Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 104


__ADS_3

Dua tahun telah berlalu. Usia Fatih dan Khaira  memasuki 3 tahun. Kini Hani mengandung untuk yang ke empat kalinya. Usia kandungannya menginjak 3 bulan. Mengetahui kehamilan istrinya, sikap Faiq semakin over protektif. Dan pada kehamilan Hani kali ini pun Faiq yang harus merasakan menderitanya ngidam.


Bukan hanya ngidam biasa, tetapi perasaannya Faiq  lebih sensitif  selama Hani hamil.  Jika keinginannya akan sesuatu tidak keturutan, maka Faiq akan ngambek dan uring-uringan. Hani hanya tersenyum melihat kelakuan suaminya yang berubah ajaib. Marisa kadang emosional melihat tingkah putranya. Darmawan tinggal geleng-geleng kepala melihat keributan setiap pagi hari saat sarapan.


“Kalau tau seperti ini, mendingan kamu nggak usah hamil Ra. Menyusahkan saja.” Marisa pagi-pagi udah ngedumel melihat Faiq yang mengaduk-aduk nasi goreng yang tidak sesuai seleranya.


“Papa kenapa bunda?” Hasya yang kini kelas TK A semakin kritis dalam melihat sesuatu.


Ia merasa heran karena sejak tadi papanya tidak memakan nasi goreng yang telah disiapkan bunda di meja makan. Ia hanya mengangkat sendok dan mencium aromanya kemudian meletakkannya kembali. Hal itu terus ia lakukan berulang-ulang, membuat Hasya merasa heran.


“Nasi gorengnya nggak enak. Papa mau yang di piring bunda.” Dengan wajah memelas Faiq menatap Hani yang masih melayani Ariq dan Ali.


“Lihat papamu, apa nggak kasian sama bunda …. “ Marisa mendelik tajam merasa sebal dengan kelakuan Faiq, “Sudah mau punya anak 6 juga, tapi tingkahnya kebangetan.”


Mendengar ucapan ibunya wajah Faiq langsung berubah. Ia meninggalkan meja makan dengan wajah ditekuk.


“Ih, oma. Papa jadi ngambek tuh.” Hasya merasa kasian melihat Faiq yang berjalan ke kamar dengan raut sedih.


Hani merasa ibu mertuanya akan mulai ceramah lagi melihat tingkah ajaib suaminya. Dan itu sudah menjadi menu tambahan pada saat sarapan pagi. Untung saja ayah mertuanya sangat memahami sifat asli istrinya yang rada ceriwis.


“Sudah, biarin aja papamu yang manja itu. Sekarang cepat selesaikan sarapan. Oma dan opa akan mengantar kalian berangkat ke sekolah.” Ujar Marisa sambil tersenyum pada Hani.


Ia merasa iba pada menantunya, untunglah pada kehamilannya kali ini Hani merasa tidak ada keluhan, karena sudah diborong Faiq semua. Jadi ia bisa menikmati kehamilan tanpa banyak drama.


“Yang, makan dulu yuk …. “ Hani membujuk Faiq yang kini sudah meringkuk di tempat tidur.


Merasa istrinya sudah di dalam kamar membuat Faiq semakin menggulung tubuhnya di dalam selimut.


Hani tersenyum tipis. Ia mulai membelai kepala Faiq yang berada di dalam selimut tebal. Kalau sudah begini biasanya sampai dua jam hanya untuk membujuk dan merayu suaminya untuk mengembalikan mood-nya.


“Papa, sekarang waktunya kerja. Ntar gajinya dipotong opa, lho …. “  Hani menirukan suara anak kecil untuk merayu suaminya.


Menghadapi Faiq yang sering baper membuat Hani harus menambah stock kesabaran yang selama ini telah ia miliki.


“Bunda sini dulu samping papa.” Faiq mengeluarkan wajahnya dari bawah selimut.


Dengan menahan senyum Hani menuruti kemauan suaminya. Ia menyibak selimut dan langsung berbaring di samping Faiq.


Melihat Hani yang sudah berbaring menyamping menghadapnya membuat Faiq senang bukan main. Ia langsung memeluk tubuh istrinya yang semakin berisi. Ia menghirup dalam-dalam aroma lembut yang menguar dari tubuh istrinya.


“Papa hanya ingin sarapan bunda …. “ suara Faiq terdengar serak.


Hani melihat kilat gairah dari mata suaminya. Semenjak kehamilannya kali ini dan meningkatnya hormon membuat gairah Hani semakin meningkat, dan hal itu membuat Faiq makin bersemangat  hingga tak mau jauh dari istrinya.

