Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 274 S2 (Tidak Ada Ruang Untuk Pengganggu)


__ADS_3

Laura terbangun  dari tidurnya. Ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul enam sore. Dengan cepat ia bangkit dari pembaringan dan keluar dari kamar Ivan. Suasana rumah kelihatan sepi.


Perlahan ia melangkah ke dapur.Tidak ada Laras, hanya ada bu Risma yang sedang membersihkan peralatan dapur.


“Tante kemana bi kok tidak kelihatan?” Laura menatap sekelilingnya yang sepi.


“O itu … tadi tuan Ivan datang, nyonya ikut tuan ke rumah sakit untuk melihat keadaan cucunya,” bu Giyem berusaha menjelaskan apa yang ia dengar.


“Apa? Cucu …. ?” Laura tak percaya mendengar pekataan bu Risma.


“Benar nyonya. Maafkan saya …. “ bu Risma undur diri dari hadapan  Laura.


Satu jam ia masih bersabar menunggu. Hingga jam delapan ia masih duduk di beranda rumah Laras. Tak lama kemudian ia melihat mobil memasuki pekarangan rumah. Laura berharap bahwa Ivan dan Laraslah yang berada di dalamnya. Tetapi begitu mobil mendekat, hanya ada supir.


“Tante  di mana?” dengan sok akrabnya Laura menanyakan keberadaan Laras pada supirnya.


“Nginap di rumah sakit bersama tuan Ivan,” jawab supirnya santai.


Perasaan kecewa dan marah  hadir di benak Laura. Dengan kesal ia bangkit dari kursi dan melangkah meninggalkan kediaman Laras. Ia segera menghubungi ojek online untuk pulang ke rumah. Rencananya tak berhasil. Ia tidak tau apa yang terjadi sehingga Laras melupakan kehadirannya dan membiarkannya saat ini sendirian di rumah mereka.


Sementara itu  terpaksa Ivan meminta supirnya untuk mengambilkan pakaian ganti untuk mamanya yang tidak mau beranjak dari rumah sakit, ingin menemani si kembar yang sudah berangsur pulih.


Berat bagi Laras untuk melangkah sedikitpun dari ruangan si kembar. Ia khawatir jika pulang ke rumah, si kembar akan dibawa Khaira dan keluarganya semakin menjauh. Dan ia tidak ingin kehilangan cucu untuk kedua kalinya.


Ia dapat melihat perhatian besar dari keluarga Khaira yang selalu datang menjenguk si kembar untuk membawakan semua keperluan bagi Khaira dan anak-anaknya. Laras sangat tau diri, ia tidak memaksakan kehendak dan mengatur semua keperluan si kembar di rumah sakit. Seperti Ivan, ia hanya mengikuti arus, dan yang terpenting bisa bersama si kembar sepanjang hari.


Keduanya masih duduk bersama di depan ruang inap si kembar, karena masih ada dokter yang melakukan room visit, sedangkan di dalam ada Ariq dan Fatih yang berkunjung lebih awal karena sore mereka ada pertemuan dengan kliennya.


“Kamu tidak bekerja?” Laras memandang Ivan yang hanya mengenakan kaos oblong dan celana santai. Sudah hari ketiga ia ikut menginap, dan selama ini ia tidak melihat Ivan satu detikpun meninggalkan si kembar.


“Pekerjaanku sudah ku limpahkan pada Danu.  Sore ini dia akan mengunjungi kita.”


“Kamu jarang pulang selama ini. Perasaan mama sudah hampir tiga bulan kamu tidak kembali ke rumah,” Laras memandang Ivan menanti jawaban sang putra kesayangannya.


“Aku membangun rumah di lokasi  pondok untuk mendekati si kembar. Rara telah memiliki rumah di sana. Hanya itu satu-satunya cara agar aku bisa menjaga mereka.”


“Mama lihat Rara  bersikap dingin padamu. Apa itu tidak masalah?” Laras merasa iba dengan Ivan.


“Selama dia mengijinkan aku menemui si kembar  tidak ada masalah bagiku,” jawab Ivan tenang, “Suatu saat aku yakin Rara akan menerimaku kembali.”


Laras tersenyum penuh arti. Ia menepuk bahu Ivan berusaha menyemangatinya. Ia akan memohon pada Khaira untuk menerima Ivan kembali. Ia tidak akan merasa tenang jika melihat anak dan mantan menantunya belum berkumpul. Melihat Ivan bermain bersama si kembar membuat perasaannya terharu, inilah kebahagiaan sesungguhnya yang ia inginkan dalam hidup Ivan. Bagaimana mungkin ia tidak mendukung keinginan putra satu-satunya untuk berkumpul bersama sebagai keluarga yang utuh dalam satu atap.


Setelah dokter dan asistennya keluar  Ivan dan Laras kembali ke dalam ruangan.  Karena si kembar sudah mulai beraktivitas di hari keenam ini, jarum infus sudah dilepas pihak rumah sakit.  Ivan melihat Khaira yang berusaha menahan Embun yang mulai berlari.


