
Ivan membalik badan. Ia tidak bisa membiarkan perlakuan tidak adil pada keluarganya, apalagi anak-anaknya. Ia tidak peduli walau pun ada kedekatan yang pernah terjadi antara dirinya dan Laura, tapi berkaitan dengan anak-anaknya ia harus meluruskan. Ia ingin orang-orang tau siapa pun tidak bisa dan tidak boleh merendahkan anak-anaknya.
Melihat perubahan wajah suaminya, Khaira langsung menahan langkah Ivan. Ia tidak ingin terjadi keributan. Ia sangat mengenal sifat suaminya yang mudah tersulut emosi jika barang miliknya diganggu.
“Mas …. “ Khaira mengaitkan tangannya.
Ivan memandang Khaira yang menatapnya penuh harap sambil menggelengkan kepala. Khaira tidak ingin Ivan berkata kasar penuh kecaman pada Laura.
“Aku tidak bisa membiarkan siapa pun berkata yang tidak baik tentang putriku,” nafas Ivan memburu.
“Jangan menurutkan emosi,” Khaira merendahkan suaranya, “Kita tau, putri kita bukan seperti yang orang katakan. Jangan merendahkan diri pada orang seperti itu.”
Rasa marah yang sempat hinggap di benaknya langsung sirna melihat suaminya yang terprovokasi mendengar apa yang ia katakan. Ia tak akan membiarkan suaminya berbuat yang menjatuhkan air muka orang lain. Biarkan Allah saja yang membalas kejahatan orang padanya.
Khaira mengelus dada suaminya untuk mendinginkan amarah yang sudah naik ke kepala. Ia yakin, jika Ivan meneruskan keinginannya maka akan banyak orang yang melihat. Ia tidak ingin Ivan mempermalukan Laura dan anaknya di tengah keramaian, tentu saja bukan hanya Laura yang malu tapi suaminya bahkan dirinya pun akan malu. Apa bedanya ia dan Ivan serta Laura jika tidak mampu mengendalikan emosi?
“Ini tidak bisa dibiarkan,” Ivan berkata dengan geram, “Aku tidak menyangka dibalik kelemahlembutannya mulutnya ternyata sangat tajam. Ternyata aku salah menilainya.”
Khaira tersenyum mendengar ucapan suaminya, “Jadi udah terbiasa dengan kelemahlembutan dan keanggunannya. Aku sih udah paham …. “
Ivan menatap lekat Khaira yang memandangnya tanpa berkedip. Ia tau makna ucapan istrinya yang mengandung sindiran. Ia yakin Khaira cukup mengenal Laura. Apalagi ustadz Hanan dan istrinya sering melihat kebersamaannya dan Laura sebelum mereka kembali bersama.
“Bunda jangan salah paham,” Ivan pun mulai mengontrol emosinya.
“Ayah, ade aus …. “ Embun menarik tangannya yang masih memikirkan ucapan Khaira.
“Mas mau es klim …. “ Fajar menunjuk kafe yang menyediakan berbagai minuman serta snack maupun es krim dengan varian rasa.
“Ayo Sayang kita duduk di sana sambil mendinginkan kepala …. “ Khaira segera menggandeng Fajar dan Embun melewati suaminya yang masih memikirkan percakapan mereka barusan.
Khaira membawa si kembar memasuki foodcourt yang tersedia di dalam mall megah tersebut. Fajar dan Embun sangat senang melihat aneka es krim yang begitu memanjakan lidah. Keduanya sibuk memilih sesuai gambar pada buku menu yang ada.
“Bos, saya bisa pulang sekarang?” Danu telah kembali di hadapan Ivan yang memandang Khaira dan si kembar yang kini duduk santai di dalam area foodcourt.
”Gak usah. Kamu ikut saja, tapi jangan terlalu dekat dengan kami. Kasian bundanya anak-anak udah capek,” ujar Ivan pelan. Matanya tak terlepas dari istri dan anak-anaknya yang kini menikmati es krim, “Kamu bisa bantu mengawasi si kembar.”
“Baik Bos.”
__ADS_1
Ivan dan Danu memasuki area dimana istri dan anaknya berada. Danu mengambil jarak dua meja dari bos dan keluarganya dan meletakkan paper bag pesanan si kembar di kursi kosong yang berada di sampingnya.
Ivan duduk di kursi kosong samping istrinya. Ia yakin Khaira memiliki penilaian sendiri akan perempuan yang telah membuatnya emosi karena mengatakan sesuatu yang tidak pantas tentang putrinya.
“Mas mau minum apa?” Khaira langsung menawari suaminya melihatnya duduk di sampingnya.
Tanpa berkata Ivan langsung meraih jus Alpukat yang ada di hadapan istrinya membuat Khaira tinggal menggelengkan kepala. Ia baru saja meminumnya sebagian, tetapi sekali teguk jus bersih tak bersisa.
“Kita pulang sesudah makan malam,” Ivan berkata pelan sambil mengamati kedua bocah yang asyik menyendok es krim hingga wajah mereka belepotan membuatnya tampak lucu, “Ayah gak dibagi es krimnya?”
“Syini …. “ Embun menyendokkan es krim ke mulut ayahnya dengan tertawa senang.
“Kasian si kembar Mas, aku khawatir mereka kelelahan …. “ Khaira keberatan.
“Habis Magrib Mas pengen bawa mereka main sebentar di playground. Bunda jangan khawatir Danu ada mendampingi mereka,” Ivan menunjuk Danu yang sedang menikmati kopi hitamnya di meja sebelah.
“Aku mengikuti apa yang Mas katakan,” Khaira mengangguk pasrah.
