
Khaira dibantu beberapa asisten rumah tangganya sedang mempersiapkan jamuan besar di untuk dihidangkan saat makan malam. Malam ini semua saudaranya akan datang berkumpul di rumah besar Marisa. Semua makanan rumahan serta beberapa makanan yang digemari anak-anak juga telah tersedia di meja makan.
Yang pertama datang adalah Hasya beserta suami dan putri sambungnya. Kehamilan Hasya semakin besar. Tapi ia tetap berusaha membantu Khaira yang masih menyusun beberapa menu yang belum dihidangkan di meja makan.
“Mbak duduk aja. Ntar calon debaynya kecapaian lagi,” Khaira mengomel melihat Hasya yang sibuk wara-wiri membawa beberapa menu hidangan dan tidak mempedulikan larangannya.
“Mbakmu ini di rumah udah seperti patung nggak boleh bergerak sedikitpun. Bukannya aku ini sakit. Aku kan hanya hamil.” Hasya mencibir menatap Khaira.
Khaira tinggal geleng-geleng kepala tak percaya mendengar ucapan saudari perempuan satu-satunya yang ia miliki. Ia tau, bagaimana posesifnya mas Valdo menjaga mbak Hasya yang selalu aktif di segala tempat, kadang kala nggak nyadar kalau dalam keadaan hamil.
“Ya, deh. Mbak boleh membantu, tapi ingat jangan terlalu capek.”
“Wah, masakanmu memang numero uno, sama seperti almarhum bunda,” puji Hasya berkata tulus.
Khaira tercekat. Setiap mendengar kata ‘mama’ membuat ia tak dapat menyembunyikan kesedihan.
“Dek …. “ Hasya menepuk pundak Khaira yang berusaha membelakangi dirinya dengan menghadap kichen set.
Dari pergerakan pundak Khaira, Hasya paham bahwa adiknya sedang bersedih. Ia pun tak bisa menyembunyikan kesedihan. Akhirnya Hasya merangkul Khaira dari belakang. Keduanya sama-sama terhanyut dalam kerinduan yang mendalam terhadap sang bunda tanpa sadar mengeluarkan air mata.
“Maafkan mbak, karena membuat suasana menjadi tidak nyaman.”
Khaira menggelengkan kepala dengan murung. Ia membalik badan dan kembali memeluk Hasya. Saat ini ia benar-benar membutuhkan pelukan yang menghangatkan hatinya untuk mengobati rasa rindu akan kehadiran sang bunda yang telah pergi mendahului mereka.
“Eh, tamu-tamu udah pada kelaparan. Sang tuan rumah masih asyik bersembunyi di dapur.” Suara Ariq membuat keduanya memisahkan diri.
Ariq menatap kedua adiknya yang sama-sama menghapus air mata yang masih tergenang di pipi masing-masing, “Lho … kenapa menangis? Kalian habis bertengkar?”
“Ini nih, putri bungsu lagi kangen bunda.” Hasya mencubit pipi gemoy Khaira.
“Pasti tentang masakan,” ujar Ariq santai, “Hanya masakan dede lah yang bikin kita selalu ingat bunda.”
Suasana kembali hening, hingga Ali dan Fatih datang menyusul ketiganya. Suasana sendu tak berlangsung lama, akhirnya mereka berlima kembali ke ruang makan yang sudah penuh dengan pasangan dan anak mereka masing-masing.
“De, mulai besok porsi makan harus kamu kurangi,” tiba-tiba Hasya menyeletuk di tengah keheningan dengan masing-masing yang menikmati jamuan makan yang menunya andalan almarhum bunda mereka.
Khaira menatap Hasya dengan kening berkerut. Selama ini tidak pernah ada yang protes dengan selera makannya yang lumayan luar biasa.
“Benar, de,” tukas Rheina istri Ali cepat, “Ntar gaun pernikahanmu yang udah mbak rancang gak muat.”
“Ha ha ha …. “ Junior ngakak mendengar perkataan kakak dan iparnya itu, “Benar, mbak. Mbak Rara itu kalo udah makan nggak ingat waktu.”
__ADS_1
Khaira mendelik mendengar penuturan Junior. Memang harus ia akui, belakangan ini bobotnya terasa nambah. Ia biasa makan di kafe bersama Abbas ataupun di outlet perhiasan bersama pegawai oma yang sering mengajaknya makan bersama. Khaira yang emang tipe pemakan apa aja tidak menolak rezeki yang disuguhkan.
