
“Jika ade benar-benar hamil bagaimana proses perceraiannya dengan Xpander itu?” kini Hasya teringat kembali julukannya pada Ivan.
“Kita tidak bisa memutuskan sendiri, Rara juga harus dilibatkan,” Ariq berkata dengan tenang, “Kita harus menghormati semua keputusannya.”
“Bukankah dalam keadaan hamil tidak boleh mengajukan perceraian? Apa lagi Ivan baru saja mengucapkan talak satu pada Rara,” Ali berkata dengan wajah tegang.
“Kita akan membicarakan masalah ini dengan paman. Mungkin beliau bisa mencarikan solusi terbaik,” ujar Ariq menutup pembicaraan mereka, bertepatan dengan dr. Indri yang baru keluar dari ruang IGD.
“Nyonya Rara sudah boleh dibawa ke kamar inap. Dengan kondisinya yang sangat lemah dan kelihatan banyak beban pikiran, saya minta untuk menginap hingga kondisinya pulih.”
“Baik dokter,” Ariq mengangguk cepat, “Terima kasih atas bantuan anda.”
Dokter Indri tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia segera berlalu dari hadapan mereka berenam.
Khaira membuka mata secara perlahan. Kepalanya terasa berdenyut. Ia tidak kuat menahan sakit yang tiba-tiba menyerang kepalanya. Ia meringis menahan nyeri yang yang begitu menyiksa. Saat memandang di samping kanan senyum sumringah menghiasi wajah Hasya dan Azkia yang baru datang membawakan pakaian ganti untuknya.
Khaira tidak menyadari bahwa ia tertidur lebih dari 4 jam, setelah diberikan tambahan vitamin serta suplemen melalui infus yang terpasang di tangan kirinya.
“Apa yang terjadi mas?” Khaira bertanya pada Ali yang wajahnya sangat cerah menatap Khaira yang masih bingung dengan perubahan wajah saudaranya yang kini tampak bahagia saat memandangnya.
“Kamu kembali hamil, de. Janinmu kembar,” jawab Hasya cepat sambil mengacungkan kedua jempolnya dengan wajah puas.
“Hamil?” Khaira tak percaya mendengar perkataan Hasya.
Selama ini ia telah pasrah. Apa lagi saat terakhir mendengar percakapan Ivan yang berbicara dengan mamanya ketika ia masih menginap di rumah sakit. Ia dapat melihat kesedihan suaminya yang mengatakan bahwa dirinya tidak bisa memberikan cucu yang begitu diinginkan Laras untuk menjadi penerus keturunan mereka.
“Benar,” kini Ariq yang menjawabnya, “Kamu harus selalu sehat. Jangan berpikiran yang berat. Nanti akan berpengaruh pada calon anak-anakmu.”
“Anak-anak?” Khaira masih belum mengerti dengan perkataan saudaranya, “Apa yang terjadi sebenarnya?”
“Kamu hamil kembar dek. Selamat.” Hasya langsung memeluknya dan mencium keningnya dengan perasaan bahagia luar biasa.
Khaira tercenung setelah memahami apa yang terjadi pada dirinya. Ia mengelus perutnya dengan mata berkaca-kaca. Apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia memberitakukan berita bahagia ini pada Ivan, karena penantian mereka kini telah berakhir. Mereka akan segera memiliki sepasanga anak.
“Ya Allah, sepasang anak kembar?” Khaira merasa terharu mengetahui apa yang kini terjadi pada dirinya.
Senyum yang sempat mengembang di wajahnya berangsur-angsur menghilang. Ia tidak mungkin memberitahukan kabar baik ini pada Ivan dan mantan mertuanya. Mereka telah melepasnya, tiada harapan untuk kembali bersama. Ivan telah memilih untuk merawat Bryan dan memberikan kesembuhan padanya.
__ADS_1
Khaira menggelengkan kepala terjebak dengan pemikirannya sendiri. Ia harus kuat. Semua saudara akan menjaga dan melindunginya. Ia harus segera menghapus nama Ivan di dalam hatinya. Cukup sekali ia dikecewakan. Ia akan bangkit menjadi pribadi yang lebih kuat dan tangguh untuk melindungi diri serta calon bayi yang kini telah Allah titipkan kembali padanya.
“De .... “ Hasya menepuk bahunya melihat Khaira yang masih termenung memikirkan langkah selanjutnya yang harus ia ambil.
Ariq menarik kursi tunggal dan duduk di samping Khaira. Ia menatap lekat wajah pucat Khaira yang tampak lesu.
“Katakan padaku apa yang kamu inginkan sekarang. Jika kamu menginginkan Ivan mengetahui berita kehamilanmu, saat ini juga aku akan memberitahunya,” ujar Ariq serius.
“Masss .... “ Hasya melotot mendengar ucapan Ariq.
“Untuk apa memberitahu lelaki sombong itu!” Ali mulai memprotes Ariq yang memutuskan sendiri.
“Aku setuju dengan mas Ali. Biar Ivan membina keluarga barunya bersama bule tak tau diri itu,” Fatih pun terpancing emosi mendengar ucapan Ariq.
Mendengar perdebatan saudaranya membuat senyum tipis tersungging di wajah Khaira. Otaknya yang sempat tegang kini mulai dapat bekerja kembali. Ia telah menemukan jalan keluar yang akan melindungi dirinya serta jabang bayi yang kini mulai tumbuh di rahimnya.
“Aku sudah memutuskan .... “ Khaira mulai berkata pelan.
