Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 214 S2 (Bersama Saling Menguatkan)


__ADS_3

Pagi itu Hasya datang membezuknya di rumah sakit. Ia mengetahui bahwa Khaira akan keluar hari ini, kebetulan ia piket pagi.


“Assalamu’alaikum …. “ Hasya langsung mendekati bed tempat adiknya beristirahat.


“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” Khaira menjawab dengan pelan. Ia merasa senang melihat kedatangan Hasya yang membawakan makanan kesukaannya.


“Sepi … Ivan kemana?” Hasya memandang keseluruh ruangan ketika tidak melihat keberadaan orang lain kecuali dirinya dan Khaira.


“Mas Ivan di kamar mandi,” jawab Khaira lirih.


Hasya menatap adiknya lekat, “Mbak harap kamu tetap sabar menjalani semua ini. Allah akan menguji sesuai dengan kemampuan hamba-Nya.”


Mata Khaira kembali berkaca-kaca mendengar ucapan Hasya. Ia tak sanggup menjawab hanya menganggukkan kepala.


“Ini mbak bawakan sarapan pagi untuk kalian berdua,” Hasya segera mengeluarkan rantang susun dari dalam paper bag yang ia bawa.


Ia segera menyusun menu sarapan yang terdiri atas bubur, nasi goreng serta beberapa jenis buah-buahan  yang disusun dalam satu rantang.


“Mbak, bantu aku turun. Aku ingin sarapan di sofa itu,” Khaira merasa tidak nyaman jika harus menikmati sarapan di tempat tidur.


“Baiklah …. “ Hasya mulai menyusun bantal sandaran.


Saat Hasya mulai mengulurkan tangannya, bertepatan Ivan yang baru keluar dari kamar mandi. Ia terkejut meli


“Sayang …. “ dengan cepat ia menghampiri istri dan iparnya, “Kamu mau kemana?”


Khaira menatap suaminya sambil tersenyum tipis, “Aku ingin sarapan di sofa. Badanku rasanya pegal sudah dua hari berbaring di tempat tidur.”


“Baiklah,” Ivan menganggukkan kepala.


Dengan pelan ia mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke sofa yang tempatnya tidak terlalu jauh dari posisi tempat tidur.


Kini keduanya duduk berdampingn menikmati sarapan pagi yang telah disediakan Hasya di sofa.


Khaira masih kurang berrselera menikmati bubur ayam yang masih hangat. Ia hanya melirik sekilas  kemudian mengambil potongan buah mangga dan apel yang lebih mengundang selera.


“De, kamu harus sarapan dan makan yang banyak agar tubuhmu segera pulih,” Hasya melihat Khaira memandang makanan yang ada dengan lesu.

__ADS_1


“Sayang, apa kamu ingin menikmati nasi goreng ini?” Ivan menatapnya dengan lekat. Ia dapat melihat sorot kesedihan di mata bening istrinya.


Ia pun tidak tau cara menghilangkan kesedihan sang istri, karena mereka berdua sama-sama kehilangan. Tapi kembali lagi pada keyakinan yang kuat, bahwa semua memang takdir Allah yang berkehendak.


Ivan mengulurkan sendok yang telah terisi penuh dengan nasi goreng.


“Ade belum boleh makan nasi goreng!” Hasya dengan cepat melarang Ivan memberikan nasi goreng pada Khaira.


“Tidak apa-apa mbak. Hanya sedikit,” Ivan tersenyum lembut pada istrinya.


“Dasar kamu itu ya de, manjanya ngga ketulungan sama suami,” Hasya mencibir melihat Khaira yang cemberut memandangnya.


“Makanlah …. “ Ivan kembali mengulurkan sendok yang ia isi baru, karena yang tadi sudah aman di perutnya.


Khaira merasa senang menikmati nasi goreng yang sudah lama tak  ia rasakan. Tak terasa nasi goreng telah habis karen Ivan membaginya bersama Khaira. Kini keduanya berbagi buah-buahan segar hingga tak bersisa.


Hasya duduk di hadapan keduanya. Ini kesekian kalinya ia menasehati keduanya agar saling menahan diri dalam berhubungan.


“Mungkin setelah ini mbak tidak akan mengingatkan kalian lagi,” ia mulai mengeluarkan suara begitu keduanya telah menyelesaikan sarapan.


Ivan diam. Ia paham apa yang akan dikatakan saudara iparnya. Ia pun sering berkomunikasi dengan Edward mengenai permasalahan yang terjadi dalam rumah tangganya. Tiada tempat yang nyaman bagi Ivan untuk berbicara, karena Edward adalah satu-satunya teman yang memahami kondisinya, dan selalu mendukung apa pun yang ia lakukan.


Dengan digandeng Ivan keduanya melangkah ke kamar. Khaira merasa beruntung Ivan benar-benar suami yang sangat perhatian, hingga hal-hal kecil sangat ia perhatikan selama istrinya masih dalam pemulihan.


“Istirahatlah, dan jangan memikirkan apa pun …. “ ujar Ivan pelan sambil merapikan selimut yang menutupi tubuh istrinya.


“Terima kasih mas,” mata Khaira mulai berkaca-kaca.