“Menurut aku sih belum terlalu berlebihan juga,” ujar Ira isti Ariq yang selalu berpositif thinking dalam mengamati sesuatu.
“Aku sih fine-fine aja,” sambung Azkia istri Fatih, “Tapi dengan tinggi Rara yang hanya 165 kurasa pendapat mbak Hasya benar. Apalagi di hari pernikahan nanti, kamu akan jadi pusat perhatian orang.”
“Nggak masalah gendut, yang penting sehat.” Ariq sama seperti istrinya yang tidak pernah berpikir njlimet.
“Jangan salah ya, ada tipe lelaki yang nggak pernah mempermasalahkan gendut atau kurus, yang penting sehat,” Ali ikut mengomentari percakapan mereka.
“Setidaknya yang ideal lebih baik. Apa ade nyaman kalau kelak menemani suami tapi malahan jadi korban body shaming?” Hasya masih mempertahankan pendapatnya.
“Selama suami nggak protes ngapain harus ribut?” Valdo mengelus pundak istrinya yang masih bersikeras mengingatkan Khaira.
“Lah, lelaki itu memang egois. Bilang nggak masalah, tapi liat yang ramping mata jelalatan ….” Hasya jadi emosi mendengar selaan suaminya.
“Aduh sayang … kok malah ngegas?” Valdo mengeleng-gelengkan kepala melihat istrinya yang mendadak kesal padanya.
Semua tertawa melihat kelakuan pasangan Hasya dan Valdo. Khaira tak bisa menyembunyikan senyumnya melihat kelakuan para saudara dan iparnya.
“Aku sih jujur aja ….” Junior menyatakan pendapatnya, “… siapa sih yang nggak senang liat cewek bening, ramping dan bisa menjaga penampilan. Jadi saranku buat mbak Rara, emang betul sih yang dikatakan mbak Syasa. Jangan sampai suami mbak nanti lebih suka liat yang segar di luaran. Kan katanya rumput tetangga selalu lebih hijau ….”
“Huu gayamu, seperti lelaki pengalaman saja.” Fatih menoyor kepala Junior.
“Dia sih udah terlalu sayang sama kamu,” balas Fatih cepat, “Tapi menurutku sebagai lelaki, jujur lho yaa … emang kamu harus ngurangin berat badan. Selama ini ku lihat saat boncengan dengan Abbas kayanya yang dibawa tuh karung beras….”
“Ha ha ha …. “ sontak saja tawa pecah mendengar perkataan Fatih.
Khaira merasa kesal mendengar kekompakan saudaranya yang tertawa mendengar ucapan Fatih. Nasi yang ia ambil masih tersisa setengah piring. Tapi ia tak mempedulikan kalo dirinya dijadikan bahan lelucon saudaranya. Ia nggak akan membuang nasi dengan percuma. Karena itu adalah perbuatan mubazir. Masih banyak di luaran sana orang yang tidak bisa menikmati sesuap nasi karena ketiadaan, dan ia menyadari itu.
Setelah makan malam keluarga berakhir, mereka langsung bersantai di ruang keluarga. Marisa merasa bahagia berkumpul dengan para cucu dan cicit-cicitnya., walau pun interaksinya tinggal dua kali dalam sebulan. Tapi ia sangat berbahagia.
Malam ini selain makan bersama agenda mereka yang sudah disepakati adalah mempersiapkan rencana lamaran dan pertunangan yang akan dilakukan Abbas pada adik perempuan bontot kesayangan semua.
“Oma minta, setelah lamaran dan kalian bertunangan bulan depannya langsung menikah,” ujar Marisa begitu Ariq meminta sarannya sebagai orang yang paling tua diantara mereka semua.
“Aku sih sangat setuju oma. Rara udah lama juga berhubungan dengan Abbas. Hampir 7 tahun malah …. “ Ali menyetujui saran Marisa.
“Ngapain aja kamu tujuh tahun dekat dengan Abbas? Apa nggak bisa mencari yang lebih dari dia?” Fatih mencoba mengetahui alasan Khaira yang tetap setia bersama Abbas, walaupun keadaan ekonomi mereka sangat bertolak belakang.
“Pada diri a Abbas aku melihat sosok almarhum papa …. “ mata bening Khaira kembali berkaca-kaca saat mengucapkan itu. Ingatannya tentang almarhum Faiq begitu kuat. Papanya meninggal saat Khaira tamat SMP.
