
Khaira sangat berterima kasih atas kehadiran Dewo yang datang bersama Ratih dan Gito dalam menata perhiasan di etalase yang telah mereka persiapkan. Kang Asep dari Bandung juga membawa tiga orang pegawainya serta beberapa karya unggulan mereka. Indro dari Martapura pun tak mau ketinggalan membawa karya unggulan berlian Martapura bersama pegawainya.
Khaira bersama Jefry selaku panitia, seharian ini terus mengontrol persiapan menjelang pameran nanti malam. Beberapa pengusaha berlian nasional tampak memeriahkan pameran ini. Sehingga ballroom yang luas mulai padat dengan stand-stand yang diisi outlet dan gerai perhiasan emas, mutiara serta berlian yang sangat indah.
Khaira tidak mengetahui bahwa Ivan ikut mensponsori pameran yang akan berlangsung tersebut. Hal itu terjadi ketika tanpa sengaja Jeffry yang bersahabat dengan Hari menceritakan kekurangan sponsor untuk menggelar pameran berlian se-Indonesia itu.
Dengan senang hati Ivan memberikan bantuan untuk membiayai akomodasi peserta dan kegiatan di hotel yang menjadi tempat pelaksanaan dengan bonus satu kamar president suite akan ia tempati.
Tak terasa hari sudah beranjak sore. Persiapan sudah selesai. Kini Khaira, Jefri dan beberapa orang panitia lainnya mengadakan rapat evaluasi terakhir. Diputuskan acara akan dimulai tepat pukul 20 malam dan diakhiri pukul 22.30 malam. Untuk pamerannya sendiri berlangsung 3 hari mulai tanggal 20 – 23 Mei yang akan langsung ditutup dengan pelelangan perhiasan.
Ivan merasa lega saat jam tiga sore kontrak kerja sama yang terjadi antara perusahaannya dengan Dinas Pariwisata Lombok Timur telah selesai ditanda tangani. Mulai besok timnya sudah mulai syutting di beberapa titik lokasi yang telah disurvey dan disepakati.
Senyum puas terbit di sudut bibirnya, membayangkan surprise yang telah ia rancang bersama Hari buat istrinya Khaira.
“Malam ini kita akan merayakan kerjasama yang telah terjadi,” Adam menjabat tangan Ivan dengan erat, “Kami akan mentraktir tuan Ivan dan rombongan di Sembaloenboemboeng.”
“Baiklah, saya akan memenuhi undangan anda.” Ivan tersenyum menyambut uluran tangan Adam.
Di kamarnya Ivan sedang berdiskusi dengan Hari serta Bagong dan timnya. Beberapa video yang sempat diambil pada saat survey lokasi mulai dipilih Parjo tim editing Bagong. Mereka tidak ingin membuang waktu terlalu lama.
Pilihan Ivan tidak meleset, Bagong dan timnya yang terdiri atas 4 orang bekerja sangat cepat. Walau pun syutting baru dimulai besok pagi, tapi mereka telah memiliki video-video singkat yang akan diedit dan digabung, tinggal memasukkan unsur tokoh-tokoh berpengaruh setempat serta kesenian lokal untuk menambah daya tarik yang akan ditampilkan dalam film dokumenter Wonderfull Lombok Sumbawa.
Berdasarkan video yang mereka punya progres pembuatan film dokumenter sudah terlaksana 50 persen. Beno bagian mixing dan dubbing mulai mencari musik tradisional Bali untuk menambah kesan artistik pada ilm dokumenter yang akan ia buat.
“Aku sangat puas dengan kerja kalian,” Ivan langsung mengacungkan jempol pada Bagong.
“Jika syutting besok full kita lakukan, saya yakin hari ke tiga semua proses, editing, mixing selesai.”
“Kalian boleh ambil liburan, dari hari yang tersisa,” ujar Ivan serius.
“Berarti boleh bawa keluarga ya Bos?” Beno dengan penuh semangat menyampaikan pendapatnya.
“Tidak masalah,” Ivan menganggukkan kepala, “Aku juga akan liburan bersama istriku.”
__ADS_1
“Wah, bos honeymoon.” Bagong mengacungkan jempol, “Selamat menikmati bulan madunya bos.”