Ia merasa terharu atas perlakuan Ivan yang setia mendampinginya, hingga tidak beraktivitas di kantor selama ia berada di rumah sakit.


“Jika mas ingin ke kantor, aku nggak masalah. Pergilah …. “  Khaira menatap lekat suaminya yang masih setia duduk di sisi tempat tidur.


“Tidak sayang ... aku juga ingin memulihkan energiku. Selama beberapa hari di rumah sakit, rasanya badan pegel tidak nyaman,” Ivan menggerak-gerakkan bahunya untuk mengendurkan urat syaraf di seputar punggung dan pergelangan tangannya, “Aku ingin mandi, badan rasanya tidak nyaman karena belum mandi.”


Khaira berbaring sendirian ketika Ivan ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Matanya menatap langit-langit kamar. Berusaha mengusir rasa sedih yang hingga detik ini tidak mau hilang dari pikirannya.


Andai kata ia tidak menuruti keinginan suaminya, akankah janin yang berada di perutnya tetap bertahan?

__ADS_1


Khaira teringat kembali saat  mengetahui dirinya hamil untuk kedua kali setelah  delapan bulan pernikahan mereka, betapa wajah Ivan kelihatan sangat bahagia, hingga ia memberi bonus pada  seluruh pegawai di perusahaannya.


Hari yang benar-benar berkesan dalam hidupnya. Ivan memperlakukannya seperti seorang ratu. Ia tidak dibolehkan melakukan aktivitas apa pun untuk menjaga janin yang berada di dalam kandungannya.


Tapi Ivan tetaplah Ivan. Hasrat dan nafs**nya yang besar  adalah  prioritas utama yang harus dinomorsatukan.


Baru saja habis kontrol mengetahui bahwa istrinya hamil  delapan minggu, tetap saja mereka berhubungan seperti hari-hari biasa.


Hingga di paginya Khaira melihat flek yang keluar saat membersihkan diri. Ia langsung memberitahu Ivan membuat suaminya merasa khawatir.


Untuk kedua kalinya mereka kehilangan, begitu Hasya datang karena Ivan menelponnya untuk memastikan keadaan istrinya.


Satu tahun Khaira mengistirahatkan rahim setelah pendarahan yang kedua kali, akhirnya ia hamil kembali. Ia dan Ivan sudah berusaha untuk berhati-hati selama berhubungan. Khaira tau, ia tidak mungkin menolak keinginan suaminya. Ia ingin menjadi istri yang selalu patuh dan menyenangkan suami, tapi takdir berkehendak lain.


Hasya sudah mengingatkan bahwa rahim Khaira lemah. Ia tidak ingin jika hamil,  Khaira mengalami keguguran lagi. Seperti yang sudah-sudah omongannya terbukti kali ini. Ia pun turut prihatin karena di usia perkawinan yang hampir mencapai tiga tahun, adiknya belum dikaruania seorang anak.


Mata Khaira mengerjab mengingat kehilangannya kali ini. Ia pasrah. Semua sudah digariskan yang kuasa. Ia pun pasrah dengan kehidupannya di masa yang akan datang. Jika apa yang dialaminya adalah yang terbaik menurut Allah, ia akan ikhlas menjalani. Semua sudah ia kembalikan kepada sang Pemilik dan perencana terbaik kehidupan manusia.


Tangan kokoh merangkul pinggangnya ketika Khaira mulai memejamkan mata. Selama tiga hari di rumah sakit, ia mengalami susah tidur. Apa lagi dengan kondisi kehilangan membuat pikirannya terbebani.


Aroma wangi segar sabun dan sampho  menguar  di indera penciuman Khaira membuatnya membuka mata kembali.


“Tidurlah …. “ Ivan berkata pelan menyadari bahwa istrinya terbangun kembali akibat ulahnya.


Khaira membalik tubuhnya sehingga berhadapan dengan sang suami. Ia langsung menyorokkan kepalanya di dada Ivan mencium aroma wangi tubuh suaminya. Ia merasa tenang ketika Ivan memeluknya erat dan mencium keningnya dengan lembut.


“Jangan pernah mengkhawatirkan masa depan. Kita akan selalu bersama bergandengan tangan.” Ivan menatapnya lekat, “Anak adalah anugerah Allah. Kita akan memasrahkan pada Allah. Semua adalah kudrat dan iradat-Nya. Aku tidak akan pernah menuntutmu untuk melahirkan keturunanku.”


Khaira menatap wajah suaminya dengan perasaan terharu, “Terima kasih mas, karena telah menjadikanku istrimu, dengan segala ketidak sempurnaanku.”


Ivan menggelengkan kepala sambil menyunggingkan senyum, “Akulah yang sangat berterima kasih, karena kamu  menerimaku  sebagai suami, dengan segala kekurangan yang kumiliki. Aku lah pria beruntung yang memiliki istri sebaik dirimu.”


Khaira menitikkan air mata.  Ivan menghapus butiran air mata yang mengalir di pipi tirus istrinya. Dan mengecupnya lembut.


Karena sudah sama-sama lelah dan mengantuk, akhirnya keduanya tertidur saling memeluk menyalurkan kehangatan perasaan masing-masing.


 

__ADS_1


 ***Dukung terus ya\, Salam sayang untuk reader semua .... ***


__ADS_2