__ADS_1
Semua memaklumi bagaimana papa mereka begitu menjaga Khaira seperti berlian yang sulit untuk disentuh dan dilihat. Tidak boleh sesuatu apapun melukai putri bungsunya itu. Setiap ada panggilan atau pertemuan orang tua di sekolah Khaira, Faiq selalu turun tangan, tidak ingin diwakili siapa pun.
Marisa sebagai satu-satunya orang tua yang tersisa diantara cucu-cucunya memberi kebebasan pada mereka untuk memilih pasangan hidup. Ia sudah yakin sejak awal, bahwa cucu-cucunya akan mendapatkan jodoh serta pasangan yang tepat. Karena ia dan almarhum Darmawan telah memberikan pola pengasuhan yang moderat tanpa membanding-bandingkan siapa pun yang akan menjadi teman dekat cucunya.
“Kapan Abbas akan datang meminangmu?” Ariq bertanya dengan serius.
Ia tak ingin membuang waktu terlalu lama. Darah bisnis almarhum Tama mengalir kuat di tubuhnya. Ariq yang paling efektif dan efisien dalam memperhitungkan waktu. Ia paling tidak suka berbicara yang unfaedah.
“Dua hari lagi,” ujar Khaira cepat, “Aa Abbas nggak memiliki saudara lain lagi selain ibu. Aku pun nggak mau lamaran yang terlalu mewah. Cukup a Abbas dengan ibunya saja yang datang kemari untuk bertemu mas dan saudara yang lain.”
Ariq mengangguk setuju. Ia memahami karakter Khaira yang menurun dari almarhum bundanya. Perempuan sederhana dan tidak pernah menuntut yang berlebihan. Bahagianya sederhana yang penting bersama keluarga.
“Tapi saat nikahan biar kami yang mengurus. Kamu nggak boleh protes,” sela Rheina cepat.
Ia yang kini mengawasi WO peninggalan almarhumah mertuanya dibantu Ira istri Ariq akan mengupayakan yang terbaik. Apalagi Khaira tinggal satu-satunya perempuan di keluarga besar mereka.
Rheina, Hasya dan Ira serta Azkia sudah mempersiapkan pernikahan impian bagi adik kesayangan mereka. Keempatnya sepakat tidak akan melibatkan Khaira dalam semua urusan persiapan hingga hari H biar semua jadi kejutan di hari paling bersejarah di hidup adik mereka.
Saat mulai membaringkan tubuh di peraduan, Khaira tersentak panggilan vc Abbas membuatnya gelagapan menarik jilbab instan yang tergantung di sudut lemari.
“Assalamu’alaikum calon bidadariku ….” senyum Abbas terbit begitu wajah tampannya muncul di ponsel.
“Wa’alaikumussalam …. “ Khaira mengulum senyum simpul mendengar ucapan Abbas.
“Maafkan aa seharian ini sibuk. Alhamdulillah kafe kita pengunjungnya semakin ramai. Menu juga semakin bervariasi. Semoga kedepannya semakin berkembang. Insya Allah dari sinilah aa akan mengumpulkan rejeki untuk kebutuhan kita dan calon anak-anak kita kelak ….”
Khaira tak mampu berkata-kata. Setitik air mata jatuh mengalir di pipi chubbynya. Ia hanya mengganggukkan kepala.
“Lho kenapa diam, apa ada masalah?” Abbas bertanya dengan penuh perhatian.
“Tadi aku udah ngomong bahwa aa sama ibu datang besok malam …. “ akhirnya Khaira menceritakan hasil pertemuan saat makan malam keluarga tadi.
“Syukurlah kamu udah ngomong. Aa dan ibu mesti nyiapin apa nih?”
“Aa cukup datang saja. Keluarga aku udah senang kok.” Khaira menyunggingkan senyumnya.
Senyum itu selalu membuat Abbas terpesona. Mata bulat nan indah dengan lesung di pipi chubbynya membuat kecantikan Khaira begitu sempurna di mata Abbas, seorang lelaki sederhana namun mampu mengetuk pintu hati seorang Khaira Althafunnisa berlian tersembunyi milik dua keluarga besar Proyoga dan Al Fareza.
“Semoga Allah melancarkan urusan kita berdua hingga ke pelaminan nanti,” ujar Abbas lembut sambil mengedipkan sebelah matanya saat mengakhiri pembicaraan mereka.
“Aamiin ya Rabbal ‘alaamiin …. “
__ADS_1
Keduanya mengakhiri pembicaraan di ponsel berhubung malam pun sudah merangkak semakin larut, dengan memberikan secercah harapan di hati masing-masing.