“Ade sini, jangan lari dulu …. “ Khaira kesusahan menangkap Embun yang semakin bersemangat saat dihadang Khaira.


“Hup!”  Ivan menangkap Embun yang langsung tertawa lebar berada dalam gendongan ayahnya.


“Eh …. “  Khaira terkejut ketika tangan Ivan meraih pinggangnya.


“Maaf,” dengan cepat Ivan melepaskan tangannya dari pinggang Khaira yang hampir terpeleset karena menangkap Embun.

__ADS_1


Laras tak bisa menahan senyumnya melihat  Ivan dan Khaira yang tampak dalam posisi intim.  Ia ingin segera mewujudkan keinginan Ivan untuk kembali bersama Khaira apa pun yang terjadi.


Senyum terbit di sudut bibir Ivan merasakan kehangatan tubuh ramping yang begitu ia rindukan. Aroma parfum lembut menyeruak di penciumannya. Kehangatan langsung menyergap hati sanubarinya. Walau pun Khaira memalingkan muka, tapi Ivan dapat melihat rona merah di pipinya saat pandangan mereka bertemu.


Fajar duduk menghadapi mainan robot yang dibawakan Ali tempo hari. Ivan segera membawa Embun duduk bersama.  Ia menemani si kembar bermain. Ketukan di pintu membuat Ivan menghentikan kegiatannya. Tampak Danu membawa paper bag besar berisikan mainan baru buat  si kembar serta pakaian untuknya.


“Ini pesanan anda Bos,” Danu mengulurkan paper bag itu ke tangan Ivan.


“Terima kasih  Dan,”  Ivan segera membongkar dan mengeluarkan semua yang berada di kantong kertas itu.


“Sama-sama Bos,” Danu menganggukkan kepala sambil mengulas senyum, “Rencananya siang ini,  tuan Berli beserta ustadz Hanan akan mengunjungi si kembar. Saya sudah memberikan alamat ruangan ini pada mereka. Apa tidak masalah Bos?”


“Tidak apa-apa,” Ivan tersenyum.


Ia tidak bisa menahan senyum melihat Ivan yang duduk di lantai beralas karpet  menemani si kembar yang  bermain dengan asyiknya. Ia dapat melihat raut kebahagiaan yang terpancar di wajah si bos. Baru kali ini ia melihat tidak ada  kesedihan yang tergambar di sana. Senyum Danu akhirnya terkembang melihat  Embun yang mulai memanjat di punggung Ivan.


“Saya permisi dulu Bos.”


“Baiklah Dan. Terimakasih.”


Danu segera berlalu meninggalkan keluarga kecil bosnya yang tampak berbahagia. Senyumnya terkembang berharap kebahagiaan itu akan mengiringi mereka selamanya.


Embun dan Fajar bersemangat memilih mainan baru yang dikeluarkan ayahnya. Laras duduk bersama si kembar. Ia sangat bangga melihat kedua cucunya yang sangat cantik dan tampan.


Khaira hanya menggelengkan kepala melihat tumpukan mainan yang berada di hadapan si kembar dan ayahnya serta Laras.


“Bunda, main syini …. “ Embun memanggil  Khaira yang sedang menyiapkan makanan untuk keduanya.


“Sebentar sayang …. “ Khaira mendekati mereka sambil membawa makanan yang telah ia siapkan untuk si kembar, “Tante dan ayahnya anak-anak silakan makan terlebih dahulu.”


Rasanya belum puas untuk melihat keakraban anak dan cucunya saat bermain bersama. Dan ia tidak ingin melewatkan itu seumur hidupnya.


“Sini bunda suapin …. “ Khaira mengulurkan sendok ke mulut Embun.


Ia merasa tidak nyaman posisinya terlalu dekat dengan Ivan, karena di depan mereka tumpukan mainan sedangkan di samping Embun ada Laras.


“Biar aku yang suapin mereka,” Ivan hendak mengambil alih piring dan sendok di tangan Khaira.


“Maem tama bunda,” Embun menolak keinginan ayahnya, “Ayah main tama ade …. “


Senyum tipis hadir di bibir Ivan saat matanya berpandangan dengan Khaira. Tapi yang disenyumi tetap datar tanpa makna.


“Ade geser sini, biar  dekat mas Fajar …. “ Khaira meminta Embun pindah duduk di sampingnya.


Ivan mengangkat Embun yang tetap anteng dan tak terpengaruh dengan ucapan bundanya, dan memangkunya.


“Sekarang bunda bisa nyuapin Embun,” Ivan berkata dengan lembut, “Ade pangku ayah saja, habisin makannya dulu baru main lagi ya.”


“Ya ayah …. “  Embun melepas mainan barbie dan mulai mengeluarkan mainan kitchen set dari dalam kotak.


