
Bab 9
“Tuan Rusdi, saya atas nama istri almarhum ingin rumah ini kembali menjadi hak milik kami.“ Suara Linda memecah keheningan yang terjadi. “Lakukan seperti yang dikatakan Adi. Aku tidak ingin kami terlibat hubungan dengan mereka nantinya. Dengan mempercepat proses kepemilikan rumah ini, hubungan kami dengan gadis miskin itu akan berakhir.”
“Kalau demikian, saya hanya menyarankan untuk membuat akta jual beli saja.” Akhirnya Rusdi mengalah percuma saja ia bersikeras, karena ia tidak memiliki orang yang menguatkannya untuk mengambil keputusan yang terbaik untuk kedua belah pihak. Ia sangat menyayangkan sifat Adi yang lebih memihak Linda, tanpa memikirkan akibat yang akan ia terima di kemudian hari. Ia merasa sedih mengingat nasib Hani dan ketiga anaknya.
Johan hanya geleng-gelang kepala melihat pemandangan yang ada di hadapannya. Setelah beberapa jam kemudian Johan kembali ke kantor atas perintah Adi, karena ia akan mengurus segala balik nama atas rumah yang kini akan menjadi milik mereka, dan Rusdi akan langsung memprosesnya bersama Bernhart. Ia tak menyangka Aditama bisa dikuasai dua iblis betina, sehingga hati nuraninya tak berfungsi sama sekali.
Satu minggu telah berlalu semenjak sertifikat rumah dikembalikan Hani. Siang yang panas itu dia berada di café dekat ia menitipkan si kembar yang mulai bersekolah di PAUD Kasih Bunda. Kini ia sedang duduk berhadapan dengan Rusdi yang ingin menyampaikan hasil pertemuan mereka dengan keluarga almarhum Sofyan Prayoga.
Rusdi terpana melihal Hasya yang semakin gembul dan menggemaskan membuat ia ingin menggendongnya. “Si mungil makin cantik. Suatu saat tuan Adi akan menyesal mengetahui kebenarannya.” Ia membelai puncak kepala Hasya. Matanya berkabut membayangkan nasib Hani dan ketiga putra-putrinya yang begitu malang.
“Apa yang ingin anda sampaikan, tuan…” Hani sudah tidak betah berlama-lama duduk di sana, karena 20 menit lagi si kembar akan keluar dari kelasnya. Ia takut ada orang yang menyalah artikan kebersamaannya dengan lelaki parobaya itu.
“Maafkan saya mbak Hani. Saya ingin menyampaikan hasil pertemuan dengan tuan Adi dan Nyonya Linda bersama pengacara mereka kemarin.” Ia segera mengeluarkan satu map dari dalam tas kerjanya dan meletakkan di atas meja. “Rumah yang telah diwariskan kepada putra-putri anda yang telah anda kembalikan, kini telah dibaliknamakan atas nama Nyonya Linda selaku istri almarhum tuan Sofyan.”
“Syukurlah. Saya senang mendengarnya.” Tukas Hani cepat.
“Mereka telah membelinya kembali.”
Hani mengernyitkan keningnya tak paham. “Apa maksud tuan. Saya tidak menginginkan uang dari mereka. Saya dan adik saya masih mampu untuk mengurus anak-anak saya…”
“Saya harap mbak Hani kali ini tidak menolak.” Rusdi kembali mengeluarkan buku tabungan dan membuka map yang sudah terletak di atas meja. “Rumah itu harga pasarannya 50 milyar. Dan tuan Adi telah menyimpannya dalam buku tabungan ini.”
Hani melongo mendengar ucapan Rusdi. Matanya tak berkedip membaca digit yang tertera di buku tabungan atas nama Ariq Anggara Prayoga.
“Anda tidak berhak menolaknya.” Rusdi kembali menyerahkan beberapa lembar kertas di tangan Hani, “Dan ini wasiat tuan Sofyan. Beliau telah mewariskan saham yang ada di Mega Buana Corp sebesar 20 % untuk ketiga cucunya.”
