
“Tolong, tolong….” Pekikan Lina membuat semua art termasuk Karman mengerumuni mereka.
“Ya Allah, nyonya…” Karman langsung menghubungi nomor Faiq, tapi tidak ada jawaban.
“Pak, hubungi tuan Adi.” Saran Lina. Ia ingat menyimpan nomor Aditama karena Linda yang memintanya.
Setengah jam kemudian Adi dan ibunya sudah berada di kediaman Faiq. Adi terkejut melihat kondisi Hani. Tanpa berpikir panjang ia langsung menggendongnya dan meminta Karman untuk mengantar mereka ke rumah sakit.
“Mama di rumah ini saja temani anak-anak. Aku akan membawanya ke rumah sakit.” Dengan wajah tegang Adi menggendong Hani, wajah Hani kelihatan pucat pasi seperti tak ada darah yang mengalir di tubuhnya.
Para medis terkejut saat melihat Adi membopong seorang perempuan muda yang dalam keadaan pingsan dengan kondisi hamil tua dan darah yang mengalir di sela-sela pahanya.
“Tolong selamatkan dia.” Suara Adi begitu keras menyebabkan IGD di Rumah Sakit Ibu dan Anak ASIH tampak kalang kabut, karena mereka mengetahui siapa Adi.
“Tuan bisa menandatangi surat ini?” seorang dokter jaga memberikan selembar surat pernyataan pada Adi.
“Aku ingin yang terbaik untuknya.”
“Anda suaminya?” petugas Admin itu menatap Adi penasaran.
“Saya walinya.” Jawab Adi cepat. Ia ingin penanganan secepatnya buat Hani.
Dengan gelisah Adi mondar-mandir di ruang tunggu. Ia memandang jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir jam sembilan malam. Ia masih menunggu dokter yang menangani Hani.
Sementara itu, Faiq masih mengendarai mobilnya sepulang dari restoran karena Hesti mengajak Faiq untuk merayakan ulang tahun Dewi yang ke 62. Ia hanya tersenyum mendengarkan perbincangan keduanya.
Hesti dan Dewi merasa senang karena Faiq memenuhi keinginan mereka untuk menikmati makan malam mewah dan tentu saja hadiah ulang tahun yang sangat berkesan diberikan Faiq pada mantan mertuanya itu.
Sesampai di rumah Faiq terkejut melihat lampu masih menyala dengan terang di seluruh ruangan. Saat memasuki ruang keluarga ia terkejut, ada Linda yang memangku Hasya yang sudah tertidur. Ariq dan Ali serta Lina dalam keadaan terjaga dengan mata membengkak.
“Assalamu’alaikum….” Faiq memberi salam.
“Tuan…Nyonya terjatuh dari tangga dan mengalami pendarahan.” tanpa menjawab salam Faiq, Lina langsung menceritakan kejadian yang menimpa Hani.
“Apa?” Mata Faiq melotot tak percaya mendengar ucapan Lina. Baru lima jam yang lalu ia mengantarkan istrinya pulang sesudah kontrol. Kini ia kembali dan mendengar kabar yang tak mengenakkan.
“Tadi ayah yang membawa bunda ke rumah sakit.” Ariq berkata masih dengan isaknya yang terdengar lirih.
“Kenapa tidak ada yang memberitahuku?” Suara Faiq mulai meninggi. Ia merasa kesal karena harus orang lain yang membawa istrinya.
“Tadi pak Karman sudah berusaha menelpon tuan. Tapi tidak diangkat.” Ujar Lina spontan.
Faiq mengusap wajahnya dengan kasar. “Sudah berapa lama mereka pergi?” tanya Faiq gusar. Ia marah dengan keadaan yang terjadi.
“Dua jam yang lalu, tuan.” Jawab Lina agak takut, karena melihat ekspresi wajah Faiq yang sudah memerah menahan kemarahan.
__ADS_1
Faiq meraih ponsel di saku jasnya, 50 panggilan dari Karman terbaca di sana. Pantas saja ia tidak mendengar nada panggilan, karena ponselnya dalam mode silent.
Dengan cepat Faiq menghubungi Karman. Panggilannya langsung terjawab. Mengikuti petunjuk Karman, kini Faiq sudah berada di rumah sakit.
