
Senyum cerah tercetak di wajah Ivan saat Embun sudah terlelap dalam gendongannya. Satu album dari berbagai genre lagu telah ia kumandangkan untuk membuat sang putri kecilnya mengantuk hingga kini tertidur dengan nyenyak.
Ia segera membaringkan Embun di samping Fajar yang tak terganggu dengan gerakan yang ia lakukan saat merapikan posisi Embun dan meletakkan boneka beruang sebagai pembatas diantara keduanya.
Tatapannya beralih pada Khaira yang masih dalam posisi mendekap Fajar dalam tidurnya. Perlahan ia melepaskan tangan sang istri dari tubuh mungil Fajar. Ivan segera membopong Khaira menuju sofa lebar yang posisinya agak jauh dari tempat tidur si kembar berada. Ia tidak ingin aktivitas yang akan ia lakukan selanjutnya mengganggu si kembar, dan hal itu bukanlah sesuatu yang pantas untuk dilihat dua bocah kesayangannya.
Ivan membawanya ke sofa lebar yang letaknya agak jauh dari tempat tidur King size dimana si kembar berada. Hawa panas sudah menyelimuti dirinya. Hanya menyisakan boxer yang melekat, Ivan segera menyusul istrinya yang masih nyenyak dalam buaian tanpa mengetahui bahwa posisinya telah berpindah dan terpisah dari si kembar.
Senyumnya semakin terkembang karena dengan mudahnya meloloskan baju tidur yang membalut raga wangi sang istri. Sejak melihat Khaira keluar dari kamar mandi menggunakan pakaian pressbody bertali satu membuat matanya begitu dimanjakan. Walau pun indera penglihatannya bersama kedua buah hati, tetapi angan dan pikirannya sudah melanglang buana dengan fantasi liar yang bermain bersama sang istri.
Tanpa membuang waktu Ivan langsung melancarkan kecupan-kecupan ringan pada Khaira yang masih lelap dalam pelukan malam. Lukisan abstrak telah tercetak dengan jelas di kulit mulus sang istri.
“Ehmp …. “ Khaira mulai terganggu dengan sentuhan-sentuhan yang dilakukan suaminya.
Ia merasakan hawa panas menyelimuti dirinya. Khaira memicingkan mata karena merasa ada yang merayap di atasnya. Dalam keremangan kamar ia melihat sosok Ivan yang tersenyum penuh has*at padanya.
“Ayah sangat menginginkan Bunda … “ Ivan berkata dengan suaranya yang berat menahan gejolak yang sudah merambat hingga kepala. Tatapannya penuh gairah.
Khaira mengusap kepala suaminya dengan mesra. Ia membalas senyum Ivan sambil menganggukkan kepala. Ia menyadari waktu yang mereka miliki begitu padat sehingga tak ada waktu untuk berbagi kemesraan bersama.
Ia terlalu sibuk meladeni kedua bocah kembar yang sedang aktif-aktifnya dan tidak mau lepas dari dirinya dan Ivan, membuat tenaga Khaira tersita bagi keduanya. Ia sangat paham bahwa Ivan juga menginginkan perhatian darinya. Tapi apa daya, walaupun ia dan Ivan saling bekerja sama dalam mengasuh Fajar dan Embun, tetap saja tenaganya terkuras begitu saja.
“Lakukan apa pun yang mas inginkan … “ Khaira berkata dengan lirih.
Mata Ivan berbinar mendengar jawaban istrinya. Ia langsung mendaratkan bibirnya memberikan ciuman mesra yang disambut Khaira dengan penuh cinta.
Entah berapa lama waktu berlalu, namun tak menyurutkan gelora asmara yang melanda dua anak manusia yang saling memadu cinta dalam keheningan malam. Keduanya saling mencurahkan dan menyalurkan rasa yang terbelenggu di dada dengan saling memberi dan menerima kehangatan satu sama lain.
Ivan memberikan ciuman yang lama di kening istrinya begitu badai telah usai diantara keduanya. Tubuhnya terasa bugar, karena beban yang mendera di kepala telah terangkat dengan aktivitas yang telah mereka lakukan. Ia membaringkan tubuh dan saling berhadapan.
“Semoga saja Allah segera mengabulkan keinginan Ayah untuk memberikan adik bagi si kembar … “ Ivan berkata lirih sambil membelai perut Khaira dengan mesra.
Khaira menatap lekat wajah Ivan. Keduanya saling memandang dengan penuh makna. Mereka memang belum pernah membahas secara serius untuk segera menambah momongan. Khaira menganggap Ivan hanya bercanda saja.
