
“Kalian gak usah pulang,” Ira menahan langkah Khaira yang hendak menghampiri Fajar dan Embun.
“Mau ada acara ya Mbak?” Khaira bertanya dengan rasa ingin tau yang besar.
“Ntar malam semua mau ngumpul di sini. Apa kamu lupa, hari ini bertepatan dengan tanggal lahir masmu ....”
“Masya Allah,” Khaira tersenyum, “Aku lupa bahwa mas Ariq dan mas Ali udah nambah umur yang ke 42 tahun.”
“Nah, tau sendiri,” Ira senang karena Khaira mengingat hari lahir saudaranya, “Tapi aku gak bawa kado untuk mas berdua.”
“Gak usah dipikirkan. Doanya saja udah cukup.”
“Baiklah Mbak. Sekarang kita mau bikin masakan spesial ya?” Khaira mengikuti langkah kakak iparnya ke dapur.
“Bener mau bantuin ni, apa kamu nggak cape?” Ira memandangnya sambil tersenyum penuh arti.
“Apaan sih Mbak,” Khaira mencubit lengan Ira berusaha membuang rasa malu yang membuat pipinya memerah.
“Mbak paham kok,” senyum Ira semakin lebar, “Suamimu itu sosoknya beda sama masmu. Mbak yakin dia tidak membiarkanmu istirahat. Apalagi kejar setoran untuk memberi Fajar dan Embun adik .... “
“Mbak dan mas sendiri kenapa sampai sekarang belum nambah momongan?” Khaira akhirnya membalikkan suasana. Ia tak sanggup mendengar guyonan Ira yang sangat sesuai dengan kenyataan, “Fadhil sudah 11 tahun, kenapa .... “
“Biar jadi kado ulang tahun masmu ntar malam .... “ senyum Ira terbit.
“Alhamdulillah ya Allah .... “ Khaira langsung memeluk kakak iparnya dengan perasaan bahagia.
“Hei! Tampaknya ada berita bahagia?” Ariq yang baru kembali dari kantor terkejut melihat istri dan adiknya berpelukan di dapur.
Ira langsung meletakkan telunjuk di bibirnya agar Khaira tutup mulut. Ia ingin memberikan surprise di hari ulang tahun sang suami. Penantian mereka selama sebelas tahun untuk memberikan adik bagi Fadhil akhirnya dikabulkan Allah. Di usianya yang ke 38 tahun ia hamil.
“Mama merasa bahagia bahwa ade bisa menerima kehadiran Ivan kembali,” ujar Ira pelan sambil mengerling Khaira.
Ariq tersenyum penuh arti mendengar ucapan istrinya. Ia memandang Khaira yang tersenyum dengan wajah sumringah.
“Barokallah fi umrik Mas. Semoga selalu sehat dan dijauhkan dari segala macam cobaan,” Khaira langsung memeluk Ariq yang tertegun mendengar ucapannya, “Dan apa yang diinginkan dan dicita-citakan semoga menjadi kenyataan.”
“Aamiin ya Rabbal ‘alaamiin ... “ Ira menjawab dengan cepat.
Keduanya saling memeluk penuh kehangatan.
“Terima kasih doanya, De. Mas juga selalu berdoa yang terbaik untuk keluargamu,” jawab Ariq sambil mengusap pundak Khaira perlahan.
Ivan yang baru masuk ke dapur terpaku melihat ipar dan istrinya saling memeluk. Ia belum mengerti dengan yang terjadi. Embun dan Fajar berada dalam gendongannya.
“Bunda .... “ suara Fajar membuat Khaira melepaskan pelukan dari Ariq.
Ivan memalingkan muka, walau saudara tapi terselip juga rasa cemburu di hatinya melihat sang istri berada di pelukan pria lain.
“Hei, jangan berprasangka buruk,” Ariq memperolok Ivan yang langsung tersenyum mendengar ucapannya.
“Tidaklah,” balas Ivan cepat.
“Sini sama bunda,” Khaira mengulurkan tangannya pada Fajar yang masih berada di gendongan Ivan.
__ADS_1
Fajar menyambut uluran tangan Khaira dan langsung memeluknya dengan erat. Senyum mengembang di bibir Khaira. Ia mencium Embun yang masih berada dalam gendongan sang suami.
“Sayang bunda dulu dong,” Khaira mencium Embun dengan penuh kasih. Ia sangat merindukan kedua buah hatinya. Kini rasa rindunya telah terobati karena telah berkumpul kembali.
Ivan menatap Khaira dengan lekat. Rasanya semenit pun ia tidak sanggup berjauhan dengan istrinya. Maunya selalu berada di dekat Khaira dan menatap wajahnya setiap waktu adalah hal yang paling membahagiakan yang ia rasakan saat ini. Apalagi kalau ....
“Kita makan siang dulu yok, udah keburu laper .... “ perkataan Ariq memangkas lamunan Ivan yang mulai berkelana membayangkan hal indah bersama sang istri.
“Mas makan saja dulu, si kembar biar maem sama Bunda yaa .... “ ujar Khaira begitu selesai mengisi nasi ke piring serta lauk pauknya buat Ivan.