Saat melihat wajah Adi, dengan kasar Faiq melayangkan tinjunya. Ia tidak terima Adi yang membawa Hani ke rumah sakit.
Adi yang tidak menyangka dengan perbuatan Faiq, memegang pipinya yang memanas karena tonjokan Faiq.
“Kamu bersenang-senang di luaran, tapi malah memukulku yang telah menyelamatkan nyawa istrimu. Dasar tidak tau berterima kasih.” Adi memandang Faiq dengan kesal.
“Aku tidak memintamu melakukan itu. Aku suaminya, selalu siaga untuk istriku.”
“Cih,” Adi meludah, “Apa buktinya? Kita lihat saja setelah kejadian ini apa sikap Hani masih sama terhadapmu.” Tantang Adi.
“Maafkan saya tuan-tuan, bisakah perdebatan ini dihentikan?” seorang perawat muda mendekati keduanya yang sedang bersitegang.
Adi dan Faiq menghentikan pembicaraan mereka. Keduanya memandang wajah si perawat dengan gelisah.
“Siapa diantara tuan berdua ini yang merupakan suami pasien?”
“Saya suaminya.” Dengan cepat Faiq menjawab.
“Baiklah, anda sudah ditunggu dokter yang akan menangani istri anda.”
Faiq mengikuti langkah perawat yang memasuki ruang praktek seorang dokter perempuan yang usianya sebaya Faiq.
“Benar dok.” Faiq melihat name tag dokter yang bernama Evalina tersebut.
“Apa anda sudah mengetahui bahwa istri anda mengalami preeklamsia selama kehamilan?”
“Benar dok. Dokter kandungan yang menangani istri saya juga telah mengingatkan hal itu.” Faiq mengingat hasil pembicaraannya dengan dokter yang menangani Hani sepuluh hari yang lalu.
“Dan perlu saya sampaikan, kondisi istri anda dan janin di perutnya sangat mengkhawatirkan. Kami hanya bisa menyelamatkan salah satunya…”
Faiq terdiam, nafasnya serasa berhenti. Kenapa jadi seperti ini? Ia telah mencukupi semua keperluan Hani serta membawanya ke dokter kandungan terbaik dengan harapan istri dan calon anak-anaknya bisa terpantau dan terjaga tanpa kekurangan satu apapun.
“Tuan Al Fareza. Kami menunggu keputusan anda. Penanganan akan segera kami lakukan…” Dr. Eva memberikan surat pernyataan yang harus ditandatangani Faiq.
Faiq terhenyak, ia tidak bisa memilih salah satunya. Ia menginginkan dua-duanya. Ia menatap surat pernyataan dengan nanar.
“Lakukan yang terbaik untuk kedua-duanya, dok. Saya mohon…” mendengar ucapan dokter, Faiq tidak bisa menahan airmatanya. “Saya ingin istri dan anak-anak saya selamat.”
“Kami tidak berani menjamin, apalagi usia kandungan istri anda belum cukup bulan. Semoga Allah memberi keajaiban untuk istri dan putra anda.” Dr. Evalina meninggalkan ruangannya untuk menuju ruang operasi.
Langkah lunglai Faiq membawanya menuju mushola rumah sakit. Sesudah mengambil wudhu ia langsung melaksanakan salat sunah untuk meminta kepada Yang Kuasa agar diberikan kesempatan menyaksikan istri serta anak-anak yang sudah ia nantikan kehadirannya.
__ADS_1
Air mata Faiq menetes menganak sungai. Untuk kedua kalinya ia terpuruk akibat kesalahan dan kelalaian yang ia lakukan. Ia tak henti-hentinya beristighfar dengan air mata bercucuran.
“Ya, Allah… janganlah Engkau berikan ujian di luar batas kemampuan hamba, ya Allah. Hamba tidak sanggup jika harus ditinggal istri hamba ya, Allah. Berikan kesempatan hamba untuk hidup bersama istri hamba, serta mendidik putra-putri hamba menjadi anak soleh dan soleha…”
Ia belum siap menghadapi kemungkinan terburuk, dan Faiq tak ingin membayangkannya, hanya kepada Sang pemilik kehidupan lah tempat ia merayu dan meminta.
