
Faiq mengerutkan dahi saat alarm tanggal di ponselnya berbunyi. Ia mengerutkan keningnya sambil membuka ponsel. Mata Faiq terbuka lebar. Hari ini tanggal kelahiran istrinya, dan ia tidak memberikan ucapan selamat pada Hani. Malahan ia menghindar dan tidak tidur di kamar mereka semalaman tadi.
“Astagfirullahadjim…” Bayangan wajah sedih Hani tiba-tiba berkelebat di kepalanya. “Maafkan aku sayang, telah melupakan hari pentingmu…” Dengan cepat ia menghubungi nomor Hani berharap menjadi orang yang pertama mengucapkan selamat padanya.
Faiq mengerutkan kening mendengar jawaban operator bahwa nomor yang ia hubungi berada di luar jangkauan. Ia mencobanya sekali lagi, tapi jawaban operator tetap sama. Faiq melirik jam di pergelangan tangannya.
“Pukul 10.30 Wib. Apa ia menjemput anak-anak di sekolah, atau menemui klien di luar?” Faiq membuka chat, mungkin saja ada pesan Hani yang tertulis di sana. Tapi lagi-lagi ia kecewa, tidak ada kabar sedikitpun dari Hani.
Ia menatap wallpaper foto pernikahannya dan Hani. Senyum dan wajah teduh Hani membuatnya sesak. Tiba-tiba perasaan rindu begitu menyiksanya. Ia men-zoom wajah Hani, hingga memenuhi layar ponselnya.
Seorang perempuan muda yang berpenampilan sempurna memasuki ruang Faiq. “Selamat pagi, pak. Saya Deby sekretaris anda.” Perempuan cantik itu terpesona melihat sang pemilik showroom. “Wah, pemandangan yang menyegarkan. Sangat menyenangkan punya bos ganteng.” Batinnya.
Faiq mengalihkan pandangannya sekilas. “Apa jadwal saya selama di sini?” Faiq mempersilahkan Deby untuk duduk di hadapannya.
Dengan sopan Deby menuruti keinginan Faiq. Ia langsung menjelaskan bahwa jam 11.30 kliennya mengajak bertemu di restoran de Soematra. Setelah jam 3, akan ada rapat dengan bagian marketing di ruang pertemuan.
“Baiklah. Silakan lanjutkan pekerjaanmu. Siapkan berkas, berikan pada Hendra. Kami akan pergi bersama.” Faiq mencoba menghubungi Hani kembali. Ia tak mempedulikan Deby yang masih menatapnya dengan mata berbinar.
Faiq memandangnya sekilas. “Apa masih ada yang ingin anda sampaikan, nona?”
“Oh..ti… tidak, pak.” Deby tergagap, “Maafkan saya.” Dengan perasaan malu Deby meninggalkan ruangan Faiq.
“Ya Tuhan! Bos, tatapan anda membuatku bergairah…” Deby mengelus lehernya, tenggorokannya terasa kering.
Faiq mengeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sekretarisnya. Ia kembali menghubungi nomor Hani, tapi tidak ada jawaban. Ia mencoba menghubungi nomor Karman. Faiq yakin sopirnya sudah berada di rumah.
“Assalamu’alaikum, den Faiq.” Karman mengerutkan kening melihat Faiq menghubunginya.
“Dari tadi saya menghubungi nomor Rara. Tapi selalu di luar jangkauan. Apa nyonya keluar rumah, mang?”
Karman terdiam sesaat. Apa yang harus ia katakan, “Tadi pergi sama si kembar, den.”
“Baiklah, mang. Terima kasih.” Faiq menghela nafas lega, setelah mendengar jawaban Karman. Ia memejamkan mata sesaat. “Jika ia kembali, beritahu saya, mang.”
“Baik, den.” Karman merasa berdosa karena membohongi majikannya, tapi mau bagaimana lagi. Ia tak ingin membebani Faiq yang masih ada tugas di luar kota.
