
Dengan cepat Ivan mendorong Roni yang masih memeluknya dengan erat. Siapa pun yang melihat kelakuan mereka pasti akan berpikiran sama.
“He he …. “ Roni nyengir tidak enak hati pada Ivan, “Maafkan aku terbawa suasana bos.”
Roni terkekeh meninggalkan ruangan Ivan dengan perasaan lega. Kini ia yakin, Ivan telah menemukan jalan yang akan menuntunnya menuju kehidupan lebih baik.
Ivan menggelengkan kepala melihat tingkah kedua bawahannya yang kini sibuk dengan pikiran masing-masing. Ia dapat bernafas lega sekarang, karena Roni akan selalu di sampingnya dan mendukung semua yang akan ia lakukan untuk memberikan kebahagiaan pada Rara.
“Nggak nyangka ya, lo dan bos menjalin hubungan terlarang,” Gisel menatap Roni dengan rasa jijik, “Pantas aja lo dan bos nggak pernah mandang gue. Ternyata oh ternyata ….”
Roni mengerutkan kening mendengar perkataan Gisel yang meremehkannya. Tapi ia tak mempedulikannya langsung ngeloyor menuju ruangannya.
Sesampai di ruangannya Roni membuka laci meja kerjanya. Ia mengeluarkan fotonya yang sedang duduk menikmati kopi di kafe Abbas. Roni tersenyum memandang wajah ramah Abbas yang mengacungkan jempol saat Khaira memoto mereka berdua.
Ia ikhlas melepas Khaira bersama Ivan. Ia menghormati dan menyayangi keduanya. Ivan adalah bos yang baik dan penuh perhatian pada bawahannya, hanya Ivan sudah terlalu jauh dari agama. Roni berharap dengan pernikahan antara Ivan dan Khaira membuat kehidupan Ivan lebih terarah.
Senyum simpul menghiasi wajah Roni mengingat perkataan Ivan yang pernah merendahkan Khaira dan memandangnya sebelah mata saat ia masih bersama Sandra. Ia jadi berpikir, sejak kapan Ivan tertarik pada Rara dan kenapa ia tidak mengetahui kedekatan keduanya, apalagi ia tau bahwa Khaira sangat mencintai almarhum Abbas.
Roni hanya ingat satu hal, saat di kafe ia melihat Khaira menggendong bayi yang mereka sangka adalah putra Abbas. Ia melihat tatapan Ivan sangat berbeda dan tidak terlepas pada Khaira. Ia mulai menyusun potongan-potongan puzzle tentang perubahan sikap Ivan, dan mulai sering mampir untuk makan siang di sana. Padahal setaunya, Ivan tidak menyukai makanan lokal.
Roni manggut-manggut setelah menemukan titik terang awal ketertarikan Ivan pada sosok janda Abbas. Ia teringat saat Gisel menabrak pegawai kafe, hingga Rara datang melerai mereka. Saat itu sorot kekaguman sudah terlihat di mata Ivan.
“Mungkin bos jatuh cinta pada pandangan pertama,” Roni bermonolog sendiri. Kini ia yakin dengan perasaannya, sejak itulah Ivan mulai tertarik pada Rara.
Malam telah kembali, hawa dingin menyergap karena hujan turun yang sangat lebat. Khaira baru selesai melaksanakan salat Isya. Setelah membaca al-Qur’an dan menyimpan di tempatnya ia segera beranjak menuju peraduan. Sudah hampir seminggu ia menginap di rumah Hasya.
Bawaan hamil membuatnya jadi malas. Kini ia menjadi seorang putri yang harus selalu dilayani semua keinginannya, dan Hasya sangat memahami itu. Ia dan Valdo sangat memanjakan Khaira dan menuruti apa pun yang ia inginkan. Hal inilah yang membuat Khaira malas kembali ke rumah.
Hasya berusaha membujuknya untuk cek kandungan ke dokter obgyn teman Valdo. Tapi Khaira menolak. Ia enggan untuk ketemu orang asing. Akhirnya Hasya lah yang memenuhi semua kebutuhan vitamin serta susu hamil untuk menunjang kecukupan energi bumil.
Hasya belum berani untuk menceritakan pertemuan antara Ivan dan saudaranya yang lain. Tapi mereka telah sepakat untuk membicarakannya besok malam di rumah Hasya. Oma Marisa, bu Ila dan paman Hanif juga akan diundang. Mereka akan meminta Khaira untuk segera melaksanakan pernikahan dengan Ivan secepatnya demi janin yang terus bertumbuh di dalam kandungannya.