“Apa saya boleh menolaknya?” Hani masih tak percaya dengan kenyataan yang ada dihadapannya. Ia masih enggan mengambil beberapa dokumen yang berada di atas meja. Pikirannya masih mengembara jauh, “Saya takut keluarga itu akan mengganggu kami di kemudian hari…”
“Tenang saja, mbak. Tuan Adi dan nyonya Linda telah memberikan jaminan, dengan mbak Hani menerimanya, anggap saja diantara kalian tidak pernah ada ikatan apapun. Dan jika suatu saat bertemu kalian adalah orang asing yang tidak pernah mengenal satu sama lain.”
“Deg…” Jantung Hani berdetak cepat. Matanya berkaca-kaca. “Berarti mereka juga memutuskan ikatan antara ayah dan anak?”
Rusdi terkejut mendengar pertanyaan Hani. Sebenarnya ia tidak tega untuk mengatakan hal itu, tetapi Hani sudah terlanjur mengatakannya. Ia terdiam, tak tau harus mengatakan apapun. Lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan Hani.
“Baiklah pak Rusdi. Saya paham. Dan saya akan mengikuti drama yang mereka ciptakan. Mulai sekarang saya anggap ayah si kembar sudah mati.” Suara Hani terasa sangkut di tenggorokan saat mengucapkan itu. “Saya akan merawat ketiganya, dan saya berjanji akan memberikan seluruh kasih sayang dan hidup saya untuk mereka. Walaupun mas Adi tidak mencintai saya, setidaknya ada sedikit kasih sayang pada si kembar. Tapi…”
“Saya hanya memberikan saran pada mbak Hani. Terimalah apa yang sudah menjadi hak anda dan putra-putri anda. Biar almarhum merasa tenang di alam sana.” Rusdi menatap perempuan muda di hadapannya dengan iba.
“Saya tau, mbak Hani mempunyai adik seorang pengacara juga. Saya selama ini telah mengikuti mbak Hani, dan saya siap membantu jika mbak Hani memerlukan sesuatu. Pergunakan uang hasil penjualan rumah ini untuk usaha anda. Sedangkan bagian saham almarhum, akan masuk rekening putra anda karena itu sudah diatur tuan Sofyan sejak awal.”
Mendengar ucapan Rusdi, Hani terpaku sejenak. Ia memikirkan setiap perkataan yang diucapkan Rusdi. Ia sadar apa yang dikatakan Rusdi banyak benarnya, dan dia mulai membuat perencanaan jangka panjang. Ia harus memanfaatkan apa yang ia dapat dari almarhum mertuanya, dan ia bukan mengemis pada mereka, karena itu adalah hak anak-anaknya.
Tanpa terasa delapan bulan telah berlalu. Sejak saat itu Faiq tidak pernah berjumpa lagi dengan Hani, terkadang perasaan rindu mengganggunya. Tapi Faiq yakin, dan ia selalu memohon dalam setiap sujudnya, agar ditemukan kembali dan disatukan jika memang jodohnya. Walau ia sendiri sadar, bahwa Hesti terus berjuang untuk mendapatkan hatinya, Faiq tidak terlalu memusingkannya karena perilaku Hesti masih dalam batas kewajaran, dan ia tak pernah merespon setiap perhatian Hesti walau sekecil apapun.
Saat ini Faiq Bersama beberapa rekannya baru kembali dari tugas monitoring dari luar daerah. Merasa kelaparan, mereka berhenti di sebuah rumah makan, yang tampak teduh dan menarik untuk disinggahi. Saat keluar dari mobil mereka bertiga masih berdiri di depan restoran. Mata mereka begitu dimanjakan dengan pemandangan indah dan teduh yang ada di hadapan mereka. Taman-taman kecil yang dilengkapi air mancur buatan menambah estetis restoran itu, sehingga siapapun akan betah berlama-lama di tempat itu.
“Wah, ternyata ada tempat sebagus ini, ya…” Darwin menghirup udara yang tampak segar begitu kakinya menapak di tanah sambil pandangannya menatap ke segala arah, kebetulan mereka dinas luar bersama dengan Rudi.
“Aku tau tempat ini karena direkomendasikan oleh adik iparku Maya.” ujar Rudi. “Mereka telah menyulap tempat yang kumuh menjadi lokasi yang bonafid dan cozy seperti ini. Menurut Maya luas tempat ini sekitar 4 hektar. Di sini juga menyediakan arena play ground untuk anak-anak. Jadi jika hari minggu, kita bisa membawa anak-anak untuk camping dan belajar di alam liar. Bahkan menu yang disajikan adalah hasil pertanian dan perkebunan yang dikelola rumah makan ini, dengan memberdayakan petani di sekitar wilayah ini.”