Bayangan pertengkaran di meja makan tadi malam sangat mengganggu pikiran Faiq. Ia menyadari tatapan penuh luka tergambar di wajah Hani. Mata beningnya berkabut menahan air mata yang hendak tumpah.
Faiq mengusap wajahnya. Ia tidak tau, kenapa perasaannya jadi sensitif sekarang. Sehingga ia selalu menumpahkan kekesalannya pada Hani dan anak-anak. Selama ini ia selalu melindungi mereka. Tidak pernah berkata kasar, apalagi membentak anak-anaknya.
Apa ada yang salah dalam rumah tangga mereka. Setiap berdekatan dengan Hani dan anak-anak, emosinya jadi tak terkendali. Rencananya untuk mengantar Hesti sekaligus menceraikannya belum terlaksana karena kecelakaan yang menimpa Hesti.
Faiq bingung dengan perasaannya. Kenapa tadi malam ia tidak bisa menolak Hesti yang bersikap agresif padanya. Kalau saja perasaan mual tidak mengganggunya mungkin sesuatu yang berusaha ia hindari akan terjadi, dan itu pasti sangat menyakiti Hani. Kesedihan tiba-tiba mengusik perasaan Faiq. Ia tidak tau apa yang menyebabkan hubungannya dan Hani memburuk akhir-akhir ini.
Ketukan di pintu mengejutkan lamunan Faiq. Hendra sudah siap dengan berkas di tangannya. “Kita akan segera berangkat, tuan.”
Faiq menganggukkan kepala dan mengikuti langkah asistennya memasuki mobil mewah yang sudah terparkir dan akan membawa mereka menuju restoran de Soematra.
“Faiq Al Fareza?” salah satu kliennya mengguncang tangan Faiq saat mereka bertemu di ruangan privat dalam restoran itu.
“Arbi?” Faiq memeluk temannya yang sama lulusan Al-Azhar Mesir. Sudah 7 tahun mereka tidak bertemu.
__ADS_1
“Wah, kamu sudah sukses sekarang.” Arbi Ibnu Hafil tertawa lebar, mengingat perjuangan mereka selama melanjutkan pendidikan SI di Al-Azhar Mesir selama 4 tahun. “Berapa anakmu sekarang?”
Faiq tersenyum, “Anakku tiga orang. Sepasang kembar laki-laki dan seorang perempuan.” Bayangan ketiganya kembali muncul membuat kerinduan menggelora di dada Faiq
“Joss tenan!” Arbi tersenyum turut merasakan kebahagiaan temannya. “Akhirnya ada juga perempuan yang mampu mencairkan es kutub ini.”
“Kamu sendiri?”Faiq memandang Arbi dengan raut penasaran.
“Aku menikah sudah 8 bulan, dan istriku sedang hamil 3 bulan.”
“Wah, selamat ya. Tokcer juga.” Faiq tertawa kecil mendengar cerita Arbi.
“Sebentar lagi dia akan kemari. Kau tau, ngidamnya pengen naik supercar. Makanya aku penasaran saat mendengar pemilik showroom ini namanya persis dengan teman kuliahku.”
“Dasar ngidam anak sultan.” tawa Faiq semakin lebar mendengar ucapan Arbi.
Seorang perempuan seumuran mereka dengan memakai gamis dan bercadar menghampiri ketiganya. Arbi langsung menggandeng tangannya.
“Sayang, pemiliknya memang temanku.” Arbi memperkenalkan istrinya pada Faiq. “Perkenalkan istriku, namanya Zakiah.”
Faiq dan keduanya saling menangkupkan tangan. Walaupun tidak melihat wajahnya karena terhalang cadar, tapi Faiq yakin istri temannya pasti cantik. Dari matanya Faiq melihat itu.
“Apa kegiatanmu sekarang?” Faiq penasaran dengan pekerjaan Arbi.
“Aku dan istri mengelola biro travel Haji dan Umroh.”
“Wah selamat. Semoga lancar dan sukses selalu”.