Ivan terdiam. Ia masih penasaran akan pendapat Khaira tentang Laura. Ia yakin banyak hal yang tidak ia ketahui tentang Laura yang mungkin Khaira mengetahui lebih banyak darinya. Bahkan di malam saat almarhumah mamanya membujuk Khaira untuk menerima dirinya kembali, malah Khaira memberikan kebebasan padanya untuk memilih perempuan yang dekat dengannya hingga terucap nama Laura di bibir mamanya.
“Mau jawaban yang seperti apa nih …. ?” Khaira meletakkan sendok es krim Fajar mendengar pertanyaan suaminya yang di luar dugaannya.
Ia heran kenapa tiba-tiba suaminya menanyakan tentang Laura, yang ia sendiri tidak pernah dekat apalagi mengenalnya dengan baik. Pertemuan demi pertemuan yang terjadi pun adalah ketidaksengajaan yang membuatnya terlibat percakapan yang tidak penting dengan perempuan modis tersebut.
“Mas yakin, bunda tau banyak hal tentang Laura,” Ivan tak bisa menahan rasa penasarannya.
Ia mengingat perlakuan Khaira saat pertama kali mendampinginya melihat proyek rumah sakit yang sudah hampir rampung. Tampak nyata istrinya menunjukkan kepemilikan terhadap Laura yang berusaha menarik perhatiannya.
“Gak ada yang penting,” Khaira berkata santai. Ia malas menanggapi percakapan suaminya.
Ivan tersenyum tipis sambil memandang lekat wajah istrinya yang berusaha menghindari percakapan, “Mas ingat siang itu saat di proyek …. “
Khaira dengan cepat menutup mulut suaminya dengan jemarinya. Bagaimana ia tidak mengingat semua perlakuannya terhadap Ivan yang membuatnya berakhir dan terkurung selama 3 jam di hotel. Mengingatnya saja membuat pipi Khaira langsung memerah.
“Ih, jorok,” Khaira merasa kesal karena Ivan menggigit jemarinya yang menutup mulut suaminya.
“Ayah jolok …. “ Fajar mengikuti ucapan bundanya membuat Khaira tak bisa menahan senyum.
__ADS_1
“Mas penasaran, pasti Bunda menyembunyikan sesuatu yang berkaitan dengan Laura,” Ivan masih menatapnya penuh harap, “Jika Bunda tidak cerita, mas akan langsung berbicara padanya.”
“Ish …. “ Khaira tak bisa berkutik dengan ucapan suaminya, “Apa yang harus ku ceritakan tentangnya?”
“Mas juga akan cerita siapa Laura,” sebelum Khaira berkata, Ivan langsung menceritakan Laura dan kedekatan dengan mamanya.
Khaira terpaksa mendengarkan cerita suaminya. Padahal sedikit pun ia tidak tertarik membahas tentang Laura, perempuan yang mempunyai kepercayaan diri terlalu tinggi.
“Dia bilang akan memberikan keturunan padamu dan mama, jika tiba masa kalian menikah nanti,” Khaira berkata dengan datar saat menyambung cerita Ivan yang telah berakhir.
Ivan terkejut mendengar ucapan istrinya,” Kapan ia mengatakan itu?” Tidak disangka omongan Laura terlalu jauh dan membuat Khaira semakin salah paham padanya.
“Gak usah dibahas lagi. Semua telah berlalu Mas. Aku tidak ingin menyimpan dendam pada siapa pun.”
“Mas tidak bisa membiarkan orang yang menghina kamu dan anak-anak,” Ivan tidak puas melihat Khaira yang santai menghadapi cercaan dan perkataan Laura, “Apa lagi selama ini Mas tidak tau bahwa Laura dan Bobby suka berbuat semaunya padamu dan Fajar.”
“Apa dengan mencacinya dan mengancamnya akan membuatnya jera?” tanya Khaira pelan.
Ia meraih dan menggenggam tangan suaminya. Ia menatap mata kelam di hadapannya dengan penuh harap. Ia tidak ingin Ivan terlibat dengan hal-hal yang tidak mendatangkan manfaat bahkan akan menimbulkan dendam yang berkepanjangan.
“Aku percaya Mas mampu melakukan apa pun. Tapi ku mohon hindari kekerasan. Jangan sampai ucapan Mas membuatnya bertindak lebih jauh.”
“Menurutmu?” Ivan menatap mata bening istrinya dengan lekat.
“Jangan melibatkan diri terlalu jauh sehingga orang lain salah sangka dengan kita,” ujar Khaira tenang, “Menghadapi orang-orang seperti Laura atau siapa pun memang harus tegas. Kita tidak bisa melibatkan diri terlalu jauh dengan urusan mereka. Menghindari lebih baik.”
“Jadi maksudmu Mas membiarkan semua perbuatan dan perkataan Laura?” Ivan masih tidak puas dengan perkataan istrinya.
“Bukan hanya Laura, siapa pun itu. Mas kan udah paham skala prioritas dan …. “
“Superioritas yang lebih utama,” Ivan langsung menyela membuat Khaira mendelik dengan ucapan absurd suaminya, “Mas akan mengingatnya. Jadi untuk saat ini Mas menganggap semua yang diucapkan Laura tidak pernah ada …. “
“Biarkan saja,” jawab Khaira santai, “Semakin Mas terpancing, justru ia akan semakin senang dan terus mencari perhatian Mas.”
“Baiklah Bunda,” Ivan mengangguk menyetujui ucapan istrinya yang cukup masuk akal.
Selama ini memang ia terlalu baik dan selalu memberikan perhatian sehingga orang menyalah artikan sikapnya. Tak ada salahnya ia menuruti perkataan Khaira jika itu membuat istrinya lebih nyaman. Dan ia akan terus mengingatnya.
__ADS_1