“Apa mas siap dengan segala konsekuensinya?” Khaira mengusap wajah tampan suaminya dengan penuh kelembutan.
Ivan tertegun. Ia teringat bahwa Khaira mengalami riwayat lemah kandungan, dan tidak disarankan dokter untuk melakukan hubungan intim selama proses kehamilannya. Sejenak ia merasa bimbang dengan keinginannya untuk menambah momongan dan memberikan adik bagi si kembar.
__ADS_1
Tapi dalam hati kecilnya sangat menginginkan untuk melihat dan merasakan merawat serta memanjakan Khaira yang mengandung buah hatinya. Ia ingin membayar semua rasa sakit dan kesedihan yang dialami Khaira saat mengandung si kembar ketika mereka terpisah keadaan.
Ivan menatap wajah Khaira dengan lekat. Sampai detik ini cintanya takkan pernah pudar dan semakin mengakar dengan kuat. Walau pun pernah terpisah atas kesalahpahaman di masa lalu karena ia salah melangkah, tapi tak sedikitpun menggugurkan rasa yang terpatri di dalam hatinya yang begitu dalam.
Khaira melihat perubahan wajah suaminya yang sendu saat menatapnya. Ia mengerutkan jidat karena tidak mengerti dengan suasana hati Ivan.
“Apa kata-kataku salah?” Khaira bertanya dengan lirih.
Jemarinya membelai bibir Ivan dan mengusap brewok tipis yang menjadi ciri khas suaminya. Seperti kata mbak Hasya, suaminya semakin matang dan mempesona dengan brewok dan kumis tipis yang menghiasi wajahnya.
Ivan menggelengkan kepala perlahan. Tangannya menangkap jemari lentik istrinya yang masih bermain di bibirnya, dan mengecupnya perlahan.
Ia tidak ingin mengungkit masa lalu yang telah terjadi dan cukup menyakitkan bagi mereka berdua. Tapi, mereka telah sama-sama dewasa, dan masa lalu hanyalah sebuah ujian untuk pembuktian bahwa cinta mereka lebih kuat dan tidak akan tergoyahkan walau sekuat apa pun badai menghantam bahtera mereka di masa depan.
“Bukankah kita harus saling terbuka?” Khaira menyampaikan isi hatinya agar Ivan tidak menyembunyikan apa pun rasa yang tersirat dan ia simpan membuat Khaira memiliki praduga, “Aku tidak akan menyembunyikan apa pun. Mas boleh bertanya apa saja yang mungkin masih mengganjal … “
Ivan menghela napas berat. Ia menggenggam jemari Khaira dan menempelkan ke dadanya, sehingga Khaira dapat merasakan detak jantung suaminya yang teratur. Mata keduanya saling mengunci satu sama lain.
“Maafkan ayah karena tidak mendampingi bunda saat hamil hingga melahirkan si kembar,” suara Ivan nyaris tak terdengar dengan kilat kesedihan yang tergambar di manik hitam matanya, “Ayah menyesal karena bunda melalui semuanya sendirian ….”
“Bunda gak sendirian. Semuanya menjaga, melindungi dan menyayangi kami,” Khaira berkata dengan wajah diliputi senyum untuk menenangkan Ivan yang tampak terpukul mengingat masa yang telah lewat.
Khaira menghapus genangan air mata yang tiba-tiba muncul di pelupuk mata Ivan. Ia dapat melihat sorot penyesalan yang tergambar jelas membuat mata suaminya memerah.
“Dosa ayah pada bunda terlalu besar. Wajar jika bunda dan saudara yang lain tidak memaafkan ayah …. “
“Ayah tidak perlu mengenang masa lalu yang penuh kepahitan,” Khaira mengelus dada bidang suaminya berusaha menyemangati, “Bukankah sekarang saatnya kita menata masa depan?”
Khaira telah memikirkan semuanya dengan seksama. Ia tidak ingin terbelenggu lagi akan masa lalu yang hanya membuatnya terpuruk dan dendam yang telah ia buang karena akan berdampak pada keikhlasan yang berkurang dalam rumah tangga yang kini ia jalani bersama Ivan.
“Jangan pernah meninggalkan ayah lagi. Ayah tidak akan bisa hidup tanpa bunda dan si kembar,” Ivan menatap Khaira dan berkata dengan penuh kesungguhan.
“Semoga Allah selalu melindungi dan menjaga keluarga kita dari segala mara bahaya dan tetap utuh hingga ke surga-Nya …. “ Khaira berkata dengan penuh harap.
“Aamiin …. “ Ivan mengaminkan segala ucapan istrinya, “Bunda tau, kebahagiaan terbesar yang ayah rasakan pertama kali?”