Setelah makan siang selesai mereka kembali ke tempat masing-masing. Dan Faiq merasa bersyukur, karena Arbi merekomendasikan beberapa temannya yang ingin memesan supercar setelah melihat model terbaru di showroom milik Faiq. Ketika hendak berpisah, keduanya saling bertukar nomor telpon.
Jam empat sore Hendra mengantar Faiq kembali ke hotel tempatnya menginap. Ia baru selesai melaksanakan salat Ashar saat ponselnya berbunyi. Dengan cepat ia meraih ponsel itu, berharap Hani yang menghubunginya. Kekecewaan kembali hadir di hati Faiq. Ternyata nama Hesti yang tertera di sana.
“Assalamu’alaikum.” Sambut Faiq.
“Waa’laikumussalaam. Mas, aku dan ibu akan konsultasi ke dokter spesialis ortopedi.” Hesti berkata dengan manja.
“Baiklah. Kirimkan nomor rekeningmu aku akan mentransfernya. Semoga kakimu lekas pulih. Agar kamu bisa beraktivitas kembali.”
“Ya, mas. Aku juga pengen ikut kamu bepergian.” Suara Hesti mendesah merayu. “Mas kapan pulang aku rindu.”
Mendengar perkataan Hesti barusan membuat jidat Faiq berkerut. Ia khawatir Hesti menyalah artikan ciuman mereka kemarin malam.
“Aku tutup dulu ya. Masih ada meeting dengan staf.” Faiq langsung menutup pembicaraan mereka. Ia kembali mencoba menghubungi Hani. Faiq menggelengkan kepala tak percaya, karena nomor yang ia hubungi selalu di luar jangkauan.
Hesti tersenyum sumringah saat mengetahui transferan masuk sejumlah 10 juta rupiah. Ia langsung menceritakan kepada Dewi yang duduk di sampingnya.
“Lama-lama kita akan jadi jutawan kalau seperti ini. Ibu harap kamu tetap bertahan di sisinya. Faiq sangat kaya. Kapan lagi ibu punya menantu tajir seperti dia.”
“Aku mencintainya, bu. Ku harap mas Faiq segera menanamkan benihnya di rahimku. Dengan demikian dia tak bisa menceraikanku.”
“Semoga saja, sayang.” Dewi membelai rambut Hesti. Ia sangat berharap pernikahan anaknya bertahan hingga akhir. Apalagi ia sangat bangga dengan menantunya yang ganteng dan kaya raya.
__ADS_1
Seharian Faiq mencoba menghubungi ponsel Hani. Tapi semua panggilan itu tidak mendapat jawaban, selalu berada di luar jangkauan. Faiq berusaha membuang pikiran buruk yang tiba-tiba terlintas dipikirannya. Ia mengirim chat pada Hani. Setelah menunggu satu jam tetap sama, masih centang satu.
Setelah melaksanakan salat Isya, Faiq kembali menghubungi ponsel Hani, namun tetap tak ada jawaban. Ia mencari nomor Lina mungkin saja ia pernah menyimpannya. Tapi lagi-lagi Faiq harus menelan kekecewaan. Pikirannya benar-benar kalut.
Wajah sendu Hani yang berusaha menahan air mata dengan memeluk si kembar kembali berkelebat di pikirannya. Faiq tidak bisa tidur dengan tenang, karena belum bisa menghubungi mereka.
Faiq mencoba kembali menghubungi nomor Hani, tetap saja berada di luar jangkauan. Kerinduan pada keluarga kecilnya sangat mengganggu pikiran Faiq. Kesibukan di kantor serta menemani Hesti membuat ia merasa jauh dengan anak-anak, apalagi dua minggu belakangan ia selalu pulang malam. Dan sudah hampir dua minggu ia tidak menyentuh istrinya.
Faiq membuka galeri foto untuk mengobati kerinduan pada Hani dan anak-anaknya. Satu demi satu ia melihat gambar mereka sambil tersenyum. Aktivitasnya membuat kerinduan Faiq sedikit terobati. Setelah puas memandang foto Hani dan anak-anaknya, Faiq langsung memejamkan mata, sambil membayangkan kemesraan yang telah terjadi antara ia dan Hani. Hingga akhirnya rasa lelah membuat Faiq tertidur dengan nyenyak.