“Biar mas aja yang nyuapin mereka,” Ivan mendorong piring yang sudah berada di hadapannya dan meraih nasi lengkap yang berada di tangan Khaira untuk Fajar dan Embun.
Embun dan Fajar berlarian mengelilingi meja makan saat Ivan mulai gantian menyuapi keduanya. Melihat kedua orangtuanya sudah berada di hadapan membuat Embun dan Fajar merasa senang apalagi setelah berbagi oleh-oleh mainan dengan sepupunya.
Kini mereka berempat duduk bersantai di taman belakang kediaman Ariq. Beberapa babby sitter mengawasi anak-anak bermain, termasuk Fajar dan Embun yang berlarian tak kenal lelah. Kalau bosan bermain dengan sepupunya, keduanya akan duduk manis di pangkuan sang ayah yang begitu perhatian menuruti keinginan mereka.
“Ada hal yang ingin ku ceritakan pada bundanya anak-anak dan mas Ariq,” Ivan mulai berkata dengan nada serius.
“Wah,” Ariq mulai berkomentar, “Ada masalah serius kelihatannya .... “
Ivan menatap Khaira yang duduk di sampingnya dengan lekat. Ia harus menceritakan tentang pembangunan rumah sakit kanker anak. Ia tidak akan menyembunyikan apa pun baik dari istrinya maupun keluarga besarnya.
“Saat kepergian Bryan dengan penyakit Leukimianya, aku mempunyai keinginan untuk membangun rumah sakit kanker khusus untuk anak-anak yang kurang mampu.”
“Wah, tulus sekali niatmu,” Ariq berkata sambil memandang Khaira yang tertegun mendengar perkataan suaminya.
Padahal ia sudah mengetahui semuanya. Apa yang luput dari pengetahuan Ariq, tidak satu pun informasi yang tidak ia lewatkan. Dan ia berharap Ivan menceritakan secara terus terang padanya.
Melihat suasana yang tiba-tiba hening, Ira memberi tanda pada Ariq bahwa ia akan keluar dari percakapan internal diantara ketiganya. Ariq menganggukkan kepala sekilas.
“Aku akan menidurkan si kembar,” ujar Khaira pelan.
“Yang, ku mohon tetap di sini .... “ Ivan menahan tangan Khaira yang sudah berdiri dan hendak berlalu meninggalkan ia dan Ariq.
Ariq diam tak berkomentar melihat ketegangan yang terjadi antara adik dan iparnya. Ia berharap keduanya bisa menyelesaikan semua kesalah pahaman yang pernah terjadi.
“Kamu dan si kembar adalah prioritasku sekarang. Jangan pernah menyangsikanku,” Ivan menarik tangan Khaira agar kembali duduk di sampingnya, “Aku hanya ingin membantu para orangtua yang putranya mengalami penyakit kronis. Jangan sampai mereka kehilangan, walau pun pada dasarnya semua adalah takdir Allah.”
“Aku sangat mendukung keinginanmu,” ujar Ariq seketika, “Apalagi di jaman sekarang ini sangat susah untuk pengobatan penyakit kronis. Selain memakan waktu, biayanya juga sangat mahal. Jika kamu ingin aku membantu, katakan saja.”
“Semuanya sudah berjalan 75 persen. Ustadz Hanan yang menyediakan lahan dan merancang bangunnya,” Ivan berkata lirih. Tatapannya beralih pada Khaira yang kini memandangnya, “Pertemuan dengan ustadz Hanan lah yang akhirnya membuatku menemukan Rara dan si kembar.”
Ariq tersenyum tipis. Ia sudah mengetahui semuanya sejak awal. Ia yakin kini Ivan telah menyadari semua kesalahannya dan benar-benar berubah.
“Bagaimana dengan manajemen pengelolaannya? Kamu perlu mencari orang yang benar-benar tepat supaya apa yang kamu cita-citakan tercapai, dan bisa membantu orang tua yang anak-anaknya mengidap penyakit kronis,” perkataan Ariq yang cukup serius membuat Ivan mengerutkan kening.
“Aku tau mas Ariq banyak mengenal dokter-dokter yang kompeten di bidangnya masing-masing. Karena itulah aku membicarakan ini dengan mas Ariq. Selain itu dengan pengalaman mas Ariq dibidang manajemen perusahaan membuatku yakin.”
“Apa gak salah?” Ariq membalikkan perkataan Ivan, “Harusnya Valdo dan Sasya lebih paham masalah ini.”
“Bagaimana menurutmu sayang?” Ivan bertanya pada Khaira dan mulai melepaskan tangannya yang menggenggam jemari istrinya.
“Itu bukan wewenangku,” Khaira berkata seketika.
__ADS_1
“Tapi setidaknya kamu harus tau De, bahwa apa yang dilakukan Ivan juga untuk masa depan kamu dan si kembar,” Ariq menegaskan.
“Benar sayang,” Ivan menatap Khaira lekat, “Lusa kita akan mengunjungi proyek rumah sakit itu. Selama ini aku fokus sama Rara dan si kembar dan mempercayakan pengelolaan pembangunan pada Danu.”