__ADS_1


“Besok ikut mas ke kantor ya ….”  Faiq berusaha membujuk Hani saat ia sedang memakai kemeja untuk bersiap-siap ke kantor, setelah menyelesaikan sarapan yang ia inginkan dan membuat semangatnya kembali.


“Tapi sebentar aja, ya. Kasian Fatih dan Khaira.” Hani tersenyum manis sambil memasang dasi suaminya.


Wajah Faiq yang tadinya sumringah langsung berubah masam. Melihat perubahan wajah suaminya Hani langsung membingkai wajah tampan Faiq dengan kedua tangannya.


“Aduh cayang bunda, pagi-pagi udah ngambek. Ilang cakepnya.” Dengan cepat Hani mengecup bibir suaminya.


Melihat perbuatan istrinya, mood Faiq langsung kembali. Ia menahan tengkuk Hani dan langsung melum*tnya dengan lembut. Kalau nggak ingat ada meeting jam 10, bisa-bisa Faiq menggendong tubuh istrinya dan melanjutkan ronde kedua.


 


Sabtu ceria, itulah yang bikin Ariq, Ali dan Hasya merasa senang karena diajak ayahnya untuk jalan bareng. Biasanya mereka menghabiskan waktu bersama entah itu nonton, main ataupun belanja keperluan sekolah di mall.


Hani baru selesai membawa Fatih dan Khaira berjemur di bawah mentari pagi, kalau Faiq jangan ditanya lagi, kemana Hani melangkah disanalah dia mengekori. Marisa yang memandang dari kejauhan merasa jengah melihat putranya yang tidak bisa jauh dari istrinya.


“Sudah biarkan saja, yang namanya ngidam itu beribu jenisnya. Inikan mau ibu juga pengen nambah cucu ….” Darmawan mengingatkan Marisa yang sewot dengan tingkah Faiq.


“Bukan maunya ibu, pak. Dasar si Faiq pengennya tiap taun bikin Rara hamil biar nggak ada laki-laki yang naksir istrinya. Alasan saja …. “


Mendengar ucapan istrinya Darmawan tertawa kecil.  Ia merasa beruntung memiliki menantu sangat penurut dan bisa mengimbangi keluarga mereka. Walaupun yang ia tau Hani bukan dari keluarga kaya, tapi ia pandai menempatkan diri dan selalu menjaga nama baik keluarga mereka, malah putranya sendiri yang kadang membuat masalah besar yang akhirnya membuatnya menjadi manusia tak berguna dan sekarang telah merubahnya  menjadi pribadi yang keras dan kurang empati pada orang lain yang tidak ia kenal dan tidak memiliki ikatan kekeluargaan dengannya.


“Semoga Allah selalu menjaga Faiq dan keluarganya …. “ doa Darmawan dalam hati sambil tersenyum melihat pemandangan di depannya.


Tepat jam 3 sore Adi mengantar si kembar dan Hasya yang sudah mengantuk karena kecapaian seharian bermain. Ariq  dan Ali sudah menghambur menunjukkan mainan barunya pada Faiq dan Hani yang sedang menemani si kembar bermain.


“Assalamu’alaikum ….” Adi menyapa keduanya yang sedang menemani Fatih dan Khaira bermain.


“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakuh.” Hani menjawab berbarengan dengan Faiq.


Melihat Adi yang masuk sambil menggendong Hasya membuat Faiq merasa kesal. Ia segera membaringkan kepalanya di pangkuan Hani. Ia merasa keberatan melihat Adi ikut mampir ke rumah mereka.


“Dedek kecapaian jadi ketiduran di mobil. Kemana aku harus membawanya?” tanya Adi pelan seraya berhenti sejenak di depan mereka yang tetap santai di posisi masing-masing.


Ia dapat melihat wajah perang yang tergambar di wajah Faiq. Ia mendesis dalam hati melihat sikap Faiq. Pemandangan di depannya tetap saja membuat Adi bersedih. Jika saja ia tidak salah melangkah mungkin dialah yang sekarang di posisi Faiq yang sedang bermanja sambil membelai dan mencium perut Hani yang mulai menonjol. Adi segera memalingkan muka dari pemandangan yang membuatnya semakin nelangsa.


“Mas Ariq, tolong antar ayah ke kamar dedek.” Hani berkata dengan lembut.


“Baik, bunda.” Ariq mengangguk menyetujui permintaan Hani.


Baru kali ini Adi melihat kondisi kamar putri kesayangannya. Ia merasa minder, Faiq benar-benar memberikan fasilitas dan kenyamanan untuk kamar Hasya. Ia sangat mengetahui bahwa Hasya menggemari putri Elsa. Kamar yang indah dengan tema film animasi terkenal menghiasi hampir seluruh dinding. Segala pernak-pernik tema Frozen memanjakan mata Adi.