Rasanya Khaira baru membaringkan diri di kasur yang empuk. Rasa capek dan mager bawaan hamil membuatnya ingin cepat beristirahat dengan cepat. Hujan di luar semakin deras disertai tiupan angin kencang membuat jalanan sepi tak berpenghuni.
Khaira membuka galeri di ponselnya. Senyum menawan Abbas menyambutnya membuat perasaannya terasa tergores. Album foto itu telah tersusun menjadi video yang selalu menemani Khaira melewati hari-hari sendirian. Dengan berlatar lagu Denting membuat suasana semakin menghanyutkan. Sambil memejamkan mata Khaira menikmati bait demi bait lagu Melly Goeslaw yang kini menyuarakan isi hatinya.
Denting yang berbunyi dari dinding kamarku
Sadarkan diriku dari lamunan panjang
Tak terasa malam kini semakin larut
'Ku masih terjaga
Sayang, kau di mana aku ingin bersama?
Aku butuh semua untuk tepiskan rindu
__ADS_1
Mungkinkah kau di sana merasa yang sama?
Seperti dinginku di malam ini
Rintik gerimis mengundang kekasih di malam ini
Kita menari dalam rindu yang indah
Sepi kurasa hatiku saat ini, oh sayangku
Jika kau di sini, aku tenang
Sayang, kau di mana aku ingin bersama?
Aku butuh semua untuk tepiskan rindu
Mungkinkah kau di sana merasa yang sama?
Seperti dinginku di malam ini
Rintik gerimis mengundang kekasih di malam ini
Kita menari dalam rindu yang indah
Sepi kurasa hatiku saat ini, oh sayangku
Jika kau di sini, aku tenang
“Di mana aku sekarang?” Khaira memandang sekelilingnya yang tampak sunyi tidak ada siapa pun bersamanya, “Apakah aku sekarang berada di surga?”
Pikiran Khaira mulai bekerja. Ia tidak pernah melihat keindahan yang begitu sempurna di hadapannya. Mata Khaira terpaku pada sebuah undangan pernikahan di atas meja yang berada di hadapannya. Dengan perasaan berdebar ia meraihnya dan mulai membacanya dengan pelan.
“Pernikahan KA dan AI …. “ Khaira kembali meletakkan undangan di atas meja dan melabuhkan pandangan menatap lukisan alam karya Sang Maha Agung dengan penuh kekaguman.
Tepukan pelan di bahunya membuat Khaira menoleh. Ia terpana, Abbas berdiri di belakangnya dengan senyum ramah yang menjadi ciri khasnya.
Tanpa membuang waktu Khaira langsung berdiri dan memeluk suaminya dengan cepat. Ia dapat merasakan detak jantung suaminya begitu kencang seperti yang ia alami sekarang.
“Aa kemana saja? Aku sangat merindukan aa …. “ Khaira mencium aroma wangi yang menguar dari tubuh suaminya.
Abbas tersenyum lembut. Ia melepaskan pelukan dan menggandeng tangan Khaira membawanya duduk kembali ke kursi yang ada. Keduanya saling bertatapan penuh makna.
Khaira menyentuh wajah tampan suaminya dengan segenap perasaan yang sukar dilukiskan. Tanpa sungkan ia langsung menghujani kecupan-kecupan ringan di wajah tampan Abbas. Rindu yang ia tahan sudah terlalu berat.
Ciuman Abbas yang lembut penuh perasaan di bibirnya membuat Khaira memejamkan mata. Ia kembali memeluk Abbas dengan erat dan tak ingin melepaskannya.
Abbas menatapnya lembut, “Kamu kelihatan lebih cantik sekarang.”
__ADS_1
“Aa juga sangat tampan,” Khaira tak ingin melepaskan pandangan walau pun hanya sedetik. Ia takut jika memejamkan mata Abbas akan menghilang dari hadapannya.
Abbas meraih kedua tangan Khaira dan mengecupnya perlahan. Tatapannya penuh makna membuat Khaira merasa heran, karena Abbas tidak pernah menatapnya sedalam itu.
“Kamu harus bahagia,” ujar Abbas lembut tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Khaira menyalurkan kehangatan.