“Wah, mantap.” Faiq memandang sekitarnya. Ia tampak kagum memandang sekelilingnya. “Memang profesional sekali penataan tempat ini. Dari luarnya saja sudah menarik.”
“Ini baru luarnya bro, belum lagi interiornya. Aku makin penasaran.” sela Darwin ia berdiri sambil bercekak pinggang merasakan kesejukan dan hembusan angin yang menerpa kulitnya di siang hari yang sangat panas itu.
__ADS_1
Faiq masih asyik berjalan di sekeliling lokasi. Ia mengakui bahwa penataan bangunannya sangat sempurna, dengan taman-taman yang berbeda di setiap sisi. Ia melihat ada beberapa bangunan yang terpisah yang mempunyai fungsi masing-masing. Karena terpesonanya dengan tempat itu, langkah kaki Faiq membawanya berjalan makin ke belakang. Tanpa ia sadari seorang batita mungil berlari kecil langsung memeluk kakinya.
“Pappa.. pappa…” si mungil tak melepas tangannya yang melingkari kaki Panjang Faiq. Ia memeluknya dengan erat.
Desiran halus menelusup ke sanubari Faiq. Ia berjongkok menyamakan badannya dengan si mungil yang mungkin berusia satu tahunan. “Wah, menggemaskan sekali…” wangi bayi terendus penciuman Faiq.
“Pappa….” Si mungil mengulurkan tangannya minta digendong Faiq.
“Adek, main sini…” suara cempreng mengganggu Faiq yang tampak tertegun memandang si mungil yang berada digendongannya. “Nanti dimarah bunda.”
Taklama muncul sepasang bocah kembar yang berada tepat di hadapan Faiq. Tatapan mereka tajam memandang Faiq dengan penuh kecurigaan.
“Adek ayo pulang, ntar bunda marah.” Salah satu bocah menarik-narik celana kain Faiq agar menurunkan si mungil dari gendongannya.
Faiq memandang si kembar dengan takjub, “Subhanallah, maha besar ciptaan Allah.” Ia kagum melihat ketiga bocah yang sangat sempurna cantik dan ganteng-ganteng. Dan ia terpana melihat mata bulat si mungil yang makin mengeratkan pelukan di lehernya. “Mata itu…” Ia teringat tentang si pemilik mata bening yang telah membuat dunianya teralihkan.
Si mungil menggelengkan kepalanya saat Faiq berjongkok hendak menurunkannya. Faiq tersenyum sambil mengelus rambut si mungil yang kriwil dan membuatnya semakin betah berada didekatnya.
“Mas Ariq, mas Ali, dedek Hasya…” dua orang babby sitter berlari dengan gopoh menghampiri mereka. Dan terkejut melihat Hasya yang tampak adem dalam gendongan Faiq.
“Maaf, tuan…” salah seorang nanny yang lebih muda hendak mengambil Hasya.
Si mungil menangis tidak mau melepaskan tangannya dari leher Faiq, membuat senyumnya semakin lebar.
“Sekarang mas Ariq dan mas Ali mandi dulu sama mbak Sari. Dedek biar mbak Lina yang bawa. Ntar bunda pulang…”
Si kembar mengangguk dan berjalan mengikuti nanny berjalan ke samping. Pandangan Faiq mengikuti ketiganya berjalan menuju rumah samping yang cukup besar.
“Maaf, tuan. Jadi merepotkan…” Lina merasa tidak enak mengikuti langkah Faiq yang kembali menemui kedua temannya tanpa melepaskan Hasya dari gendongannya.
Rudi dan Darwin melotot melihat Faiq yang berjalan sambil menggendong si mungil yang imut dan menggemaskan, yang dibalas Faiq dengan senyum.
Hasya mengendorkan pelukan di leher Faiq menatap Rudi dan Darwin dengan mimik lucunya membuat Darwin dan Rudi semakin gemes pengen cubit pipi cubbynya.
“Dari mana kamu dapat si cubby ini…” Rudi berdiri mengulurkan tangannya pengen menggendong Hasya.