“Terima kasih,” Ivan tersenyum lebar mengingat rencana besar yang telah ia susun di kepala selama mengisi kegiatan di Bali dan Lombok, “Kami akan melanjutkan liburan di sini selama satu minggu. Kalian bisa kembali setelah proyek selesai.”
Seharian ini Ivan sengaja tidak menelpon Khaira. Ia ingin mencurahkan kerinduan saat bertemu di tempat yang sama. Ia menahan diri untuk tidak menghubungi sang istri. Padahal di dalam hati, satu jam saja tidak melihat wajah ayu bermata bening itu membuat kepalanya sakit. Tak kuat menahan rindu.
Untung saja Harlan yang mengawal kegiatan Khaira dengan rutin mengirimi foto segala aktivitas yang dilakukan sang istri. Walau pun ada perasaan kesal saat melihat beberapa lelaki yang tampak dekat dengan istrinya pada foto-foto yang ia terima.
Ivan pun melihat beberapa gambar Dewo yang terlihat dekat bersama sang istri. Tapi ia tau, Khaira seorang profesional yang tidak akan mudah tergoda walau pun ia dikelilingi laki-laki yang sering memberikan perhatian lebih padanya.
Setelah melaksanakan salat Isya, Ivan mengenakan kemeja berwarna biru laut yang dibalut jas hitam untuk menghadiri makan malam yang diadakan dinas terkait atas kerja sama yang telah terjalin.
Ivan dan Hari serta krunya sudah bersiap ketika mobil dinas terkait menjemputnya untuk menikmati makan malam di restoran mewah yang lokasinya berada di dalam hotel terkenal di Lombok Timur yaitu Nusantara Hotel & Restaurant.
Hari merasa heran melihat sekretaris Adam berpenampilan seksi malam ini, mereka datang berlima. Akhirnya ia tersenyum sendiri, merasa bahwa perempuan itu berusaha menarik perhatian bosnya.
Saat menikmati makan malam Ivan terlihat gelisah, berkali-kali ia melihat jam di pergelangan tangannya. Ia melihat segelas minuman segar yang menggugah selera tiba-tiba muncul di hadapannya.
Ia yang sudah terbiasa berhadapan dengan lawan maupun kawan hanya tersenyum sinis, karena tidak merasa memesan orange jus tersebut. Saat kliennya asyik bercengkrama ia dengan cepat mengulurkan minuman pada Hari, dengan sorot tajam meminta Hari meminumnya dengan cepat.
“Malam ini aku akan menemui istriku. Kau tidur di kamarku. Sekarang aku harus ke Bali bersama Parjo.”
“Baik bos.” Hari menggangguk.
Ivan segera berdiri dengan cepat. Ia tidak ingin membuang waktu terlalu lama. Helikopter milik maskapai Air B*li yang ia sewa sudah menunggu di halaman belakang hotel yang akan membawanya menemui sang istri di Bali.
“Maafkan kami tuan Adam. Saya harus segera kembali karena ada sesuatu yang harus saya selesaikan. Terima kasih atas kerja sama yang telah terjalin, serta makan malam ini.” Ivan menjabat tangan Adam yang melihatnya dengan perasaan heran.
“Apa anda tidak ingin ikut kami menghabiskan malam di sini?” Adam berusaha membujuk Ivan.
“Maaf tuan Adam, saya permisi. Mungkin kru saya yang lain bisa menemani anda dan rekan-rekan sekalian.” Ivan menganggukkan kepala pada tim Adam.
“Baiklah tuan Ivan,” Adam tersenyum penuh pengertian, “Semoga urusan anda bisa selesai dengan baik.”
__ADS_1
Meli merasa puas karena minuman yang ia hidangkan telah habis tak tersisa. Melihat gerak-gerik Ivan yang gelisah, ia yakin jebakan telah mengenai sasaran.
Ivan merasa puas ketika helikopter yang membawanya dari Lombok ke tempat pelaksanaan pameran berlian tidak sampai satu jam. Ia berjalan cepat bersama Parjo memasuki ruang resepsionis. Mendengar kedatangan orang yang telah menyewa satu gedung membuat manajer hotel yang bernama Dewa Ayu Kinasih asistennya dengan cepat menghampiri Ivan.
