Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 70


__ADS_3

Setelah mengantarkan Hasya dan Ali kembali ke rumah karena harus tidur siang, Faiq bermaksud makan siang di warung bu Sarmi. Ia melihat banyak pengunjung yang sedang makan di warung makan sederhana tersebut.


Perasaan sedih muncul di hati Faiq. Bagaimana mungkin ia membiarkan istrinya yang sedang mengandung pewaris tunggal Horisson Corp menjadi seorang kasir di warung makan kecil nun jauh di kota Berastagi ini. Padahal ia mampu memberikan kehidupan lebih dari sekedar layak umtuk keluarga kecilnya.


Tapi ia yakin, mungkin ini namanya ujian hidup berumah tangga yang harus ia jalani, untuk membuktikan ketulusan dan berapa besar cinta dan kasih sayang yang ia punya untuk keluarga kecilnya.


Pandangan mata Faiq terarah pada seorang lelaki seusia dirinya yang duduk di depan meja kasir. Ia mengerutkan jidatnya. Tampaknya lelaki itu sedang mengobrol dengan Hani. Ia juga melihat Wulan yang kewalahan di samping etalase menu hidangan melayani pengunjung yang hendak membayar.


Tanpa sepengetahuan Hani dan lelaki yang berada di hadapannya, Faiq duduk dengan membelakangi keduanya. Ia ingin mendengar topik pembicaraan mereka.


“Maafkan saya pak Irwan. Saya tidak bisa menerima niat baik anda.” Suara lembut Hani membuat Faiq memasang telinga dengan baik.


“Saya prihatin dengan kondisi mbak Hani. Dengan tiga anak yang masih kecil, dan kini sedang hamil muda. Saya jamin kehidupan mbak Hani akan lebih baik jika menerima pinangan saya. Saya sudah memikirkannya selama seminggu ini. Jika mbak Hani belum bisa menjawabnya sekarang, saya akan sabar menunggu, hingga mbak Hani bisa menerima saya.”


Darah Faiq mendidih mendengar ucapan lelaki yang sedang berbincang dengan istrinya itu. Dengan cepat ia membuka ipad-nya dan dalam mode on camera untuk melihat wajah Hani dan lelaki yang berbincang dengannya.


“Saya bahagia bersama anak-anak kami. Almarhum mertua saya memberikan warisan yang sangat banyak. Jadi pak Irwan tidak perlu menawarkan kehidupan baru, karena saya baik-baik saja.”


Irwan terkejut mendengar ucapannya. Ia kurang yakin dengan ucapan Hani. Jika memang Hani dan anak-anaknya mendapat warisan, kenapa ia harus bersusah payah bekerja di warung makan sederhana itu.


“Aku tidak yakin dengan ucapan mbak Hani. Aku sudah bercerai dengan istriku. Yakinlah aku akan menjadi ayah sambung yang baik untuk anak-anakmu, karena istriku berkeras untuk mengambil hak asuh putri kami.” Irwan menatapnya penuh harap. “Aku tidak akan menyia-nyiakan mbak Hani, jika bersedia menjadi istriku.”


“Tak dapat dibiarkan.” Batin Faiq kesal.


Dengan gusar ia bangkit dan  berdiri di hadapan keduanya. Sengaja Faiq meletakkan tangannya di bahu Hani.


“Sayang, sudah waktunya pulang. Aku nggak ingin kamu capek.” Dengan sengaja ia menghapus keringat yang mengalir di pelipis Hani. Ia tetap berdiri tak bergerak. Ingin memperlihatkan kepada lelaki muda di hadapannya bahwa Hani adalah istrinya, miliknya.


Perbuatan Faiq sontak membuat keduanya terperangah. Irwan menatap Faiq dengan tajam. Ia tidak menyangka perempuan muda yang  telah mencuri hatinya masih memiliki suami. Padahal dua minggu belakangan ia telah meminta seseorang menyelidikinya, dan orang yang ia suruh telah meyakinkan bahwa Hani tinggal bersama dua orang asisten rumah tangga serta 3 anaknya yang masih kecil.


“Mbak Hani, mas Ariq badannya anget?” panggilan Ida mengejutkan mereka.


Hani tersentak. Saat Ariq mengatakan ingin berbaring di kamar lamanya Hani meng-iyakan saja. Tapi ia sudah curiga kondisi Ariq kurang sehat, karena ia tidak bersemangat saat ikut bersamanya.


“Di mana dia sekarang?” Faiq bergegas  mengikuti langkah Hani yang berjalan menuju kamar kecil dekat dapur.


“Mas Ariq…” Mata Hani berkaca-kaca melihat putra sulungnya yang tampak kedinginan seperti orang menggigil.


Dengan cepat Faiq menggendongnya, “Kita harus segera membawanya ke rumah sakit terdekat.”

__ADS_1


Hani berjalan mengikuti Faiq dengan perasaan sedih. Ia tak mempedulikan tatapan pengunjung yang memperhatikan gerak-gerik mereka.


Di sinilah kini keduanya berada di RS. Harapan Ibu. Hani masih menunggu di ruang observasi, suhu tubuh Ariq semakin tinggi. Faiq segera mengurus di bagian administrasi, untuk mengurus kamar inap  karena dokter jaga mengharuskan rawat inap.


Faiq menempatkan putranya di ruangan VIP room. Ia akan memberikan pelayanan terbaik yang disediakan rumah sakit untuk keluarganya. Faiq menatap Hani yang duduk di samping bed, sambil membelai rambut Ariq yang dalam keadaan tidak sadarkan diri karena demam tinggi.