Ia menghela nafas sambil membaringkan Hasya di tempat tidur. Dengan telaten ia membuka sepatu dan kaos kaki yang masih terpasang di kaki putrinya. Adi menatap lekat wajah cantik putrinya dengan perasaan sedih.

__ADS_1


Andaikan waktu bisa diulang kembali … andai … andai ….


Adi mengusap cairan bening yang tanpa bisa ia cegah jatuh hingga membasahi rahangnya yang kekar. Faiq benar-benar laki-laki yang beruntung telah memiliki harta yang paling berharga dalam hidupnya.


“Kenapa masih di sini?” suara Faiq mengejutkan Adi membuatnya cepat menghapus sisa-sisa tetesan air mata di pipinya.


Faiq dapat melihat raut muram yang tergambar di wajah Adi yang masih memandang putri cantiknya.


“Aku harap kamu dapat menjaga harta berharga yang ku miliki.” Ujar Adi lirih. Jemarinya membelai rambut kriwil Hasya yang menutupi keningnya.


Faiq tidak menjawab. Ia tau kesedihan Adi. Tapi ia bisa apa. Menghiburnya bukanlah kapasitas Faiq. Adi laki-laki matang yang telah menjalani semua lika-liku kehidupan. Dan ia pasti sudah berpengalaman untuk memilih dan membuat keputusan terbaik.


Adi duduk di samping kepala Hasya tanpa melepaskan pandangannya dari wajah cantik dan menggemaskan milik putrinya. Faiq akhirnya duduk di sopa kecil berhadapan dengan Adi.


“Terima kasih Reza, kamu memang ayah yang dapat diandalkan putra-putriku.” Ujar Adi tulus. “Hani telah memilih pria yang tepat.”


Faiq tersenyum tipis, “Terima kasih atas pujiannya bang.  Pernikahan kami juga tidak semulus yang bang Tama katakan. Tapi aku banyak belajar dari bang Tama untuk lebih peka dan memprioritaskan istri dan anak-anakku.”


“Buktinya dengan membuat Hani hamil lagi. Cih …. “ Adi menatapnya sambil mencibir, “Apa kamu tidak kasian melihatnya kelelahan mengurus anak-anak?”


“Aku sudah menggaji 4 orang babby sitter untuk anak-anakku. Aku senang membuatnya hamil, biar tidak ada lagi mata-mata jahil memandangnya.” Faiq berkata sekenanya.


Adi merasa tersindir. Ia tersenyum sinis pada Faiq. “Bukannya aku tidak tau bagaimana kelakuanmu selama kehamilan Hani sekarang.”


Adi mengetahui kondisi Faiq yang mendadak lebay semenjak kehamilan Hani. Ia mendengar cerita mamanya yang kebetulan mengikuti arisan grup SMA. Biasanya Marisa membawa Hani, tapi sudah dua bulan Linda tidak pernah bertemu mantan menantunya. Marisa menceritakan kelakuan ajaib Faiq yang tidak bisa jauh dari istrinya. Saat menjamu klien dan pertemuan di luar pun ia selalu membawa Hani ikut bersamanya. Jika tidak dituruti maka ia akan merajuk mengalahkan sifat Hasya yang kini lebih dewasa.


“Ngidamku kali ini memang berlebihan dari pada saat Rara hamil si kembar.”


“Maksudmu?” Adi jadi tertarik mendengar ucapan Faiq.


“Saat Rara mengandung Fatih dan Khaira, aku tidak bisa berdekatan dengan wanita manapun kecuali Rara. Jika ada yang nekat, aku akan langsung mual dan muntah …. “ Faiq bercerita dengan bangga.


“Cih …. “


“Dan pada kehamilannya kali ini, terus-terang aku nggak suka lihat bang Tama memandang Rara walau hanya sekilas. Apalagi sengaja menatapnya dengan lama.” Faiq berterus terang dari pada ia uring-uringan sendiri merasakan cemburu, tentu lebih baik jika ia katakan bukan?


“Bukankah tiap malam dia tidur dalam pelukanmu?” sindir Adi, “Apalagi yang kau cemburui dariku?”


“Entahlah. Aku juga tidak tau.” Faiq menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tapi aku lega bisa mengatakannya.”


“Huh.” Adi menatap Faiq dengan tersenyum meremehkan.


Ia memang tak bisa menolak pesona mantan setelah bukan menjadi miliknya. Mata dan hatinya telah menjadi milik Hani, dan ia tak bisa mengubahnya sampai kapan pun. Walau pada akhirnya ia terpaksa merelakan, tapi masalah hati siapa yang tau.

__ADS_1


 


 


__ADS_2