“Selamat malam tuan Alexsander,” Dewa Ayu Kinasih terpukau melihat lelaki muda yang berdiri di hadapannya.
Dalam pikirannya orang yang bernama Alexsander adalah pria botak berkaca mata tebal. Ternyata perkiraannya salah. Kini ia terpukau dengan pemandangan yang sangat menyegarkan mata di saat kegelapan malam sudah menghampiri.
“Saya ingin menghadiri pameran berlian,” Ivan berkata dengan cepat. Ia tidak ingin membuang waktu terlalu lama, sementara jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 20 kurang 10 menit.
“Baiklah tuan, saya akan mendampingi anda,” dengan bersemangat Dewa Ayu Kinasih mengikuti langkah Ivan memasuki ballroom hotel yang sudah ditata sedemikian rupa.
Ia langsung mendampingi Ivan duduk di kursi VVIP bersama para pejabat daerah serta Menteri UMKM yang sengaja diundang untuk meresmikan malam pembukaan pameran Perhiasan Emas dan Permata se-Indonesia.
Ivan merasa lega, begitu memasuki ruangan acara baru saja dibuka oleh MC. Taklama kemudian MC segera memanggil ketua panitia untuk menyampaikan kata sambutan.
“Kepada Nyonya Khaira Alexsander dipersilakan.” MC yang bernama Lia segera turun untuk memberikan kesempatan pada Khaira.
Khaira menatap Jefri dengan kening berkerut mendengar nama Ivan yang disematkan dibelakang namanya. Jefri hanya tersenyum sambil mengacungkan dua jempolnya pada Khaira.
Ivan merasa puas, karena Jefri menuruti keinginannya. Ia sengaja datang lebih awal untuk melihat penampilan sang istri yang akan menyampaikan pidato sambutan dalam pameran ini.
Ia benar-benar terpukau menyaksikan penampilan sang istri. Khaira begitu luwes dan percaya diri saat menyampaikan sambutan serta harapan-harapan ke depannya bagi pengrajin perhiasan tradisional yang ada di Indonesia.
Ia tak mempedulikan keheranan Dewi Ayu yang duduk di sampingnya. Dengan santai Ivan mengambil foto Khaira yang masih menyampaikan pidato sambutannya. Ia begitu merindukan sang istri. Rasanya Ivan tak rela melihat para pengusaha serta pejabat yang antusias mendengar pidato yang disampaikan sang istri, tapi mau bagaimana lagi, ia sudah terlanjur mengijinkan Khaira untuk pergi.
Tapi ia teringat perkataan Roni, bahwa kepercayaan yang terpenting dalam menjalin suatu hubungan. Dan ia harus percaya bahwa Khaira hanya mencintainya, dan kini tidak ada lagi lelaki lain dalam kehidupan sang istri.
Saat mengakhiri pidato sambutannya, Khaira merasa melihat sosok suaminya diantara para tamu VIP yang menghadiri pembukaan pameran. Tapi ia segera mengalihkan tatapannya. Khaira tidak yakin bahwa itu Ivan, karena sang suami tidak memberitahunya bahwa ia akan datang dan menghadiri pameran. Apalagi Khaira tau, suaminya masih sibuk dengan urusan pekerjaan yang tak bisa ia tinggalkan.
Ivan merasa kesal saat tatapan keduanya bertemu, Khaira langsung mengalihkan pandangan. Dan saat turun dari pentas ia langsung berbicara dengan Dewo dan Andini yang sudah menunggunya di ujung panggung.
Dengan sorot tajamnya Ivan melihat Dewo yang mengulurkan segelas minuman dan langsung disambut Khaira sambil tersenyum mengucapkan terimakasih. Khaira berjalan menghampiri Jefri yang sudah menunggunya untuk sesi terakhir yaitu foto bersama dengan para pejabat daerah serta pengusaha yang telah mensponsori kegiatan pameran yang berlangsung.
__ADS_1
***Maafkan author yang baru sempat UP. Seharian tadi author keluar kota untuk melihat tempat kerja yang baru. Padahal udah tersusun teks di kepala author sebanyak 3 bab yang bakal di UP hingga ke malam. Tapi apa daya HAYATI LELAH .... Dukung terus ya. Komentarnya jangan lupa. Author sayang semua .... ***