan dengan tatapan masih tertuju pada istrinya.
Ariq tak bisa menahan senyum melihat kelakuan Ivan. Bagaimana mungkin ia tak percaya pada laki-laki yang telah berjuang untuk mendapatkan cinta adik kesayangan mereka, walaupun perjalanan mereka dipenuhi dengan onak dan duri.
Dengan langkah lunglai Ivan menuju mushala rumah sakit. Ia melihat Fatih dan Ali juga baru selesai melaksanakan salat Subuh berjama’ah. Melihat kekompakkan saudara istrinya membuat rasa tanggung jawab Ivan semakin besar untuk terus berjuang mempertahankan rumah tangganya. Ia sudah merasakan kenyamanan dan kehangatan di dalam keluarga besar istrinya. Dan ia akan terus berjuang untuk mempertahankannya.
Ivan merasa senang saat Hasya datang bersama Afifah membawakan pakaian ganti untuknya. Ia ingin saat Khaira terbangun melihatnya sudah dalam keadaan rapi tidak kusut seperti tadi pagi dengan mata merah dan rambut acak-acakan.
Khaira membuka mata dengan pelan. Ia memandang sekelilingnya. Wajah pertama yang ia lihat adalah suaminya yang tampak lega dengan senyum terbit di wajah tampannya. Khaira membuang muka. Ia masih teringat kejadian di kamar mereka melihat Irene yang memeluk suaminya dengan erat.
“De, kamu sudah bangun?” suara lembut Hasya membuat Khaira merasa lega.
“Mas keluar dulu deh,” Hasya memberi isyarat pada Ivan, “Mbak yang akan urus semuanya.”
“Terima kasih mbak,” Ivan menganggukkan kepala.
Sebelum meninggalkan ruangan, ia sempat mencium kening Khaira dengan lembut. Ia tak peduli melihat sorot kebencian kini muncul lagi di mata bening istrinya.
Hasya segera menyiapkan sarapan pagi untuk Khaira. Sedangkan Afifah membereskan paper bag berisi pakaian Ivan dan Khaira yang telah ditumpuk jadi satu.
Khaira meraba perutnya yang kini datar. Ia menatap Hasya dengan raut tak mengerti.
“Mbak bayiku?” perasaan was-was mulai menghantuinya.
Hasya terhenyak. Ia langsung berdiri di samping Khaira. Afifah merasa khawatir melihat Hasya yang kebingungan menghadapi Khaira yang masih memegang perutnya .
“Allah lebih sayang sama bayimu….“ Hasya berkata dengan pelan, “Yang sabar ya de ….”
Khaira tercekat. Pikirannya melayang mengingat peristiwa yang terjadi saat acara pindah rumah. Rasa benci terhadap suaminya timbul lagi ke permukaan.
“Kenapa mereka membunuh bayiku?” Khaira mulai meneteskan air mata teringat penyebab keguguran yang ia alami, “Bayiku tidak bersalah ….”
“Ini bukan kesalahan Ivan, tapi sepupunya yang menyelinap masuk kamarmu.” Hasya berusaha membela Ivan, karena ia tau kejadian sebenarnya.
“Mbak tidak tau apa yang mereka perbuat di kamarku,” Khaira tidak bisa menahan tangisnya, “Kenapa Allah mengambil mereka yang ku sayangi? Apa salahku mbak?”
Hasya memeluk Khaira yang tampak terpukul dengan kejadian yang ia alami. Walau pun ia belum memiliki rasa terhadap Ivan, tapi rasa sayangnya terhadap janin yang ia kandung begitu nyata. Dan ia tidak siap kehilangan lagi.
“De, ade …. “ Hasya terkejut menyadari Khaira yang pingsan dalam pelukannya.
Ivan yang berdiri di depan pintu langsung berlari dengan cepat mendengar teriakan Hasya. Ia mengangkat tubuh Khaira yang lunglai dalam pelukan Hasya. Dengan pelan ia membaringkan tubuh lemah istrinya.
Tak terasa air mata Ivan menetes. Ia juga merasa kehilangan seperti yang dialami istrinya. Ia berharap dengan janin yang dikandung Khaira akan membuat mereka semakin dekat. Tapi takdir berkata lain. Ivan mengepal tangannya. Ia akan membuat perhitungan pada orang yang telah membuat ia dan istrinya berduka karena kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagi mereka berdua.
*** Dukung terus ya perjalanan cinta Ivan dan Khaira. Jangan pelit untuk like\, komen dan saran serta votenya buat Author. Sayang reader semua. ***
__ADS_1