“Pappa…” Hasya kembali memeluk leher Faiq merasa takut. Jemari mungilnya mendorong tangan Rudi yang ingin menggendongnya.
Keduanya melongo mendengar panggilan bocah itu terhadap Faiq yang masih lajang. Tapi Faiq bersikap biasa saja, malah senang dengan panggilan si mungil. Matanya bersinar cerah melihat tingkah si mungil yang menggemaskan siapapun yang memandangnya. Ia merengkuh tubuh mungil itu dengan erat ke dalam pelukannya.
“Papa …” Darwin tertawa sejenak, “Wah, mantap itu. Mana mamanya pengen liat. Pasti cantik. Putrinya saja menggemaskan seperti ini.”
“Maafkan saya tuan. Dedek harus segera dibersihkan, sebentar lagi bundanya pulang.” Lina mendekati ketiga lelaki muda itu. Berusaha mengambil Hasya dari gendongan Faiq yang langsung mengendorkan tangannya di tubuh mungil itu.
Hasya memberontak tidak mau melepaskan Faiq membuatnya kesusahan. Dari kejauhan Faiq melihat sebuah mobil xpander memasuki area parkir rumah sebelah.
“Itu bunda pulang. Ayo dek …” Lina agak pucat melihat mobil majikannya sudah terparkir di halaman samping.
Sementara itu di parkiran samping rumah, Hani melihat si kembar sudah wangi menyambutnya di teras depan. Ia tersenyum puas. Rasa lelah seketika hilang, melihat kedua buah hatinya tersenyum ceria tanpa kekurangan satu apapun. Ia mengerutkan kening, merasakan sesuatu yang kurang.
“Dedek mana?” Hani memandang sekelilingnya.
Mbak Sari menatap Hani dengan khawatir. “Non Hasya sama Lina main di restoran.” Ia tidak berani menceritakan keadaan sebenarnya.
Gigi yang barusan keluar dari mobil merasa keheranan melihat Hani yang masih berdiri di teras. “Ada apa?”
__ADS_1
“Dedek main di depan sama mbak Lina. Sekarang udah jamnya mandi, ntar keburu sore…” Hani melirik jam di pergelangan tangannya. Padalah jam baru saja menunjukkan pukul 2 siang, yang ia khawatirkan si mungil tidak tidur siang.
“Baiklah, aku akan menjemputnya.” Gigi beranjak menuju restoran yang berjarak 30 meter dari rumah induk tempat mereka berada.
Di dalam restoran Hasya dengan adem duduk di pangkuan Faiq yang tidak terganggu sedikitpun sambil menikmati hidangan yang tersedia di atas meja, membuat Rudi dan Darwin hanya menggelengkan kepalanya.
“Anak perempuan yang cantik.” Guman Rudi. “Kalau dikasi yang kaya gini, mau juga saya.” Tatapannya tak lepas dari wajah cantik dan menggemaskan Hasya. Ia membelai rambut Hasya dengan penuh kasih sayang.
“Dedek…” suara perempuan membuat ketiganya menoleh bersamaan. Mereka penasaran dengan perempuan yang kini berjalan menuju ke arah mereka.
Lina merasa khawatir melihat Gigi mendekat, “Dek, ayo kita pulang tuh, mami manggil…” Ia berusaha membujuk Hasya yang tak bergeming sambil menggigit kerupuk yang diberikan Faiq, tetapi tangan mungil Hasya malah mengepal kemeja Faiq.
Faiq menghentikan makannya dan berdiri menggendong Hasya, sambil tersenyum ke arah Gigi. “Ini putrinya. Maafkan saya mbak. Putri anda sangat menggemaskan. Dan saya telah jatuh hati saat pertama melihatnya.”
“Pappa…” Hasya tertawa senang begitu melihat Gigi yang kini berada tepat di depannya sambil melihatkan giginya yang baru tumbuh 2 batang melihat Gigi yang mengulurkan tangan ke arahnya. Seperti anak koala Hasya berpindah ke pelukan Gigi.
Ia mengerutkan kening mendengar Hasya yang baru pertama belajar bicara langsung menyebut papa pada laki-laki asing yang ia sendiri tidak mengenalnya. “Terima kasih, atas bantuan anda. Maaf makan siang anda jadi terganggu.” Gigi beranjak meninggalkan ketiga lelaki yang melanjutkan makan siang diikuti Lina.