Kini Ivan berbaring telentang dengan Khaira yang posisinya bertelekan tangan menghadapnya. Ia ingin menceritakan semua perasaan gundah yang masih tersisa dan menggelayut di dalam dadanya.
__ADS_1
“Kalau ayah gak cerita, mana mungkin bunda tau ….” Khaira menjawab dengan antusias mendengar ucapan suaminya.
“Saat pertama kali bunda mengizinkan si kembar bermain di rumah. Itulah kebahagiaan yang tak terhingga ayah rasakan karena dapat memeluk Fajar dan Embun dan bermain bersama mereka untuk pertama kalinya,” Ivan berkata dengan serius sambil memiringkan badan dan berhadapan dengan istrinya.
Khaira tersenyum mendengar cerita Ivan, “Ya, bahkan Ayah membohongi kami semua dengan mengatakan bahwa rumah itu milik Danu.”
“Hanya itulah satu-satunya jalan bagi ayah untuk terus mendekat dan melihat bunda dan si kembar,” Ivan berkata dengan lugas, “Saat mengetahui bahwa si kembar adalah darah daging dan buah cinta kita, ayah tidak bisa berkata apa pun …. “
Khaira memandang wajah suaminya tanpa berkedip. Mereka memang belum sempat dan tidak pernah saling bercerita dan mengungkapkan perasaan masing-masing atas peristiwa yang telah terjadi.
Melihat Khaira yang terdiam dan masih menunggu ucapannya membuat Ivan terus mengungkapkan semua yang tersimpan di hatinya. Ia mengingat semua peristiwa demi peristiwa yang semakin mendekatkan dirinya dengan Khaira dan si kembar.
“Pada saat ustadz Helmi mengisi formulir pendaftaran untuk Fajar di puskesmas, ayah melihat semua data tentang Fajar,” Ivan berkata dengan mata lekat memandang Khaira yang serius mendengar, “Apa perasaan bunda masih sedalam itu padanya?”
Khaira menahan senyum mendengar ucapan suaminya. Ia ingin melihat reaksi Ivan atas semua yang telah terjadi, “Bagaimana menurut ayah?”
Ivan merasa miris mendengar jawaban istrinya. Ia tau, tidak mudah bagi Khaira menghapus kenangan tentang Abbas. Dia memang lelaki terbaik yang ia kenal dan pernah dekat dengan istrinya.
Melihat wajah muram suaminya membuat Khaira mengambil alih kendali. Di luar dugaan Ivan, Khaira telah berpindah posisi di atasnya. Ivan gelagapan dengan perbuatannya.
“Bunda ingin melukis kisah tentang kita dan semua masa depan bersama si kembar. Tanpa ada nama lain di dalamnya, hanya kita.”
Khaira menatap lekat wajah Ivan dengan tatapan penuh damba yang tergambar jelas di mata beningnya. Ia dapat melihat raut cemburu dan merajuk dari nada suara suaminya.
“Bunda gak mungkin menghilangkan semua kenangan tentang almarhum. Namanya tetap tersimpan dan mempunyai tempat tersendiri. Tetapi hanya nama ayahnya si kembar lah yang memenuhi ruang di hati bunda,” ujar Khaira tersenyum tulus dengan menatap lekat mata Ivan yang tertuju padanya.
Beban yang masih terasa menggayut di hati Ivan langsung terangkat mendengar ucapan tulus dari bibir istrinya. Kebahagiaan langsung memenuhi segenap rongga di dadanya atas ucapan Khaira.
“Malam ini adalah malam yang terbaik diantara sekian malam yang telah kita lewati,” dengan cepat Ivan membalik posisi yang membuat Khaira di bawah kungkungannya.
“Maksudnya?” Khaira menatap bingung melihat perubahan raut wajah Ivan yang kini lebih bersemangat.
“Karena kita akan merayakan cinta …. “
Khaira menghela nafas dan menggelengkan kepala setelah menyadari arah ucapan suaminya. Ia sangat hapal dengan bahasa tubuh dari gerak-gerik yang ditunjukkan suaminya. Mau bagaimana lagi, ia tinggal mengikuti alur permainan yang diciptakan suaminya.
(Minal Aidin wal Faidzin. Mohon maaf atas keterlambatan otor dalam kisah Ivan dan Rara. Semoga readerku tersayang tetap setia ya. Otor masih sibuk mengurus kepindahan tugas ke tempat yang baru. Jadi otor harap readerku tersayang tetap mendukung karya otor hingga selesai yang diperkirakan tinggal beberapa bab lagi. Sayang untuk reader semua .... )
__ADS_1