Bidadari Surga Yang Dirindukan

Bidadari Surga Yang Dirindukan
Bab 240 S2 (Jangan Pernah Berubah)


__ADS_3

Tepat jam delapan pagi Ivan sudah berpakaian santai. Dengan diantar supir baru yang direkomendasikan Hari bernama Rusli membawa Ivan menuju rumah lamanya di kawasan elit Bintaro.


Dengan perasaan sedih Ivan membuka pintu rumah yang sempat menjadi baiti jannati yang membuatnya selalu ingin pulang untuk menemukan ketenangan dan kedamaian, karena ada sang bidadari yang selalu menunggunya dan memberikan kebahagiaan padanya.


Tampak debu begitu tebal menutupi perabotan rumah yang memenuhi setiap ruangan. Bayangan kebersamaan dan kemesraannya dan Khaira tergambar jelas di pelupuk mata Ivan saat melewati ruangan.


Senyum serta tawa Khaira terasa masih ada dan terdengar jelas di telinganya. Sudut-sudut rumah tempat mereka berbagi kemesraan seolah menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka yang kini entah sampai kapan akan berujung.


Mata Ivan terasa berkabut saat mulai membuka pintu kamar utama.  Senyum serta mata bening Khaira saat menyambutnya pulang semakin kuat mengikat di benaknya. Semua terasa hening seperti tidak ada kehidupan di dalamnya.


Ivan mengibaskan debu di sofa tunggal yang berada di dalam kamar dan menghenyakkan tubuhnya di sana. Tak dapat ia tahan, akhirnya air mata Ivan runtuh  juga saat memandang tempat tidur, dimana mereka  berbagi kemesraan dalam mendayung gelora asmara untuk memadukan cinta kasih mereka.


“Ya Allah, ampuni kesalahan yang telah hambamu ini lakukan. Berikan petunjuk-Mu untuk menemukan istri hamba ya Allah .... “ Ivan memohon dengan bersungguh-sungguh.


Tatapannya mengarah pada meja rias yang biasa digunakan istrinya untuk berdandan dan merias diri agar selalu menyegarkan saat dipandang sang suami. Di sana juga ia biasa dipaksa Khaira untuk melakukan perawatan wajah.


Terbayang kuat dalam ingatannya  saat pertama kali  Khaira mengoleskan masker wajah, memintanya untuk diam karena istrinya ingin ia melakukan perawatan di wajahnya agar selalu segar dan bersih.


Dalam satu minggu mereka selalu meluangkan hari untuk melakukan perawatan kecantikan berdua.  Dengan telaten  Khaira menjadi  terapis yang akan melakukan treatment  padanya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Di mana ia benar-benar dimanjakan dan diperlakukan bagai seorang raja.


Ivan mengelus dagunya yang kini ditumbuhi jenggot dengan perasaan berkecamuk. Tiada lagi ia dengar suara merdu, tatapan bening penuh kasih yang selalu mengiringi setiap harinya.


Dengan perasaan sedih Ivan bangkit dari sofa dan berjalan menuju walk-in closet. Ia melihat semuanya tersusun utuh, tidak  ada yang bergeser dari tempatnya. Ivan mengerutkan dahi, Khaira tidak membawa satu pun pakaian yang ada di dalam lemari kaca yang masih sedia kala seperti saat kebersamaan mereka.


Ia membuka brankas tempat penyimpanan barang berharga milik Khaira termasuk surat-surat penting lainnya. Semua masih tersusun rapi dan utuh. Ivan meraih kotak perhiasan yang disusun berderet sebanyak 10 buah.


Ia terkejut melihat cincin pengikat serta cincin kawin yang biasa digunakan Khaira tersimpan di sana. Bagaimana mungkin Khaira mengembalikan semua barang yang telah menjadi miliknya dan meninggalkannya di rumah mereka.


Jantung Ivan berdetak cepat saat tangannya membuka satu demi satu kotak perhiasan yang isinya masih utuh. Padahal semua itu telah menjadi milik Khaira. Ivan ingat 3 kotak perhiasan terbaru yang ia berikan dalam setiap momen memperingati setiap  tahun pernikahan mereka.


Ivan tidak menyangka Khaira meninggalkan semua yang telah ia berikan padanya dan telah menjadi hak miliknya. Pandangannya nanar menatap sertifikat dan kepemilikan rumah tersusun rapi di dalam brankas itu.


Mata Ivan terpaku saat melihat ponsel yang ia belikan dan ia pasang aplikasi untuk memudahkan mengetahui keberadaan istrinya juga tersimpan disana.


“Ya Allah, Rara .... apa yang telah ku perbuat sehingga kau menyiksaku seperti ini?” Ivan memijit kepalanya yang tiba-tiba berdenyut begitu menyadari bahwa Khaira telah meninggalkan semua kemewahan yang telah ia berikan.


Khaira turun dari rumah hanya membawa apa yang melekat di tubuhnya. Ivan dapat membayangkan kesedihan yang tergambar di wajah istrinya saat terjadi percakapan terakhir kalinya di pagi yang dingin itu.


Tatapan kekecewaan tergambar jelas di mata bening istrinya saat ia  mengatakan akan melepasnya karena ia ingin fokus merawat Bryan dan mengusahakan kesembuhan bagi putra semata wayangnya yang kini telah pergi mendahului mereka.