“Sekarang main masaknya sama eyang ya …. “  Laras merasa senang saat Embun  mengulurkan kotak kitchen set dan meminta ia membukanya.

__ADS_1


Ketukan di pintu ruangan menghentikan aktivitas mereka. Khaira  segera menyudahi memberi makan si kembar, bangkit dan berjalan menuju pintu.


“Assalamu’alaikum …. “  terdengar suara beberapa orang memberi salam.


“Wa’alaikumussalam …“ Khaira membukakan pintu, “Ustadz Hanan …. “


Tampak Berli, ustadz Hanan dan Laura memasuki ruang rawat inap si kembar sambil membawa parcel buah di tangannya.


“Astaghfirullahaladjim …. “ melihat Laura yang memasuki ruangan membuat  Laras teringat janjinya kemarin, “Nak Laura …. “


“Tante …. “ dengan sok akrab Laura berjalan mendekati Laras dan Ivan tanpa mempedulikan  Khaira.


“Maafkan tante …. “ Laras segera berdiri begitu Laura di hadapannya. Karena keterkejutan akan cerita Ivan ia telah melupakan janjinya bersama Laura.


“Mas Ivan …. “ Laras tak bisa menutupi keterkejutannya melihat Ivan yang memangku dua bocah cantik dan tampan yang memegang mainan kesayangannya masing-masing.


Melihat Laura yang mengakrabkan diri dengan Laras dan Ivan, Khaira segera  menyapa kedua tamu yang masih berdiri dekat sofa. Ia ingat perempuan yang kini berbincang dengan Ivan dan Laras. Ia tidak ingin mengganggu percakapan yang terjadi diantara ketiganya. Apalagi sejak awal perempuan itu sudah memasang wajah permusuhan padanya.


“Mari silakan duduk ustadz, tuan …. “ Khaira mempersilakan keduanya duduk di sofa.


Ivan menyadari tatapan Berli dan ustadz Hanan tertuju pada Khaira. Ia segera bangkit dan menggendong si kembar di kiri dan kanannya menghampiri mereka.


“Tante lupa janji kita kemaren,” Laras menyesali perbuatannya meninggalkan Laura di rumah, “Maafin tante ya …. “


“Gak pa-pa tante,” Laura berusaha menampilkan senyum terbaiknya padahal dalam hatinya merasa dongkol.


“Sayang, Fajar sudah mengantuk. Biar Embun sama mas saja,” Ivan berkata dengan santai melihat Khaira  mulai melangkah meninggalkan mereka.


Mata Khaira melotot  ke arah Ivan mendengar panggilan yang ditujukan padanya. Ivan mengedipkan mata sambil tersenyum.


Mendengar panggilan Ivan pada Khaira membuat Berli dan Laura berpandangan sedangkan ustadz Hanan hanya memandang Ivan sambil mengacungkan jempol. Keduanya tidak mengerti dengan yang terjadi.  Tatapan Laura beralih pada Laras yang tersenyum mendengar Ivan memanggil  Khaira.


“Kenalkan, bundanya anak-anak …. “ Ivan memberi isyarat agar Khaira tetap di sampingnya.


“Ku pikir tuan Ivan masih lajang?” Berli mengerutkan dahi tak mengerti.


“Tentu saja tidak. Ini anak-anakku kembar namanya  Fajar dan Embun,” Ivan berkata dengan bangga.


Melihat Khaira yang masih berdiri di sampingnya, ia langsung menyerahkan Fajar yang mulai menguap.


“Bobo sama bunda dulu ya, nanti baru ayah temani,”  Ia memandang Khaira dengan lekat.


Berli dapat melihat sebesar apa rasa cinta yang tergambar di wajah Ivan saat menyerahkan putranya di tangan Khaira.


Begitu Khaira menyambut Fajar, sesempatnya Ivan mengelus kepala Khaira dengan penuh kasih. Karena tidak nyaman dengan tamu, terpaksa Khaira menerima semua perlakuan Ivan.


“Tante, saya tidak mengerti semua ini …. “ Laura menuntut penjelasan Laras yang tampak bahagia melihat pemandangan yang terjadi di depannya.


“Kadang kita tidak perlu mengerti semuanya, tapi cukup melihatnya saja kita akan paham,” ujar Laras tenang.


“Apa maksud tante? Bukankah kemaren tante bilang istrinya mas Ivan tidak bisa melahirkan seorang anak?” Laura masih menuntut penjelasan Laras.

__ADS_1


“Semua ini adalah anugerah terindah buat tante,” Laras berkata dengan perasaan bahagia, “Lihatlah si kembar tampan dan cantik seperti ayah bundanya.”


Mendengar ucapan Laras, Laura merasa kesal. Ia akhirnya berjalan kembali mendekati Berli dan ustadz Hanan dan duduk di sofa tunggal yang berada di dalam ruangan tersebut. Ia mulai mengibaskan rambutnya merasakan hawa panas di ruangan full ac tersebut.


__ADS_2