“Dek, kamu jangan terlalu banyak bergerak,” Hasya mulai protektif pada adiknya, “Jangan sampai janinmu kenapa-napa.”
“Yang .... “ Valdo memberi isyarat mata pada Hasya agar membiarkan Khaira meneruskan perkataannya.
“Merubah identitas?” kini mereka melongo mendengar perkataan Khaira yang ia ucapkan dengan serius.
Khaira segera mengatakan alasan yang membuat ia mengambil keputusan itu. Ia tidak ingin Ivan dan keluarganya mengetahui bahwa dirinya telah memiliki keturunan Ivan yang selama ini begitu diharapkan.
Semua merasa lega setelah mendengar perkataan Khaira. Kini mereka yakin bahwa adiknya telah kuat dan mampu untuk bangkit kembali.
“Aku akan mengurus semuanya,” Ali menatap Khaira dengan perasaan senang karena adiknya telah mampu menjalani ujian hidup yang sangat berat dan menjadi fase terburuk dalam hidupnya.
“Aku akan menanggung semua biaya yang dikeluarkan untuk perubahan identitas Rara,” Ariq pun berkata dengan semangat.
“Aku ingin segera mengurus perceraian,” suara Khaira tiba-tiba lirih saat mengucapkan itu.
Kesedihan kembali tergambar di matanya yang mulai berkaca-kaca saat mengucapkan itu. Ia tidak menyangka pernikahannya harus berakhir sesingkat ini.
Hasya beranjak mendekati Khaira dan mengusap lengannya yang masih tampak pucat. Ia tak bisa berkata-kata, mulutnya seperti terkunci.
__ADS_1
“Baiklah, kami akan memprosesnya dengan cepat,” Ali tidak ingin suasananya kembali melow. Ia khawatir akan mempengaruhi janin yang ada di rahim adiknya jika terlalu banyak menanggung beban pikiran.
Pagi itu Ali langsung mampir ke perusahaan Ariq. Ia ingin membicarakan masalah pergantian identitas Khaira. Banyak proses yang harus dilalui.
Saat memasuki ruang kerja Ariq ia terkejut melihat seorang lelaki gagah berkaca mata sudah berada di sana sedang berbicara serius dengan saudaranya.
“Assalamu’alaikum,” Ali memberi salam sambil menganggukkan kepala pada tamu yang tidak ia kenal.
“Wa’alaikumussalam,” Ariq menjawab dengan cepat, “Silakan duduk. Perkenalkan namanya Gilbert Sinaga. Dia temanku saat kuliah di Oxford. Dia pengacara yang akan mengurus semua permasalahan Rara.”
Dengan penuh semangat Ali menyalami lelaki itu. Kemudian ia duduk di samping Ariq mendengarkan pembicaraannya yang menceritakan kehidupan adik kesayangan mereka.
Gilbert mendengarkan dengan serius sambil manggut-manggut. Dari percakapan yang Ali dengar, Ariq masih menceritakan permukaannya saja dari kisah pahit yang dialami Khaira. Ia berpikir positif, mungkin saudaranya itu tidak ingin mengumbar kehidupan rumah tangga Khaira dan Ivan yang terlalu banyak drama di dalamnya.
“Ku serahkan semuanya padamu. Aku percaya kinerjamu selama ini,” ujar Ariq mengakhiri ceritanya.
“Apa aku bisa bertemu dengan nona Rara? Aku ingin mendengar kisah langsung darinya,” Gilbert menatap Ariq.
“Untuk yang satu ini aku tidak bisa mengabulkan permohonanmu,” Ariq berkata dengan serius.
“Kenapa?” Gilbert memandang Ariq penasaran.
“Aku tidak ingin membuat Rara trauma dengan pernikahannya. Bukan kali ini saja ia mengalami peristiwa menyakitkan. Terlalu banyak kesedihan yang ia alami. Aku hanya ingin memberikan ketenangan padanya.”
Gibert mengerutkan kening mendengar alasan Ariq yang tidak mengizinkannya bertemu dengan Khaira yang akan menjadi kliennya.
“Berapa pun biaya yang kau minta akan aku sanggupi selama prosesnya bisa dipercepat.” Ariq segera meletakkan cek yang nilainya bukan main-main, “Sebagai DP.”
Gilbert mengambil cek di atas meja membacanya sekilas. Ia tersenyum dan meletakkan kembali dengan santai.
“Almarhum papaku dan ayahmu adalah teman baik. Mana mungkin aku menarik bayaran dari kalian, keluarga yang telah membantu usaha papa sehingga membuatku jadi berhasil seperti sekarang.”
“Apa terlalu kecil?” sindir Ariq.
“Ha ha ha .... “ Gilbert tertawa lebar, “Tidaklah. Itu lebih dari cukup untuk membeli sebuah mobil jaguar edisi terbaru.”
Ali tinggal geleng-geleng kepala mendengar percakapan absurd di hadapannya. Ia yakin semua akan berjalan lancar, apalagi Ariq telah melibatkan pengacara muda yang sepak terjangnya telah mendunia.
__ADS_1
“Kalian akan segera ku hubungi begitu prosesnya telah selesai. Undang saja aku makan malam mewah jika semua berjalan baik dan lancar,” ujar Gilbert langsung bangkit dari duduknya.
“Thanks Gilbert,” Ariq segera menyalami teman lamanya itu dengan perasaan lega. Ia yakin jika Gileber yang menangani, maka semuanya akan berjalan sesuai apa yang ia inginkan.