“Aku bahagia hanya bersama aa. Aku sangat menantikan saat-saat seperti ini,” Khaira berkata terus terang. Ia tak ingin menyembunyikan rasa yang sudah menyesakkan dada akan kerinduan yang begitu besar pada sosok suaminya.
Abbas membelai wajah ayu di depannya dengan segenap perasaan. Menyusuri pahatan halus kesempurnaan sang pemilik keindahan yang Maha Sempurna.
“Sekarang aku sudah tidak bisa melindungi dan menjagamu lagi,” ujar Abbas pelan, “Kamu akan segera menemukan kebahagiaan.”
“Aku selalu menunggu kebersamaan kita sampai kapanpun,” Khaira menahan tangan Abbas yang masih membelai wajahnya, “Karena bahagiaku bersama aa ….”
“Aku tau kamu sangat mencintaiku, seperti perasaanku yang tak akan pernah berubah,” Abbas menatap Khaira dengan senyum yang selalu menghias wajah tampannya.
Khaira menangkup wajah Abbas dengan kedua tangannya. Mata keduanya saling menatap hingga Khaira melihat pantulan dirinya di mata hitam teduh milik Abbas.
“Dunia kita sudah berbeda. Ikhlaskan aku. Sudahi kesedihanmu. Kebahagiaan akan segera menghampirimu.”
Khaira menggelengkan kepala mendengar ucapan Abbas. Bagaimana mungkin ia bisa melepaskan Abbas dan berbahagia tanpa keberadaannya di sisinya.
Tampak sosok lelaki tegap berjalan menghampiri keduanya. Khaira berusaha mengenali wajah lelaki itu, tapi ia tidak bisa melihatnya dengan jelas.
Abbas tersenyum menjabat tangan lelaki asing yang baru tiba diantara keduanya. Keduanya berpelukan erat di hadapan Khaira.
Tak lama kemudian Abbas melepaskan pelukannya. Ia meraih tangan Khaira memintanya berdiri. Khaira menuruti keinginan Abbas.
Abbas meraih tangan lelaki tegap yang kini berdiri di hadapannya. Ia menyatukan kedua tangan yang berada dalam genggamannya dan membelainya dengan lembut.
“Sekarang aku menitipkan Rara padamu. Jangan pernah menyakitinya dan membuatnya bersedih. Aku mempercayaimu.”
Lelaki itu menganggukkan kepala dengan yakin. Khaira merasakan saat Abbas melepaskan tangannya dan membiarkan lelaki asing itu menggenggam tangannya. Kehangatan terasa mengaliri tangan hingga ke sanubari Khaira merasakan genggaman tangan lelaki asing yang tidak melepaskan tangannya.
Dengan perlahan Abbas berjalan menjauh meninggalkan keduanya. Bibir Khaira terasa terkunci. Ia ingin memanggil Abbas. Ia merasa khawatir karena Abbas meninggalkannya dengan lelaki asing yang tak ia kenal.
“A … aa … aa … jangan pergi. Jangan tinggalkan aku!” Khaira terbangun dari tidurnya.
Ia terkejut menyadari bahwa ia hanya bermimpi, tapi serasa nyata. Tangannya masih merasakan kehangatan. Air mata Khaira langsung terjun bebas. Baru kali ini ia memimpikan Abbas semenjak kepergiannya beberapa bulan yang lalu.
“Pertanda apa ini ya Allah …?” Khaira mengelus dadanya yang terasa sesak.
Ia melihat jam dinding yang baru menunjukkan pukul dua dini hari. Dengan pelan Khaira turun dari tempat tidur. Ia ke kamar mandi untuk berwudhu. Perasaannya tidak nyaman dengan mimpi yang baru ia alami.
Khaira segera melaksanakan salat malam untuk meminta petunjuk dan meminta ketenangan pada Yang Kuasa, agar kuat menjalani hari-hari. Teringat pesan Abbas untuk segera menyudahi kesedihan yang beberapa hari ini menderanya. Tak terasa air mata Khaira menetes lagi. Bagaimana ia bisa menyudahi kesedihan, jika kebahagiaannya dan kesenangannya hanya bersama Abbas.
Dalam deraian air mata Khaira bero'a meminta agar Abbas ditempatkan yang terbaik di sisi-Nya. Dan ia akan berusaha mengingat perkataan Abbas, walau pun terasa berat tapi ia harus mencoba.
__ADS_1
Jangan lupa tanda CINTA buat author yang udah kerja keras hari ini ya. Vote, like, kritik dan saran. Cinta untuk reader semua ....