“Baiklah mas,” Khaira mengangguk pasti, “Aku akan mendampingi mas Ivan mengunjunginya.”
Ivan tersenyum lega karena apa yang ia takutkan tidaklah seburuk kenyataannya. Khaira sudah tidak terpengaruh lagi dengan semua yang telah terjadi di masa lalu.
Malam ini suasana kediaman Ariq benar-benar seru dan meriah saat makan bersama merayakan ulang tahun Ariq dan Ali.
Berita membahagiakan membuat suasana semakin semarak. Ira memberikan kejutan bahwa ia kembali mengandung yang usianya diperkirakan enam minggu membuat Ariq tak bisa berkata apa pun. Ia merasakan kebahagiaan yang berlipat-lipat.
Begitu pun Ali yang tidak mau kalah. Ia sudah sejak pagi dikabari Rheina bahwa ia juga telah mengandung janin kembar yang usianya diperkirakan lima minggu.
Malam ini benar-benar membahagiakan bagi semua yang ada.
“Wah, ternyata bukan hanya ade yang kejar setoran,” Hasya langsung berkomentar mendengar berita bahagia, “Semoga kehamilan dan persalinan mbak Ira dan mbak Rheina nanti berjalan lancar.”
“Aamiin ....” semua mengaminkan dengan cepat.
“Jangan lupa, besok kita ada undangan dari tante Indah,” Ali mulai mengeluarkan suara, “Akhirnya mas Fahri ketemu jodoh juga.”
“Wah, akhirnya mas Fahri udah move on dari kamu De. Lama juga ya .... “ Hasya berkata sambil tertawa.
Ivan tersenyum kecut mendengar ucapan kakak iparnya yang tek pernah memikirkan perasaan orang dengan kata-kata yang ia ucapkan.
“Siapa calon istrinya Yang?” Valdo menjawil tangan Hasya karena melihat perubahan wajah Ivan.
“Rekan dosen di kampus tempat ia mengajar. Ku dengar sudah punya anak satu. Pas lah duda ketemu janda,” Hasya meneruskan perkataannya.
Mereka mengakhiri makan malam dan masih sempat mengobrol hingga tepat pukul sepuluh malam. Satu persatu mulai meninggalkan kediaman Ariq bersama keluarganya.
Karena sudah terlalu malam dan si kembar sudah tertidur, Ivan membatalkan niatnya untuk pulang ke rumah. Ia dan Khaira akhirnya menginap di rumah Ariq.
Ivan tau bahwa Khaira belum tidur, karena masih menyiapkan botol susu untuk si kembar yang kini sudah tersusun di atas nakas. Saat ia keluar dari kamar mandi, Khaira sudah membaringkan tubuhnya di sisi Fajar.
Ia langsung naik ke tempat tidur dan berbaring di belakang Khaira. Tidak mungkin ia mengambil jatahnya malam ini karena mengetahui kelelahan sang istri.
“Tidurlah .... “ bisik Ivan ketika melihat Khaira yang mulai terganggu karena tangannya mulai memeluk tubuh ramping dan wangi sang istri, “Mas tau kamu capek.”
“Terima kasih mas,” Khaira bersyukur karena Ivan menyadari kegelisahannya.
Khaira membalik badannya membuat posisi keduanya kini berhadapan. Khaira menatap wajah Ivan yang juga menatapnya dengan lekat.
“Terima kasih karena telah bersabar atas sikapku selama ini,” ujar Khaira tanpa mengalihkan pandangan dari mata kelam suaminya.
Ivan tersenyum mesra dan membelai rambut istrinya dengan penuh kasih. Ia mencium kening Khaira beberapa menit, merasakan kelembutan dan wangi dari shampo yang menguar di penciumannya.
“Mas lah yang sangat berterima kasih atas semua yang telah kamu lakukan pada si kembar. Mereka tumbuh begitu sehat. Tiada anugerah terindah yang Allah berikan pada mas selain kamu dan anak-anak,” tatapan Ivan beralih pada telaga madu yang mulai memancingnya untuk melakukan hal lain, “Sekarang lebih baik kita tidur sebelum mas berubah pikiran.”
Senyum nakal mulai terlihat Khaira dari sorot mata suaminya. Ia mencubit perut Ivan dan langsung membalik tubuh, khawatir perkataan Ivan menjadi kenyataan.
“Ha ha ha ....” Ivan tertawa lirih melihat tingkah Khaira yang langsung memeluk Embun dan memejamkan mata dengan cepat.
__ADS_1
Ivan segera merangkul tubuh ramping Khaira yang kini mulai terlelap dalam pelukan malam. Kebahagiaan dan kelegaan telah membuat perasaannya merasa ringan. Ia telah menceritakan semua pada Khaira dan saudaranya yang lain.
Ia merasa bersyukur karena mbak Hasya mau bergabung jika rumah sakit yang ia bangun mulai beroperasi. Tinggal ia menata masa depan bersama Khaira dan anak-anaknya tanpa melibatkan orang lain yang tidak ada hubungan dengan mereka, dan menjauhkan keluarganya dari segala hal yang tidak diinginkan.