“Ya, Allah jika hamba-Mu melakukan perbuatan dosa kepada istri hamba, hamba mohon selamatkan istri hamba, hamba ingin memohon maaf dan ampunan padanya. Izinkan hamba-Mu yang lemah dan hina ini membahagiakan istri hamba. Ya, Allah…Engkaulah Maha pemberi kehidupan berikan kehidupan pada istri dan anak-anak hamba. Izinkan hamba-Mu yang penuh dosa ini membimbing istri dan anak-anak hamba untuk selalu mengingat-Mu dan berjalan di atas jalan-Mu. Hamba mohon, kabulkan lah doa hamba…”
Setelah puas mengadu dengan sang pemilik jiwa dan raganya, tepat jam tiga subuh Faiq kembali ke ruangan tempat Hani berada. Ia melihat Adi masih duduk menanti dengan wajah kusut. Ia melangkah mendekati Adi yang masih termangu di kursi menunggu kabar dari dokter tentang kondisi terbaru Hani.
“Aku minta maaf karena terlalu emosi, bang.” Faiq menghenyakkan tubuhnya di samping Adi yang kini mulai tampak tenang.
“Kamu memang lelaki bodoh yang pernah ku kenal. Dan aku menyesal menyerahkan Hani dan anak-anak padamu.”
“Terserah apapun umpatan bang Tama akan ku terima. Tapi aku tak akan berpisah dengan Hani apa pun yang terjadi.”
“Aku heran kenapa kamu masih melibatkan diri dengan mantan mertua matremu itu.” Adi menyindirnya seketika.
“Sebagai sesama manusia sudah sewajarnya saling menolong, apalagi dia adalah orang yang pernah ku kenal.”
“Kamu harusnya berpikir, sebagai seorang pengusaha berbuat kebaikan dan memberikan bantuan kepada yang membutuhkan sudah kewajiban kita, apalagi membantu orang yang tidak beruntung. Tapi jangan melibatkan diri terlalu jauh, biarkan orang lain yang bekerja untuk kita. Aku tidak akan mengotori tanganku untuk mengurus orang yang tidak ada ikatan darah denganku.”
Adi menatap Faiq dengan curiga, “Atau kamu memang ada main dengan anaknya. Jika itu yang terjadi aku akan meminta Hanif membawa Hani dan anak-anak sejauh mungkin sehingga tidak akan kau temukan. Hartaku cukup untuk membiayai kehidupan mereka dengan layak.”
“Tidaklah, bang. Sampai kapan pun aku hanya milik Hani.” Faiq berkata dengan serius, “Aku hanya mengantar bu Dewi kontrol setelah kejadian ia ditabrak orang tak dikenal.”
“Jangan kau pikir aku tidak tau. Tapi tidakkah kau memikirkan perasaan Hani melihatmu masih perhatian dengan mantan mertuamu.”
“Aku hanya menganggapnya saudara, tidak ada hal lain.”
“Ck ck ck …” Adi menatapnya, “Aku mengetahui kesedihan Hani dari mama. Mama menceritakan padaku saat sebulan yang lalu ia mengajak Hani dan anak-anak untuk makan di restoran. Ia melihat kamu bertiga dengan mantanmu makan di restoran yang sama.”
“Astagfirullahaladjim…” Faiq memutar kembali ingatannya.
Saat itu ia tidak sendiri tetapi bersama Rudi. Entah bagaimana ceritanya Hesti mengajaknya memutar jalan lain, dan mereka makan siang bersama di ruang VIP. Saat ia pulang ke rumah, Hani tidak banyak bicara. Tetapi tetap melayaninya seperti biasa.
Dan dasarnya Faiq memang tidak peka, ia membiarkan Hani dengan kebisuannya. Pikirnya sikap Hani memang pendiam dan tertutup sehingga lebih baik ia menyembunyikan semuanya dari Hani.
“Kamu sangat mudah dimanfaatin orang lain. Apa kamu pikir bisa jadi pahlawan buat semua orang?” ucapan Adi memotong lamunan Faiq. “Apa kamu tau bagaimana keadaan Hani saat aku membawanya kemari? Dia terjatuh dari tangga dengan kondisi pingsan dan darah yang mengalir…”
Faiq tidak sanggup membayangkan cerita Adi. Ia merasa sangat bersalah karena tidak mengetahui kondisi yang dialami istrinya.
__ADS_1