Pagi itu Deby berdandan lebih perfect dari biasa. Ia ingin sang pemilik showroom meliriknya, syukur-syukur menjadikan istri. Walaupun hanya penghangat ranjang ia rela, asalkan bisa merasakan tubuh kekar sang bos.
Melihat Faiq yang sudah memasuki ruangan, Deby dengan cepat menyusulnya sambil membawakan secangkir kopi beserta snack. Langkahnya dibuat seanggun mungkin. Tanpa mengetuk pintu Deby langsung memasuki ruangan.
“Selamat pagi, pak.” Deby menyapa Faiq dengan suara merdu merayu.
“Hm.” Jawab Faiq dingin. “Apa kegiatanku hari ini. Sore nanti aku akan kembali ke Jakarta. Untuk selanjutnya kamu bisa melaporkan langsung pada pak Tarigan”
“Wah, harus gercep nih.” Batin Deby mendengar perkataan Faiq.
Ia tidak senang bekerja di bawah bos Tarigan. Orangnya kasar, tidak menggairahkan, tapi demi sebuah tas limited edition terpaksa Deby menghilangkan dahaga lelaki tambun itu. Dengan berani Deby berdiri di samping Faiq.
Pada saat mengulurkan laporan yang harus ditandatangani Faiq sengaja tangannya meraba dada bidang Faiq. Aroma parfum Deby yang menyengat membuat rasa mual Faiq datang kembali. Tapi ia berusaha menahannya.
“Apa yang kau lakukan?” Faiq berusaha menjauhkan dirinya dari tubuh Deby yang menempel padanya.
“Bos menyukainya? Saya siap melayani?” Lirikan nakal Deby terbaca Faiq.
Melihat Faiq yang kembali serius membaca laporan, Deby kembali mendekati Faiq dengan sengaja membuka kancing atas blousenya, sehingga menampakkan belahan yang menantang.
“Hoek, hoek…” Kali ini Faiq tidak bisa mengelak. Rasa mual kembali menyerangnya. Ia langsung berlari ke toilet, apa yang telah ia makan siang tadi keluar tak bersisa. Kepalanya terasa berdenyut kembali.
Deby melongo melihat kelakuan bosnya. Ia tidak menyangka reaksi bosnya berlebihan. Parfum yang digunakannya adalah parfum mihil oleh-oleh dari Perancis yang dibawakan pelanggan yang biasa memakainya dan harganyapun bukan kaleng-kaleng cukup untuk beli sebuah gaun malam di butiq terkenal.
“Bos kemana?” Hendra yang masuk tiba-tiba terkejut tidak melihat Faiq di kursi kebesarannya.
“Nggak tau, tuh. Bos mual-mual dan langsung muntah di sana.” Deby memandang ke arah toilet dengan bingung.
“Aku akan membawanya check up ke dokter. Dari kemaren bos seperti itu.” Hendra memandang Deby sekilas, “Tolong handle ke pak Tarigan jika ada klien yang ingin bertemu bos.”
“Baiklah.” Deby mengangguk pasrah. Hilang harapannya untuk mendekati bos baru mereka.
Hendra merasa iba melihat kondisi fisik Faiq yang sangat lemah sehabis memuntahkan isi perutnya. Ia menyarankan kepada Faiq untuk general check up. Ia tidak ingin terjadi sesuatu pada bos mudanya itu.
Hendra segera menelpon ayahnya Arman yang merupakan tangan kanan Darwaman di Jakarta. Anak dan bapak itu sudah lama mengabdi dengan keluarga Darmawan, sehingga loyalitas mereka tidak diragukan lagi.
Terpaksa Faiq menyetujui usul Hendra. Ia juga penasaran ingin mengetahui penyakit apa yang ia derita. Selama ini ia selalu menjaga pola makan dan selalu berolahraga dengan teratur.
__ADS_1