Ketiga lelaki muda itu menatap kepergian mereka saling berpandangan. Faiq merasa kecewa, tapi ia tidak tau pasti apa yang membuat ia kecewa, tapi bayangan Hasya seolah bermain di pelupuk matanya.
Sesampai di kediaman Hani, Gigi masih berpikir tentang apa yang ia lihat. Ia tak pernah tau siapa mantan suami Hani. Karena dari yang ia dengar dari Amar, suami Hani adalah seorang pengusaha ternama bernama Adi.
“Maafkan saya, mbak. Dedek belum tidur siang jam segini…” ujar Lina menatap Hani dengan raut khawatir.
Hani tersenyum lembut, “Nggak pa-pa, mbak Lina.” Ia segera meraih Hasya dari gendongan Gigi. “Mbak Lina silakan istirahat bersama si kembar. Aku akan memandikan dedek.”
Gigi tersenyum cengengesan ingat peristiwa di restoran, membuat Hani merasa heran. “Kamu kenapa, kesurupan jin penunggu tanjakan depan, siang-siang gini cengengesan…”
“Hahaha…” akhirnya Gigi tertawa ngakak sambil mencubit pipi cubby Hasya, “si Dedek ini, masih kecil udah centil aja…” Ia kembali mengingat lelaki muda yang dipanggil papa oleh Hasya. Dan ia jadi memikirkan sesuatu.
Keheranan Hani semakin bertambah melihat kelakuan Gigi, “Eh, jangan. Ntar sakit dong. Kasian dedek…” Hani balas mencubit Gigi yang masih menyeringai tipis.
“Tau nggak Han, apa yang dilakukan dedek di restoran depan.”
“Emang ngapain?”
“Dia digendong seorang lelaki muda yang tampan. Dan kau tau, dedek memanggilnya papa…” Gigi bercerita dengan antusias. “Kelihatannya dia emang cocok sih jadi papa Hasya udah muda, ganteng lagi.”
Hani terperanjat, tak percaya mendengar ucapan Gigi, “Masa sih. Dedek kan belum bisa ngomong…” Hani mengusap rambut kriwil putrinya dengan penuh kasih sayang. Ia merasa sedih mendengar cerita Gigi.
“Dibilangin nggak percaya. Menurutku udah waktunya kamu mencarikan ayah untuk anak-anakmu sekaligus pendampingmu.” Gigi menatapnya dengan lekat.
“Aku udah nyaman sendiri.” Lirih Hani. “Aku merasa trauma untuk kembali berumah tangga. Mengingatnya saat membuat hatiku sakit.”
“Jangan egois. Pikirkan anak-anak. Mereka butuh sosok ayah.” Tegas Gigi, “Aku tau, kamu perempuan yang kuat dan tangguh. Tapi kamu nggak bisa terus seperti ini. Aku jadi penasaran kayak apa sih ayah anak-anakmu ini. Apa ia nggak pernah merindukan ketiga buah hatinya?”
Hani tersenyum sedih, “Apa kau lupa, dia telah memiliki keluarga sendiri. Nggak mungkinlah ia merindukan anak-anak yang tidak pernah ia harapkan kehadirannya.”
“Ah, sudahlah. Mudahan mantanmu itu tidak merasakan ketenangan, karena berbahagia di atas penderitaan kalian.” Cetus Gigi Emosi. Ia benar-benar kesal mendengar cerita Hani tentang perpisahan mereka apalagi kisah si mungil yang tidak diakui keberadaannya.
“Hus, nggak boleh doain orang yang jelek-jelek.” Hani berusaha mengingatkan sobatnya yang udah seperti keluarga sendiri.
“Biarin, kesel tau!” Gigi jadi emosi sendiri mengingat kehidupan Hani, apalagi mengetahui bahwa mantan suami Hani tidak pernah mengunjungi ketiga buah hatinya. Dan telah memutuskan ikatan kasih sayang ayah dan anak terhadap putra-putrinya sendiri.
Ketiganya akhirnya menikmati makan siang yang telah di sediakan mbah Darmi yang usianya hampir 50 tahun, dan Hani membiasakan anak-anaknya untuk memanggil mbah dengan perempuan parobaya yang sudah bekerja dengannya selama puluhan tahun.
__ADS_1