
Bab 6
Pagi itu di ruangan sidang masih tampak lengang. Hanif yang paling awal datang. Ia ingin masalah ini segera berlalu. Ia dan Hani sudah berjanji untuk memulai dari awal. Dan mereka akan berjuang bersama untuk membesarkan 3 malaikat kecil yang telah dititipkan Allah kepada kakaknya. Dan ia berjanji pada diri sendiri akan selalu membahagiakan keempatnya.
Di dalam ruangan, Faiq masih menahan debaran di jantungnya. Ia yakin hari ini akan melihat sang pemilik mata sayu. Tak bisa mengingkari perasaannya bahwa ia telah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Hanifah az Zahra.
“Sudah siap, Mas?” Hesti muncul di dalam ruangannya tiba-tiba tanpa mengetuk pintu.
Faiq mengerutkan keningnya, “Tentu saja, 10 menit lagi kan…?” tanpa mempedulikan keberadaan Hesti, ia langsung memakai baju kebesarannya.
Hendro nyelonong ke dalam ruangannya, “Masa iddah langsung tancap, boss… Jangan kelamaan, ntar keduluan yang lain.”
Faiq tersenyum tipis. Ia segera melangkah keluar meninggalkan dua rekannya yang mengikuti dari belakang. Ia mengedarkan pandangan ke dalam ruangan sidang, mengharapkan menemukan sosok yang telah mengganggu pikirannya.
“Nggak datang. Udah diwakili adiknya, tuh.” Hendro memberikan isyarat pada Faiq lewat bibirnya. Ia sudah mengamati gerak-gerak rekan kerjanya itu yang tidak sabar untuk segera memasuki ruang sidang.
Tampak Johan bersama pengacara Aditama lengkap dengan personilnya, sudah berada di posisi masing-masing. Mereka kelihatan santai, karena sudah yakin gugatan mereka hari ini akan dikabulkan.
Hendro memulai persidangan, dengan menanyakan kehadiran kedua belah pihak sebelum hasil akhir dibacakan. Seketika ruangan langsung hening. Dan tanpa banyak pedebatan, hakim langsung memutuskan bahwa gugatan perceraian antara Aditama Prayoga dan Hanifah Az Zahra telah dikabulkan oleh pengadilan Agama Jakarta Selatan.
__ADS_1
Hani menghapus airmata yang terus mengalir di pipi. Tiada tempat ia mencurahkan segala keluh kesahnya. Kini diatas tikar sembahyang ia menangis mengadu, menyerahkan segala permasalahan kepada sang pemilik jiwa dan raganya.
“Ya Allah Maha pemilik hati, kuatkanlah hati hamba-Mu yang lemah ini agar tetap kuat menerima cobaan yang Engkau limpahkan. Jadikan hamba-Mu selalu bersyukur saat diuji dan tetap dalam keadaan iman dan Islam, sehingga mampu mendidik buah hati hamba menjadi anak yang saleh dan sholehah. Ya Allah, Engkau Maha mengetahui segalanya, tunjukkanlah yang benar itu benar. Dan yang salah itu salah. Bukakan hati orang-orang yang menzolimi kami untuk melihat kebenaran ya Allah. Hanya kepada-Mu ya Allah, hamba-Mu yang lemah ini memohon.” Setelah puas mengadu dengan menumpahkan segala unek-uneknya, akhirnya Hani menuju peraduan untuk menemani ketiga buah hatinya yang masih terlelap.
Pagi itu, Hani baru selesai membantu Mbak Darmi, meracik bumbu untuk memasak menu bagi pelanggan rumah makannya. Dan ia sangat bersyukur dari hari ke hari peminat yang makan di tempat mereka semakin ramai, sehingga jam empat sore mereka harus menutup rumah makan karena menu sudah tidak bersisa.
Hani sudah duduk bersantai bersama buah hatinya. Ketiganya sudah wangi dan sedang bermain bersama di teras samping rumah makan yang bersambung dengan rumah kecil yang sekarang di tempati Hani dan ketiga buah hatinya.
Taklama sebuah mobil sedan mewah memasuki halaman rumah makan itu. Begitu sampai di teras tempat Hani bercengkrama dengan anak-anaknya mobil itu berhenti. Kemudian keluarlah seorang lelaki parobaya yang diikuti dua orang pengawalnya.
“Papa…” Hani terkejut melihat Sofyan Prayoga mertuanya yang sudah lama tak ia temui. “Silakan duduk…” Hani segera mempersilahkan mertuanya duduk di kursi kayu yang hanya tersisa satu di teras rumahnya.
“Iya, pa. Maafkan saya tidak bisa mempertahankan pernikahan ini…” tak terasa air mata menetes di pipi Hani.
Sofyan berjongkok di samping si mungil, “Siapa namanya?” Ia membelai pipi cubby itu dengan penuh perasaan. Ia tau, wajah bayi perempuan Hani copyan Aditama pada saat seusianya.
“Ananda Hasya Berliana.” ujar Hani seraya mengeluarkan Hasya dari kereta jalan, dan mendudukannya di pangkuan Hani.
“Kenapa tidak ada nama Prayoga dibelakang namanya?” Sofyan tak melepaskan pandangannya dari si mungil. Ia telah jatuh hati pada Hasya saat pertama melihatnya. Seluruh yang ada pada bayi itu milik Adi, hanya mata bulat beningnya yang mirip Hani.
__ADS_1
Hani tertunduk, ia merasa sedih mendengar ucapan mertuanya. Ia merengkuh Hasya dengan kuat. Ia yakin papanya pasti mengetahui permasalahan dalam rumah tangganya sehingga mereka bercerai
“Maafkan papa.” Sofyan memandangnya dengan raut kesedihan, “Papa tidak bisa menepati janji dengan almarhum ayahmu. Tapi papa janji, anakmu akan mendapatkan hak yang lebih dari pada perempuan yang merebut posisimu.”
Sofyan segera memerintahkan pengawalnya untuk mengambil berkas yang tertinggal di mobilnya. Ia sudah mempersiapkan pembagian untuk cucunya begitu mendapat laporan dari Johan yang juga orang kepercayaannya untuk mendampingi Adi, tentang perceraian anak dan menantu kesayangannya.
Sofyan tak habis pikir dengan kelakuan istrinya yang tega memisahkan anak menantunya serta membiarkan Adi membawa perempuan lain dalam rumah tangganya yang kini juga sedang mengandung anaknya. Hampir dua tahun ia meninggalkan Indonesia untuk membenahi cabang perusahaan mereka yang berada di London.
Ia yakin Adi mampu menjaga dan melindungi anak dan istrinya. Tapi ibarat pepatah, semakin tinggi pohon, semakin kuat angin yang menerpanya. Dan Adi tidak berhasil menahan badai yang menerpa rumah tangga mereka. Ia lebih memilih cinta lamanya dari pada mempertahankan istri serta anak-anak yang telah dimilikinya.
Hani terkejut begitu membuka berkas yang diserahkan Sofyan ke tangannya. Ia memandang wajah mantan mertuanya dengan kening berkerut.
“Rumah di kelapa gading yang sekarang ditempati Adi dan istrinya sudah papa balik namakan untuk putra putrimu….”
“Apa ini tidak berlebihan, pa?”
Sofyan memandang Hani dengan lekat, sambil membelai rambut kriwil Hasya, “Kalian berhak mendapatkan yang terbaik. Dan papa akan menjamin itu. Jadi simpan ini sebaik-baiknya. Pergunakan untuk keperluanmu dan anak-anakmu. Hanya ini yang dapat papa berikan untuk kalian.”
__ADS_1