Tangan Ariq yang telah terpasang infus membuat perasaan sedih Hani semakin menjadi. Faiq mendekati istrinya dan langsung memeluk kedua bahu Hani. Ia merasakan bahu Hani bergetar. Ia dapat merasakan kesedihan yang dialami istrinya.


“Tenanglah sayang. Dokter akan segera menanganinya. Kita tinggal meminta kepada Allah untuk mengangkat penyakitnya.” Faiq membelai kepala  istrinya yang tertututup jilbab.


Hani membalik tubuhnya dan menghadap Faiq. Tangannya merangkul pinggang Faiq. Saat ini ia benar-benar terpuruk. Wajahnya ia benamkan ke perut Faiq yang masih dalam keadaan berdiri. Melihat perbuatan Hani, perasaan bahagia membuncah di dada Faiq. Ia akan memberikan yang terbaik untuk anak dan istrinya.


“Aku tidak kuat melihat Ariq dalam keadaan begini.” Hani berkata sambil terisak-isak.


Faiq merasakan bajunya sudah basah karena tangisan Hani. Ia membelai kepala istrinya dengan lembut sambil menghujani kecupan-kecupan ringan di sana.


Taklama kemudian seorang dokter di dampingi perawat memasuki ruangan. Dokter segera mengeluarkan stetoskop sementara asistennya memasang termometer di ketek Ariq. Hani melepaskan tangannya dan berdiri melihat aktivitas dokter dan perawat.


“Putra bapak dan ibu terkena  tipes. Pastikan ibu tetap memberikan asupan cairan yang cukup. Air putih, susu ataupun jus boleh diberikan sesudah makan.” Ujar dr. Gunawan sambil menatap Faiq dan Hani bergantian.


“Terima kasih, dok.” Faiq menyalami dokter Gunawan, “Kami akan mengikuti semua saran dokter.”


Dr. Gunawan memandang Hani, “Wah, kelihatannya ibu sedang hamil. Calon anak kedua, ya?” Ia bertanya dengan penuh perhatian.


“Wah, selamat.” Dr. Gunawan memandang keduanya dengan takjub. “Saya suka dengan anak-anak. Mereka adalah sumber kebahagiaan.”


“Terima kasih, dokter.”


Dr. Gunawan kembali memandang Hani dengan intens membuat rasa kesal kembali mengganggu pikiran Faiq.


“Sudah berapa usia kehamilan ibu?”


“Hampir 4 bulan.” Jawab Hani sambil membelai perutnya.


“Wah, kelihatan lebih besar dari usia kandungan normal. Jangan-jangan ibu hamil kembar?” dr. Gunawan tak mengalihkan pandangannya dari perut Hani.


Dengan cepat Faiq menutupi tubuh Hani dari pandangan dr. Gunawan. Ia tak ingin lelaki lain berimajinasi dengan tubuh istrinya.


“Apa istri bapak mempunyai keluarga yang memiliki keturunan kembar?” dr. Gunawan mengulas senyum, memahami keposesifan Faiq terhadap istrinya.

__ADS_1


“Anak pertama kami kembar.” Jawab Faiq cepat. “Namanya Ariq dan Ali.”


“Sangat menyenangkan memiliki anak banyak.  Apa bapak sudah pernah membawa istri anda USG untuk mengetahui kebenaran prediksi saya?”


Faiq terdiam, “Saya baru seminggu di sini. Akan saya pastikan hal itu.”


“Rumah sakit ini juga mempunyai peralatan obgyn. Bapak bisa membawa istri untuk periksa kehamilan.”


“Terima kasih dokter. Saya akan melakukannya.”


“Baiklah, kami permisi. Semoga putra anda segera sembuh.”


“Terima kasih dokter.” Hani tersenyum sambil menganggukkan kepala saat dokter Gunawan berlalu diiringi asistennya. Ia kembali memeriksa keadaan Ariq.


“Sayang, aku ingin mengantarmu periksa ke dokter kandungan?” Dengan semangat Faiq memandang wajah Hani, ingin membuktikan perkataan dr. Gunawan. “Aku ingin melihat Faiq junior yang sudah bersemayam di rahimmu…”


Hani tidak terlalu mempedulikan perkataan Faiq, karena ia terlalu fokus pada Ariq yang kini mulai membuka matanya.


“Bunda….”  Ariq memandang ke sekeliling ruangan yang terasa asing baginya. “Kita berada di mana?”


Dengan cepat Hani bangkit dari kursi dan berdiri di samping Ariq, “Kita di rumah sakit. Tadi badan mas Ariq anget, jadi Papa dan Bunda bawa mas kemari…”


Ketukan di pintu menghentikan pembicaraan mereka. Faiq segera membukakan pintu. Tampaklah Hanif bersama Wulan sambil membawa rantang makanan serta parcel buah.


“Wulan yang menelponku.” Hanif berjalan dengan cepat menuju tempat tidur Ariq, “Apa yang terjadi dengan jagoan paman ini?”


“Dia terkena tipes?” Faiq menjelaskan. “Mungkin akan di rawat sekitar 3 sampai 4 hari.”


Hani memandang wajah Ariq dengan sendu, “Mas Ariq harus makan yang banyak ya, agar cepat sembuh.”


“Mbak Hani juga harus makan, kasian debaynya.” Wulan segera menyiapkan makanan yang telah ia susun di dalam rantang yang ia bawa. “Biar aku yang menyuapi Ariq.”


Hani tertegun menatap menu yang dibawakan Wulan, tidak ada yang mengundang seleranya. Ia hanya terdiam.


“Mas Faiq juga harus makan.” Hanif meminta Faiq untuk makan bersamanya.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2