Tiada perlawanan berarti saat Ivan menuduhnya sengaja mencelakakan Bryan dan mendorongnya hingga tercebur ke dalam kolam renang. Ivan tidak memberikan kesempatan untuk istrinya membela diri.


Rasa cintanya yang berlebihan  terhadap Bryan serta hasutan Claudia telah membuatnya menutup mata atas kebaikan dan ketulusan yang diberikan Khaira selama mendampinginya.


Ivan membiarkan air matanya menetes di wajahnya yang kini ditumbuhi kumis dan brewok. Ia sudah tidak memikirkan penampilan dirinya.  Keinginannya hanya bertemu Khaira dan memohon maaf atas kesalahan yang telah ia perbuat.


Ivan teringat sesuatu, dengan cepat ia mulai membongkar tumpukan surat-surat berharga serta aset berupa sertifikat tanah yang ia miliki dari pekerjaan yang telah ia tekuni sepuluh tahun terakhir.


Ivan terpaku ketika menyadari bahwa yang ia cari tidak berada di tumpukan surat berharga yang ia miliki.


“Ya Allah, Rara apa yang akan kau lakukan dengan pernikahan kita?” Ivan merasa was-was saat menyadari bahwa buku nikah miliknya dan istrinya kini sudah tidak berada di tempat saat ia menyimpannya terakhir kali.

__ADS_1


Perasaan khawatir dan jantungnya semakin cepat derdetak. Ia merasa pernikahannya kini di ujung tanduk. Ia harus bertindak cepat. Ivan tak ingin pernikahannya dan Khaira tercerai-berai karena kesalahan yang ia perbuat.


Ia tau tempat pertama yang akan ia kunjungi adalah perusahaan Ariq. Ia yakin iparnya akan memberikan solusi terbaik. Ia akan memohon pada Ariq  walau harus menjatuhkan harga dirinya dan mengemis pada saudara tua istrinya itu.


Selama perjalanan menuju perusahaan milik Ariq sayup-sayup telinga Ivan mendengar lagu lawas yang diputar Rusli di radio tape mobil.  Lirik lagu tersebut begitu menyentuh perasaannya. Ivan teringat lagu ini adalah lagu favorit Abbas yang selalu didengarnya saat  Ivan mampir di kafenya.


Ia mengejek Abbas setiap kali datang ke ruangannya selalu lagu itu yang diputar Abbas berulang-ulang, sehingga Ivan hafal lirik lagu itu bahkan ikut menyanyikannya sekedar untuk memperolok Abbas. Ia menganggap bahwa Abbas telah dibodohi seorang perempuan bahkan terlalu bucin akut.


Teringat wajah almarhum Abbas membuat kesedihan Ivan semakin besar. Ia telah berjanji pada sahabatnya untuk menjaga Khaira dengan baik dan memberikan kebahagiaan tanpa menyakiti hatinya.


Tapi apa yang terjadi?  Ia telah mengingkari janji yang telah  ia buat dan menyakiti Khaira dengan perkataan kasarnya bahkan telah menghinanya.


Ivan terpekur menyadari kesalahan yang ia perbuat terhadap Khaira. Ia akan memohon pada Ariq untuk memaafkan segala kesalahan dan kekhilafan yang telah ia lakukan. Ivan tak peduli lagi walau harus mempermalukan diri sendiri. Yang penting keinginannya untuk bertemu Khaira bisa terwujud.


Ia memejamkan mata sambil menghayati kata demi kata yang terucap dari lagu yang dinyanyikan. Kini ia menyadari bahwa dari lirik lagu tersebut mengandung banyak makna akan perasaan mendalam Abbas terhadap Khaira.


Masih ada perasaan


Yang tak menentu di hati


Bila ingat sorot matamu


Yang kurasa berbeda


Oh, janganlah terjadi


Yang s'lalu kutakutkan


Beribu cara 'kan kutempuh


Oh, cintaku.


Kumau tetap kamu


Yang jadi kekasihku


S'lamanya


'Kan kujaga dirimu


Seperti kapas putih di hatiku


Takkan kubuat noda


Bayangkanlah kedua matamu


Bayangkan aku di sisimu


Oh, janganlah terjadi


Yang s'lalu kutakutkan

__ADS_1


Beribu cara 'kan kutempuh


Oh, cintaku


Kumau tetap kamu


Yang jadi kekasihku


S'lamanya


'Kan kujaga dirimu


Seperti kapas putih di hatiku


Takkan kubuat noda, oh


Oh, janganlah terjadi


Yang s'lalu kutakutkan


Beribu cara 'kan kutempuh


Oh, cintaku


Kumau tetap kamu


Yang jadi kekasihku


S'lamanya


'Kan kujaga dirimu


Seperti kapas putih di hatiku


Takkan kubuat noda


Oh, cintaku


Kumau tetap kamu


Yang jadi kekasihku


S'lamanya


'Kan kujaga dirimu


Seperti kapas putih di hatiku


Takkan kubuat noda


Tak terasa air mata menetes kembali dan mengalir membasahi kumis Ivan. ia tak peduli dengan pandangan Rusli yang berkali-kali tertuju padanya. Kini membuatnya merasa malu dengan almarhum Abbas. Betapa Abbas menjaga Khaira seperti kertas putih dan tidak pernah menodainya. Cinta mereka begitu tulus dan suci tanpa melibatkan nafsu di dalamnya.

__ADS_1


Ivan memejamkan mata sambil menghela nafas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan bersama kegundahan yang semakin menumpuk di dadanya.


__ADS_2